
Di salah satu klub malam di Toronto, kehidupan malam yang bebas terlihat jelas. Musik berbunyi dengan keras. Minuman, tarian, semua bercampur menjadi satu.
Tempat itu adalah saksi untuk kebanyakan orang yang melakukan hubungan tanpa status. Hanya sekadar teman melewati malam yang dingin. Juga tempat untuk memuaskan nafsu.
Di salah satu kamar, seorang wanita tidur dengan berbalut selimut. Sementara seorang pria, berdiri di dekat jendela sembari merokok. Menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Sorot matanya datar. Seakan tidak menunjukkan kepuasan setelah menghabiskan waktu dengan wanita yang tidur itu.
"CK!" Pria itu berdecak. Mematikan rokoknya kemudian naik ke ranjang.
Wanita yang tidur itu terganggu saat merasakan ada yang menyentuh dirinya. "T-Tuan," ucapnya gagap.
"Ahh … Tuan … hentikan, aku lelah," erangnya dengan kedua tangan meremas rambut sang pria.
"Layani aku!"titah Pria itu.
"Ah … Tuan … Joseph!" Mata wanita terbelalak.
"Jangan panggil namaku!"ketus pria itu yang tak lain adalah Joseph. Pria itu kemudian merangkak naik. Wanita itu menggeliat tak karuan. Padahal ia baru saja tidur. Namun, kembali diserang.
*
*
*
Malam itu, Joseph menghabiskan malam dengan wanita panggilan. Namun, perasaannya tidak berubah. Sebanyak apapun ia melakukannya, tetap tidak bisa memuaskannya. Malah, bayangan Camelia yang hadir. Membuatnya sangat frustasi.
Joseph masih berada di kamar itu, duduk bersandar pada kepala ranjang. Di mana tubuhnya dipeluk oleh wanita panggilan itu. Terlihat nyenyak karena kelelahan.
Rasa penasaran yang berubah menjadi obsesi. Mungkin itulah yang tengah Joseph rasanya. Di mana, ia ingin menjangkau Camelia. Namun, untuk itu terasa sangat sulit. Bukan hanya karena segi pekerjaan mereka. Akan tetapi dari sisi Camelia juga.
"Apa masalahmu? Kau sudah bermain semalaman, mengapa belum puas juga?"gerutu Joseph, dengan melihat ke atas kedua pahanya.
"Ingin dia? Sangat sulit!"tandas Joseph, berbicara dengan teman kecilnya.
"Cukup! Jangan membuatku dalam masalah!" Joseph mengeram. Ia segera turun dari ranjang. Matahari sudah terbit, saatnya meninggalkan tempat ini.
Sh*it!
Meskipun berkata demikian, tetap saja tak dapat menyingkirkannya. Kecantikan Asia, juga sikap Camelia, begitu membayanginya. Kesal karena Camelia bukan wanita yang mudah dijangkau.
Bibir berkata menyerah. Tapi, hati terus mencari kesempatan.
"Tuan." Saat Joseph telah selesai berpakaian, wanita itu bangun. Suaranya serak dan matanya sayu.
"Apa Anda tidak ingin melakukannya di pagi hari?"tawarnya, dengan menunjukkan tubuhnya.
"Tidak," tolak Joseph. Dibalas ******* kecewa.
"Kalau begitu, datanglah kembali, Tuan," pintanya.
Joseph tidak menggubrisnya. Segera melangkah keluar.
*
*
*
"Hei, Liam," panggil Lucas, pada sang adik yang tengah fokus pada laptop. Keduanya berada di gazebo mansion. Menikmati pagi yang cerah ditemani dengan beberapa cemilan dan ikan hias yang berenang di bawah gazebo itu.
"Hm."
"Menurutmu kapan Mom dan Ayah akan benar-benar bersama?"tanya Lucas. Liam mengalihkan pandanganya pada Lucas. Kemudian menutup laptopnya.
"Mungkin tahun depan," jawab Liam.
"Itu waktu yang cukup lama," sahut Lucas.
Liam tersenyum tipis. "Mungkin juga bisa lebih lama dari itu," imbuh Lucas kemudian.
"Lebih lama?"beo Liam. Matanya membulat. Ada ketidakpercayaan di sana. Tahun depan saja sudah lama, bagaimana jika lebih dari itu.
"Lihat saja kesibukan mereka. Ayah memegang dua perusahaan besar. Mom juga berada di puncak kariernya."
Setelah mengatakan hal itu, Liam mengernyit. "Kau benar!"seru Liam, membuat Lucas terlonjak kaget.
