
"Liam," panggil Lucas pada saudara kembarnya. Mereka berada di kamar, berbaring di ranjang dengan berselimut. Mereka tadi sudah tidur. Namun, terbangun saat Camelia masuk dan keluar kamar.
"Hm?"sahut Liam yang menatap langit-langit kamar.
"Menurutmu Mommy dan Uncle ke mana malam-malam begini?"tanya Lucas. Mereka tahu Camelia dan Dion tidak ada di apartemen.
"Entahlah. Mungkin bersenang-senang," jawab Liam.
"Kata bersenang-senang itu agak ambigu," keluh Lucas.
"Ya," sahut Liam, datar.
"Serius, Liam! Aku agak cemas mereka melakukan hal yang berbahaya," keluh Lucas lagi. Ia bangkit dari tidurnya dan duduk. Lampu kamar dimatikan. Pencahayaan kamar hanya berasal dari lampu tidur dan bias cahaya yang menerobos dari jendela yang menebus gorden.
"Apa ada balas dendam yang tidak berbahaya?"tanya Liam.
Lucas terdiam. Ya, yang namanya balas dendam pasti tidak mudah, bukan?
"Kau kenal Tuan Jerry? Kemarin ibu memintaku mencari data tentangnya. Menurutku Mommy pasti meminta Uncle untuk mencari data itu juga. Kemungkinan kepulangan Uncle ada hubungannya dengan itu. Jadi, aku kira mereka pergi untuk memberi pelajaran padanya," papar Liam yang melihat wajah kesal dan frustasi kakaknya.
"Tuan Jerry? Gendut jelek itu?"
"Hm."
"Sudahlah. Mom dan Uncle pasti punya persiapan yang matang. Lebih baik kita kembali tidur, ujar Liam, menenangkan Lucas.
"Ya, kau benar." Lucas menganggukinya.
Luvas kembali berbaring dan menarik selimut sebatas dadanya.
"By de way, besok hasil tes DNA keluar, bukan?"tanya Lucas.
"Iya."
"Jantungku sudah berdebar kencang untuk hasilnya. Menurutmu apa hasilnya?"
Liam menutup matanya. "Liam, kau sudah tidur?"
"Tidak akan mengubah apapun," jawab Liam.
"Tidurlah. Besok akan menjadi hari mendebarkan dan membosankan!"titah Liam, nadanya tegas memerintah.
Mendengar itu, Lucas langsung memejamkan matanya. "Apapun hasilnya, aku hanya ingin yang terbaik, untuk Mommy, untuk kita berdua, untuk semuanya," harap Lucas. Liam tersenyum. Tampak setuju dengan harapan Lucas.
*
*
*
Di tempat yang sepi, tepatnya di bawah jembatan dekat dengan sungai, Dion menghentikan mobilnya. Diikuti oleh Camelia.
Dion menoleh ke belakang, ke kursi penumpang. Pemilik mobil ini yang tak lain adalah Tuan Jerry tidur dengan nyenyaknya. Entah karena sudah mabuk berat atau bagaimana, ia bahkan tidak menyadari bahwa sopirnya telah berganti orang, dia juga tidak menyadari bahaya yang sedang mendekati dirinya.
Dion tersenyum miring, dan itu membentuk seringai. Pria gendut itu akan jadi bulan-bulannya.
Camelia turun dari mobil. Penampilan serba hitam, tertutup dari atas kepala sampai kaki. Bersandar pada body mobil dengan kedua tangan melipat di dada.
Dion juga turun dari mobil. Penampilannya sama seperti Camelia. Bedanya hanya di bagian rambut.
"Masih tidur?"
Dion mengangguk. Camelia kemudian membuka pintu bagian penumpang. Mengambil paper bag dan memberikannya pada Dion.
__ADS_1
"Tinggal disemprot saja, kan?"tanya Dion, mengeluarkan sebuah kaleng yang tak lain adalah obat halusinasi. Obatnya berbentuk gas, yang jika terhirup akan langsung berefek.
"Ya. Semprot kan saja dan kita akan menunggunya selesai berhalusinasi," jawab Camelia.
Dion mengangguk. Ia kemudian membuka pintu penumpang. Sebelum menyemprotkan obat halusinasi itu, lebih dulu Dion membangunkan Tuan Jerry. Ditepuknya pipi besar Tuan Jerry. Empunya meringis sakit dan perlahan membuka matanya. Beberapa kali mengerjap, "sudah sampai?" Pandangan Tuan Jerry buram.
"Sudah," jawab Dion. Dahi Tuan Jerry langsung mengeryit. Agaknya ia sadar bahwa itu bukanlah suara sopirnya.
