Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 245


__ADS_3

“Ayah, kapan kau tiba?”tanya Lucas yang menemukan Andrean tengah tidur di sampingnya. Sementara Camelia tidak ia dapati.


Andrean yang masih tidur terbangun karena seruan Lucas itu. “Syutt … tidurlah sebentar lagi,” ucap Andrean serak, membawa Lucas dalam pelukannya.


“Ku pikir Ayah akan datang sore ini.”


“Pekerjaan Ayah selesai lebih awal. Jadi, sampai Tahun Baru akan bersama dengan kalian,” ujar Andrean.


“SUNGGUH?!”


“Emmm ….” Crystal terganggu dengan itu. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Lucas.


“Syutt … tidurlah,” ucap Andrean, kembali memejamkan matanya.


Lucas tersenyum lebar dan menurutinya. Namun, hanya sebentar saat sebelum terdengar suara Camelia memanggil geram Andrean.


Lucas kembali membuka matanya. Sedang Andrean semakin memejamkan mata dan mengeratkan pelukannya pada Lucas. “Andrean Gong, apa kau melupakan janjimu tadi malam, hah?”tanya Camelia dengan tepat berdiri di sisi ranjang dan mencondongkan wajahnya ke telinga Andrean.


“Kau bukan tipe yang bangun siang, ayo bangun! Jangan pura-pura tidur!”bisik Camelia dengan nada intimidasinya.”


"Mom,” panggil Lucas, ia meminta bantuan karena merasa sesak dalam pelukan Andrean.


“Oh benar! Kau dasar pembohong! Ayo bangun!!”


“Bangun atau aku akan mencincang adikmu jadi pangsit!”


Glek.


Andrean langsung membuka mata dan berlagak seperti baru bangun tidur. “Lia, anak-anak terganggu,” ucapnya tanpa dosa.


Camelia mendesis. “Ini sudah lewat dari waktu bangun!”dengus Camelia. Dan di saat itu juga Crystal bangun dengan wajah polosnya. Dan melihat Camelia, langsung memeluk Wanita itu.


“Alasan apalagi? Lekas berbelanja dan ke apartemen. Aku akan menunggu di sana!”ketus Camelia dengan menatap galak Andrean.


Pria itu kembali menelan ludah dan bergegas. Mood Camelia mudah berubah-ubah sekarang.


“Kalian berdua lekas cuci muka setelah itu sarapan. Satu jam lagi kita kembali ke apartemen,” ujar Camelia.


Kedua anak itu menurut. Dalam perjalanan menuju kamar mandi Lucas menelaah ucapan Camelia tadi pada Andrean, “memang Ayah punya adik?”


“Mom. Ayah mengapa buru-buru? Apa ada hal penting?”tanya Liam yang melihat Andrean keluar buru-buru dan hanya menyapa singkat dirinya.


“Ya, ada hal yang sangat penting,” jawab Camelia.










The first time Andrean belanja bahan makanan di supermarket. Di hadapankan pada banyak pilihan jenis dan harga, membuatnya cukup lama menentukan apa yang hendak diambil. Dan akhirnya karena tak mau ambil pusing, pria itu mengambil satu jenis untuk setiap bahan dengan hanya melihat harganya. Mahal sudah pasti berkualitas dan mengandung lebih banyak nutrisi, bukan?


Tiba di apartemen, Camelia sudah menunggu. Bahkan sudah menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan di dapur.


"Silakan, Mr. Gong. Waktu dan tempat dipersilahkan," ucap Camelia dengan senyum lebarnya.


"Jika tidak enak, jangan harap bisa tidur di kamar!"ancam Camelia, saat Andrean baru saja meletakkan bahan belanjaannya.


"Hah? Itu tidak adil!"seru Andrean.


"Aku tidak peduli," sahut Camelia, menjulurkan lidahnya dan meninggalkan dapur.


Lucas dan Crystal mendekat setelah Camelia kembali masuk ke dalam rumah. Tuan dan Nyonya Shane tentunya tengah bergantian menjaga Liam.


"Ayah, apa kau akan memasak?"tanya Crystal ragu. Selama hidupnya sampai detik ini tak pernah melihat Andrean memasak.


"Apa Mom tengah mengindam?"pikir Lucas.


"Ngidam? Apa itu, Kak Lucas?"


“Err … itu sebutan untuk ibu hamil yang menginginkan sesuatu yang harus dipenuhi, seperti saat ini,” jelas Lucas, menggaruk pipinya.


“Jika tidak dipenuhi?”


“Aku juga tidak tahu,” balas Lucas.


“Ayah, kau yakin mau membuat pangsit?”tanya Lucas pada Andrean, melihat Andrean yang telah selesai menata bahan-bahan yang dibutuhkan di atas meja.


“Kau tidak yakin pada kemampuan Ayahmu ini, Lucas?”tanya balik Andrean dan Lucas menganggukinya.


“Lihat saja, kalian akan meminta Ayah memasak lagi!”seru Andrean dengan percaya diri.


“Aku harap juga demikian,” balas Lucas.


