
Sesuai yang direncanakan, sore harinya mereka pergi ke mall. CF Rideau Centre menjadi pilihan mereka.
Lina tidak ikut di dalamnya. Karena wanita itu belum selesai. Ya, mungkin hari pertama adalah hari yang paling berat. Ibarat kata, perlu banyak adaptasi serta juga tidak jarang menjadi kacung. Namun, itu adalah fasenya.
"Hadiah apa ya kira-kira?"tanya Camelia saat telah tiba di mall.
"Make up?"saran Lucas langsung.
"Asisten Mom kan suka make up," tambahnya. Ya, wanita mana yang tidak suka make up dan antek-anteknya?
"Gaun? Parfum? Jam tangan?" Liam turut menyumbang saran.
"Gaun?" Camelia memikirkannya.
"Ada banyak memang. Kau mau tanya mana, Lia?"tanya Kak Abi.
Karena menimbang. "Bagaimana jika lingerie?"bisik Kak Abi pada Camelia. Camelia membelalakkan matanya.
"Tidak!" Langsung menolak.
"Apanya yang tidak, Mom?"tanya Lucas.
"Ah bukan apa. Ayo, aku sudah menentukannya." Camelia melangkah menuju salah satu store. Kak Abi tertawa geli melihat reaksi Camelia.
Lucas dan Liam berpandangan bingung. Namun, tetap mengikuti mereka.
*
*
*
"Selamat malam," sapa Lina yang baru pulang. Waktu menunjukkan pukul 21.00.
"Malam." Tuan dan Nyonya Shane yang belum tidur membalasnya. Mereka masih berada di ruang keluarga.
"Baru pulang, Lina? Tak tampak lelah sekali."
"Iya, Madam," jawab Lina. Memang sangat melelahkan.
"Kau sudah makan?"tanya Tuan Shane. Lina adalah tamu di rumah ini, tentu saja harus bersikap baik.
Lina mengangguk pelan. Tadi, sebelum pulang ia sudah makan. Dan tadi, ia pulang menggunakan taksi. Sebenarnya, Camelia menawarkan jemputan. Namun, ditolak oleh Lina.
"Kalau begitu lekaslah istirahat," ucap Nyonya Shane.
"Baik, Madam. Lia di mana ya?"tanya Lina kemudian.
"Ada di dapur." Lina mengangguk paham kemudian izin undur diri. Lina tidak langsung menuju kamarnya, melainkan menuju kamar.
"Eh … Kak? Kau sudah pulang?" Rupanya Camelia tengah membuat teh putih Fujian. Teh yang ia bawa dari China.
"Bagaimana hari pertamamu, Kak?"tanya Camelia, duduk di bangku. Di dapur ini ada mini bar.
"Lumayan," jawab Lina, tersenyum simpul.
"Margaretha, aku mengenalnya. Dia cukup baik dan ya terkenal tegas dan juga galak. Kau harus banyak bersabar bersamanya," tutur Camelia.
"Ya, aku melihatnya. Dan aku merasa Presdir mu itu tengah mengujiku dengan hal ini."
"Memang. Apa kau tidak menyadarinya sejak awal?" Camelia terkekeh pelan. Masuk ke entertainment bergengsi tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Ini minumlah dulu agar kau tenang dan tidurmu nanti nyenyak." Camelia menyodorkan secangkir teh putih itu.
"Terima kasih."
"Aku kesal. Namun, aku juga berterima kasih," ucap Lina setelah minum.
Camelia terkekeh pelan. "Jalani saja dulu. Tunjukkan keteguhan dan kemampuanmu, dia akan luluh sendiri nantinya."
"Hm, kau benar, Lia."
"Lia…."
"Hm."
"Bagaimana hubunganmu dengan Tuan Gong?"tanya Lina penasaran, dengan berbisik.
Camelia menaikkan alisnya. Kemudian tersenyum kecut. "Entahlah, Kak. Aku juga tidak tahu."
Melihat Camelia yang enggan menjawabnya. Lina tidak bertanya lagi. "Tubuhku sangat bau. Aku mandi dulu."
"Hm." Lina meninggalkan dapur setelah menghabiskan teh putihnya.