__ADS_1
"Haruskah kita buat mereka cepat menikah?" Tiba-tiba Lucas menawarkan hal itu. Mata Liam menyipit mendengarnya.
"Dengan cara?"
"Seorang adik!"jawab Lucas, dengan mata yang berbinar.
"Adik?" Liam bergumam.
Plak!
Auh!
"Beraninya kau!" Lucas berseru kesal pada Liam yang menjitak kepalanya.
"Kau mau menghancurkan karier Mom, hah? Ingat Mom itu artis! Jika melakukan sesuatu yang dianggap tidak pantas, terlalu cepat, ada kesalahan kecil saja, imbasnya akan fatal!"ucap Liam, menjelaskan pada sang kakak. Matanya masih memancarkan rasa kesal.
Ya begitulah adanya. "Tapi, kita kan tidak boleh terpaku pada hal itu," kilah Lucas. Ia tidak setuju. Artis juga manusia biasa. Bukan Tuhan yang selalu benar.
Dan artis pun punya kehidupan pribadi yang tidak bisa dicampuri. Memangnya, hidup mereka orang lain yang menjalani? Orang lain yang merasakan pahit manisnya?
Tidak, bukan?
"Bagaimana jika mereka membuat adik? Bukankah itu artinya mereka akan menikah?"tawar Lucas lagi.
"Apa kau tidak tahu tempat, Lucas?"ketus Liam.
"Ahh?" Lucas terhenyak sesaat. Kemudian tertawa. "Hehehe, maafkan aku."
Ini tempat terbuka. Membicarakan rencana besar seperti itu, bisa-bisa telinga mereka merah padam jika didengar oleh Camelia atau ada yang mengadu pada Camelia.
"Tapi, kau setuju dengan itu, kan?"
"Hm…."
"Really?"
Liam mengangguk. "Yeah!" Lucas berseru senang. Jika sudah setuju, maka rencana bisa disusun dan dijalankan pada waktunya.
"Ayah kan pernah mengatakan akan mengajak kita liburan. Bagaimana pada saat itu?"ucap Lucas, dengan menggebu.
"Yes or no?"
Liam kembali berdecak. "Yes!"
"Deal!" Senyumnya begitu lebar.
Liam mendengus senyum. Jangan bahas di sini namun sampai pada kesempatan.
*
*
*
Mencari tanda khusus sebuah keluarga bukanlah yang mudah. Karena kebanyakan tanda itu dirahasiakan, tidak pernah dipublikasikan untuk menjaga kebenarannya.
Namun, seperti yang pernah dibahas, saat tanda itu muncul di media, tidak ada satupun keluarga yang di China yang bereaksi.
Artinya, tanda lahir itu bukan dari sisi Ibu, melainkan Ayah. Dan dari mimpi serta siluet, kemungkinan besar ayahnya adalah orang Eropa. Dilihat dari nama juga parasnya.
Oleh karenanya, Camelia mencari tahu hal itu dimulai dari keluarga yang hadir di dalam mimpinya. Keluarga Ling. Berharap segera menemukan titik terang.
Camelia berhenti mengetik. Mengangkat wajahnya. "Harusnya bisa." Ia bergumam. Camelia menarik salah satu laci, mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru. Membukanya. Sebuah kalung dengan liontin lotus berwarna biru. Camelia memperhatikannya.
"Aku tidak tahu ini buatan desainer mana." Camelia mengamatinya. Mencoba mencari petunjuk dari seutas kalung itu. Jika dibuat khusus, pasti ada tanda khususnya. Penanda buatan desainer mana, atau pasti ada ciri khasnya.
"Em …."
"Ah!" Wanita itu mendesah pelan. Mana mungkin semudah itu. Jika ada pun, pasti letaknya tersembunyi.
Apalagi ia kurang mengerti mengenai perhiasan. Jika pakaian, sebagai seorang model tentu ia mengerti benar.
"Bagaimana jika aku bawa ke ahli perhiasan?" Bergumam. Itu ide yang bagus. Ahli perhiasan pasti dapat menemukan perbedaannya.
Tapi, ke ahli perhiasan mana ia akan membawa?
__ADS_1
"Hm?" Kembali bergumam.
"Astaga!" Menepuk dahinya sendiri. Kemudian terkekeh pelan.
Keluarga Shane kan punya ahli perhiasan sendiri. Yang sudah menjadi langganan dan kepercayaan.
Selesai dengan itu, Camelia kembali menyimpan kalung itu. Kemudian fokusnya kembali pada laptop. Menutup blok pencarian dan mulai mengerjakan hal lain.
Aku harap Dion segera menemukan informasinya, batin Camelia. Ia sangat berharap secepatnya.
