Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 113


__ADS_3

Sebuah film, yang membawa tema kehidupan dan percintaan bangsawan di abad pertengahan. Film itu berjudul"Emoni" yang artinya kesetiaan. Bercerita tentang kisah cinta seorang putri jenderal dengan seorang mata-mata dari musuh. Di mana, terdapat kerumitan yang jelas di dalamnya. Putri jendela itu bernama Ava, yang diperankan oleh Camelia. Sementara peran utama prianya dibawakan oleh salah seorang aktor yang populer pula.


Ava memiliki seorang sahabat. Namanya adalah Charlotte. Yang diperankan oleh aktris yang cukup populer pula, bernama Alexis Waldo.


Film ini, diperankan oleh Camelia sekitar dua tahun yang lalu dan juga telah mendapatkan penghargaan dan beberapa kali masuk nominasi. Akhir kisah ini adalah sad ending. Sesuai dengan judulnya yang memiliki arti kesetiaan, maka kisah cinta itu tidak memiliki akhir yang bahagia apalagi tokoh utamanya bersatu. Ava, setia pada ayahnya dan juga negaranya.


Sementara tokoh utama pria, setia pula pada negaranya. Namun, sebelum sad ending, ada waktu di mana mereka bahagia yang akan menjadi kenangan bahagia. Lantas? Apa peran sahabat Ava itu?


Sahabat? Kata itu hampir bisa disamakan dengan saudara. Namun, tidak setiap saudara atau sahabat baik, bukan? Begitu juga dengan Charlotte.


Ia cemburu pada Ava. Menganggap Ava hidup dengan enak, sementara dirinya yang notabennya anak seorang pelayan, harus bekerja keras di kediaman Ava. Ya, persahabatan antara putri dan pelayan. Itulah yang terjadi.


Awalnya, kisah cinta itu, berlangsung dengan lancar. Dan Charlotte adalah awal kisah itu menempuh lika liku panjang. Hingga pada akhirnya, Charlotte tewas setelah ditembak mati oleh ayah Ava.


Bagaimana dengan nasib Ava dan tokoh utama pria? Mereka tewas, di akhir, mereka akan saling menodongkan senjata dan sama-sama menyerang. Darah dan kematian mereka adalah bukti kesetiaan mereka. Baik pada negara, keluarga, maupun pada diri mereka.


Dan saat film itu ditayangkan di bioskop, popularitas Camelia bertambah. Tawaran semakin banyak.


"Apa maksudmu, Alexis Waldo?!"teriak Camelia.


Kembali ke saat ini, di mana Camelia begitu geram pada wanita di hadapannya. Ya, wanita itu Alexis Waldo yang pernah satu frame dengan Camelia. Namun, sejak itu mereka tidak pernah satu frame lagi, berjumpa pun hanya di acara penghargaan. Itupun hanya mengobrol singkat. Mereka tidak begitu akrab namun, juga tidak menunjukkan permusuhan.


Tapi, siapa sangka? Alexis Waldo melakukan hal ini? Menculik dan hendak mengambil nyawanya.


Apa alasannya?


"Masamu sudah cukup. Giliran masaku!"sahut Alexis.


Camelia mengernyit. "Masa apa?"


"Jangan pura-pura bodoh! Suamimu sudah mati, saatnya kau pergi!"


"Dasar gila!"desis Camelia.


"Yes! Aku memang gila! And that, because you!"


"Aish. Hentikan. Lepaskan aku dan segeralah pergi. Aku tidak akan mempermasalahkannya." Camelia berkata dengan menggelengkan kepalanya.


"Kau yang mengandalkan suami untuk populer, sekarang suamimu sudah pergi dan saatnya kau juga pergi karena kau juga tidak ada artinya lagi di keluarga Shane!"tandas Alexis, mengulurkan tangannya pada pria di sebelahnya. Pria itu meletakkan pisau di tangan Alexis.


"Heh? CK! Kau benar-benar gila!"


"Tapi, sebelum itu aku akan merusak wajahmu lebih dulu!" Alexis tersenyum smirk.


"Pergilah, Alexis. Aku tidak bisa menjamin kau akan selamat saat para pengawalku datang."


Alexis cemburu padanya. Cemburu pada popularitasnya, dan semua yang ada padanya. Ya … itu sudah biasa. Namun, mereka hanya melihat luarnya tanpa tahu apa yang terjadi di dalamnya.


"Kau kira aku bodoh?! Kau sudah di depanku, lalu aku lepaskan?!"


Camelia terkekeh pelan. "Kau memang bodoh!"ketus Camelia.


"Kau!" Wanita itu kembali melayangkan tangannya pada Camelia tapi kali ini dengan tambahan pisau.


Camelia gesit menghindar. Ia hanya diikat tangannya. Tapi tidak dengan kakinya.


"Apa yang kalian lihat?! Tahan wanita sialan itu!"teriak Alexis pada dua pria berbadan tegap itu.