"Siapa kau?" Pandangannya mulai jelas. Dan ia terkejut melihat pria dengan outfit serba hitam, bahkan matanya saja Tuan Jerry tidak tahu karena tertutup kacamata.
Antara takut dan marah, Tuan Jerry merengsek mundur. "Siapa kau? Apa maumu? Jangan sakiti aku. Kau, kau tahu siapa aku kan?"ucap Tuan Jerry dengan terbata-bata, berusaha memberanikan diri dengan tangan berusaha membuka pintu mobil. Sayangnya pintu mobil itu terkunci.
Di balik maskernya, Dion tersenyum smirk.
"Have fun!"ucap Dion dengan sedikit menyamarkan suaranya. Dion kemudian menyemprotkan obat halusinasi ini.
Tuan Jerry malah mengendus. "Apa ini? Apa yang kau lakukan?" Ia berteriak. Dion melambaikan tangannya kemudian menutup pintu.
"Hei! Hei? Apa yang kau lakukan padaku? Keluarkan aku, buka pintunya, br*ngsek!"teriak Tuan Jerry dengan memukul jendela. Dion berdecak, ia bersandar pada body mobil. Dion lalu memberikan jempolnya pada Camelia duduk di kursi penumpang dengan pintu terbuka, tanda obat sudah disemprot, saatnya menikmati pertunjukan.
"Ahhh!" Dari jendela yang sedikit terbuka, Camelia mendengar teriakan Tuan Jerry. Seperti seseorang yang mengalami sesuatu.
"Hahahaha!" Kemudian Tuan Jerry tertawa.
"Hm?" Dion melirik sekilas.
"Kemarilah, Cantik. Aku akan memuaskanmu." Kata-kata yang terdengar menjijikan di telinga Camelia dan Dion.
"Ah Cantik, kau … ah." Meskipun tidak melihat posisi Tuan Jerry di dalam mobil, dilihat dari mobil yang sedikit bergoyang hingga membuat Dion pindah posisi, sepertinya Tuan Jerry sedang membayangkan dirinya tengah melakukan hubungan dengan wanita. Cantik, mereka tidak tahu siapa wanita itu. Dan entah berapa banyak wanita yang telah menjadi mangsa Tuan Jerry.
"Ah, kau begitu cantik, Rose sayang. Teruslah mendesah." Dion dan Camelia terbelalak mendengar racauan itu. Rose?
Siapa? Rose Liang?
Gosh!
Bagaimana bisa? Rose juga berhubungan dengan Tuan Jerry, padahal sudah menjadi tunangan Andrean? This crazy!!
Dion memijat dahinya. Ia meringis. Camelia sendiri terdiam. Tidak begitu fokus pada Tuan Jerry yang terus meracau. Itu adalah obat halusinasi. Biasanya yang diucapkan itu adalah benar.
"Kakak," panggil Dion, lirih.
"Hm?"
"Andai saja ada cara memutuskan hubungan darah, aku pasti akan melakukannya. Sayangnya, sampai matipun aku dan dia satu darah dan itu membuatku marah dan merasa jijik!"ucap Dion dengan nada marah bercampur dengan sedih. Ya, meskipun Dion sudah mengganti marganya, di dalam darahnya tetaplah darah keluarga Liang dan satu dengan Rose. Mereka adalah kandung, lahir dari rahim yang sama, dan memiliki ayah yang sama. Sedangkan Camelia, ia adalah angkat dengan Rose, juga dengan Dion. Kendati demikian, di dalam hatinya, Tuan dan Nyonya Liang tetaplah orang tuanya. Orang tua yang sudah membesarkannya selama 22 tahun. Melimpahkan kasih dan sayang pada dirinya. Camelia tersenyum kecut.
"Aku tahu, aku tahu dia sejak kecil kekurangan. Namun, apakah kelakuannya itu harus terbawa sampai sekarang? Dia, dia mempermalukan keluarga Liang! Dia adalah aib bagi keluarga! Kakak, bagaimana? Bagaimana jika ayah dan ibu tahu kelakuan kakak yang sebenarnya? Mereka … mereka pasti akan sangat kecewa, bukan? Hati mereka akan begitu terluka, bukan? Kakak … aku … aku sangat ingin …." Dion tidak melanjutkan ucapannya. Ia hanya mengepalkan tangannya seakan tengah menghancurkan sesuatu.
"Lupakan saja. Dia tidak bisa diubah lagi," ujar Camelia.
"Aku jadi meragukan siapa sebenarnya ayah kandung Crystal," ucap Dion.
