Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 162


__ADS_3

Restoran dalam keadaan ramai. Insiden beberapa waktu lalu sudah memudar. Mereka langsung turun dan masuk. Disambut oleh pelayan restoran.


"Tuan Muda Dion?" Pelayan terkesiap saat hendak bertanya seperti biasa pada tamu.


"Di mana ayah dan ibu?"tanya Dion.


"Tuan dan Nyonya ada di ruangan, Tuan Muda."


"Okay. Lanjutkan pekerjaanmu."


Dion memandu. Menaiki tangga menuju ruangan Tuan dan Nyonya Liang.


"Mencium aroma makanan di sini, Mom jadi lapar lagi," aduh Nyonya Shane.


"Mom mau makan apa? Biar aku ambilkan," sahut Dion. Nyonya Shane langsung tersenyum sumringah.


"Best seller di sini," jawabnya antusias.


"Mom ingin bandingan dengan masakan kakakmu. Bukankah katanya kalian berdua pandai memasak dari sini?"


"Baiklah, tunggu sebentar, Mom." Dion kembali turun. Bahkan mereka belum sampai di ruangan Tuan dan Nyonya Liang.


Untungnya, di setiap pintu ruangan ada keterangannya. Jadi, tidak sulit menemukan ruangan yang dicari.


Camelia mengetuk pintu. "Masuk!" Suara berat Tuan Liang menyahut dari dalam.


Camelia membuka pintu.


"Ayah, Ibu," sapanya.


Sontak, Tuan dan Nyonya Liang masih sibuk dengan pekerjaan mereka menoleh.


"Lia?" Keduanya terperanjat.


"Apa kabar, Ayah? Ibu?"


"Astaga, Nak?! Apa ini benar dirimu?" Nyonya Liang langsung mendekat dan memeluk Camelia.


"Kapan kau datang, Lia?"tanya Tuan Liang, mendekati anak dan istrinya.


"Aku tiba beberapa hari yang lalu. Ada urusan di Xian," jawab Camelia, gantian memeluk Tuan Liang.


"Tapi, mengapa kami tidak mendengar berita kedatanganmu? Biasanya kan ada pemberitaan begitu?"


"Karena rahasia, Bu."


"Ah benar! Beberapa hari yang lalu Dion juga ke Xian dan mengatakan siang tadi akan pulang. Apa dia ada menghubungimu?"


"Iya, aku bertemu dengannya."


"Mengapa tidak memberitahuku kami?!" Nyonya Liang langsung protes. Wajahnya berubah sendu.


"Surprise, Bu!" Nyonya Liang menggerutu.


"Lalu di mana Dion?"tanya Tuan Liang.


"Ada di bawah." Tuan Liang menghela nafas lega.


"Kami tidak dilupakan, bukan?" Tuan dan Nyonya Liang melihat ke bawah saat mendengar suara anak kecil.


"Lucas? Liam?" Nyonya Liang langsung mengenali keduanya.


"Sebelumnya tidak ada perkenalan resmi. Saya Lucas Shane, putra sulung Camelia Shane," ujar Lucas, memperkenalkan dirinya ala bangsawan.


"Saya Liam Shane, putra dari Camelia Shane," ujar Liam, dengan gaya perkenalan yang sama.


"Astaga." Tuan dan Nyonya Liang tampaknya terpana.


Kyaiii


"Bagaimana bisa kalian begitu imut?"pekik Nyonya Liang.


"Umm … mungkin bawaan," jawab Lucas dengan agak kepayahan karena pipinya dicubit gemas oleh Nyonya Liang.


"Apa kami imut?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Liam.


"Senang bertemu dengan kalian. Aku adalah nenek kalian."


"Ahhh ini benar-benar kejutan, Lia!"


"Ada lagi, Bu."


"Lagi?"


"Mom, Daddy," panggil Camelia. Tuan dan Nyonya Liang bertukar pandang. Dahi keduanya mengerut.


"Mom? Daddy?"


Tuan dan Nyonya Shane masuk. Wajah keduanya datar berwibawa.


"Anda berdua?"


"Ayah, Ibu, perkenalan ini adalah Mommy dan Daddy Shane, kedua mertuaku. Mom, Daddy, ini adalah Ibu dan Ayah kami," ujar Camelia memperkenalkan kedua belah pihak.


"Ah?!"


"Senang bertemu dengan Anda," sapa Tuan Liang, setelah lepas dari keterkejutannya.


"Mari, silahkan duduk."


Ini terlalu mendadak. "Selamat datang. Kami tidak tahu kalian akan datang. Maaf kami jika Anda berdua merasa tidak nyaman."

__ADS_1


Dan ini terasa canggung. Apalagi Tuan dan Nyonya Shane stay dengan wajah datar mereka. Membawa kesan sulit untuk berinteraksi.


Camelia menepuk dahinya. Drama apalagi yang dibuat Tuan dan Nyonya Shane.