*
*
*
Kerjasama Shane Group dan Group Gong resmi diputuskan. Shane Group menerima kerjasama dengan Group Gong. Seperti yang pernah dijanjikan, Andrean terjun sendiri dalam kerjasama tersebut.
Selagi mengurus perusahaan keluarga, Starlight Entertainment Andrean bebankan kepada Hans. Membuat pria berkacamata itu tak hentinya bersungut kesal.
Menjadi sekretaris Andrean untuk Starlight Entertainment saja sudah membuatnya kewalahan. Ditambah lagi kini Andrean merangkap menjadi Presdir Group Gong. Bukankah hasilnya akan berkali lipat?
Sementara di Group Gong, Lie tetap menjabat sebagai sekretaris Presdir. Tugasnya adalah membantu Andrean menangani Group Gong.
Dan Lie kini pun pindah ke Beijing. Karena, pusat Group Gong sudah berada di Beijing.
Karena ada kerja sama, interaksi antara Andrean dan Dion pun semakin sering. Membahas pekerjaan diselingi dengan membahas hal pribadi.
Pagi yang cerah untuk Minggu yang ceria. Andrean bangun saat matahari menerobos kamarnya. Ah, tidak! Lebih tepatnya karena ketukan pintu.
"Ayah … Ayah … Ayah apa kau sudah bangun?" Disusul dengan suara Crystal.
Andrean menggeliat pelan. Sebelum bangkit. Wajahnya masih kusut khas bangun tidur. Berjalan gontai untuk membuka pintu.
"Selamat pagi, Ayah!"sapa Crystal dengan senyum manisnya.
Hoam
"Pagi, Crystal," balas Andrean, kemudian menguap dan menyentuh lehernya. Percayalah. Penampilannya pada saat bangun tidur begitu seksi. Rambutnya masih berantakan dengan piyama yang kancing atasnya terbuka.
Membuat pelayan yang menemani Crystal memalingkan wajahnya.
"Ayah, kita jadi kan pergi ke aquarium?"tanya Crystal, dengan mata yang lepas dari binar dan harap.
"Hm?" Andrean melihat ke bawah. Ke aquarium? Memorinya mundur ke belakang.
Kemarin sore, Andrean menjanjikan itu pada Crystal. Wajar anak itu menagihnya. Andrean melakukan hal itu untuk menebus waktunya yang sangat padat sehingga tak ada waktu untuk anak-anaknya.
Untuk Crystal, bisa ia lakukan secara langsung. Namun, untuk Lucas dan Liam, masih melalui komunikasi pesan.
Terlihat tidak adil memang. Anak kandung jauh di sana dan anak yang bukan darah dagingnya dekat di sini. Tapi, begitulah hidup. Terkadang, kita tidak bisa membuat sesuatu seperti apa yang kita inginkan.
"Baiklah, ayah akan siap-siap dulu." Crystal mengangguk. Kemudian melangkah meninggalkan Andrean.
Andrean gegas kembali masuk untuk bersiap. "Ah, benar!" Pria itu seakan baru mengingat sesuatu. Ia meraih ponselnya. Menghubungi salah satu nomor yang ada di kontaknya.
"Hans, catat apa yang aku katakan lalu kirimkan ke kediaman Shane," ucap Andrean, setelah panggilan dijawab.
"Em … ya, Tuan?" Sepertinya Hans baru bangun tidur. Tidak, tidurnya terganggu!
"Bangun! Awas jika kau salah kirim!"ancam Andrean.
"Ah … baik, Tuan. Katakan apa yang harus saya kirimkan. Hoam," balas Hans. Masih tak bisa menghilangkan kantuknya. Tapi, setidaknya sudah lebih sadar.
Andrean langsung menyebutkan apa saja yang harus Hans kirimkan ke kediaman Shane. Ada banyak. Salah satunya ada hewan hidup. Juga ada aneka macam buah serta frozen food. Tak lupa juga dengan sandangnya. Andrean sepertinya akan kembali mengirim paket lengkap.
"Ah, juga kau kemari untuk ambil barang yang terakhir," ucap Andrean.
"Segera!"lanjutnya memberi penegasan.
"Iya-iya, Tuan," jawab Hans.
Panggilan berakhir.
Andrean menghembuskan nafas kasar.
__ADS_1
Aku tahu itu semua tidak akan sebanding dengan waktu yang aku lewatkan bersama dengan mereka. Tapi, aku berharap dengan itu mereka tahu, aku selalu mengingat mereka. Camelia, Lucas, Liam, bersabarlah. Kita akan segera bersama. Menjadi keluarga yang utuh.