Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 111


__ADS_3

Setelah pekerjaannya selesai, Dion bergegas meninggalkan kantor menuju ke restoran Liang. Nyonya Liang sudah mengirimkan share location padanya sejak tadi pagi.


Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan kadang lambat karena lalu lintas yang padat. Maklum saja ini jam pulang kerja, jalanan pasti ramai.


Butuh waktu sekitar empat puluh lima menit untuk tiba di restoran Liang.


Tiba di parkiran restoran Liang, Dion tidak langsung turun, melainkan melihat situasi dulu. Restoran dalam keadaan ramai. Kasus yang menimpa Rose, tidak mempengaruhi jumlah pengunjung restoran.


Dari tempatnya, Dion dapat melihat ibunya yang bolak balik dari dalam ke pintu dengan waktu yang berdekatan. Menunggu dengan cemas dan tak sabar.


Hati Dion menghangat. Segera, ia keluar dari mobil. Dion membawa beberapa paper bag.


"Ibu," sapa Dion.


"Dion." Wajah Nyonya Liang langsung berseri.


"Akhirnya kau datang juga, Nak. Ibu sangat merindukanmu," ucap Nyonya Liang saat memeluk Dion.


"Aku juga, Bu." Dion mencium pipi ibunya.


"Ayah mana, Bu?"tanya Dion.


"Ada di dalam. Ibu menyuruhnya untuk tetap di dalam."


"Ayo kita masuk, Dion." Nyonya Liang menggandeng lengan Dion dan membawanya masuk.


Melewati barisan pengunjung, kemudian menaiki lift menuju lantai teratas. Lantai teratas ini, diperuntukkan untuk pemilik restoran saat datang berkunjung. Ada beberapa kamar, selebihnya adalah ruangan untuk penyimpanan barang dan juga tempat pertemuan.


"Ayah," sapa Dion saat masuk ke salah satu ruangan. Itu adalah ruang pertemuan.


"Dion." Tuan Liang langsung memeluk sang putra.


"Bagaimana kondisi ayah?"tanya Dion.


"Ayah baik. Bagaimana denganmu? Penerbangan panjang lalu langsung masuk kerja, tidakkah itu lebih berat?"


Dion tertawa renyah. "Aku sudah terbiasa, Ayah."


"Nak, usiamu…."


"Ayah, tidak perlu dibahas lagi. Aku sudah terbiasa dan baik-baik saja dengan itu. Lebih baik kita bahas hal lain saja. Ah … Ibu, aku lapar."


Tuan Liang tidak melanjutkan kata-katanya. Dion merengek lapar pada ibunya.


Nyonya Liang tersenyum. "Ibu akan ambil makan malam dulu. Kalian bicaralah duluan."


Nyonya Liang kemudian keluar dari ruangan.


"Ah … Dion, kau sangat tinggi, Nak." Tuan Liang baru menyadari tinggi badan putranya. Pertemuan kemarin sungguh cepat dan terburu-buru. "Dan sangat tampan."


"Kau juga cerdas. Ayah bangga padamu." Tuan Liang kembali memeluk Dion. Dan kali ini dengan menangis.


"Jadilah anak yang bijak dan cermat. Jangan seperti ayah."


"Ayah tenang saja. Dion akan jadi yang terbaik, untuk Ayah, Ibu, Kak Lia, dan juga keluarga Shane," balas Dion.


Tuan Shane menepuk bangga punggung Dion.


"Kemarin tidak sempat bercerita banyak. Ayo, ceritakan tentang kehidupanmu di sana." Dua pria beda generasi itu duduk di kursi.


"Ya? Apa yang ingin kau dengar, Ayah? Pendidikan? Teman? Atau keluarga Shane?"


Banyak hal yang ingin diceritakan. Namun, tak tahu harus mulai dari mana, oleh karenanya Dion meminta topik yang spesifik.


"Keluarga Shane."


Keluarga yang marganya digunakan untuk putranya saat ini.


"Daddy dan Mommy, mereka orang yang sangat baik. Mereka menyayangiku juga kakak. Sangat, malah! Begitu juga dengan kak Chris, dia sangat mencintai kakak, Lucas, dan Liam. Terkadang, aku merasa, mengapa mereka bisa begitu baik pada kami? Bahkan, tak ada perbedaan perlakuan. Mereka menyokong pendidikanku, dari sekolah menengah hingga tamat kuliah. Dan tak lama lagi, aku akan menggantikan Daddy memimpin Shane Group sampai batas Liam dewasa. Ya … itu sebuah keberuntungan bagiku."


