Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 220


__ADS_3

Sekitar dua hari dari pesta tersebut, ini sudah memasuki awal Februari, kegiatan pembelajaran naskah dan latihan gerakan dibuka.


Camelia sebagai pemeran utama wanita tentu saja menghadirinya. Itu juga dengan Nicholas.


Hari pertama kegiatan itu dibuka, sutradara membacakan profil dari film yang akan mereka garap. Serta menjelaskan sedikit tentang karakter masing-masing peran yang mereka ambil.


Sebenarnya ini lebih kepada kilas balik. Dan latihan ini tidak diadakan setiap hari. Satu Minggu 3 kali dengan jadwal yang telah disesuaikan. Karena, masing-masing artis memiliki kesibukan lainnya.


Nicholas dapat bergaul dengan baik dengan pemeran lainnya. Camelia menyimpulkan karakter Nicholas adalah introvert.


Ingat kembali, introvert itu bukan tidak pandai bergaul, hanya saja mereka cenderung menyukai kesendirian atau situasi yang tenang.


Dan sejujurnya ia juga ramah. Karakternya hampir mirip dengannya.


Film ini akan cukup banyak menampilkan adegan romantis. Banyak yang menantikan film ini rilis. Meskipun syuting belum dimulai apalagi dengan jadwal perilisan yang belum ditentukan.


Mereka penasaran dengan chemistry Camelia dan Nicholas. Secara mereka mempunyai perbedaan usia. Di mana usia Camelia lebih tua daripada Nicholas.


Sama sih seperti drama yang Camelia mainkan bersama dengan Joseph. Namun, Nicholas lebih muda lagi daripada Joseph.


"Saya mohon bantuan dan bimbingannya, Nona," ucap Nicholas, membungkuk di depan sutradara dan pemeran lainnya.


Dibalas dengan bungkukan badan juga. "Mari saling belajar dan berbagi ilmu," ujar Camelia.


"Sampai jumpa di latihan selanjutnya," ujar Nicholas, meninggalkan tempat lebih dulu.


Dia … terburu-buru? Camelia menyadarinya.


*


*


*


Camelia yang tidak mengambil tawaran apapun setelah pemotretan majalah musim dinginnya selesai, di luar jadwal latihan, Camelia menggunakan waktunya untuk mempelajari banyak hal. Iya keluar dari zona nyamannya yang selaku berputar pada akting dan modeling.


Camelia mencoba menantang dirinya dengan mempelajari manajemen perusahaan. Camelia latihan otodidak. Iya kembali aktif bermain game juga. Jangan lupakan bahwa ia adalah mereka brand ambassador dari perusahaan game terkenal di China yakni Phoenix Teknologi.


Camelia juga semakin memantapkan kemampuan bahasa asingnya.


Sementara Lucas, dia sudah memiliki proyek yang mana dalam proyek tersebut ia tidak akan bermain dengan Liam. Seperti keinginan mereka berdua yang ingin mencoba hal dan suasana baru.


Liam belum mengambil tawaran akting apapun. Padahal banyak tawaran yang masuk. Liam fokus pada modeling. Sementara Lucas fokus pada akting.


Waktu mereka berdua berkurang? Tentu saja. Namun, tidak menyebabkan kerenggangan dalam persaudaraan mereka. Malah kalau di kediaman semakin lengket.


Tentu ada resiko dari setiap keinginan mencoba hal baru. Itu sudah lazim, seperti sebuah siklus.


"Bagus sekali! Ganti gaya!" Fotografer berseru senang. Liam tengah menjalani pemotretan.


"Lagi!" Fotografer sangat senang. Ia begitu bersemangat.


"Lihatlah fotografer sombong itu tadi, Mom," ucap Lucas. Camelia dan Lucas menemani Liam pemotretan.


Camelia terkekeh pelan. Ia masih ingat jelas ejekan fotografer itu sebelum melihat kemampuan Liam.


Fotografer itu adalah fotografer kelas atas yang terkenal sulit menerima tawaran dan anti dengan model yang berhasil naik dengan bantuan latar belakang atau orang dalam. Tadinya ia mengira Liam tidak memiliki kemampuan itu. Semua yang tertulis di media adalah hal yang dilebih-lebihkan, itulah pandangannya tadi.


Namun, setelah melihat kemampuan Liam, pujian tak hentinya keluar dari bibirnya. "Kau belajar sesuatu dari itu bukan, Lucas?"tanya Camelia. Lucas mengangguk.


"Bungkam mereka yang merendahkanmu dengan kemampuanmu. So, tidak perlu lelah berdebat atau adu otot, cukup tunjukkan saja kemampuan kita, begitu, Mom?"


"Great!" Camelia memberikan acungan jempol untuk Lucas.


"Finish! Bagus sekali!"ucap fotografer itu lantang kemudian bertepuk tangan.


