Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 219


__ADS_3

Setelah hari itu, mereka kembali pada aktivitas masing-masing seperti biasanya. Andrean yang sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga dengan Camelia. Komunikasi mereka juga seperti biasa.


Hari pertama Andrean kembali bekerja, iya disambut dengan banyak pasang mata yang menatapnya penasaran. Tentu saja karena postingannya di Weibo tempo hari. Apalagi setelah mereka melihat langsung bahwa jari manis Andrean telah terisi. Cincin yang sama persis seperti yang diposting.


Semua karyawan kecuali Hans merasa sangat penasaran. Siapa gerangan yang akhirnya bisa menaklukkan batu es itu. Hal itu membuat Starlight Entertainment dan juga Gong Group kembali gempar. Mereka menantikan Andreas speak up mengenai hal itu.


Hans menyampaikan rasa penasaran karyawan pada Andrean. Tentu saja sambil mengeluh. Gara-gara tindakan Andrean ia terus diteror oleh Wei Yan Li. Apalagi Silvia terus mengejar dirinya. Ia merasa dirinya tengah menjadi Ling Rui dalam drama Begin Again. Bedanya, jika sana adalah dokter maka yang di sini adalah sekretaris.


Pada akhirnya, Andrean menyuruh Hans mengeluarkan pernyataan.


Bahwa benar, Andrean Gong telah menikah. Untuk siapa pengantin wanitanya, harap ditunggu dengan sabar"


Sesingkat itu saja. Dan Weibo kembali gempar. Dan hari itu juga, para wanita yang mendambakan Andrean kembali patah hati.


Crystal mulai sibuk karena ia sudah lulus seleksi, menjalin pelatihan lagi. Kemudian ia akan menjadi model tetap brand Silvia.


*


*


*


Hari ini, Andrean dan Hans makan di restoran Liang. Tuan Liang menyambut mereka, mengobrol sesaat kemudian undur diri. Nyonya Liang tidak terlihat.


"Ini hanya trik Anda, bukan? Agar saya merasa kalah dan mundur?" Tiba-tiba, seorang wanita masuk dan memukul meja. Andrean mendongak. Seketika wajahnya dingin dan menggelap.


"Anda tahu kan jika saya ingin menjadi istri Anda. Lalu Anda melakukan hal ini! Saya tidak terima!"


Hans mengepalkan tangannya kesal. Dari mana wanita itu tahu mereka makan siang di sini? Apakah wanita itu penguntit? Ini sangat menyebalkan.


"Be-"


"KAN SUDAH SAYA BILANG ANDA MENYERAH SAJA! PRESDIR INI SUDAH MENIKAH! SUDAH MENIKAH! LIHAT JARINYA ITU! MEMANGNYA MENGAPA KALAU ANDA INGIN MENJADI ISTRI TUAN SAYA, HAH?! BANYAK YANG MAU, APAKAH TUAN SAYA HARUS MENIKAH MEREKA SEMUA?!" Hans meledak. Kesabarannya sudah habis. Muak dengan wanita itu yang tak lain adalah Wei Yan Li. Hans menarik tangan Andrean, menunjukkan cincin di jari manis Andrean.


"Kau?!"


"APA?! MENYERAH SAJA! CARI PRIA LAIN! MAU JADI NYONYA GONG, JANGANKAN TUAN SAYA, SAYA SAJA TIDAK SETUJU! ANDA ADA HAK APA MAU MENUNTUT? MEMANGNYA KELUARGA GONG MENDUKUNG ANDA UNTUK MENJADI ISTRI TUAN SAYA?!"


Wajah Wei Yan Li merah padam. Ia dipermalukan oleh Hans. Sementara Andrean acuh. Sama sekali tidak peduli dengan rasa malu Wei Yan Li.


"Jika Anda masih saya seperti ini, lebih baik kerja sama kita batalkan. Saya muak dengan sikap Anda!"ucap Hans, nadanya merendah namun itu terasa lebih tajam.


"K-Kau! Kau hanya sekretaris! Apa hakmu membatalkan kerja sama?!"hardik Wei Yan Li.


"Aku menyetujuinya!" Andrean menjawabnya. Menoleh pada Wei Yan Li. "Jika Anda berniat macam-macam pada saya ataupun keluarga saya, Anda dan keluarga Anda akan menanggung akibatnya!"ucap Andrean dengan nada dirinya. Kemudian beranjak. Ia kehilangan selera makan.


"A-Apa?!"


Hans menyeringai. "Kerja samanya dibatalkan, selamat!" Hans segera menyusul Tuannya.


"A-apa? Aku tidak percaya ini!"


*


*


*


"Sekretaris Hans!"


