Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 133


__ADS_3

Berita ketidaksopanan orang yang menyenggol Camelia beredar luas. Menjadi salah satu trending juga perbincangan netizen.


Camelia tak begitu memusingkan. Tuan David dan agensi juga demikian. Biarlah, juga akan mereda sendirinya.


Di lokasi latihan, Joseph yang paling aktif bertanya pada Camelia, mengenai berita itu juga beberapa hal lain. Camelia menanggapinya secukupnya.


Namun, yang namanya dunia hiburan, pergerakan kecil saja akan menimbulkan rumor. Maka, Camelia dan Joseph pun tak lepas darinya.


Padahal sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa mereka hanya sekadar teman, akrab dalam satu drama, tentu hal wajar bukan?


Andai kata Queen menikah lagi, juga bukan hal yang aneh. Itu wajar. Setiap orang memiliki pilihan, begitu juga dengan artis. Memangnya, jika mereka saling mencintai dan jika salah satunya meninggal, harus bertahan dalam kesendirian? Sementara Prince Lucas dan Liam masih kecil dan membutuhkan sosok seorang ayah? Aku mendukung apapun pilihannya.


Ada yang netral, ada juga yang kontra dan pro. Yang kontra, cenderung lebih menginginkan idola mereka seperti yang mereka pinta. Ada yang tulus mendukung, ada yang overprotektif atau bisa dikatakan fans fanatik.


Camelia sudah biasa dengan hal itu. Dulu, waktu pertama Chris mengumumkan pernikahan dengannya, ia cukup banyak menerima komentar kurang baik. Namun, semua itu berubah menjadi dukungan setelah ia menunjukkan kemampuannya. Unjuk gigi dengan karya dan perubahannya.


Andai kata yang disenggolnya bukan Camelia Shane, apa iya dia akan minta maaf?


Aku rasa dia mencari pencitraan atau menumpang popularitas.


Mengapa tidak langsung minta maaf saja?


Keesokan harinya, masih ramai membicarakan berita menyenggol itu. Camelia bahkan sudah hampir lupa jika tidak membuka media sosialnya.


"Mom, besok apa bisa kita ziarah ke makam Daddy?"tanya Liam.


"Hm?" Camelia mengangkat wajahnya. Hari sudah petang, Camelia, Lucas, dan Liam juga Lina, menghabiskan waktu di salah satu restoran yang cukup terkenal di Ottawa. Mereka berada di rooftop, menikmati pemandangan senja.


"Merindukan Daddy?"tanya Camelia.


"Iya." Liam membenarkannya.


"Baiklah." Camelia menyetujuinya.


"Em … Lia, aku boleh ikut?"tanya Lina.


"Off course."


"Eh iya, bagaimana hubunganmu dengan Kak David? Apa ada kemajuan?"tanya Camelia dengan mengerlingkan matanya.


"Hubungan apa, Lia?"balas tanya Lina, dengan gugup.


"Ya … hubungan kalian," jawab Camelia. Lina tampak salah tingkah. Lucas dan Liam menyimak pembicaraan itu.


"Ku dengar dari Daddy, keluarganya merencanakan pernikahan. Mengingat usianya sudah kepala tiga. Apa kau tidak berminat padanya, Kak?"tanya Camelia.


"Aku tidak menyukainya, Lia!"tegas Lina.


"Yakin?" Camelia semakin melebarkan senyumnya. "Ada kesempatan loh," imbuh Camelia.


"Ada kesempatan pun, aku tidak akan menyukainya!"tegas Lina.


Camelia menyipitkan matanya beberapa saat. Mencari keyakinan dari tatapan mata Lina. Menghela nafasnya saat tak ia temukan keraguan. "Alright. Aku tidak berhak memaksamu," jawab Camelia. Kembali meminum kopinya.


"Tapi, mengingat usiamu, kapan kau akan menikah, Kak?"tanya Camelia lagi. Usia Lina sudah kepala tiga.