Liam menghela nafasnya. Kru di sekitar memberi Liam air minum. "Anda puas?"tanya Liam, sembari menyeka dahinya.


"Sangat! Sangat puas! Aku harap ini adalah awal yang bagus! Aku harap kita dipertemukan dalam proyek selanjutnya!"ucap sutradara itu. Ia tidak ingin kehilangan model berbakat dan sangat berkemampuan seperti Liam.


Liam tertawa renyah. "Artinya akan akan mengikuti saya ke manapun," lakar Liam.


"Aku rasa, itu akan jadi tujuan hidupku sekarang," jawab fotografer itu. Sama sekali tidak keberatan.


"Maybe Glory Entertainment akan menerima Anda," ucap Liam kemudian. Tadi, ia dengar fotografer ini sulit untuk ditemui ataupun menerima tawaran.

__ADS_1


"Hm, sejujurnya aku ini fotografer lepas. Namun, maybe aku akan mempertimbangkannya. Demimu."


"Ah, jangan terobsesi dengan saya. Saya tidak akan selamanya berada di dunia modeling. Maybe, kembaran saya yang akan terus berada di sini," ujar Liam. Ia sudah tahu masa depannya seperti apa. Menjadi presdir Shane Group.


Fotografer itu tampak kecewa. "Sayang sekali. Padahal, sangat langka…."


"Kembaran saya juga tidak kalah langka. Dia lebih baik daripada saya. Dan Paman, jangan terobsesi dengan kami. Anda tidak akan jika melakukannya!"ucap Liam. Ia memberi fotografer itu peringatan agar tidak melakukan tindakan berbahaya.


"Hahaha, tenang saja. Aku bukan orang seperti itu."


"Saya beberapa kali mendengar nama Anda. Anda memang seperti yang dirumorkan," ucap Camelia, ia kembali berjabat tangan dengan fotografer itu.


"Jay. Panggil saja aku Jay," ucap fotografer itu.


Jay, memang merupakan seorang fotografer lepas. Ia tidak suka terikat pada kontrak. Dan yang lebih lagi, ia tidak suka pada model yang masuk dengan bantuan orang dalam, bukan kerja keras sendiri atau kemampuan yang tidak mumpuni. Ia memang pemuja model berbakat dan berkemampuan.


Alasan mengapa brand ini bisa menggunakan Jay sebagai fotografer adalah karena brand ini masih belum diketahui.


Ia terkenal sulit sekali untuk dihubungi atau dikontrak. Padahal banyak brand lokal yang sangat ingin bekerja sama dengannya.


"Jika tahu begini, sejak lama aku akan menerima tawaran dengan model Anda sekalian," sesal Jay.


"Masih ada kesempatan di masa depan, Jay," hibur Camelia.


"Yayaya. Aku sangat menantikan itu," sahut Jay penuh semangat.


"Kalau begitu kami pamit," ujar Camelia.


"Silakan." Jay tersenyum lebar.


"Mari cari tawaran kerja sama dengan mereka," gumam Jay.


*


*


*


"Rasanya aku mau gila!"curhat Hans pada Lie. Di malam hari setelah mereka pulang kerja, mengobrol di kamar Hans. Dan menikmati minuman alkohol.


"Bukannya harusnya kau senang dikejar wanita cantik seperti Nona Silvia?"tanya Lie, ia tersenyum.


"Apa kau tahu apa yang ia lakukan hari ini?"tanya Hans. Lie menggeleng.


Kembali ke beberapa jam yang lalu. Itu adalah jam makan siang. Andrean dan Hans baru saja kembali dari meeting dan makan siang.


Hans merasakan keanehan saat semua sorot mata tertuju padanya. Dan itu terjawab saat memasuki lobby.


"Sekretaris Hans, menikahlah denganku!" Suara lantang itu langsung saja membuat Hans mematung sesaat. Andrean menoleh padanya.


"Itu wanita yang memberimu buket, bukan?"


"Kau dilamar?"


"Han Jiayu, menikahlah denganku, Lu Jia Li!"


Hans tidak menggubris pertanyaan Andrean. Ia segera menghampiri wanita yang berlutut di sana dengan menunjukkan cincin di dalam kota berbentuk hati. Benar-benar melamar dirinya.


"Apa yang kau lakukan?! Ikut aku!" Hans menarik tangan wanita itu yang tak lain adalah Silvia.


"Hei, aku butuh jawaban, bukan ini!"protes Silvia.


"Apa kau sudah gila?!"


"Ya. Karena kau tak kunjung menembakku…."


"Dengan revolver, mau?!"


Itu ancaman. Namun, bagi Silvia itu seperti candaan. "Dengan hati. Ku pikir kau malu untuk memulai dan aku juga tidak sabar. Jadi, aku putuskan untuk melamarmu. Omong-omong nama aslimu sangat bagus, Han Jiayu. Nama kita mirip, ada Jia nya," jelas Silvia. Wajahnya berseri-seri. Namun, Hans tidak peduli dengan itu.