"Jadi, ini wajah orang tua yang tidak percaya padamu, Lia?" Nyonya Shane bertanya sinis.


"Eh?"


"Ah?"


"Mom?"


"Akhirnya kita bertemu. Saya bisa melampiaskan kekesalan saya selama ini pada kalian."


"Apa?"


Lucas dan Liam saling lirik. Terlihat jelas tatapan keduanya antusias, seakan berkata mari nikmati tontonan gratis.


Sudah dadakan tanpa persiapan. Dan kata-katanya juga tidak terduga. Tuan dan Nyonya Shane merasa tengah diintrogasi. Apalagi tatapan Nyonya Shane benar-benar tajam dan dingin. Membuat keduanya tidak bisa berkutik. Bahkan untuk menyela saja tidak bisa.


"Saya benar-benar tidak habis pikir dengan kalian. Kalian yang membesarkan dan mendidik Lia sejak kecil. Masa' kalian tidak percaya dengan didikan sendiri? Artinya kalian tidak percaya dengan diri kalian sendiri? Bisa-bisanya kalian lebih pencaya pada didikan antah berantah. Dan lihat hasilnya. Penyesalan!"


Jleb!


Kata-kata sarkas Nyonya Shane tepat sasaran.


"Lebih pandai lagi Dion. Bisa menilai mana yang benar mana yang tidak."


Jleb!


Kena lagi.


"Jujur saja, aku sangat ingin menghancurkan keluarga Liang ini. Tapi, mengingat kalian juga menjadi bagian penting dari hidup Lia dan Dion, aku mengurungkannya. Ah ya, benar! Beruntung putri kandung kalian itu sudah tewas. Jika tidak, aku akan menarik rambutnya hingga gundul!"


"APA?!"


Bukan hanya Tuan dan Nyonya Liang yang tercengang. Namun, Camelia dan bahkan Tuan Shane juga.


"Mengapa kau ikut kaget?"


"Itu terlalu sadis, Lily. Kau tidak boleh melakukannya. Itu akan mengotori tanganmu."


"Astaga, mereka sama saja," bisik Lucas.


"Aku suka itu," sahut Liam.


"Mom, sudah cukup. Ayah dan Ibu terlihat pucat," ujar Camelia.


"Masih ada, Lia."


"Aku heran. Apa kalian punya penyakit mata? Membuang berlian demi debu?"


"Mom, stop it. Jangan menyudutkan ayah dan ibu. Mereka memang perlu keliru. Tapi, aku sudah memaafkan mereka. Melupakannya. Ini sudah takdirku," ucap Camelia, berharap Nyonya Shane menerimanya.


"Tidak. Ini salahku. Sepenuhnya salahku," ucap Tuan Liang. Menunduk dengan helaan nafas yang berat.


"Suamiku … tidak…."


"Hmph! Baiklah. Aku memaafkan kalian."


Camelia bernafas lega. "Baiklah. Masa itu sudah berakhir," putus Tuan Shane.


"Senang berjumpa dengan Anda berdua," ujar Tuan Shane kemudian, mengulurkan tangannya pada Tuan Liang.


Tuan Liang mendongak. Matanya merah. Dengan ragu, menerima uluran tangan itu. Keduanya berjabat tangan. Sebelum akhirnya saling berpelukan.


"Terima kasih. Terima kasih, Tuan, Nyonya."


Nyonya Liang dan Nyonya Shane hanya saling pandang. Nyonya Liang masih merasa canggung dan takut. Apalagi ucapan Nyonya Shane masih terngiang.


"Eh? Ada apa ini?" Dion yang baru masuk mengernyit heran.


"Apa yang terjadi, Kak?"tanya Dion pada Camelia yang baru saja menyeka sudut matanya.


Camelia menggeleng.


"Hm … tampaknya tidak begitu bagus." Dion bergumam. "Ibu, Ayah," sapa Dion. Mencoba mencairkan suasana.


"Dion." Nyonya Liang gegas berdiri dan menghampiri Dion. Memegang kedua tangan Dion, menyentuh wajah juga. Memastikan bahwa anaknya baik-baik saja.


"Ibu, aku baik-baik saja."


"Kau membuat Ibu khawatir, Dion."


"Aku baik-baik, Bu. Lihat, aku sudah pulang. Bersama dengan kakak juga." Dion memeluk Nyonya Liang.


"Oh iya, Mom. Dion sudah siapkan beberapa menu di meja makan, ayo kita ke sana," ajak Dion.


Nyonya Shane bangkit. Mereka semua pindah ke ruang makan yang telah Dion siapkan.


*


*


*


Menghabiskan waktu bersama rupanya berdampak besar untuk para orang tua. Nyonya Liang yang awalnya takut dan canggung pada Nyonya Shane, mulai akrab setelah Nyonya Shane memuji masakan restoran ini. Ya, meskipun masih ada sindiran untuknya. Tidak masalah.


