
"Mengapa kau undang dia masuk, Kak?!"protes Camelia dengan berbisik pada Kak Abi.
"Tidak juga tidak bisa menolak tamu dengan niat baik seperti itu, Lia," ujar Kak Abi.
"Niat baru?" Nadanya sinis. Kak Abi tersenyum simpul.
"I know, Lia. Sekali ini saja, jadilah tuan rumah yang baik." Kak Abi bukannya tidak mengerti. Di balik niat menyapa tetangga pasti ada niat lain.
Camelia menghela nafas. Tidak mungkin juga mengusir Andrean. Terlebih ia bersama dengan Crystal. Dan juga sudah mengaku lapar. "Beruntung aku masak cukup banyak." Kak Abi mengembangkan senyum.
"Aku akan memanggilnya ke meja makan," ujar Kak Abi kemudian meninggalkan dapur.
"CK!" Camelia berdecak kemudian melihat penampilannya. Ia merasa tidak perlu make up karena ya, tanpa make up dirinya sudah cantik.
Camelia kembali melepas apronnya. Dan menuju ke meja makan. Didapatinya Andrean sudah duduk dengan memangku Crystal. Andrean duduk di kursi Dion. Kak Abi, Lucas, dan Liam juga sudah mengambil tempat.
"Selamat malam, Presdir Gong," sapa Camelia.
"Malam, Nyonya Camelia." Tetap sapaan formal.
"Saya tidak tahu Anda akan pindah dan berkunjung. Saya tidak ada persiapan yang matang. Jadi, mohon dimaklumi hidangan yang sederhana ini," tutur Camelia. Ia bermain peran. Walau kesal juga tidak harus menunjukkan rasa kesal.
"Hidangan Anda setara dengan menu restoran. Malah saya merasa sangat beruntung bisa mencicipi makanan yang Anda buat sendiri," sergah Andrean langsung. Camelia tersenyum.
"Jangan terlalu memuji, Presdir Gong. Lebih baik kita segera makan malam saja."
Andrean mengangguk. Sebelum makan, Cemelia lebih dulu mengambilkan makanan untuk Lucas dan Liam. Melihat itu, Crsytal menatap ayahnya. Andrean tampak kaku. Ia sama sekali tidak pernah mengambilkan makan untuk orang yang. Yang ada, ia yang selalu dilayani.
"Ayah." Itu seperti rengekan. Lucas, Liam, dan Camelia menatap Crystal yang menatap harap ayahnya. Biar bagaimanapun ia masihlah anak berusia 4 tahun. Sulit untuk mengambil makanan sendiri.
Camelia menghela nafas pelan. Segera ia mengambil mangkuk makan Crystal, "aku tidak tahu kau suka apa. Jadi, katakan yang mana yang kau inginkan," ujar Camelia.
Dengan ragu-ragu, Crystal menunjuk beberapa menu. Camelia mengambilkannya dalam porsi yang sama seperti Lucas dan Liam.
Lucas dan Liam saling tatap, situasi ini ….
Andrean yang awalnya terhenyak, tersenyum penuh arti. Potret dan situasi keluarga yang lengkap nan harmonis.
"Apa kau juga anak kecil, Paman?"sindir Liam yang melihat Andrean tak kunjung keluar mengisi mangkuknya, malah memandangi wajah mommy mereka.
"Ah tidak perlu! Tapi, jika tidak keberatan, itu suatu kehormatan bagi saya," jawab Andrean.
"Mohon jangan melewati batasan, Presdir Gong!"tegas Camelia.
"Sejujurnya Anda berkunjung seperti ini saja jika tercium oleh publik akan menjadi trending topik dan dapat menciptakan isu yang tidak sedap. Anda baru putus lalu makan malam di sini bersama anak Anda juga. Bukan maksud saya tidak suka, akan tetapi mohon pertimbangkan nama baik artis saya dan Anda sendiri!"timpal Kak Abi yang sudah cukup jengah melihat Andrean yang seperti diberi hati minta jantung.
