Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 217


__ADS_3

"Sayang?"


Camelia sudah pulang. Memanggil suaminya yang tengah mengenakan dasi kupu-kupu.


"Lia? Kau sudah pulang? Ayo-ayo, mandi dan bersiaplah," ujar Andrean, ia menyongsong Camelia dengan sumringah.


"Kita akan mengambil foto pernikahan dan foto keluarga," ujar Andrean lagi.


"Hah?"


"Kau kan pernah bilang, kita akan punya foto pernikahan sendiri. Aku tidak akan bisa menunggu selama itu jika harus menunggu pemberkatan. Jadi, mari lakukan sekarang. Anak-anak sudah tahu. Aku sudah mempersiapkan ruang studionya. Fotografer juga sudah diatur," jelas Andrean, ia mendorong Camelia untuk segera mandi.


Dengan masih heran, Camelia menurut. "Foto pernikahan katanya?"


Sekitar lima belas menit kemudian, Camelia selesai mandi. "Aku tidak berani membongkar isi lemarimu. Gunakan gaun pernikahanmu dengannya dulu," ucap Andrean.


"Kau tidak apa?" Camelia terkejut. Ia kira Andrean mempersiapkan gaun lainnya.


"Tidak masalah," jawab Andrean pasti.


Camelia belum bergerak. Andrean kembali mendorong Camelia untuk bersiap.


Camelia masuk ke dalam ruang pakaian sekaligus ruang ganti itu. Membuka salah satu rak. Satu set gaun pernikahan. Mulai dari gaun putih, tiara, tudung, dan juga alas kaki. Camelia menyentuh lembut gaun itu, matanya terpejam.


"Gaun ini pilihanku, bukan?"gumam Camelia. Ia membuka matanya. Satu gaun digunakan untuk dua foto dengan makna yang berbeda.


Camelia sekilas tersenyum kecut. Ia kemudian segera mengenakan gaun pengantin itu. "Sayang, tolong bantu aku," panggil Camelia.


Resleting gaun itu di belakang. Tentu Camelia kesulitan. Andrean masuk. Sejenak ia menelan ludah kasar melihat punggung terbuka Camelia.


"Jangan berpikiran aneh!"peringat Camelia.


"Bantu aku!"tegas Camelia lagi. Andrean memilih menutup matanya.


Melangkah maju dan meraba, mencari resleting gaun itu. Setelah dapat, Andrean langsung menariknya ke atas.


"Sudah." Andrean bergegas keluar.

__ADS_1


Andrean tengah menetralkan debaran jantungnya. Sekitar lima menit kemudian Camelia keluar.


Deg!


Andrean membeku. Istrinya sangat cantik. Ia tak bisa memalingkan wajahnya. Debaran jantung yang tadinya sudah mulai normal, kembali tidak karuan. "L-Lia, fotonya nanti saja, ya?"ucapnya dengan menelan ludah.


Mata Camelia membola. "Tdak mau! Ini masih siang!"tolak Camelia langsung.


"T-tidak?"


"Anak-anak sudah menunggu. Fotografer juga sudah. Sebagai seorang model, aku tidak boleh membuat fotografer menunggu lama!"ucap Camelia, ia menggunakan anak-anak sebagai alasan.


Andrean murung. "Malam masih ada, Sayang," bujuk Camelia.


"Kalau begitu ayo!" Semangatnya kembali dengan cepat, langsung menarik Camelia keluar kamar.


*


*


*


Andrean masih menahannya. Ia harus segera menyelesaikan pengambilan foto itu kemudian menarik Camelia ke kamar. Namun, kedua anak laki-laki itu terus mengganggu.


Camelia hanya menegur satu dua kali. Namun, tidak juga berhenti. "Kau tidak memarahi mereka, Lia?"tanya Andrean, heran dengan Camelia. Teguran itu hanya memanggil Lucas dan Liam.


"Mereka jarang mengekspresikan diri seperti ini, Sayang. Jadi, biarkan saja."


Okay! Tidak masalah jika ia tidak terburu-buru.


Camelia malah seperti menikmati kenakalan Lucas dan Liam itu. Ia tidak paham.


"HEI!!" Pada akhirnya Andrean tidak tahan. "Lucas, Liam, tolong seriuslah! Mainnya dilanjutkan nanti!"tegas Andrean.


Lucas dan Liam saling tatap. Mereka kemudian mengambil posisi tegap dengan wajah datar. "Seperti ini?"tanya Liam.


"UH!" Andrean memijat pelipisnya. Ekspresi itu sangat tidak cocok untuk keduanya.

__ADS_1


Camelia menahan tawanya. "Keluarlah dulu, Ayah kalian ini sedang sibuk," ujar Camelia.


"Sibuk?" Lucas memiringkan kepalanya.


"Sibuk kok nyibukin foto, huh!"cibir Liam. Kali ini mereka menurut. Crystal juga ikut keluar.


"Menurut padamu?"


"Tentu saja!"


"Ayo lanjutkan!" Akhirnya pengambilan foto tanpa gangguan dimulai.


*


*


*


Setelah pengambilan foto pernikahan, dilanjutkan dengan foto keluarga. Lucas dan Liam kembali berulah. Mereka membuat pose dan ekspresi yang tidak sesuai dengan arahan fotografer. Tentu saja untuk menciptakan suasana riuh.


Malah ada lagi bagian di mana Lucas dan Liam bersua foto dengan cara selfie dan bergantian saling memotret.


Lagi dan lagi, kesabaran Andrean diuji. Namun, Camelia menenangkan dirinya. Ini kebahagiaan tersendiri. Harusnya dinikmati. "Waktu untuk kita masih banyak, Sayang. Sementara dengan mereka?"


"Tapi…."


"Apakah kau tidak bisa mengendalikan diri?" Nada bicara Camelia menjadi ketus.


"Ayo nikmati saja."


Camelia kemudian berfoto ria bersama dengan anak-anaknya. Tentu saja dengan fotografer. Banyak foto random yang diambil. Fotografer itu sampai kewalahan.


Andrean ikut, dengan wajah kakunya. "Senyum, Ayah! Smile!"ucap Lucas.


"Tulus dong, Yah! Kaku sekali! Niat nggak sih foto keluarga?"keluh Lucas.


"Bukankah?!"

__ADS_1


"Pemanasan dulu, Yah!" Liam menyela ucapan Andrean.


"Ayo beberapa kali lagi lalu serius," ucap Camelia.


__ADS_2