Raut wajah Hans langsung berubah dingin. Seorang wanita melambai padanya. Memakai jaket tebal berwarna putih dan membawa buket mawar besar.


"Ayo, Tuan," ucap Hans, karena Andrean ikut menoleh ke arah wanita itu, yang tak lain adalah Silvia. Ia berlari menghampiri Hans.


"Kau berhubungan dengannya?"tanya Andrean.


"Tidak, Tuan!"jawab Hans langsung.


"Sepertinya kita memang berjodoh, Sekretaris Hans. Ini terimalah, mawar 99 tangkai," ucap Silvia, menyodorkan buket di tangannya itu pada Hans.


"Dunia sudah terbalik rupanya," gumam Andrean, ia memilih masuk daripada terjebak dalam romantisme sekretaris dan desainer muda itu.


"Apa ini, Nona Silvia?" Hans ragu menerima buket itu. Namun, Silvia memaksanya. Akhirnya, buket itu dalam pelukan Hans.


"Pacarku sangat tampan!"puji Silvia.

__ADS_1


"Tidak tidak pacaran, Nona Silvia!"ralat Hans menegaskan.


"Ah, kalau begitu calon pacarku sangat tampan. Atau, bagaimana jika calon suami saja?" Silvia mengedipkan matanya.


Sial, apa ini? Hans memaki dalam hati. Jantungnya berdebar karena itu.


"Jangan beromong kosong, Nona. Saya ….."


"Aku sudah terlambat. Sampai jumpa lagi, Sekretaris Hans!" Silvia mencium pipi Hans. Itu secepat kilat. Meninggalkan hal yang membeku. Ia kemudian menyentuh pipinya.


"Aku pasti sudah gila."


"99 mawar, cinta yang penuh kemenangan. Apa kau akan takluk padanya, Hans?"


Hans memejamkan matanya sejenak. "Tidak akan, Tuan!"jawab Hans kemudian.


"Benarkah?"


"Kita sudah terlambat, Tuan!" Hans mengalihkan pembicaraan. Ia jadi tahu, Tuannya ini berubah menjadi kepo.


Andrean berdecak pelan. "Kau akan kalah," ucap Andrean.


*


*


*


David mempersiapkan dengan sepenuh hati pesta perusahaan yang akan diadakan akhir bulan Januari ini. Tentu saja karena tujuan dari pesta ini adalah untuk memperkenalkan Lina sebagai istrinya.


Lina sudah menyetujuinya. Setelah Lina menyetujui hal tersebut, ia tidak bekerja melainkan menjalani pelatihan singkat dari Nyonya Smith. Juga sebagai persiapan kemunculannya sebagai Lina Smith, bukan Xiao Lina.


Mendekati hari H, ballroom Glory Entertainment telah dihias sedemikian rupa. Bunga kesukaan dan warna favorit Luna mendominasi. Krisan, itulah bunga favorit Lina. Dan warna putih adalah warna kesukaannya.


Gaun untuk digunakan di pesta juga sudah tiba. Gaun itu, berwarna putih. Memang potongan gaun pengantin namun lebih disederhanakan lagi. Dengan bagian bawah mengusung tema gaun mermaid.


*


*


*


"Tanganmu dingin sekali, Kak," beritahu Camelia.


"Aku takut, Lia."


"Mengapa takut? Ada suamimu, dan aku, keluargamu," ujar Camelia menenangkan.


"Bagaimana jika respon mereka tidak senang?'


"Memangnya kita hidup sesuai respon mereka?"sahut Camelia, tersenyum, kembali menenangkan Lina.


"Ini bukan Lina yang aku kenal. Mana percaya dirimu, Kak?" Camelia memancing.


"Bahkan jika mereka tidak menyukaimu itu karena mereka cemburu. Posisimu lebih tinggi, kau adalah istri David, menantu satu-satunya keluarga Smith, okay?" Camelia kembali meyakinkan Lina.


"Kau cantik, Kak. Untuk apa takut?"


"Aku akan selalu mendukungmu?"


"Lina." David masuk. Ia mengenakan tuxedo berwarna putih. Sangat serasi dengan gaun Lina.


"Kau nanti masuk bersama dengan Mom dan Lia, okay?"


"Tidak apa. Semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berani mencelamu, okay?"


David juga meyakinkan Lina.


Lina mengangguk pelan. Sebelum keluar, David mengecup kening Lina.


*


*


*

__ADS_1


"Perhatikan kepada tamu undangan sekalian, Presdir Smith akan mengumumkan suatu hal yang penting!"


"Silahkan, Presdir."


Pembawa acara menyerahkan mic pada David. Semua perhatian langsung tertuju pada David.