Ya ini wilayah Camelia. Tentu harus mengikuti aturan Camelia. Mereka mulai makan. Tidak ada perbincangan.
"Mom, setelah ini kita video call dengan grandma dan grandfa," ujar Lucas. Lucas mengingatkan sekaligus mengisyaratkan bahwa mereka butuh waktu pribadi.
"Saya juga masih ada pekerjaan yang belum selesai." Sepertinya Andrean sadar diri.
"Crystal, ayo kita pulang," ujar Andrean.
"Ayah, Crystal suka masakan Tante, apa boleh kita kemari lagi?" Hm, sepertinya Camelia mencuri hati Crystal dari makanan. Camelia mengerjap.
__ADS_1
"Rumahku bukan restoran," sahut Liam dengan ketusnya. Crystal tersentak, ia kaget dengan jawaban ketus Liam. Matanya mulai berkacq-kaca.
"Liam?!" Camelia menegur. Liam acuh tak acuh. Ia tampaknya tidak terlalu suka namun dicoba untuk tidak ditunjukkan secara verbal karena sejak dari awal makan malam sampai selesai, baik Lucas ataupun Liam tidak mengatakan apapun. Mereka berdua menikmati santapan dalam diam.
"Ayah tidak bisa menjanjikannya, Crystal. Karena … kau tahu Ayah sibuk." Andrean merasa canggung dan tidak enak dengan Camelia.
"Jika kalian memang pindah di sini dan jika kebetulan aku ada di rumah, tidak masalah Crystal di sini," ujar Camelia. Meskipun Camelia tidak suka dengan ibunya, Crystal tidaklah bersalah. Ia tidak tahu apapun bahkan bisa dikatakan ikut menjadi korban.
"Sungguh?" Dikatakan begitu saja, Crystal langsung sumringah. Camelia mengangguk.
"Terima kasih, Tante!"
"Maaf merepotkan Anda," ucap Andrean. Dalam hatinya merasa sangat senang.
What is this? Pendekatan melalui anak? Dan mengapa Mom malah menyambut? Apa yang Mom pikirkan? Lucas dan Liam menatap Camelia. Mata mereka menyipit seakan mencari jawaban.
"Kalau begitu kami pamit. Sekali lagi terima kasih atas makan malamnya," ujar Andrean sembari menggendongmu Crystal yang menebarkan senyum manisnya.
Kak Abi bertugas mengantar Andrean sampai depan pintu. "Saya harap kepindahan Anda ini tidak membawa dampak negatif bagi Camelia dan Anda sendiri!" Kak Abi berbisik, memperingati Andrean dalam bahasa Inggris.
"Saya juga tahu batasan," jawab Andrean.
"Okay. Good night, Mr. Gong!"ucap Kak Abi sebelum menutup pintu.
"Mom … kau mau mengambil peran pengasuh, begitu?"tanya Liam langsung setelah Andrean dan Crystal meninggalkan meja makan.
Camelia yang tengah berbenah, menoleh sejenak kemudian tersenyum, "kapan Mom katakan akan jadi pengasuhnya? Bukankah dia punya pengasuh sendiri?"balas Camelia.
"Benar. Tapi, Paman Tua itu pasti akan mengambil kesempatan," sungut Lucas. Memang anak kembar.
"Apa Mom orang yang gampangan? Mudah ditaklukkan? Dan ada kalian berdua, Mom tidak perlu takut. Lebih baik kalian hubungi grandma," tukas Camelia, menjawab sekaligus memberi perintah.
"Ya. Benar, ada kami!" Camelia memang pemegang kendali kedua anak itu. Dengan patuh, Lucas dan Liam ke ruang tengah dan melakukan apa yang dikatakan oleh Camelia.
"Sudah sana. Biar aku yang membereskannya," ucap Kak Abi sembari mengambil alih pekerjaan Camelia.
"Oh, okay."
"Grandma! Grandpa!"sapa Lucas dan Liam bersamaan saat panggilan video dijawab oleh Tuan dan Nyonya Shane.