Sementara Camelia tetap di sana. Menikmati secangkir teh putih dengan beberapa cemilan.
"Eh, Lia? Mau masih di sini?" Nyonya Shane kaget menemukan Camelia masih berada di dapur.
"Eh, iya, Mom." Camelia nyengir. Ia juga tidak tahu, awalnya hanya ingin minum teh namun keterusan melamun.
"Lekaslah istirahat," tutur Nyonya Shane.
"Iya, Mom."
Camelia beranjak menuju kamarnya. Nyonya Shane menggeleng pelan. Kemudian melangkah tujuannya ke dapur.
*
*
*
Ting.
Andrean meraih ponselnya.
Apa kau sibuk?
Andrean mengangkat tangannya saat membaca pesan itu, dan juga siapa pengirimnya.
Yang persentase langsung berhenti. Menatap bingung dan was-was Andrean. Begitu juga dengan yang lainnya. Saat ini Andrean tengah meeting.
__ADS_1
"Meeting ditunda dulu. Nanti akan diumumkan lagi," ucap Andrean, dengan cepat langsung meninggalkan ruang meeting.
"Tuan?"
"Tuan?"
Panggilan Hans tidak ia hiraukan.
"Ada apa dengan Presdir?"tanya peserta meeting, menatap bingung satu sama lain.
"Kalian bubar dulu. Nanti dikabarin lagi," ucap Hans, melanjutkan titah Andrean tadi.
Hans kemudian menyusul Tuannya. "Untung meeting internal," gumamnya dalam langkah mengejar Andrean.
Peserta meeting pun turut meninggalkan ruang meeting.
"Entah mengapa, aku tidak senang meeting dihentikan di tengah jalan," ucap salah satu peserta meeting.
"Kau benar. Rasanya masih ada jerat di leherku selama meeting ini belum selesai," timpal yang lain.
"Sudahlah. Lebih baik matangkan lagi persentase kalian sebelum meeting dimulai lagi," sahut yang lainnya pula.
*
*
*
Setiba di ruangannya, Andrean langsung menghubungi Camelia. Ya, inilah alasannya menunda meeting. Menghubungi Camelia. Jarang sekali Camelia menanyakan hal seperti pesan tadi. Artinya Camelia ingin menghubunginya dan kemungkinan membicarakan hal yang cukup sentral.
"Hallo, Camelia." Entahlah. Rasanya gugup.
"Hallo, Tuan Gong. Apa Anda sibuk?" Andrean terdiam beberapa saat, mendengar suara wanita di seberang sana. Terdengar was-was.
"Tidak. Aku tidak sibuk. Ada apa? Dan ya … jangan panggil aku Tuan. Panggil saja aku Rean," ujar Andrean.
Tuan Gong? Apa kami begitu jauh? Bahkan jika ia memanggilku sayang, itu hal wajar, batin Andrean.
Hah?
Hans yang baru saja masuk tertegun mendengar ucapannya Andrean.
Tunggu!
Tidak sibuk?
Apanya yang tidak sibuk?
Hans mendengus.
Dan lagi? Panggil saja aku Rean?
Ahh … aku tahu, pasti artis Kanada itu. Tuan, Anda benar-benar serius sampai menyuruhnya memanggil Anda dengan panggilan kesayangan.
Hans hanya membatin dan memutuskan untuk tidak masuk lebih jauh dan keluar.
"Hm … baiklah. Ada hal yang ingin aku katakan padamu. Ini
Sudah Andrean duga. Ini pasti hal serius. Apalagi menyangkut keluarga. "Hal apa itu?"
"Hal yang aku katakan ini, aku tak tahu apakah akan mempengaruhimu untuk tetap lanjut atau tidak."
"Katakan saja. Aku akan mendengar dan mempertimbangkannya," sahut Andrean. Ingin langsung ke intinya.
"Keluargaku menetapkan beberapa syarat jika aku ingin menjalin atau menikah lagi."
Andrean menegakkan tubuhnya.
"Syarat?"
"Hm … yang pertama, aku tidak boleh mengumumkan hubungan atau pernikahan selama tiga tahun ke depannya. Jadi, andai kata kau pacaran, harus sembunyi-sembunyi." Nada bicara Camelia rendah.