"Entahlah, Lia. Aku masih nyaman dengan kesendirianku. Lagipula, aku tidak akan menikah sebelum mencapai tujuanku." Lina berkata kemudian menghela nafas, dan kemudian menerawang masa lalu juga rencana masa depannya.


Memantapkan posisinya sebagai manager di Glory Entertainment. Mengumpulkan pundi-pundi uang, membeli rumah, mungkin barulah ia akan memikirkan tentang menikah. Toh, banyak yang sudah hampir kepala empat belum menikah, terutama artis.


"Saranku, segeralah menjadi pasangan, Kak. Tidak harus segera menikah, setidaknya kau ada bahu untuk bersandar. Memiliki orang yang spesial bagimu, yang berharga, dan kau ingin bersama dengannya. Maksudnya, kau tetap bekerja. Namun, coba selingi untuk mencari. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui," tutur Camelia, memberi saran.


"Meskipun aku kurang paham, aku rasa yang Mom katakan itu benar," ucap Lucas, menimpali saran Camelia.


Camelia terkekeh pelan. Lucas tertawa menunjukkan deretan giginya. Sementara Liam, asyik menikmati cake. Dan Lina, wanita itu kembali merenung.


Apa aku harus melakukannya?


"Mom tidak mau tahu, kau harus menerima perjodohan yang Mom atur!"tegas seorang wanita, usianya sudah lanjut, namun penampilannya elegan dan terlihat terpelajar. Sorot matanya tegas, menatap seorang pria yang berdiri menatapnya protes.


"Usiamu sudah 36 tahun …."


"37 tahun, Mom," ralat pria itu cepat.

__ADS_1


"Yaya … sudah 37 tahun dan kau belum juga menikah? Lihat yang seusia denganmu. Lihat teman-teman sekolah dan kuliahmu, sudah menikah dan memiliki anak? Dan kau? Masih betah sendiri katamu?! Chris saja yang katanya super sibuk memiliki istri dan anak." Wanita tua itu mengomel.


"Mom, aku belum menemukan yang cocok." Pria yang tak lain adalah Tuan David itu menjawab. Tatapannya menginginkan agar Ibunya tidak membahas hal ini lagi.


Sayang, wanita itu mendengus.


"Mantanmu sudah sangat banyak. Mau berapa banyak lagi sampai ada yang cocok?! Sampai wanita tua ini mati, hah?!" Wanita tua itu berdecak.


"Apa yang Mom katakan?!" Tuan David menatap ibunya tidak suka.


"Lantas?"


"Aku ingin memiliki menantu dan cucu. Ibunya Chris saja punya, masa' aku tidak punya?" Wanita tua itu kembali membandingkan.


"Selain itu, menunggu ada yang cocok, Glory Entertainment tidak akan memiliki penerus!" Dan merembet ke arah pewaris.


"Mom tidak menerima bantahanmu. Jika kau tidak mau menerima pilihan Mom, bawa pilihanmu ke hadapan Mom, paling lama satu minggu dari sekarang. Jika tidak ada, bersiaplah untuk berdiri di altar!" Nyonya Besar itu berdiri dan meninggalkan Tuan David setelah memberikan ultimatum.


Tuan David menghembuskan nafas berat. Memijat dahinya.


"Apa sudah jadi ciri khas?"gumam Tuan David, jika tidak kunjung menikah akan dihadapkan pada perjodohan?


Kemudian perihal penerus?


Dan tenggat waktunya hanya satu minggu, ke mana ia mencarinya?


Ada banyak memang. Tapi, apakah cocok? Ya, meskipun hanya pernikahan atas dasar kepentingan masing-masing, rasanya akan sangat tidak nyaman.


Ia memang Presdir entertainment. Namun, ia tak pandai berakting.


Mengusap wajahnya kasar. Kepada siapa ia bercerita? Chris, sahabat satu-satunya sudah tidak ada.