"Lucas! Liam! We miss you so much!"jawab Nyonya Shane dengan begitu sumringah.
"We too," balas Camelia yang baru bergabung.
"How are you, Mom, Dad," sapa Camelia.
"Lia! We are sick," jawab Nyonya Shane dengan wajah yang berubah drastis.
"Sick?" Anak kembar dan ibu membeo.
"Iya. Sakit karena merindukan kalian. Kapan kalian akan pulang?"tanya Nyonya Shane.
Tuan Shane diam namun wajahnya menunjukkan rasa bahagia yang besar. "Secepatnya, Mom," jawab Camelia.
"Sudah sampai tahap mana?" Tuan Shane baru berbicara.
__ADS_1
"Masih permulaan sih. Besok baru masuk tahap kedua," jawab Camelia.
"Hm. Ada yang bisa Daddy bantu agar bisa cepat selesai?" Tuan Shane menawarkan bantuan.
"Grandfa, masalahnya bukan di waktu. Tapi, di moment dan tingkat kepuasan," ujar Liam.
"Ah kau benar, Liam. Yang penting adalah tingkat kepuasan," sahut Tuan Shane dengan tertawa.
"Sayang sekali Uncle Dion sangat sibuk," ucap Lucas.
"Salahkan grandfa mu yang memberikan tugas itu pada Uncle Dion." Tuan Shane terkekeh mendengar sungutan istrinya.
"Untuk ke depannya, Dion akan memimpin Shane Group. Anggap saja memimpin cabang itu adalah sebuah magang, sebuah ujian yang membuktikan dirinya mampu," ucap Tuan Shane dengan cukup serius. Ya, Camelia mengerti hal itu. Dan begitu juga dengan Nyonya Shane.
"Mom, Lia tinggal sebentar ya," ucap Camelia.
Tuan dan Nyonya Shane mengangguk. Camelia bangkit menuju kamar.
"Lucas, Liam, Mommy kalian tidak ada hubungan dengan Presdir Entertainment itu kan?" Ya, langsung diintrogasi.
"Hanya sebatas hubungan Mommy itu wali kami," jawab Liam.
"Lebih baik setelah kalian selesai pemotretan, jangan ambil job lagi. Kami tidak ingin Mommy kalian terlibat dalam situasi keluarga itu yang cukup rumit." Keduanya percaya, Lucas dan Liam bisa diandalkan.
"Kami juga tidak suka dia," imbuh Lucas.
"Tapi, apakah ingin sosok mendapatkan sosok seorang ayah pengganti Daddy Chris?"
Lucas dan Liam saling pandang mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Nyonya Shane.
"Tidak." Itu jawaban Liam.
"Daddy Chris tidak akan terganti. Kami juga tidak kehilangan sosok seorang ayah karena ayah ada di dalam hati kami," timpal Lucas.
Mendengar jawaban itu, Nyonya Shane sungguh terharu. "Kalian, sungguh sudah dewasa."
Cukup lama Lucas dan Liam video call dengan Tuan dan Nyonya Shane. Tentu saja ditemani oleh Camelia dan Kak Abi. "Good night." Itu salam penutup dan video call berakhir.
Kak Abi memutuskan langsung tidur, begitu juga dengan Camelia. Lucas dan Liam yang mengaku belum bisa tidur, tetap di ruang tamu dengan catatan jam 10 malam harus sudah masuk ke dalam kamar.
"Lucas."
"Hm?"
"Aku berpikir untuk membuktikannya."
"Nya?" Lucas tampaknya tidak mengerti.
"Entahlah. Itu sedikit menggelitik hatiku. Aku tidak percaya namun aku butuh kepastian."
"Jika terbukti?"
"Ya yang penting kita tahu," jawab Liam.
"Baiklah. Aku setuju." Kedua anak itu kemudian melakukan tos.
__ADS_1
"Ayo tidur," ajak Lucas yang diangguki oleh Liam.