Bak baru sadar setelah diteriaki, kedua pria itu langsung berjalan mendekati Camelia.


Mata Camelia awas.


Sulit untuk kabur. Aku harus mengulur waktu, batin Camelia.


Jika satu orang saja, Camelia masih bisa mengatasinya. Tapi, tidak dengan 3 orang yang mana salah satunya ada gangguan kejiwaannya.


"Si*l!"gumam Camelia saat ia berhasil ditangkap. Kedua tangannya dipegang erat dan ia diapit oleh dua pria itu.


Jantung Camelia berdebar kencang. Alexis berjalan mendekatinya dengan pisau yang teracung padanya.


"Selama ini, kau dipuji karena wajah cantikmu. Bagaimana jika wajah cantikmu rusak?"


"Ah … zaman sekarang ada operasi plastik. Wajahmu akan bisa dikembalikan. Tapi, bagaimana jika nyawamu hilang? Sebanyak apapun, sekaya apapun, tidak akan bisa mengembalikan nyawa yang sudah hilang!" Wanita itu lantas tertawa.


"Aigo! Sepertinya kau sudah sering diculik." Wanita itu tampak geram. Saat menempelkan pisau pada pipi Camelia, Camelia hanya meliriknya. Tatapan matanya tetap tenang. Tapi, percayalah bahwa dia tidak setenang itu.


"Tapi, aku tidak bercanda!"


"Sttt!"


Camelia meringis. Wanita itu benar-benar melukai wajahnya. Pipi Camelia digores dengan pisau itu.


Mata Alexis berbinar melihat pipi Camelia berdarah. Camelia meronta. Sayang tenaganya tidak cukup.


Mata Camelia melebar saat melihat Alexis hendak mengayunkan pisau itu, hendak menghunus dirinya.


Bugh!


Bugh!


Akhhgh!

__ADS_1


Sebelum itu terjadi, terdengar keributan dari luar yang menyebabkan perhatian Alexis teralihkan.


"Apa yang terjadi?" Alexis berseru marah. Salah satu pria itu, menyuruhnya untuk mengecek keadaan di luar.


Bugh!


Baru saja membuka pintu, pria itu terjengkang ditendang seseorang.


"Andrean?"gumam Camelia. Ya, pria itu adalah Andrean.


"Lia!"seru Andrean.


"Kau? Bagaimana bisa ada di sini?"


"Tidak penting!"sahut Andrean. Pria yang terjengkang tadi bangkit dan melawannya.


"Pria gila dari mana ini?!"erang Alexis, frustasi. Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi, mengapa diganggu?


Andrean menumbangkan satu. "Kau, maju!" Camelia dilepaskan.


Sayang, pria itu juga bukan lawan Andrean.


"Ahhh … matilah kau!" Andrean kurang waspada setelah menumbangkan dua pria itu.


"Andrean!"teriak Camelia, terkejut dengan apa yang dilihatnya. Alexis menikam Andrean dari belakang.


Andrean melihat pisau yang tertancap di bahu kirinya. Kemudian melihat Alexis yang tersenyum.


"Wanita gila ini!" Camelia berlari, melayangkan tendangan pada Alexis.


Bugh!


Tendangan itu menyebabkan Alexis membentur dinding.


"Uhh!"


"Andrean, kau …."


"Wajahmu terluka," ucap Andrean dengan nada pelan, menahan sakit di bahunya. Jarinya mengusap darah di pipi Camelia.


"Mana yang lain?!"


Sebelum Andrean menjawab, para pengawal datang.


"Nona Muda!"


"Dia terluka!" Satu kata itu sudah membuat para pengawal mengangguk.


"Kau juga terluka, Lia."


"Lukamu lebih parah. Pergilah dengan mereka, aku akan menyusul!"ucap Camelia seraya mengusap pergelangan tangannya yang merah akibat ikatan tadi.


"Uhhh!" Rasa sakit semakin terasa. Pandangan Andrean mulai buram dan akhirnya tak sadarkan diri. Dua orang pengawal memapah Andrean keluar.


"Lepaskan aku!" Dari luar terdengar teriakan Alexis. Sepertinya tadi sempat melarikan diri namun ditangkap oleh para pengawalnya.


"Wanita itu, masukkan saja ke rumah sakit jiwa."


"Lepaskan aku, wanita si*lan!"teriak Alexis, meronta sekuat tenaga.


Camelia mengabaikannya. "Maafkan kami, Nona. Kami gagal melindungi Anda." Para pengawal yang masih di lokasi, menundukkan kepala.


"Kalian datang tepat waktu. Hanya saja, ada kejadian tidak terduga." Camelia mendengus senyum. Mengusap darah di pipinya dengan tisu.


"Ke rumah sakit!"titah Camelia kemudian setelah masuk ke dalam mobil.


*


*


*


"Mom!" Lucas dan Liam berlari mendekati Camelia yang duduk di depan ruangan, di mana Andrean ada di dalamnya.


Tuan dan Nyonya Shane mengikut di belakang keduanya.