"Hentikan! Aku tidak menyukainya!"


"Jadi, kau suka yang seperti apa?"tanya Silvia. Sorot matanya berubah sendu. Ada kekecewaan.


Hans mengusap wajahnya kasar. "Jangan menggangguku! Jangan seperti ini, okay?!"

__ADS_1


"Ah?"


"Aku harus kembali bekerja. Kau pergilah."


Hans berbalik, meninggalkan Silvia. "Hei! Kau belum menjawabku!"


Silvia mengulum senyum. Ia kemudian berjongkok. "Apa terlalu terburu-buru? Tapi, kami sudah kenal sejak sebelum Natal. Ini sudah bulan valentine, bukankah itu sudah pas? Lalu, mengapa dia menolakku? Padahal aku sudah menebalkan wajahku untuk hal ini. Membiarkan diriku menjadi bahan gosip. Sekretaris Hans, mengapa kau tidak bisa diajak kerja sama?"


Aku tidak menyukainya!


"Apa tipenya yang pemalu? Menunggu dia bergerak mau bergerak? Tapi, itukan bukan tipeku. Bagaimana ini? Aku harus konsultasi ke Ayah!"


*


*


*


Kembali ke masa kini.


Lie tertawa terbahak mendengar cerita Hans.


Hans melempar bantal pada Lie. Ia tengah kesal dan juga malu, malah ditertawakan. Dan, ia sudah jadi trending Weibo. Tagar sekretaris Hans dilamar, ramai diperbincangkan. Dan juga profil mengenai Silvia banyak bertebaran.


Tak sedikit, yang mendukung mereka untuk benar-benar bersatu.


"Tapi, mengapa kau tidak menyukainya?"tanya Lie kemudian.


"Dia cantik, berbakat, tinggi, latar belakang keluarga yang bagus, dan pemberani, bukankah dia sangat ideal?"


"Menurutmu begitu?"tanya Hans. Sorot matanya menandakan ia sudah mabuk. Dan hal yang sama juga terjadi pada Lie.


"Harusnya kau senang dilamar wanita seperti itu. Jika aku jadi kau, aku akan menerimanya dan mengatakan, aku bangga padamu," ucap Lie. Ia kemudian tertawa lepas.


"Begitu?"


Lie mengangguk. Ia kembali minum. "Tadi aku sudah menjawabnya, aku bilang tidak menyukainya," ujar Hans.


"Kau kejam sekali. Menghancurkan usahanya. Kau harus memperbaikinya, Hans!"


"Dengan cara?"


"Hubungi dia lalu katakan, lamaran tadi, aku menyetujuinya. Dia pasti akan sangat senang," jawab Lie.


"Sungguh?"


"Hm. Tapi sebelum itu, apakah kau sungguh tidak menyukai atau menyukainya?"tanya Lie.


"Aku …." Terbayang kenangan saat pertama kali jumpa dengan Silvia, lalu pada saat pertemuan waktu menemani Andrean berbelanja, ajakan makan yang katanya adalah kencan setelah kencan buta, lalu beberapa pertemuan lainnya dan tadi siang, lamaran Silvia padanya. Hans tersenyum. "Menyukainya."


Lie tertawa. "Kata-katamu mulai lain, Sekretaris Hans. Kau mabuk!"ejek Lie.


"Hubungi dia, katakan kau menerima lamarannya. Nanti, aku berikan amplop tebal untuk pernikahan kalian!"ucap Lie. Ia menepuk pundak Hans.


"Sebentar, aku hubungi dia dulu."


Hans meraih ponselnya, langsung menghubungi nomor ponsel Silvia.


"Ya, hallo, sekretaris Hans?" Nada yang sudah familiar di telinga Hans menjawab.


"Lamaran tadi … aku, Han Jiayu, menerimanya!"


"Anda mabuk?" Tidak terduga, Silvia tidak fokus pada kalimat yang Hans katakan, melainkan pada nada bicaranya.


"Hm? Orang mabuk itu jujur. Bagaimana kau senang atau puas?"sahut Hans.


"Sebentar!"


"Katakan sekali lagi!"pinta Silvia. "Katakan sekali lagi!'


"Baiklah. Lu Jia Li, aku Han Jiayu menerima lamaran pernikahanmu. Aku setuju menikah denganmu. Mari bangun rumah tangga yang bahagia dan memiliki banyak anak!"ucap Hans dengan lantang.


"Terima kasih!" Suara Silvia terdengar bergetar.


"Kau senang? Kalau senang, pergilah tidur." Setelah itu, Hans mengakhiri panggilan.

__ADS_1


"Hei, Hans. Aku masih sedikit sadar. Jangan sampai kau menyesal karena ucapanmu tadi!"ucap Lie, sebelum akhirnya tertidur.


"Haha. Aku tidak akan menyesal sedikitpun!"


__ADS_2