
"Saya dengar Anda adalah adik dari artis Camelia Shane, apa itu benar?"
Dian tidak langsung menjawab. Menilik lebih dulu pria di depannya ini. Tersenyum seakan pertanyaan itu hal biasa. Namun, bagi Dion itu pertanyaan yang mencurigakan.
"Hm. Benar."
"Anggota keluarga Shane sangat hebat semuanya," puji Allen. "Alangkah baiknya jika kita dapat bekerja sama dan ada kemungkinan ada hubungan kerabat," lanjut Allen. Secara tak langsung, mengatakan niatnya. Mata Dion memicing. Pria di depannya ini? Tertarik pada sang kakak?
"Bukankah itu hal bagus, Tuan Muda?"
"Jika ditakdirkan, mungkin itu akan terjadi," jawab Dion. Namun, bukan denganmu, tambah Dion dalam hati.
"Semoga saja."
"Hm … usia Anda sudah cukup untuk menikah bahkan memiliki anak. Saya menantikan undangan pernikahan Anda," ucap Dion.
"Pasti, pasti!" Allen sangat percaya diri.
"Tuan Allen, bersulang untuk Anda." Ada tamu yang bergabung.
"Terima kasih."
"Kalau begitu saya undur diri dulu," ujar Dion, menarik diri dari kumpulan itu.
Mau jadi suami kakakku, punya kualifikasi apa kau?sinis Dion dalam hati.
"Tuan Gong, saya mempunyai seorang putri yang cantik dan berbakat. Dia lulusan magister bisnis luar negeri. Saya baik dan cocok dengan putri Anda. Saya berharap kita dapat menjalin hubungan kerabat." Telinga Dion yang tajam menangkap hal itu. Segera ia pasang telinga untuk mencuri dengar.
"Saya juga memiliki putri tunggal. Dia juga lulusan luar negeri dan saat ini menjadi general manager di perusahaan saya." Ada lagi yang mempromosikan anak perempuan mereka pada Andrean.
Andrean menarik senyum tipis. Menggoyahkan gelas winenya.
"Hati saja sudah milik wanita lain. Tawaran Anda sekalian tidak bisa saya terima," jawab Andrean, tanpa pikir panjang langsung menolaknya.
Milik wanita lain? Who? Dion penasaran. Apakah kakaknya?
"Ah … Tuan Muda Shane." Andrean melihat Dion.
"Ehem." Dion batuk kecil dan mendekat.
"Begitu rupanya. Baiklah terima kasih, Tuan Gong." Satu persatu mundur dan memberi ruang untuk Andrean dan Dion.
"Lama tidak bertemu, Mr. Gong."
"Sepertinya ada banyak yang harus kita bicarakan," sahut Andrean. "Bicara di balkon. Di sini sesak." Dion mengikut.
"Bagaimana luka Anda?"tanya Dion langsung saat sudah berada di balkon.
"Lia memberitahumu?"
"Hm. Dia juga sudah melakukan konferensi pers."
Andrean menatap lurus ke depan. Tidak bertanya tentang itu. Ia adalah Presdir agensi hiburan. Hal semacam itu, tidak perlu lagi ia pertanyakan.
"Ngomong - ngomong kau sengaja membawa mereka?"
"Mereka? Ayah dan ibuku?"
"Hm."
"Kau tidak senang, Mr. Gong?"
"Tidak. Lupakan saja."
"Sampai kapanpun Anda tidak dapat memutuskan hubungan mereka."
"Aku tahu."
"Apa kau tahu bahwa yang baru diangkat tadi tertarik pada kakakku?"tanya Dion. Seketika, Andrean menoleh. Tatapannya tajam.
"Allen?"
"Ya."
"Sial*an itu!" Andrean mengeram. Tangannya terkepal.
Ternyata tidak akrab.
"Dia sangat percaya diri sekali. Dan itu membuatku ingin tertawa." Dion mendengus.
"Dia mau, apa Kakakku mau?"
"Kalau mau menjalin hubungan kerabat, harus yang sudah pasti dong."
Andrean melebarkan matanya. Ia tak salah dengar kan?
Itu sebuah persetujuan, bukan?!
"Kakak sudah cerita padaku. Dan aku sebagai adik, mengharapkan yang terbaik untuk kakakku." Menepuk bahu kanan Andrean.
"Dan terima kasih atas apa yang telah kau lakukan." Setelah mengatakan hal itu, Dion meninggalkan balkon, meninggalkan Andrean yang tersenyum puas. Ia puas sampai tahap ini. Tinggal menjaga dan mengembangkannya saja.
*
__ADS_1
*
*
"Kakek." Andrean menghampiri Kakek Gong yang tengah berbincang dengan tamu. Pesta perayaan masih cukup panjang, sampai malam hari nanti.