"Lia?" Tiba-tiba terlintas dalam benaknya.


"Tapi …." Pria itu sangat ragu. "Ahh … lupakan, David! Kau tidak boleh mengharapkannya!" Mengerang frustasi.


"Ya … aku akan meminta sarannya."


Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang tidak baik, terlihat ada beberapa orang tengah mengerubungi seorang wanita yang berbaring di ranjang. Perutnya besar dan bibirnya mendesis sakit. Posisinya seperti orang yang hendak melahirkan.


Semakin lama, desisannya berubah menjadi pekik dan teriakan. Disusul dengan tangis keras seorang bayi.


"Sudah lagi?" Pintu ruangan itu terbuka. Dari suaranya, seorang wanita.


"Sudah, Nyonya."


"Bawa pergi. Terserah mau kalian kemanakan!"


"T-tidak!" Wanita yang baru saja melahirkan itu, berseru. Ia hendak bangkit. Namun, tubuhnya ditahan.


"Jangan, Ibu! Aku mohon jangan! Dia anakku! Jangan dibawa pergi!" Wanita itu menangis. Meronta dan memohon. Namun, tidak digubris. Pintu ditutup bersama dengan tangis bayi yang semakin menjauh.


"Tidak, Ibu! Ibuu!! Jangan bawa anakku!! Tidak! Jangan! Hiks … hiks …hiks … tidak. Aghhhkk!!"


Teriakan bercampur tangis. Terdengar sangat memilukan. Namun, tiada yang peduli.


"Hah!"


"Hah!"


Camelia terbangun karena mimpinya. Mimpi yang seperti kelanjutan dari mimpi sebelumnya. Keringatnya mengucur deras.


"Apa ini petunjuk?"gumam Camelia. Mimpi itu terus datang. Tak salah jika disimpulkan sebagai sebuah petunjuk. Hanya saja, petunjuknya tidaklah jelas. Buram. Seakan hanya siluet. Hanya satu yang Camelia ingat dengan jelas, suaranya.


"Apakah mereka orang tuaku? Tapi, mengapa mereka berpisah dan aku dipisahkan dari ibuku? Apakah itu alasannya aku berada di panti asuhan?"pikir Camelia. Ada tambahan. Tapi, membuatnya semakin tak jelas.


Camelia turun dari ranjang. Menuju dispenser untuk mengambil minum. Melihat jam, waktu menunjukkan pukul 03.00. Masih dini hari. Bahkan, ia baru tidur beberapa jam.


Dan biasanya, setelah mimpi demikian, Camelia tidak bisa kembali tidur lagi. Setelah minum, Camelia menuju meja belajarnya. Membuka notebook dan meraih pena. Menghidupkan lampu belajar.


Camelia butuh pengalihan fokus.


Hari ini, aku kembali memimpikan hal sama. Aku tidak tahu maksudnya? Apakah sebuah petunjuk atau hanya sekadar lewat?

__ADS_1


Jika mimpi itu adalah masa laluku, haruskah aku membenci pria itu? Atau mendengarkan alasannya?


Wanita itu … pasti sangat menderita.


Jika benar, aku ingin bertanya, apakah mereka masih hidup? Jika ia, di mana mereka sekarang?


Jika tidak, berilah aku petunjuk. Setidaknya, aku harus berziarah untuk mereka.


Camelia menghela nafasnya. Itu adalah buku hariannya.


Lebih lega setelah mencurahkan perasaannya dengan goresan pena. Namun, tetap saja ia tidak bisa tidur. Memutuskan untuk mempelajari naskah dramanya. Membaca, membuat catatan, dan menandai apa yang dianggap penting.


Hari sudah pagi. Sinar mentari menyelusup masuk ke dalam kamar. Mengganggu seseorang yang tidur di meja belajar.


Wanita itu membuka matanya. Dia adalah Camelia, yang


tertidur di meja setelah lelah mempelajari naskah.


"Hoam!"


