
Hari demi hari berlalu, kondisi Liam semakin stabil dari hari kehari karena perawatan yang semakin intensif. Kehamilan Camelia telah menginjak usia 7 bulan. Perutnya semakin membuncit dan semakin menambah kadar kecantikannya. Bahkan, karena Andrean yang belakangan tidak serutin dulu menemani mereka, banyak yang mengira Camelia adalah seorang janda, janda yang mempesona.
“Mom, aku merindukan Palace. Percuma rasanya jika keluarga kita kaya raya tapi untuk bertemu saja susah. Jika tahu akan seperti ini-”
“Jangan bicara sembarangan, Lucas!”tegur Camelia tidak senang.
“Ayahmu bekerja untuk kita. Ayahmu juga tidak menginginkan hal ini. Tapi, tanggung jawabnya begitu besar untuk ditinggalkan. Terlebih kakek buyut kalian yang sudah tidak layak bekerja dan saat ini menderita demensia. Mom mohon, bersabar sebentar lagi ya, Lucas,” ucap Camelia memberi pengertian.
Anak kecil tetaplah anak kecil. Meskipun Lucas mengerti secara logika, hatinya menolak hal itu.
“Mom, aku merindukan banyak hal di sana. Kapan kita akan pulang?” Lucas merengek. Sudah empat bulan ia di sini, satu-satunya yang membuat dirinya lumayan betah di sini adalah kerena bersama dengan Camelia dan Liam. “Aku iri dengan Crystal,” celetuk Liam kemudian.
“Hush!”tegur Camelia lagi. “Posisi kalian sama saja,” ucap Camelia.
“Jika seperti ini, membuat Mom dan Ayah seperti berpisah. Ini tidak menyenangkan, Mom. Hiks….”
Camelia mendekap putra sulungnya itu. “Sebentar lagi, Sayang. Sebentar lagi, tidak akan lama lagi kita akan bersama, okay?” Mengecup rambut Lucas.
“Bersabarlah sebentar lagi, ya?”
“Atau mau ikut Ayahmu pulang?”tawar Camelia.
Lucas langsung menolak. “Jika aku pulang dengan Ayah, siapa yang akan menjaga Mom dan Liam?”
“Mau bersabar sebentar lagi?” Lucas mengangguk. Camelia mencubit pelan hidung Lucas.
“Anak laki-laki harus sabar dan kuat, okay?”
“Siap laksanakan, Mom!”
Camelia tertawa renyah. Lucas kemudian beranjak tidur.
“Mom, maafkan aku.” Camelia terkesiap mendengar ucapan Liam. “Aku mendengar semuanya. Tenang saja, Mom. Ini tidak akan lama lagi. Kata dokter bakterinya sudah hampir hilang semuanya. Kemungkinan tidak sampai satu bulan lagi akan sembuh. Mom, aku sudah muak dengan penyakitnya, aku pasti akan mencabutnya hingga tuntas!”ucap Liam dengan air mata yang meleleh. Camelia segera mendekap putranya itu.
“Mom percaya, Sayang.”
*
*
*
Hans menahan kantuknya sembari menunggu Andrean menyelesaikan satu berkas Gong Grub. Saat ini mereka tengah berada di ruangan Presdir Gong Grup. Lie masih menjelaskan beberapa hal pada Andrean mengenai adegan besok. Hans mengusap wajahnya. Sebulan belakangan terasa sangat mengerikan. Andrean kembali mengambil kendali Gong Grub setelah mendengar laporan Lie bahwasannya Kakek Gong mengalami beberapa kesulitan termasuk demensia.
Akhirnya pekerjaan hari ini selesai juga. Andrean menghela nafas kasar. Namun, meskipun besok weekend jadwalnya tetap berjalan. Rasanya kesal tapi tidak tahu harus berbuat apa. Mempercayakannya pada orang lain, lagi? Tidak, Andrean tidak punya kepercayaan untuk itu. Tidak juga dengan melebur hasil kerja kerasnya ke dalam perusahaan keluarga.