Tuan Shane dan Tuan Liang juga mulai terlihat satu hati. Apalagi keduanya adalah pebisnis. Meskipun berbeda bidang usaha, tidak masalah karena masih nyambung. Dan dengan adanya perbedaan itu pula, mereka bisa bertukar cerita dan saling belajar.


"Besok saat sudah sampai di rumah, aku tidak mau langsung bekerja. Mom katanya libur satu minggu. Kita habiskan saja libur Mom dengan bersenang-senang," ucap Lucas, pada Liam yang dapat didengar jelas oleh Camelia.

__ADS_1


Secara Camelia duduk di samping keduanya. Camelia yang tadinya fokus pada ponselnya, mengecek berita terbaru, juga jadwal dan pesan email-nya menoleh.


"Tumben kalian mau bolos?"tanya Camelia.


"Tinggal sedikit lagi, Mom. Tidak berpengaruh besar jika diundur. Mom mau kan?"tanya Lucas. Matanya benar-benar dipenuhi binar harap.


"Uh? Bagaimana bisa Mom menolak?"


"Yeah!!"


*


*


*


Meskipun tidak rela, Tuan dan Nyonya Liang tidak bisa mencegah kepulangan keluarga Shane, kecuali Dion yang memang harus tinggal untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.


Pertemuan itu terlalu singkat. Sangat singkat bahwa. Masih banyak yang ingin bicarakan dan dilakukan. Namun, jauhkan negara juga kesibukan dan tanggung jawab membatasinya.


Hanya bisa berharap. Akan ada waktu yang panjang. Agar mereka bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi.


"Sampai nanti, Ayah, Ibu," pamit Camelia, memeluk keduanya.


"Bye-bye, Kakek, Nenek."


"Kami pamit."


"Hati-hati di jalan."


Sesaat sebelum Camelia masuk ke dalam mobil, sebuah mobil mewah berhenti. Itu membuat Camelia berhenti sebentar. "Mobil itu …."


"Astaga!" Camelia terperanjat.


Gegas ia masuk ke dalam mobil. "Ada apa, Lia?"


"Ada Andrean, Mom."


"Mana?"


"Ayah?" Lucas dan Liam juga mencari.


Nyonya Shane melihat ke luar. Tepat di samping mobil mereka, seorang pria dengan garis wajah tegas turun. Nyonya Shane mengenalinya. Itu memang Andrean.


"Kau yakin tidak mau bertemu dengannya?"


"Tidak perlu, Mom. Panjang nanti urusannya," jawab Camelia.


"Tapi, Lucas, Liam?"


"Melihatnya saja sudah cukup. Tapi, mengapa Ayah berada di Shanghai?" Liam menjawab. Tuan Shane menyuruh supir melajukan mobil. Meninggalkan parkiran restoran Liang.


"Mungkin urusan kerja sama," jawab Tuan Shane.


"Ah? Hm … ayah terlihat lebih tampan," celetuk Lucas. "Iya kan, Mom?"


"Apa?"


Lucas dan Liam tertawa. Wajah Camelia tersipu.


"Aduh … kalau menyesal masih ada kesempatan putar balik loh," goda Nyonya Shane.


"Tidak, Mom." Tetap menolak. Tuan Shane menggeleng pelan.


*


*


*


"Siapa yang kalian antar? Sepertinya tamu penting." Andrean menyapa keluarga Liang.


"Andrean?" Ketiga orang itu terkejut. Dion melirik ke arah lain sekitar.


Dia tidak melihat kakak, kan?


Dion kemudian melirik Tuan dan Nyonya Shane. Berharap kedua orang itu tidak salah menjawab.


"Ah … kenalan lama," jawab Tuan Shane. Dion tersenyum lega. Syukurlah.


"Begitu … Dion, sebenarnya apa yang kau lakukan di Xian?"


"Haha, mari berbicara di dalam saja, Mr. Gong," ajak Dion. Andrean setuju.


Dion membawa Andrean ke ruang makan VIP. Sementara Tuan dan Nyonya Liang kembali ke ruangan mereka.


"Apa karena besok kita akan meeting, malam ini Anda sudah ada di Shanghai?"tanya Dion, sekadar basa basi.


"Bisa dikatakan begitu. Kau belum menjawab pertanyaanku. Sepertinya urusanmu sangat penting di Xian."


"Kalau hal itu rahasia. Saya tidak punya kewajiban untuk memberitahu Anda," jawab Dion, menolak untuk menjawab. Andrean menatapnya. Dion menyunggingkan senyum.


"Bagaimana kita membahas garis besar meeting besok," tawar Dion.


"Waktu kerjaku sudah berakhir," tolak Andrean.


"Kapan kau akan kembali ke Kanada?"tanya Andrean.


"Hm? Mengobrol santai?"


Andrean menganggukinya.

__ADS_1


__ADS_2