Namun, Andrean mendengarnya dengan jelas. Pria itu terkejut.
Tidak boleh mengumumkan hubungan atau pernikahan selama tiga tahun?
Itu waktu yang lama!
"Lalu?"
"Yang kedua …." Menjeda ucapannya.
"Yang keduanya?" Andrean tak sabar.
"Ini yang paling penting, jika aku menikah lagi, maka Lucas dan Liam tidak bisa ikut denganku. Mereka tetap di keluarga Shane," ucap Camelia, nadanya lirih.
Namun, lagi Andrean dapat mendengarnya jelas.
"APA?!"
Langsung saja pria itu berteriak terkejut dan tidak menyangka. Bahkan, ia sampai bangkit dari duduknya.
Matanya bergerak bingung dan juga rumit. Dahinya mengernyit, tampaknya tidak menemukan jawaban atas pernyataan itu.
"A-apa itu semua ditentukan oleh keluarga Shane? Tidak bisa. Mereka anakku, kalau kita menikah, harus ikut dengan kita. Yang pertama, aku bisa mengerti. Namun, yang kedua, aku tidak bisa!"
Belum terdengar balasan.
Lucas dan Liam sejatinya adalah anaknya. Bahkan jika ia menuntut pada keluarga Shane, itu bisa dilakukan. Apalagi untuk pembuktian ada tes DNA.
Lantas mengapa tidak melakukannya? Ya, tentu saja karena tujuan Andrean tidak hanya Lucas dan Liam, namun juga Camelia.
"Hei, Andrean!" Kali ini nada bicara Camelia dingin.
"Apa aku meminta persetujuanmu?"lanjutnya kemudian.
Andrean tertegun. Lantas untuk apa mengatakan hal itu padanya?
"Aku mengatakannya agar kau paham apa yang akan kau hadapi ke depannya. Identitas anak-anakku adalah cucu dari keluarga Shane. Aku tidak butuh persetujuan ataupun penolakanmu. Terserahmu, mau lanjut atau tidak. Jika kau tidak senang dan tidak sanggup, silakan aku tidak keberatan jika berhadapan di meja hijau. Kita tidak ada ikatan apapun, jadi kau bisa prediksi hasilnya, bukan?"tegas Camelia.
"Apa yang kau katakan?!" Andrean tak habis pikir. Mengapa Camelia mudah sekali berubah!
__ADS_1
"Hei, Andrean. Aku tidak pernah menjanjikan apapun padamu. Jadi, jangan gunakan nada itu padaku!"
"A-apa tidak bisa dinegosiasikan lagi?" Andrean melemah.
"Tidak. Keputusan keluargaku final. Namun, tidak tahu juga. Selain itu, Andrean meskipun Lucas dan Liam adalah anak biologismu. Namun, Chris adalah ayah kandung di identitas mereka. Dan, andai kata kita menikah dan mereka ikut denganku, mereka tetap tidak akan mengubah marga. Karena, marga itu telah tersemat sejak kecil. Hubungan kami legal, tidak ada alasan untuk mengubah marga. Kau tidak bisa memaksanya. Aku tahu, meskipun marga sangat penting. Namun, yang terpenting adalah ikatan di dalam keluarga itu. Aku harap kau paham. Anggaplah aku egois karena mengambil keputusan berdasarkan keadaan dan posisiku."
"Hanya itu hal yang ingin aku katakan. Aku tahu kau sibuk. Terima kasih atas waktunya. Selamat siang, Mr. Gong."
"Ca…." Terlambat, Camelia telah menutup panggilan. Dihubungi kembali, namun tidak dijawab. Di percobaan kedua, malah tidak aktif.
"Aghhhkk ….sial!" Andrean melemparkan ponselnya ke
sembarang tempat, kemudian mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Mengapa semakin rumit?!"erang Andrean.
"Sial! Sial! CK Sialan!" Mengumpat untuk mengekspresikan perasaannya.
"Aku hanya ingin bersatu dengan anak-anak dan wanitaku, mengapa begitu sulit?!"
"Syarat apa itu?! Tidak masuk akal!"
"Dan lagi? Marga penting namun ikatan di dalamnya lebih penting?! Apa itu?"