"Lucas, Liam." Camelia berjongkok. Kedua anak itu masuk dalam pelukannya.


"Mom … hiks … hiks ….." Lucas menangis.


"Mom baik-baik saja. Kalian jangan menangis."


"Mom, wajahmu …." Ucapan Liam tertahan saat melihat ada perban di pipi Camelia.


"Lia, kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, Mom. Hanya terluka sedikit. Tapi …." Camelia mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


"Daddy sudah tahu." Tuan Shane duduk kemudian menghela nafasnya.


"Dia langsung lari saat mendengar kau diculik," imbuh Nyonya Shane.

__ADS_1


"Seharusnya tidak melakukan hal itu." Camelia turut menghela nafas. Secara tak langsung, meskipun ada para pengawalnya, ia berhutang budi pada Andrean.


"Mom, bagaimana kondisi Mr. Gong?"tanya Lucas.


"Masih ditangani. Semoga tidak terlalu buruk."


"Liam, Mom dengar kau yang menemukan lokasi Mom tadi." Camelia mengalihkan pandangannya pada Liam. Liam mengangguk singkat.


"Lucas merasa tak enak soal Mom. Jadi, memintaku untuk melacak keberadaan Mom."


"Terima kasih." Camelia kembali memeluk kedua putranya.


"Mengapa dia melakukan hal bodoh ini?" Tuan Shane mengusap wajahnya kasar. Tak habis pikir. Malah Andrean terluka cukup parah lagi.


"Dia membuatku dalam posisi sulit." Tampaknya Tuan Shane sangat frustasi dengan apa yang Andrean lakukan.


"Daddy, jangan dibahas di sini, tolong," pinta Camelia. Sekarang, cukup pikiran saja bagaimana keadaan Andrean. Masalah lainnya pikirkan belakangan.


"Hah!"


"Baiklah. Kita bahas saat ia sadar nanti."


"Lebih baik kalian pulang saja. Hari sudah larut."


"Lalu kau, Lia?" Nyonya Shane menatap lembut Camelia.


"Aku akan menunggu dokter keluar. Biar bagaimanapun dia di dalam karenaku."


"Kalau begitu kami pulang setelah mengetahui keadaannya." Tuan Shane membuat keputusan. Yang lain hanya bisa menyetujuinya.


Duduk di kursi tunggu dengan perasaan yang tidak menentu.


"Apa Grandpa akan berubah pikiran setelah hal ini?"bisik Lucas pada Liam. Liam menggeleng pelan.


"Terkadang, Grandpa sulit diterka."


"Mom juga tampak berhutang budi," bisik Lucas lagi, melihat wajah tertekan Camelia.


"Entahlah, Lucas. Aku hanya berharap yang terbaik. Dan terkadang takdir memang tidak bisa ditebak. Kita kira akan berjalan lancar. Namun, hal buruk ini malah terjadi." Liam memejamkan matanya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, dokter keluar. "Bagaimana keadaannya, Dokter?"tanya Camelia cepat. Dokter itu tidak segera menjawab. Namun, menatap Camelia, juga Tuan dan Nyonya Shane bergantian.


Pria di dalam itu pasti bukan pengawal hingga keluarga Shane menunggunya, batinnya.


"Luka tusuknya cukup dalam. Tapi, tidak perlu cemas. Lukanya sudah ditangani."


"Dia sudah sadar?"


"Kami memberinya anestesi. Kemungkinan besar dia akan sadar besok pagi."


"Syukurlah." Camelia akhirnya bisa bernafas lega. Dokter mengangguk kemudian undur diri.


"Mom … karena baik-baik saja, ada baiknya kita pulang. Besok pagi baru menjenguknya lagi," ucap Liam.


"Liam benar." Tuan Shane setuju. Camelia menatap Lugas dan Liam bergantian, kemudian mengangguk.


Kemudian keluarga itu meninggalkan rumah sakit. Beberapa pengawal ditugaskan untuk menjaga Andrean.


*


*


*


Hallo!


Selamat Siang, semuanya.


Apa kabar?


Semoga dalam keadaan sehat, yaa


Author kembali menyapa


Tak terasa, sudah 100 + episode.


Tidak mudah untuk sampai di tahap ini. Namun, atas dukungan, saran dan kritik, Author berhasil melewatinya.


Babak kedua telah dimulai yakni perjuangan Andrean untuk bisa bersama dengan Camelia, Lucas, Liam. Jika di babak awal, Rose dan Jordan adalah masalahnya. Maka di babak kedua ini, Tuan Shane adalah yang harus diluluhkan. Sejauh ini, Andrean belum mampu meluluhkannya.


Dan tampaknya, luka yang ia terima saat menyelamatkan Camelia pun kurang berefek.


Lantas, apa benar tidak akan luluh? Atau perlu berusaha lebih keras lagi?


Terus ikuti kisahnya, Yaa


Kesayangan Presdir


Salam hangat dari Author.


Sampai nanti

__ADS_1


__ADS_2