"Baik? Apa mereka pernah menyakitimu atau menekanmu juga kakakmu?"


Dion tersenyum mendengarnya. "Ayah, setiap keputusan selalu ada resikonya. Sama seperti keputusan ini, sejak awal dari kami mengubah marga, maka sejak itu kami terikat dengan keluarga Shane dan sampai kapanpun tidak akan terlepas darinya."


"Tapi, Ayah. Tidak perlu Ayah pikirkan hal itu. Baik aku atau Kakak, sudah paham dan menjalaninya dengan baik. Jadi, Ayah dan Ibu, fokus saja pada kehidupan kalian, jangan khawatirkan kami."


Tuan Liang tak mampu membendung air matanya. Siapa yang tak menangis mendengarnya?


"I-ini salah ayah."


"Ayah, semua sudah berlalu. Menangis seperti ini malah membuatku merasa bersalah." Dion mengulurkan tangannya, menyeka air mata sang ayah.


"Ayah, meskipun kami jauh, kami akan selalu ada untuk ayah dan ibu."


"Astaga! Baru ditinggal sebentar sudah ada adegan menangis. Apa yang kalian bicarakan?" Nyonya Liang kembali dengan seorang beberapa pelayan yang membawakan hidangan makan malam.


"Hahaha … tidak ada. Kami hanya membahas masa lalu," kilah Tuan Liang, yang nyatanya itu adalah intinya.


"Sungguh?"


"Iya, Ibu. Masa-masa bahagia kita dulu," imbuh Dion.


"Jika membahas itu, Ibu juga akan menangis, Dion."


"Tangisan banyak macamnya, Ibu. Tangis yang mana ini?"


"Tentu saja tangis haru!"sahut Nyonya Liang dengan mendengus.


Dion terkekeh. "Ayo makan, perut kalian sudah berbunyi."


Tuan Liang tersenyum malu. "Ayo-ayo. Ini semua makanan kesukaanmu," ujar Tuan Liang, menutupi rasa malunya.


Dion mengangguk. Namun, saat memegang sendok, entah mengapa tangannya terasa lemas hingga sendok itu jatuh ke lantai.

__ADS_1


Bunyinya cukup nyaring. "Ada apa, Dion?" Nyonya Liang cemas melihat Dion yang mengernyit.


"Ah tidak apa, Ibu. Aku hanya tidak fokus karena sangat lapar," jawab Dion tersenyum.


"Benarkah? Ayo cepat makan."


Dion mengangguk. Sekilas matanya menunjukkan sorot kecemasan.


Perasaanku tidak enak.


Sejak tadi, aku merasa tidak enak. Apa yang terjadi? Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada keluargaku.


Sekilas, Nyonya Liang pun menunjukan kecemasan. Hanya sekilas dan berubah dengan senyum lebarnya.


*


*


*


Satu jam sebelum jam yang dikirimkan oleh Liam, Andrean telah meninggalkan kamarnya. Penampilannya begitu formal, elegan dan pastinya berkelas.


Menuju kediaman Shane, Andrean berhenti sejenak untuk membeli bunga. Di kursi belakang, terdapat tas, juga beberapa paper bag. Ya, hal umum, membawa buah tangan saat mengunjungi 'calon mertua'.


Sepuluh menit sebelum pukul 19.00, Andrean telah tiba di depan kediaman Shane. Gerbang tinggi itu tertutup rapat.


Andrean turun dari mobil. Tanpa melepas kacamatanya, menekan bel gerbang.


"Yes. Dengan siapa?" Terdengar sahutan, agaknya penjaga gerbang. Tak berapa lama, sebuah celah kecil yang hanya dapat menampakkan wajah terbuka.


Wajah sangat berada di baliknya. Andrean sampai terkejut hingga mundur beberapa langkah.


"Siapa?"


"Andrean Gong," jawab Andrean sembari mengusap dadanya.


"Andrean Gong? Ada keperluan apa?"tanyanya lagi, nadanya galak tidak ada keramahan sama sekali.


Andrean menduga bahwa Liam belum memberitahu pada Tuan Shane ataupun penjaga gerbang. Jika sudah, setidaknya tidak ada pertanyaan ada keperluan apa.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Shane," jawab Andrean, dengan datar.


"Bertemu Tuan? Ada urusan apa?"tanyanya lagi.


Andrean tersenyum geram.


Banyak tanya!


"Keperluan pribadi."