Andrean kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi. Dahinya mengernyit, berpikir, mencari jalan keluar.
"Tuan."
Hans masuk. Andrean menoleh sekilas.
Deg!
Aura Tuan tidak bagus.
Hans merasa was-was. "A-apa meeting kita lanjutkan?"tanya Hans.
"Kau tidak lihat aku sedang pusing?!"sahut ketus Andrean.
"Ah … saya mengerti, Tuan. Lalu bagaimana dengan jadwal lainnya?"
"Batalkan!"
"Batalkan?" Hans membeo ragu. Andrean melirik tajam.
"Baik, Tuan." Buru, pria berkacamata itu meninggalkan ruangan Andrean.
"Masalah kalian, aku juga terkena imbas," gerutu Hans.
"Jika aku sendiri, mungkin akan menerimanya. Tapi, bagaimana dengan keluarga?"gumam Andrean. Ia sangat frustasi.
*
*
*
Huh!
Camelia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Menatap langit-langit kamar.
"Yang aku katakan benar, bukan?"tanya Camelia lirih, pada dirinya sendiri.
Sengaja ia menonaktifkan ponselnya agar tidak diganggu.
Camelia sudah mempertimbangkan untuk mengatakan kedua syarat itu pada Andrean.
Dan pilihan ada di tangan Andrean.
Ya … aku sudah terjerat. Tidak mungkin lepas. Hidup adalah pilihan. Dan ini adalah dampak dari pilihanku.
Mau menyesal?
Sudah terlambat.
Sudahlah. Jalani sana. Semua ini pasti ada ujungnya. Aku harap ujungnya bahagia….
Camelia lelahnya. Matanya meredup dan kantuk menyerah. Pada akhirnya, ia tertidur.
*
*
*
Sebelum matahari terbit, Lucas dan Liam sudah bangun. Setelah cuci muka, Liam membuka laptopnya. Bergelut dengan hal apa yang ingin ia lakukan. Sementara Lucas, memilih duduk di kursi santai berbentuk seperti balon, duduk sembari membaca.
Keduanya tenggelam dalam aktivitas pagi masing-masing.
"Ah, iya. Liam…," panggil Lucas, mengalihkan pandangannya pada Liam.
"Hm." Menyahut tanpa menoleh.
"Kita tahu siapa ayah biologis kita. Menurutmu apa ada kemungkinan Mr. Gong dan Mommy menikah?"tanya Lucas. Ingin tahu tanggapan saudara kembarnya itu.
"Bisa iya, bisa tidak," jawab Liam, tanpa menoleh pada Lucas.
"Jika iya, bagaimana dengan kita? Tidak mungkin kan Mr. Gong tidak memberitahu keluarganya bahwa kita adalah anak kandungnya?" Pemikiran mereka begitu jauh. Namun, bagi keduanya itu bahasan biasa namun lebih serius.
"Sejak lahir, marga kita sudah Shane. Pernikahan Mom dan Daddy pun tercatat. Dan ya, kau tahu bukan kita ini adalah keturunan keluarga Shane. Belum lagi dengan kelak aku yang menggantikan Uncle di perusahaan Shane. Lucas, menurutku, kita memang tidak bisa mengubah marga. Selain itu, andai kata kita ikut dengan Mon saat ia menikah lagi, kita akan tetap kembali ke keluarga ini," jelas Liam panjang lebar setelah berpikir cukup lama.
"Masuk akal juga." Lucas menyahut.
"So, bagaimana? Mom memberi lampu hijau padanya. Harusnya kita membantu?"tanya Lucas. Liam kembali berpikir.
"Urusan keluarga mungkin tidak dapat kita bantah. Namun, mendekatkan mereka, aku rasa itu tidak masalah. Selain itu, bukankah pria itu sejak awal memang ditakdirkan untuk berjuang?" Liam menarik senyum tipis.
Lucas sedikit bergidik. "Hahaha … ya kau benar."
"Kau ada nomor pria itu?"tanya Liam. Lucas menggeleng.
"Nanti aku ambil dari ponsel Mom." Liam menggeleng.
__ADS_1
"Kelamaan. Aku cari saja," sahut Liam dengan mendengus pelan.