“Ayo, Crystal,” ajak Lucas, mengajak adik perempuannya itu meninggalkan dapur.










“Aromanya menyakinkan,” ucap Crystal.


“Cara masaknya juga tepat, namun tidak tahu ketepatan adonan dan kematangan bahan, dan juga rasanya. Kadang penampilan tidak menjamin rasa,” ucap Lucas. Mereka memang mengawasi Andrean di dapur, tentu saja dengan mengintip.


“Kita harus tes rasa sebelum Mom mencobanya.”

__ADS_1


Kini, di meja makan sudah tersaji semangkuk pangsit panas, asapnya membumbung, menyebarkan aroma yang menggoda. Penyajian juga menarik, seakan menjanjikan sesuai dengan penampilan, memuaskan.


“Wait, Mom. Izinkan kami mencobanya lebih dulu,” ucap Lucas, sudah membawa pangsit di mangkuk kecil. Crystal juga mengambilnya. Andrean mendelik.


“Tidak! First harus Mom kalian yang mencobanya!” Andrean mengambil mangkuk Lucas dan Crystal.


“Ayah!”


“Ini salah satu protokol keamanan untuk Mom dan adik bayi. Bagaimana jika rasanya tidak seindah penampilannya?”protes Lucas. Menatap garang Andrean.


“Apa kalian sedang menuduhku?” Membalas tatapan garang Lucas.


“Ayah, Kak Lucas,” panggil Crystal.


“Apa?”


“Mom sudah makan,” ucapnya memberitahu.


Keduanya langsung menatap Camelia.


Camelia diam setelah satu suapan. Ketiga orang itu menanti dengan beragam ekspresi. Lucas yang khawatir. Crystal yang penasaran, dan Andrean yang berharap cemas.


Camelia mengangkat tatapannya. Menatap Andrean, “apa kau memasukkan kolam garam ke masakanmu, Sayang?” Camelia tersenyum, geram.


“L-Lia?”


“Nah, sudah ku duga!”seru Lucas.


“A-apa seburuk itu?”


“Coba sendiri!”


“Aku merasa rasanya pas,” ucap Andrean, tapi menuruti perintah Camelia.


“Pas? Apa lidahku yang bermasalah?” Camelia melirik Lucas, untuk mencoba pangsit buatan Andrean.


“ASINNN!!”


Lucas langsung mengusap lidahnya yang terasa pedar. “Atau lidahmu, Sayang?”


“Huek!”


Andrean lari ke wastafel. Lucas menggelengkan kepalanya.


“Tadi asinnya sudah pas, tinggal manisnya yang kurang, jadi aku menambah gula, mengapa jadi seasin ini?”


“Gula atau gula?”goda Lucas.


“Gula!”


“Buktinya?”


Lucas tertawa.


“Tidurlah di luar kamar!”putus Camelia pada akhirnya.


“Lia ….” melas Andrean.


“Hihihihi.” Lucas terkikik geli dengan mimik Andrean.


“Nanti malah kemanisan,” cetus Crystal.


“Syuut!”ucap Andrean pada putrinya.


“Sudahlah. Aku kehilangan selera. Lebih baik bereskan dapur dan kita ke rumah sakit.” Camelia beranjak menuju kamar. Meninggalkan Andrean yang layu dan juga menelan ludah di hadapan Lucas dan Crystal.


“Yang sabar ya, Ayah. Mood Mom memang sering berubah. O iya, ayo ke rumah sakit, Liam mau bermain salju,” ujar Lucas, mengingatkan Andrean dan mengajak Crystal untuk bersiap.










“Grandpa, Grandma, Liam, aku membawa sesuatu,” ucap Liam setelah sampai di kamar rawat Liam.


“O ya? Apa itu?”tanya Nyonya Shane penasaran.


“Pangsit spesial buatan Ayah!”jawab Lucas sumringah.


Andrean membelakan matanya. Kapan Lucas membawanya? Mengapa ia tidak menyadarinya? Tidak?! Bukan itu masalahnya, gawat jika Tuan dan Nyonya Shane mencoba pangsit buatannya.


“Benarkah?”


Lucas memberikannya pada Nyonya Shane. Andrean telat menahannya. Ia menggigit bibirnya panik.


“Ayah? Mengapa wajahmu seperti itu?”heran Lucas.


“Lucas … kau?!”


Lucas tersenyum lebar. Camelia tak acuh. Memilih membantu Liam bersiap untuk keluar ke halaman rumah sakit. “Sepertinya enak,” ucap Nyonya Shane melirik Andrean yang tersenyum kaku, lalu mengusap tengkuknya.


“Silakan coba, Grandma. Aku yakin tidak akan menyesal,” ujar Lucas.


Anak ini … punya dendam apa denganku?!geram Andrean dalam hati.


Nyonya Shane mencobanya. Dan langsung terdiam, kemudian menatap Andrean rumit. Tatapan itu berubah menjadi sebuah senyum, terasa mengerikan bagi Andrean.