"Ada apa, Rean?"
"Aku akan kembali ke Beijing."
"Sekarang?" Andrean mengangguk. "Barang-barangku sudah di pesawat."
"Kau sudah mempersiapkannya. Aku tidak bisa menahanmu lagi. Ya sudah."
"Saya permisi dulu."
"Silahkan, Tuan Besar Gong." Kakek Gong dan Andrean menuju meja Tuan dan Nyonya Liang.
"Andrean," sapa Tuan Liang.
"Kami akan pulang," ucap Andrean, dengan menatap Crystal.
"Pulang? Beijing?" Andrean membenarkan pertanyaan Crystal.
"Kalian akan pulang ke Beijing?" Terpancar raut wajah kecewa. Baru sebentar mereka bersama dengan Crystal. Rasanya belum cukup.
"Ayo, Ayah!" Namun, Crystal bahagia dengan itu. Bocah itu bahkan sudah melompat turun dan berdiri di sisi ayahnya.
"Kalian akan segera kembali ke Beijing juga, bukan? Bagaimana jika pulang bersama kami," tawar Andrean. Itu cukup menggiurkan.
"Terima kasih atas tawarannya, Andrean. Tapi, kami tidak pulang sekarang," tolak Tuan Liang. "Masih ada urusan di sini," lanjutnya. Meskipun rasa rindu baru sedikit terobati. Bersama dengan putra mereka adalah yang utama.
"Baiklah."
"Kakek, aku pergi."
"Bye-bye kakek buyut, kakek, nenek."
"Bye-bye, Crystal."
Andrean dan Crystal melangkah menuju pintu keluar. Namun, sebelum itu, Andrean memalingkan langkahnya mendekati Allen.
"Kakak."
"Hari ini aku memberimu kesempatan. Jika kau bertingkah dan mengecewakan, mudah bagiku untuk menariknya kembali!" Andrean berbisik dingin. Membuat Allen terperanjat. Lagi-lagi sebuah peringatan agar ia tidak macam-macam. Setelahnya, Andrean benar-benar meninggalkan ruangan bersama dengan Crystal.
"Kita juga pulang?"tanya Nyonya Liang. "Dion sudah di luar," tambahnya, berkata dengan pelan pada Tuan Liang.
"Tuan Besar Gong, kami juga pamit." Tuan Liang langsung menyetujuinya.
"Hm."
"Jika mau mengambil, memangnya sanggup?"cibir Kakek Gong.
*
*
*
Huft!
"Rasanya lega sekali. Di dalam sangat sesak. Yang dibahas itu-itu saja!"gerutu Nyonya Liang saat sudah berada di dalam mobil.
"Memangnya apalagi yang mau dibicarakan?"sahut Tuan Liang, seraya melonggarkan dasinya.
Nyonya Liang mendengus pelan. "Haha … sudahlah, ayah, ibu, lebih baik kita pulang," tukas Dion yang disambut anggukan oleh keduanya.
*
*
*
Dan begitulah. Hari-hari kembali seperti biasa. Andrean sibuk dengan pekerjaannya. Crystal dengan aktivitas. Begitu juga dengan Dion dengan tanggung jawabnya. Tuan dan Nyonya Liang dengan urusan restoran.
Sementara Camelia, juga begitu. Sibuk dengan latihan. Hanya saja, untuk pemotretan ditangguhkan. Menjadi model, wajah adalah yang utama. Apalagi saat menjadi model perhiasan, harus menyatu, jika ada luka, hasilnya akan sangat tidak pas.
Lucas dan Liam, disela kesibukan mereka, keduanya tetap belajar dan mengasah kemampuan. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan. Juga mendalami bahasa yang mereka kuasai.
"Bonjour," sapa Lucas dan Liam di pagi hari.
"Alright. Thank you," balas Tian Shane. Lucas dan Liam kemudian mengambil tempat. Saatnya sarapan sebelum berangkat ke Korea Selatan. "Are you studying French?"
"Yes, Grandpa."
"Bagaimana denganmu, Lia? Ada belajar bahasa baru?"tanya Tuan Shane. Camelia sudah menguasai bahasa Prancis, karena itu salah satu bahasa yang digunakan di sini.
"Belakangan ini, aku tertarik dengan bahasa Korea," jawab Camelia.
"Oh, aku tahu … annyeong haseyo, benarkah begitu, Mom?" Liam bersemangat.
"Benar."
__ADS_1
"Kalian ini mau jadi polyglot?"cetus Nyonya Shane.
"Hehe." Tak membantah artinya iya.
"Kalau begitu pelajaran lah dengan baik. Mampu menguasai banyak bahasa sangat bermanfaat untuk kalian," ucap Tuan Shane. Terutama untuk Liam yang kelak akan memimpin Shane Group.