"Hari ini, aku akan mengumumkan sesuatu yang penting serta alasan pesta ini diadakan."


David menjeda ucapannya. Semua fokus menantikan apa yang akan ia katakan selanjutnya.


"Seperti yang kalian tahu aku sudah menikah." David menunjukkan cincin pernikahannya.


"Hari ini, aku akan memberitahu kalian dan juga pada dunia, siapa sebenarnya istrimu. Agar semua kabar miring di luar sana terjawab kebenarannya."


Suasana langsung riuh. Mereka saling pandang dan bisik. Akhirnya, wanita yang beruntung itu akan mereka ketahui identitasnya.


"Saat pertama kali aku melihatnya, aku merasa hatiku aneh. Semakin hari semakin aneh. Hingga teman terbaikku, memberitahuku bahwa aku jatuh cinta padanya."


Sedikit menceritakan jalan cintanya dengan Lina.


"Pada akhirnya aku yakin bahwa itu cinta. Aku melamarnya. Dan setelah perjuangan lagi, aku berhasil dan inilah hasilnya." David kembali menunjukkan cincin nikahnya.


"Dan inilah dia, wanita yang berhasil merenggut hatiku. Wanita yang aku cintai, istriku!" Penerangan ballroom meredup. Difokuskan ke arah pintu masuk.


Terbuka, terdengar suara langkah kaki.


Tiga wanita wanita. Nyonya Smith, satu artis kebanggaan Glory Entertainment dan satu lagi adalah asisten manager. Keduanya sangat cantik.


Dan itu membuat para tamu bingung. Maksud David adalah Camelia?


"Hei! Bukan bukan teman terbaikku, Lia. Tapi, yang disampingnya, Lina Smith!"seru David.


Suasana ballroom langsung gempar. Terutama yang tahu posisi Lina di perusahaan ini. Hanya asisten manager, ah tidak lebih tepatnya trainee calon manager, istri David?


Nyonya Smith dan Camelia mengantarkan Lina menuju ke tempat David. Bintang hari ini adalah Lina. Namun, bukan berarti Camelia tidak bersinar.


"Kalian semua tidak salah dengar. Lina adalah istriku dan saat ini, aku tengah menantikan kehadiran buah hati kami. Aku akan segera menjadi seorang ayah!"


Ballroom kembali gempar. Banyak yang langsung cemburu dan iri pada Lina. Ia sangat beruntung. Sudah berhasil menikahi bujang nomor 1 di kota ini, berhasil pula hamil, pasti menjadi menantu emas keluarga Smith.


Margaretha yang berdiri di sudut, tersenyum tipis. Setidaknya tugasnya menjaga Lina berkurang sedikit.


Dan ada yang merasa lega pula karena tidak mencari masalah dengan Lina. Ya, meskipun ada sedikit penyambutan. Tapi, tidak terlalu keras karena Lina berada di bawah Manajer senior yang ditakuti.


Di akhir pengumuman, David menyampaikan akan memberi bonus untuk semua yang berada di bawah naungan Glory Entertainment.


Dan kemudian membawa Lina untuk dikenalkan pada beberapa kenalan.


Dan jangan lupakan, keluarga Shane juga hadir dalam pesta itu. Ah, kecuali Dion yang kemarin pergi dinas keluar kota.


Acara inti sudah terlaksana.


David mengajak Lina untuk berdansa. "Kemampuanmu semakin baik."


Lina tersipu. Ia berlatih keras untuk ini.


"Aku tidak ingin membuatmu malu, David."


"Setelah ini kita makan. Pasti kau dan anak kita sudah lapar."


Lina menganggukinya.


Sementara Camelia bercengkrama dengan beberapa orang yang ia kenal. Namun, ya tetap saja ada pengganggu. Tidak, lebih tepatnya orang yang tingkat penasaran melebihi wajar.


"Sungguh, saya hampir salah kira jika Presdir David menikah dengan Anda."


"Hahaha." Camelia tertawa pelan. Yang bicara dengannya adalah artis yang baru tanda tangan kontrak di Glory Entertainment.


"Suamiku adalah teman terbaik Presdir. Itu mustahil untuk terjadi."


"Hahaha, Anda benar. Jika terjadi, kasihan sekali Tuan Chris di sana," kekeh artis baru di Glory Entertainment. Namanya adalah Luna.


Camelia tersenyum tipis. "Omong-omong, Anda tidak berniat menikah lagi?"tanya Luna.


"Bisa iya bisa tidak," jawab Camelia.

__ADS_1


"Saya permisi dulu, Nona." Camelia undur diri. Lucas dan Liam memanggil dirinya.


"Dia menjawab iya lebih dulu. Kita lihat saja," gumam Luna.


__ADS_2