Andrean adalah seorang pengusaha dan siapa yang mengatakan bahwa kehidupan keluarga kaya itu aman-aman saja, serba bahagia? Ya, bahagia sih, tapi jarak dan rindu ini membunuh dirinya. Apa gunanya kaya raya, mau menemui keluarganya saja sesulit ini.
Jadwal sialan!
Penyakit sialan!
Hans sering mendengar umpatan itu. Cinta dan menikah, itu mengubah tuannya.
Hubungan Hans dan Silvia pun tak jauh beda. Sejak Andrean dan Camelia bisa lengket lagi, Silvia juga menjemput Hans untuk pulang ke rumah. Akan tetapi, sebulan belakangan Hans malah pulang larut malam. Istri mana yang tidak kesal coba? Malah Silvia tengah hamil. Itu benar-benar membuat Silvia kesal.
Andrean - Andrean terus yang ada di pikiranmu! Apa kau tidak peduli dan khawatir padaku? Aku ini hamil, butuh kau di sisiku!
Sekarang begini saja, kau pilih aku atau Andrean!
Kau mencintaiku atau tidak?! HAN JIAYU KEMBALI KAU!!
Namun, Hans yang punya rasa kesetiaan tinggi dan rasa sepenanggungan dengan Andrean, tidak membiarkan Andrean sendirian meskipun ada Lie yang mendampinginya.
Meskipun dampaknya harus bertengkar dengan sang istri.
LU JIA LI, AKU TIDAK AKAN LAMA. BERSABARLAH SEBENTAR LAGI.
BERSABAR KATAMU?! DASAR KAU SUAMI BRENGSEK!!
Hans tersentak saat merasakan tepukan di bahunya. "Aku akan mengantarmu pulang," ucap Andrean.
"Tuan, itu terbalik!"
"Sudahlah. Kau pikir aku tidak tahu masalahmu dengan Silvia? Besok kau juga libur saja, kebetulan weekend. Temani istrimu," ujar Andrean.
"Tuan-"
"Huhu … Tuan." Hans memeluk Andrean.
"Apa-apaan kau?" Andrean mendorong kesal Hans.
"Tidak perlu diantar, Tuan. Aku pulang sendiri saja. Bye Bye!"
"HAN JIAYU!!"
"LU JIA LI, AKU PULANG!"
Andrean mengusap kasar wajahnya.
"Lalu bagaimana dengan saya, Tuan Muda?"tanya Lie dengan mimik memelas.
__ADS_1
"Memangnya kau sudah punya istri dan anak?"sindir Andrean mengerti maksud tatapan itu.
"Tidak sih, tapi saya kan juga butuh libur," ringis Lie.
"Liburan denganku!"pungkas Andrean. Lie mendesah pelan.
"Ya berlibur dengan meeting," gumam Lie.
*
*
*
"Aku masih mencari waktu yang senggang, Lia. Aku akan segera ke sana. Maaf, maafkan ku, Lia, dan anak-anak juga. Katakan aku sangat merindukan mereka," ucap Andrean lewat telepon pada Camelia di ujung sana.
Terdengar helaan nafas yang berat. "Kalau begitu hati-hati."
"Aku merindukanmu."
"Aku juga." Dan panggilan berakhir. Andrean memasuki ruang meeting bersama dengan Lie.
Sekitar 2 jam kemudian, meeting selesai. Syukurlah berlangsung dengan lancar.
"Tuan," panggil Lie, tampak ragu.
"Hm?" Andrean memejamkan matanya dengan dasi dan kancing yang dikendurkan.
"Bagaimana jika Tuan Allen dibebaskan dan membantu Anda mengurus perusahaan?"ucap Lie.
Tatapan Andrean langsung berubah tajam. Suasana di belakang, itu terasa mencekik Lie yang mengemudi.
"Kau mau aku membebaskan orang yang mencoba membunuhku, Lie?!"