Penjaga gerbang itu tidak segera melapor pada Tuan Shane, melainkan mengamati Andrean lebih dulu. "Hm! Tunggu di situ!"


Menutup celah kecil itu. Andrean menunggu dengan bersandar pada body mobilnya.


*


*


*


"Tuan." Penjaga gerbang tadi menghadap Tuan Shane. Dan benar, tubuhnya kekar dengan wajah galak.


"Ada apa?"tanya Tuan Shane, yang kini berada di ruang keluarga bersama dengan istrinya, Lucas, juga Liam.


"Di luar gerbang ada yang ingin bertemu dengan Anda," jawab Penjaga tersebut.


"Siapa?"tanya Tuan Shane dengan mengernyit.


Sementara Lucas dan Liam saling tatap. "Apa itu dia?"bisik Lucas pada Liam.


"Maybe," balas Liam dengan berbisik pula.


"Dia memperkenalkan dirinya sebagai A-Andrean Gong."


"Andrean Gong?" Nyonya Shane bereaksi setelah mendengar nama itu.


"Anak itu. Masih berusaha rupanya. Aku tidak ingin menemuinya, suruh pergi saja," tolak Tuan Shane.


"Baik, Tuan." Tanpa bertanya, langsung mengangguki perintah Tuannya.


"Wait, Grandpa, Uncle!" Liam berseru. Tindakan tiba-tiba itu, bukan hanya mengagetkan Lucas tapi juga Tuan Shane.


"Liam?"


"Grandpa, tolong jangan usir dia. Biarkan dia masuk. Karena … mengundur waktupun tidak akan berpengaruh. Jika bisa dipercepat dan lekas selesai mengapa harus mengulurnya?" Liam berkata dengan sorot mata yang tenang.


"Hm? Dia punya keberanian hadir di kediaman Shane, apa kalian berhubungan dengannya?"tanya Tuan Shane, menyelidik. Matanya menatap tajam Lucas dan Liam.


"Benar! Liam yang menyuruhnya untuk datang. Grandpa punya koneksi dan kemampuan yang hebat, Liam yakin Grandpa sudah tahu kebenarannya!"tandas Liam. Sorot matanya tidak gentar sekalipun.


Lucas ternganga. Kaget dengan keberanian Liam.


"Jangan kekanakan, Grandpa. Untuk menguji seseorang, ada banyak caranya! Liam mohon biarkan dia masuk dan menyampaikan niatnya. Liam tahu ini lancang. Namun, izinkan hal ini mendapat penerangan."


Nadanya tetap datar begitu juga dengan sorot matanya. Namun, ada pengharapan di dalamnya.


"Suamiku." Nyonya Shane memegang lengan suaminya.


"Aku rasa yang dikatakan Liam ada benarnya. Meskipun kita sudah membuat kesepakatan. Namun, hanya dari satu sisi. Biarlah dia masuk, agar semuanya semakin jelas." Nyonya Shane sependapat dengan Liam.


Tuan Shane menatap bergantian istrinya dan Liam.


"Benar, Grandpa. Lucas setuju dengan Liam dan Grandma. Jika Mom di sini, pasti juga akan setuju," imbuh Lucas.

__ADS_1


Tuan Shane menarik senyum miring. Kemudian tertawa. "Argumenmu ada benarnya. Ah … tak ku sangka aku tidak bisa menolaknya."


"Baiklah. Suruh dia masuk!"titah Tuan Shane kemudian.


Lucas berbinar. Liam tersenyum tipis. "Terima kasih, Grandpa!" Satu dengan nada ceria, satu dengan nada datar.


Penjaga gerbang itu mengangguk dan segera meninggalkan ruang keluarga untuk membukakan gerbang.


Andrean melihat ke arah gerbang saat mendengar pergerakan. Gerbang itu terbuka. "Masuk!" Penjaga gerbang tadi tetap bersikap galak.


"Thanks."


Andrean kembali masuk ke mobil dan melajukannya masuk.


Turun dari mobil dan mengambil barang bawaannya. "Bunga? Anda ingin menemui Tuan Shane apa Nyonya Shane? Atau Nona Muda?!"sentak penjaga gerbang itu setelah melihat bawaan Andrean.


Andrean mendengus. "Not your business!"ketus Andrean.


Heran? Badan kekar wajah galak kok banyak omong!


"Kau mau melamar Nona Muda?" Agaknya tidak menghiraukan balasan Andrean. Penjaga itu mengantar Andrean sampai ruang keluarga.