Ternyata perbedaan lingkungan, berpengaruh pada kemampuan. Lina yang juga berada di antara mereka merenung. Ia juga ingin seperti itu, menguasai banyak hal akan menjadi manajer yang handal.
"Kau juga, Lina. Seorang manager harus handal dan punya sesuatu yang menonjol. Aku lihat kau punya kemampuan untuk itu. Bagaimana jika memanggil guru? Katakan bahasa apa yang ingin kau pelajari." Nyonya Liang menatap Lina.
Lina terkesiap. Apakah ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba? "Benar! Kak Abi menguasai tiga bahasa. Jika ingin menjadi Managerku kakak harus menyamainya atau melebihinya!"
"Hah?"
Ternyata bukan hanya dari segi pengalaman dan kemampuan. Akan tetapi, juga keterampilan bahasa. Lina meringis.
"Diam artinya setuju." Tuan Shane menarik kesimpulan.
"Eh?"
"Hah? Eh? Kau tidak fokus, Lina?" Mata Tuan Shane memicing padanya.
"T-tidak! S-saya hanya kaget, Tuan!" Lina menjawab seraya menggerakkan tangannya. Wajahnya panik. Camelia menahan senyumnya.
"Setuju?" Kembali meminta jawaban.
"I-iya."
"Ada keraguan."
"S-saya takut merepotkan."
"Apanya yang merepotkan? Toh bukan kami yang mengajari." Gantian Nyonya Shane yang menanggapi.
"Tidak perlu takut atau cemas, Kak. Kau kan sudah bagian dari keluarga ini," imbuh Camelia, turut andil membujuk.
"Kalau tidak belajar bersama dengan kami?"tawar Lucas.
"Atau kami bertiga belajar bersama dengan seorang guru?"saran Liam.
"Itu bagus!" Jadi, masalah tidak enak teratasi.
"Baiklah." Lina mengangguk setuju. Dan rasanya percuma saja menolak. Mereka akan tetap membujuk dan bahkan langsung mengambil keputusan.
*
*
*.
Selesai sarapan, Camelia, Lucas, dan Liam langsung berpamitan. Kak Abi juga sudah datang menjemput. Seperti perintah Tuan David tempo hari, akan ikut jika Camelia ke Korea Selatan.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di bandara. Pesawat sudah menunggu. Dan tak menunggu lama, pesawat lepas landas menuju Korea Selatan. Penerbangan itu akan memakan waktu yang cukup panjang. Sekitar 10 jam.
Dalam perjalanan, Lucas dan Liam kebanyakan menghabiskan waktu di dalam kamar. Sementara Camelia, menghafal beberapa kosa kata dalam bahasa Korea.
Kak Abi sibuk dengan tabletnya. Dan tiba-tiba mengangkat wajahnya. Dahinya berkerut, menatap Camelia. Merasa ditatap, Camelia menoleh. "Mengapa kau menatapku demikian, Kak?"
"Kau dekat dengan Joseph?"tanya Kak Abi, langsung.
"Hah?"
"Benar?" Menyelidik Camelia.
"Darimana kakak dengar kabar itu?"tanya Camelia.
"Aku melihatnya sendiri. Pria itu menempel padamu di lokasi latihan," sungut Kak Abi.
"Kau mengawasiku?" Camelia membelalakkan matanya.
"Aku menjagamu! Dan itu tugasku sebagai Managermu!"
Camelia mengusap wajahnya kasar. "Dia yang menempel padaku, bukan aku."
"Jaga jarak aman dengannya," tegas Kak Abi.
"Dia tertarik padamu," tambah Kak Abi. Camelia tertegun sesaat.
Kakak juga menyadarinya?
Camelia juga menyadari hal yang sama. Joseph tertarik padanya.
Apa yang membuatnya tertarik? Dia janda, anak dua, dan latar belakang yang sulit ditembus. Apakah karena itu?
"Hm."
"Ingat kau sudah ada pria China itu. Jangan mencari yang lain."
"Apa yang kau katakan, Kak?!"protes Camelia, wajahnya langsung memerah. Mengapa merambat pada Andrean?
"Benarkan?" Kak Abi malah semakin tersenyum menggoda.
"Namun, yang paling penting lagi, jangan buat skandal apapun. Lebih tepatnya, hindari hal yang dapat membuatmu terseret skandal, terutama asmara. Kehidupanmu sangat disorot. Kau harus lebih berhati-hati lagi!"tegas Kak Abi.
__ADS_1
Huft!
"Terkadang, aku merasa dunia tidak adil. Namun, setiap hal pasti ada resikonya. Aku akan berusaha," sahut Camelia. Mengesah pelan seraya memejamkan matanya. Lelah, matanya berat, Camelia memejamkan matanya.