"S-saya rasa Tuan Allen sudah bertaubat atas kesalahannya, Tuan." Meskipun sulit, Lie menjawabnya. Menambahkan arang ke api yang mulai membesar.
Lie, apa kau cari mati?
"Heh? Bertaubat?"sarkas Andrean dingin.
"Apa kau pernah menjenguknya, Lie?"tanya Andrean kemudian.
"T-tidak pernah, Tuan!"
"Lantas, darimana kau dapat berkata dia sudah bertaubat?"
"Aku beberapa kali sempat mengunjunginya. Dan apa kau tahu tatapan dan erapa kali melihatnya. Apa kau tahu apa yang dia katakan? AKU AKAN MEMBUNUHMU, ANDREAN!”
“Lie, aku rasa kau paham benar sifat mantan tuanmu itu! Iri mungkin bisa diperbaiki, namun bagaimana dengan benci dan dengki? Padahal aku sudah tenang mengurus perusahaanku sendiri tapi dia mencari mati dengan membunuhku. Jika aku tidak kejam, aku yang akan mati.”
Lie terdiam mendengarnya. Ia sama sekali tidak tahu kapan Andrean pergi melihat Allen. “ Mengeluarkan dia dari penjara? Kau mau keluargaku dalam bahaya, hah?”bentak Andrean kemudian.
“Lie, jangan lupa bahwa aku menempatmu di sisiku karena kemampuanmu. Jadi, lebih baik jaga bicaramu!”tegas Andrean.
“Tuan, apakah Anda tidak percaya padaku?”tanya Lie, suara tercekat. Sudah kurang lebih satu tahun ia ikut dengan Andrean.
“Semua yang kau lalui selama ini adalah ujian. Dan kau membuktikan dirimu. Sudah cukup bagiku namun hari ini kau mengecewakanku, Lie!” Andrean tersenyum miris.
“Atau kau ingin kembali padanya?”selidik Andrean, menatap tajam Lie. Lie semakin bergidik.
“Tidak sama sekali, Tuan. S-saya tidak memikirkannya dengan baik. Saya pikir Tuan butuh seseorang yang dapat dipercaya dan menguasai bidang bisnis Gong Grup. Saya yang kurang ajar membahas hal ini. Saya salah, Tuan. Mohon maafkan saya, Tuan.”
Andrean mendengus kasar. “Dia dapat dipercaya? Otakmu bermasalah ya, Lie?”
“Tuan saya-”
“Sudahlah. Aku muak membahasnya. Menyebalkan!” Suasana hati Andrean semakin buruk. Dan Lie semakin ketar-ketir.
Dasar bodoh kau Lie!
*
“Han Jiayu, sampai kapan kau pulang lembur terus?”tanya Silvia di sore hari weekend.
Hans langsung menghitungnya. Silvia tengah berbaring dengan bantal paha Hans. Perutnya membuncit dengan usia kandungan kurang lebih 4 bulan.
“Sekitar 3 bulan lagi.”
Silvia membelalakkan matanya. “Tiga bulan lagi?”
“Nyonya akan pulang dalam waktu itu.”
“Han Jiayu, apa kau tidak ingat sudah punya istri dan anak, hah?”kesal Silvia, bangun dan duduk merengut pada Hans.
“Aku lagi hamil. Harusnya kau lebih sering dan waktu berlebih untukku dan calon anak kita. Bukan di samping Andrean!”
Hans menggaruk kepalanya. “Maunya seperti itu. Tapi, aku tidak bisa melakukannya.”
__ADS_1
“Kau lebih memilihnya? Bagaimana denganku? Bagaimana jika tiba-tiba aku ingin memelukmu? Bagaimana jika tiba-tiba aku mual dan pusing? Bagaimana jika anak kita ingin sesuatu? Bagaimana-”
Mata Silvia melebar. Cara efektif membungkam Silvia, menciumnya. “Bagaimana jika sementara kau tinggal dengan Ayah?”
