Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Tentang Andrean


__ADS_3

Di lantai teratas gedung Starlight Entertainment, sang Presdir, Andrean Gong berdiri menatap goresan senja dari ruangannya. Tatapan pria itu begitu dingin. Wajahnya menunjukkan raut ketidaksenangan. Suasana hatinya sepertinya tengah bad. Tangannya memegang gelas berisi anggur merah.


Kedua anak itu … sungguh versi kecilku. Apakah dia benar mereka anak-anakku dari kucing liar itu? Tapi, aroma ibu mereka itu berbeda. 


Andrean kemudian menyesap anggur merahnya lalu menghela nafas pelan.


Aku harus menyelidiki tentang mereka. Ada baiknya jika mereka tertarik masuk ke Starlight Entertainment.


"Tuan Muda." Asisten sekaligus sekertaris pribadinya, Hans datang menghadap padanya. Andrean berbalik. Satu tangannya berada dalam saku celana, "sudah pulang?"


"Nona Muda berada di Shanghai, Tuan Muda. Kemungkinan tidak pulang sampai besok. Nona Muda Kecil sejak Anda tinggal tadi murung di dalam kamarnya." Andrean mendengus kesal. Ia menatap kesal Hans.


"Siapa itu Nona Muda, hah? Siapa itu Nona Muda Kecil? Aku bahkan tidak ingat wajah orang yang kau panggil Nona Muda itu!"desis Andrean. Suasana hatinya kembali memburuk. 


Pyar!

__ADS_1


Gelas yang masih ada isinya itu ia bantingkan. Isinya berserakan di lantai. Hans tidak terkejut. Ia memilih membungkuk, meminta maaf. "Saya salah, Tuan Muda."


Hghh!


"Berapa lama wanita itu menyandang gelar Nona Gong?"tanyanya dingin.


"Lima tahun, Tuan Muda. Apa Anda berniat untuk mengakhirinya?" Hans kembali mengangkat kepalanya.


"Belum saatnya. Biarkan dia menikmati masa-masa menjadi tunanganku. Ah ya Hans, apa kau tahu alasanku tidak kunjung menikahinya ataupun memutuskannya?" Pria itu duduk di kursi kebesarannya. Hans mengangguk. 


"Sampai kucing liar itu kembali."


Wanita lima tahun lalu itu kembali? Tuan Muda kau sudah menunggunya selama ini tanpa kepastian. Akan lebih baik jika kau mengingat wajahnya, ringis Hans dalam hati. 


"Aku punya firasat sebentar lagi kami akan bertemu," lanjut Andrean.

__ADS_1


Pria yang dikenal berhati dingin dan hampir dikira jeruk makan jeruk sebelum mengumumkan berita pertunangan itu menarik senyum lebar. Hal itu membuat Hans bergidik sekaligus mencelos dalam hati. 


Jikapun Anda punya firasat, Tuan Muda. Apa Anda bisa mengenalinya? 


Andrean itu pengidap buta wajah. Ia hanya ingat orang yang berada dekat di sisinya selama bertahun-tahun. Wajah yang paling ia hafal adalah Hans, Neneknya, dan Ayahnya, juga si cantik Crystal belakangan ini. Itupun karena Crystal sering mengunjunginya di ruang kerja saat Mamanya pergi entah ke mana. 


Andrean tidak peduli dengan wanita penipu itu. Ya, Andrean sudah tahu sejak awal kalau Rose itu penipu dan Crystal jelas bukan darah dagingnya. Andrean bukan doang bodoh. Orang lain mungkin akan tertipu dengan tanda lahir dan bekas luka yang letaknya sama dengan wanitanya. Wanitanya? Jelas wanita yang berada dalam kungkungannya pada malam itu. 


Terlebih ia memiliki sampel darah wanitanya. Hanya saja, tanda lahir dan bekas luka itulah yang terlihat begitu meyakinkan. Lagipula ia butuh tameng agar publik tidak termakan dengan rumor yang mengatakan dirinya gay.


Dan sebagai pewaris tunggal ia juga harus memberikan kepastian kepada keluarganya. Andrean hanya memberi posisi tunangan pada Rose, karena posisi Nyonya adalah untuk wanitanya. Sampai detik ini, Andrean tidak sekalipun menyentuh Rose walau wanita itu berpose menggoda dirinya. 


Dan pertemuan dengan Lucas dan Liam tadi, membuatnya merasakan perasaan yang dekat. 


"Hans selidiki dua anak kembar di mall tadi!"titah Andrean.

__ADS_1


"Baik, Tuan Muda."


__ADS_2