Menggeliat kemudian merenggangkan tubuhnya. "Padahal malam sangat singkat. Tapi, terasa sangat lama," keluh Camelia, menghembuskan nafas pelan. Bangkit dan membuka gorden.


Membiarkan cahaya masuk dengan leluasa ke dalam kamarnya. Camelia menyentuh lehernya. Wajahnya diterpa sinar mentari. Hangat, sangat hangat hingga Camelia memejamkan matanya.


Drttt


Drttt


Ponselnya berdering. "Ya, Hello, Kak?"


"Halo, Lia. Apa kau bisa ke perusahaan, Lia? Ada beberapa hal yang harus dibahas."


"Jam berapa, Kak?"


"Sekitar jam 10 nanti. Apa kau ada agenda lain?"


"Setelah ini aku akan berziarah."


"Oh, baiklah. Kalau begitu sampai nanti."


"Iya, Kak."


Panggilan berakhir dan Camelia bergegas untuk bersiap.


Sekitar 30 menit kemudian, Camelia telah berpakaian, mengenakan dress berwarna gelap. Kemudian memoles wajahnya.


"Mom, apa Mom sudah siap?" Itu suara Lucas yang diiringi dengan ketukan pintu.


"Sudah," sahut Camelia, membuka pintu. Mendapati Lucas dan Liam yang juga sudah bersiap.


"Ayo," ajak Camelia, menggenggam tangan kedua anaknya menuju meja makan.


"Daddy ingin ikut. Tapi, ada meeting pagi ini. Kalian saja yang pergi," tutur Tuan Shane, selesai sarapan. Yang diangguki oleh mereka.


Perjalanan menuju pemakaman keluarga Shane memakan waktu sekitar 30 menit.


Lina terkagum dengan pemakaman keluarga ini. Elegan nan berkelas. Dari lokasinya, dapat dilihat jelas bahwa ini adalah daerah mahal.


"Lina, ini adalah pemakaman keluarga Shane. Anggota keluarga yang sudah meninggal, semuanya dimakamkan di sini. Dan ini adalah makam Chris, putra tunggalku," ujar Nyonya Shane. Kini mereka berada di depan makam Chris.


Lina mengangguk. Lucas, Liam, dan Camelia telah meletakkan bunga, disusul oleh Lina.


"Tuan Chris, saya ingin mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih telah menjaga Lia selama ini. Semoga Anda tenang di sana."


Daddy, aku dan Lucas ternyata punya seorang ayah. Namanya Andrean, marganya Gong. Dan saat ini tengah dekat dengan Mom. Ku lihat dia baik dan sungguh-sungguh, jadi aku mendukungnya. Kau tidak akan marah, bukan Dad? Karena, kau pasti menginginkan kebahagiaan untuk Mom dan juga kami.


Liam mengadu dalam hati. Menatap lurus nama Chris di batu nisannya.


Hai, Dad. Apa kabarmu di sana? Kami baik, ku harap Daddy tenang di saja. Daddy tidak perlu risau, ada yang akan menjaga Mom. Namanya Andrean, dia ayah kandung kami. Hehe … Daddy tidak perlu cemburu, karena posisi Daddy dan Ayah akan sama. Atau mungkin Daddy masih yang tertinggi.


Lucas juga berbicara dalam hati. Bibirnya menarik senyum tipis.


Putraku, apa kabarmu? Beberapa hari yang lalu, seorang pria datang dan berkata ingin menikah dengan Lia. Dan dia adalah ayah kandung dari Lucas dan Liam. Kami membolehkannya, hanya saja dengan syarat. Tujuanmu mengikat Camelia agar keluarga Shane memiliki keturunan. Kau tidak akan menganggap kami egois kan, Nak?

__ADS_1


Nyonya Shane juga. Sorot matanya sendu pada Camelia. Sementara Camelia sendiri, tidak mengatakan apapun, baik lisan maupun dalam hati.


__ADS_2