“Ya, ini sangat enak. Andrean, kau berbakat menjadi koki. Tapi, aku berharap kau hanya menjadi koki untuk dirimu sendiri!”


“A-Anda benar, Mom.”


Nyonya Shane meletakkan mangkuk pangsit itu. “Ayah koki yang buruk,” gumam Liam.



__ADS_1








“Anggota keluargamu akan bertambah, kau harus lebih bekerja keras lagi, Andrean,” ucap Tuan Shane. Saat ini sudah berada di halaman. Camelia dan anak-anak membuat boneka salju. Nyonya Shane mengabadikan moment. Sedang kedua pria itu menonton sembari berbincang.


“Dan kau harus lebih membagi waktu lagi.”


“Camelia cukup sensitif semenjak hamil. Dan kemungkinan keinginannya akan lebih beraneka ragam dan cukup merepotkan, mungkin seperti waktu mengandung Lucas dan Liam.”


“Ya?”


“Dulu, Chris juga kesulitan untuk memenuhi permintaan Camelia. Karena kebanyakan keinginannya adalah makanan China dan juga hal-hal yang unik.


“Apa kau pernah memakai pakaian tradisional China?”tanya Tuan Shane, diangguki oleh Andrean.


“Tapi, untuk yang wanita.”


Jelas Andrean menggeleng.


“Chris pernah memakainya. Aku masih ingat jelas saat ia menggunakannya, lengkap dengan wig. Putraku terlihat sangat lucu, bayangkan saja putraku yang kekar dan gagah berbalut pakaian yang feminim.” Tuan Shane tertawa pelan. Matanya memancarkan kerinduan pada Chris.


“Really?”


“Tanyakan saja pada Lia.” Tuan Shane menepuk pundak Andrean. “Jadi, bersiaplah untuk permintaan tak terduga Camelia.” Pada akhirnya, itulah inti dari pembicaraan itu. Andrean menatap lekat Camelia. Hatinya berdebar untuk itu.










Keinginan Liam tercapai. Melakukan misa malam Natal dengan anggota keluarga yang lengkap. Tuan dan Nyonya Shane juga ikut di dalamnya. Malam sebelum hari Natal, mereka melakukan misa malam Natal di sebuah gereja. Dilakukan dengan penuh khidmat dan doa.


Setelah melakukan ibadah, mereka langsung kembali ke rumah sakit, kecuali Tuan dan Nyonya Shane yang kembali ke apartemen.


Keesokan paginya, hari begitu cerah. Namun, udara tetap dingin. Begitu anak-anak membuka mata, disambut dengan hamparan hadiah. “Ini?”


“Selamat hari Natal anak-anak. Ini adalah hadiah kami untuk kalian,” ucap Camelia sumringah.


“Wah!”


“Thanks Mom, Ayah!” Lucas dan Crystal bergantian mencium Andrean dan Camelia. Dan kemudian mendekat pada Liam.


“Ayo turunlah, kita buka hadiahnya sama-sama,” ajak Camelia.


Kini mereka duduk di lantai, mengelilingi hadiah-hadiah itu. Dan satu persatu mulai membuka hadiah, dengan memilih random.


“Boneka?” Liam mengangkat hadiah yang ia buka.


“Buku apa ini?”heran Crystal.


“Gaun?” Lucas mengangkat gaun berwarna biru dengan seolah mencocokkan dengan dirinya. “What this is?”


“Hahaha … seperti kalian berdua membuka hadiah untuk Crystal.”


“Ini buku apa? Bahasa apa ini?”heran Crystal.


“O itu buku yang ku mau.” Liam menyambarnya. Dan langsung mengeceknya lebih lanjut.


“Jumlahnya masing-masing sama,” ujar Andrean. Mereka kembali membuka kotak demi kotak hadiah.


“Lia.” Andrean merangkul Camelia.


“Hadiah untukku apakah bisa nanti malam?”bisik Andrean. Camelia diam. Dan beberapa saat kemudian langsung lari ke kamar mandi.


“Lia?”


“MOM?!”


Huek!


Huek!


“Lia … kau baik-baik saja?”


“Jangan mendekat!”


“Hah?” Andrean kebingungan.


Huek!


“Menjauh sedikit,” ucap Camelia lagi. Dan pada akhirnya Andrean keluar kamar mandi.


“Mom kenapa, Ayah?” Andrean menggeleng tidak tahu.


Sekitar lima menit kemudian, Camelia keluar dari kamar mandi. “Lia-”


Belum selesai, Camelia kembali ke kamar mandi dan muntah, sedang Lucas langsung bergegas keluar kamar memanggil dokter.


“Jangan mendekat padaku, kau sangat bau, Rean,” ucap Camelia.


“Bau?” Andrean mencium wangi tubuhnya. Seperti biasa, dari mana baunya?


Crystal ikut mengendus. “Ayah wangi kok, Mom.”


Camelia menggeleng. “Jaga jarak denganku!”


Apalagi ini?jerit Andrean dalam hati, sudah tidak boleh tidur bersama, tidak boleh mendekat juga?!

__ADS_1


__ADS_2