"Jika iya, ada masalah dengan itu?"balas Andrean.


Penjaga gerbang itu tidak membalas. Hanya tertawa. Dan itu mengganggu Andrean.


"Tuan, ini tamunya." Sudah tiba di ruang keluarga.


Tuan Shane mengangguk kemudian mengibaskan tangannya. Penjaga gerbang itu segera undur diri. Sementara Andrean, berdiri kaku di depan keempat orang yang duduk di sofa itu.


Tuan dan Nyonya Shane, menatapnya tajam. Liam dan Lucas, menatapnya datar. Sungguh, rasanya benar-benar ditatap hewan buas. Sekelas Andrean saja kaku dan menelan ludahnya.


"Mr. Andrean Gong? Right?" Tuan Shane membuka percakapan.


Andrean mengangguk. "Good afternoon, Mr. Shane, Mrs. Shane, Lucas, Liam."


"Alright. Sit down, please." Tuan Shane mengulurkan tangannya, menyuruh Andrean duduk.


Andrean mengangguk. Rasanya kaku dan canggung.


"Anda membawa banyak barang, ya? Sepertinya sudah dipersiapkan," ujar Nyonya Shane, melihat paper bag yang Andrean letakkan di atas meja juga tasnya, serta bunga.


Nyonya Shane memicing melihat bunga mawar itu. "And this flower, for whom? My daughter Camelia?" Nyonya Liang langsung menerka.


"Ya … kurang lebih seperti itu." Andrean menunduk. Sungguh, ia hanya menunduk di depan kakek juga orang tuanya. Sesekali matanya melirik Lucas dan Liam yang tampak datar.


Dan sungguh pula, ia ingin memeluk kedua anak itu. Kedua anak laki-lakinya.


"Em … Camelia ada di mana?"tanya Andrean, yang baru menyadari bahwa Camelia tidak ada di ruangan ini.


"Lia belum pulang. Dan tidak perlu basa basi. Katakan apa tujuanmu datang ke negara ini dan berada di ruangan ini!"jawab Tuan Shane.


"Saya ingin membicarakan mengenai …."


"Sebentar!" Ucapan Andrean dipotong oleh Tuan Shane.


"Bicara di ruangan saya saja." Tuan Shane bangkit. Andrean ikut bangkit, begitu juga dengan yang lain.


Tanpa sepatah kata lagi, Tuan Shane beranjak. "Lucas, Liam, kalian tunggulah di sini atau pergilah ke kamar. Mr. Gong, mari." Nyonya Liang memberi titah.


Liam dan Lucas mengangguk. Nyonya Shane beranjak menyusul suaminya diikuti oleh Andrean.


"Ini hadiah untuk kita, bukan?"tanya Lucas, menatap paper bag di atas meja.


"Hm."


"Kita buka?"


"Biarkan saja. Grandpa belum menerimanya. Daripada kita kena marah, lebih baik kita ke kamar." Liam beranjak.


"Aku ke dapur dulu," teriak Lucas.


Di dapur, Lucas mengambil teh putih yang Camelia bawa dari China. Hanya itu, untuk cemilan, buah, ataupun minuman dingin, itu ada di kulkas kamar mereka.


"Kau sedang apa?"tanya Lucas yang melihat Liam bergelut dengan laptopnya.


"Main game," sahut Liam.


"Ada waktumu bermain game sementara pria itu tengah di sidang?" Lucas menggelengkan kepalanya heran.


"Itu urusannya. Urusanku cuma mempertemukan mereka," sahut Liam, santai lagi acuh. Ia sudah membuka jalan. Sukses tidaknya, haruskah ia ataupun dengan Liam campur tangan lagi? Sementara itu jauh di ranah mereka.


"Ya, benar juga. Tapi, aku khawatir. Biar bagaimanapun dia itu ayah kita," balas Lucas, menghela nafas berat. Liam melirik.


"Daripada kau khawatir, lebih baik main game saja denganku," ajak Liam.


"Entahlah, Liam. Aku tak ada mood main game. Selain itu, perasaanku cemas bukan untuk pria itu saja. Tapi, juga untuk Mom."


"Mom?" Seketika Liam menolehkan wajahnya.


"Ya, hatiku tak tenang." Wajah Lucas menunjukkan kekhawatiran yang jelas.


"Liam, can you hack where Mom is?"


"Alright." Dan Liam juga mulai merasakan kekhawatiran yang sama.


Segera, ia keluar dari gamenya kemudian melacak keberadaan Camelia.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2