"Itu tidak perlu lagi kau pertanyakan. Dia anak yang polos. Tahunya Andrean adalah ayahnya, sama seperti Lucas dan Liam. Di dalam hati dan ingatan mereka, Chris adalah ayah mereka. Siapapun ayahnya, anak itu tetaplah keponakan kita. Cucu dari ayah dan ibu. Jangan libatkan dia karena kelakuan ibunya!"tegas Camelia.
Dion mencerna ucapan Camelia. Ya, apa yang Camelia katakan benar. Biar bagaimanapun, Crystal adalah keponakannya. Hubungan kekerabatan keduanya lebih erat ketimbang dengan Lucas dan Liam.
"Kau benar, Kak. Lupakan saja."
Guncangan di dalam mobil semakin menjadi. Setelah menunggu dengan pikiran masing-masing, mobil akhirnya diam.
Dion membuka pintu mobil. Mendapati Tuan Jerry dengan penampilan yang sangat berantakan. Namun, pria itu masih mengenakan celana pendek yang terlihat basah. Terlihat lelah dengan gurat kesenangan yang terpancar jelas.
Tatapan Dion begitu dingin. Dengan kasar, ia menarik tangan Tuan Jerry. Tuan Jerry yang tidak siap langsung tertarik. Tubuh gendut itu Dion hempadkan ke tanah.
__ADS_1
Menerima benturan yang cukup keras pada tubuhnya, seketika Tuan Jerry sadar. Ia heran, dan bingung.
Di mana dia? Mengapa hanya mengenakan celana pendek? Tubuhnya juga bau peluh. Dan siapa dua orang yang berdiri di depannya dengan tongkat bisbol di tangan?
Takut, bingung, marah, semua bercampur menjadi satu namun tidak ada sepatah katapun yang keluar. Seakan suaranya sudah habis karena halusinasinya tadi.
"Hallo, Gendut!"sapa Dion, dengan suara aslinya.
"Holla, Gendut brengs*k." Camelia turut menyapa.
"S-siapa kalian?" Dengan susah payah, Tuan Jerry bertanya. Suaranya lirih.
"Kau begitu gagah di ranjang, mengapa sekarang ketakutan?"tanya Dion dengan memainkan tongkat bisbolnya.
"A-apa?"
Camelia berjongkok. Melepas kacamatanya. Tatapannya begitu tajam pada Tuan Jerry. Tubuh Tuan Jerry bergetar. Ia seperti sedang bertatapan dengan hewan buas.
"Tidak perlu basa-basi. Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku dengan jujur. Dia kau berbohong, tongkat ini, sangat cocok dengan tubuh gendutmu itu!" Tuan Jerry menelan ludah. Melirik Dion yang meletakkan tongkat bisbol itu di bahu.
"Ah apakah kalian akan melepaskanku?"tanya Tuan Jerry dengan terbata. Takut-takut.
"Tergantung jawabanmu."
"T-tanyakan saja. Aku akan menjawab dengan jujur."
"Kau kenal dengan artis bernama Jasmine Liang?"
"Jasmine Liang?" Tuan Jerry bergumam.
"A-apa hubungannya dengan wanita itu?" Camelia mengangguk. Tuan Jerry mengingatnya.
"Saat kau hendak memperkosanya?"
Tuan Jerry mengangguk. "Katakan siapa yang memberimu keberanian untuk menyentuhnya? Apakah kau melakukan kesepakatan dengan seseorang dengan syarat menyentuh dirinya?"selidik Camelia.
"Siapa kau?" Pertanyaan Camelia membuat Tuan Jerry curiga.
"Me? Tidak perlu tahu siapa aku. Jawab pertanyaanku maka kau akan selamat!"
"Siapa dia?! Katakan padaku!"
Bugh!
"Argh!"
Tuan Jerry berteriak sakit saat Dion memukul dirinya. "Semakin lama kau menjawab, semakin sering ini mendarat di tubuhmu!"
"CK! Kau ingin tahu siapa aku? Aku akan memberi tahu siapa diriku namun konsekuensinya akan sangat berat." Camelia memberikan harapan yang dibarengi dengan ancaman.
Bugh!
Argh!
Dion kembali memukul. Tuan Jerry menjadi sasarannya dalam melampiaskan emosi.
"Jangan lupakan ucapanku!"
"Waktu terus berjalan. Atau kami harus menggunakan cara yang lebih baik lagi untuk membuatmu bicara?"
"Tidak! A-aku akan katakan!"
"Ya, katakan, who is?"
__ADS_1