“Jujur saja, Tuan tidak mudah ditebak belakangan ini. Suasana hatinya sering buruk. Jadi, aku harus di sisinya.”
Silvia mengerucutkan bibirnya. “Bagaimana jika kau resign saja, hartamu sudah banyak, aku juga bekerja?”ucap Silvia tiba-tiba.
Hans langsung menyentil dahi istrinya. “Ini bukan tentang harta, Lu Jia Li. Tapi, tentang kesetiaan, persahabatan. kepercayaan, dan perasaan saling berbagi beban. Lagi, mana mungkin aku resign di situasi membunuhku. Kau mau Andrean membunuhku, hm? Kau mau jadi janda?”
Mata Silvia melotot seketika. “Sembarangan!”
“Kalau begitu bersabarlah, okay.”
“Aku ini sedang hamil anakmu, Han Jiayu! Tidak bisakah kau sedikit lebih perhatian padaku?”isak Silvia dalam peluk Hans.
Hans menghela nafasnya. “Maafkan aku.”
“Kau salah, kau harus minta maaf. Kau berhutang banyak padaku, aku akan menagihnya satu persatu!”
“Baik-baik, aku akan menerimanya,” jawab Hans.
Silvia menenggelamkan dirinya dalam pelukan Hans. “Kau harus sering melihatku di tempat Ayah. Atau aku yang akan mendatangimu!”
“Baik, Lu Jia Li.”
*
*
*
“Kakek, apa kau sudah makan?”tanya Andrean pada Kakek Gong yang tengah menonton televisi bersama dengan Crystal.
“Haha, Rean kau sudah pulang. Mana cicit laki-lakiku? Aku ingin menggendongnya,” ucap Kakek Gong dengan tawa lebarnya.
“Ah.”
“Mana-mana? Mereka masing di luar? Yuwen-Yuwen, sini Kakek Buyut gendong.”
“Yuwen?”
“Iya, cicit laki-laki ketigaku.”
“Kakek,” panggil Andrean lembut seraya mengajak Kakek Gong untuk duduk.
“Yuwen belum lahir,” tutur Andrean.
“Gong Yuwen belum lahir? Di mana cucu menantu sekarang?”
“Mereka ada di Jepang. Beberapa hal harus diselesaikan oleh Camelia,” ujar Andrean.
“Dan kau di sini? Suami macam apa kau?”marah Kakek Gong.
“Seharusnya kau bersama dengan cucu menantu. Bagaimana jika dia dan Yuwen tidak baik-baik saja?”
“Cepat jemput mereka! Di sini lebih aman, menemaniku di sini!”
“Baik, Kakek. Aku akan segera menjemput mereka.”
“Yaya! Kau harus menjemput mereka. Aku mengantuk!” Kakek Gong dibantu dengan pelayan menuju kamar.
“Gong Yuwen, Kakek Buyut sudah menyiapkan nama untuk calon adik?”tanya Crystal yang menyimak pembicaraan itu.
“Dia pasti sudah memikirkannya. Gong Yuwen, itu nama yang bagus. Ayah akan bicarakan dengan Mommy,” ujar Andrean. Crystal mengangguk, ia juga setuju dengan nama itu.
*
*
*
“Gong Yuwen, Kakek sudah memberi nama pada Little Boy?”
“Aku suka nama itu,” jawab Camelia.
“Aku akan menunggu. Kau fokuslah di sana. Kami baik-baik saja. Bye-bye.”
“Wah! Yuwen, Yuwen, kan?” Lucas dan Liam langsung antusias.
Keduanya serentak mengusap perut Camelia. “Yuwen menjawab! Dia setuju!”seru Lucas kegirangan.
“Iya-iya! Yuwen-Yuwen, Gong Yuwen!”seru Liam pula. Camelia terkekeh pelan.
“Yuwen kita senang dengan namanya. Ini hal yang menyenangkan.”
*
*
*
__ADS_1