
“Tuan, saya memikirkannya sepanjang malam,” ucap Lie, pagi itu mendatangi Andrean di istana.
“Saya tidak akan pernah mengungkit hal tersebut lagi. Saya tidak akan peduli lagi tentang dia. Kesetiaan dan kemampuan saya hanya milik Anda seorang. Dipercaya oleh Anda adalah kehormatan yang sangat besar bagi saya. Saya yang bodoh karena telah mempertanyakan hal tersebut.”
“Jadi?”tanya Andrean.
“Saya akan mengerahkan kemampuan saya semaksimal mungkin untuk membantu Anda, Tuan!”jawab Lie lantang. Hans mengeryit dengan itu. Apa yang terjadi di antara keduanya? Apa yang terlewatkan.
“Ucapanmu, janjimu, adalah dirimu sendiri yang berkata. Jika kau melanggar, kau sendiri yang akan merasakan akibatnya!”
“Saya mengerti, Tuan!”
“Kembalilah bekerja.”
“Baik, Tuan.” Lie kemudian keluar.
“Jangan bertanya apapun.” Hans yang hendak bertanya langsung tersenyum kikkuk.
“Sudah kau siapkan berkas yang aku mau?”tanya Hans kemudian.
Hans mengangguk. “Tuan, bukankah dahulu Anda tidak ingin melakukan ini?”
“Semua berubah sesuai kondisi, Hans. Ini akan lebih memudahkan mengontrol perusahaan,” jawab Andrean.
*
*
*
Di sebuah gedung yang sangat tinggi lagi mewah dengan dinding kaca mendominasi, terlihat ada banyak wartawan yang berkerumun. Sepertinya akan ada pers di perusahaan yang bernama SIRIUS GROUP itu.
Suasana semakin sesak dan riuh saat dari eskalator, turun seorang pria bersama dengan jajarannya.
“Mr. Gong, apa yang mendasari persatuan dua perusahaan Anda? Ada juga membangun perusahaan keuangan, apakah Anda akan menambah bidang baru?”
“Kami akan menjawabnya lewat pers, harap didengar dan dicacat dengan baik,” ujar Hans.
Andrean mengedarkan pandangnya sebelum bicara. “Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah. Starlight Entertainment dan Gong Group akan menjadi satu kesatuan di bawah naungan Sirius Group! Starlight Entertainment resmi berubah nama menjadi Sirius Entertainment. Bagian dari Gong Group akan diubah menjadi Sirius Construction, Sirius Properties dan Sirius Marketing. Hari ini juga, Sirius Investment sebagai Grup Keuangan resmi berdiri.”
Disambut dengan tepuk tangan meriah. Dan kemudian satu persatu wartawan mengajukan pertanyaan yang langsung dijawab oleh Andrean. Dasar dari penyatuan dua perusahaan besar itu dilakukan setelah melakukan pertimbangan matang. Dahulu, ia menolak opsi itu karena rasa egoisme, tak ingin perusahaan yang ia bangun dengan kerja keras bergabung dengan Gong Group, tak mau hasil kerja keras dan perusahaan keluarga bercampur menjadi satu.
Namun, itu membuatnya kesulitan. Bolak-balik perusahaan itu tidak efisien. Dan akhirnya memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan yang akan menaungi 2 perusahaan besar itu dalam satu nama yakni Sirius Group. Mengubah nama semua perusahaan di bawah naungan Sirius Group menjadi Sirius.
Andrean berharap ini akan efektif dan semakin membawa kemajuan pesat untuk Sirius Group.
*
*
*
"Tuan Besar, Anda hendak kemana?"tanya Toby, mendapatkan Kakek Gong keluar kamar dengan penampilan formal.
"Berangkat ke kantor," jawab Kakek Gong.
"Kantor?"
"Di mana Gong Yuan?"tanya Kakek Gong tiba-tiba.
"Gong Yuan?" Toby mengernyit bingung. Ia pernah mendengar nama Gong Yuan. Itu adalah ayah dari Andrean.
"Iya, putraku, Gong Yuan. Di mana dia? Sudah di ruang makan?"
Ah … penyakit demensia Kakek Gong kambuh lagi.
"Kakek, ini sudah malam," ujar Toby.
"Sudah malam? Benarkah?" Toby menunjukkan jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 19.00.
"Benarkah?"
Toby mengangguk. Kakek Gong termanggu. Toby kemudian memapah Kakek Gong menuju ruang makan. "Rean kapan pulangnya?"
__ADS_1
"Tuan akan pulang sebentar lagi, Tuan Besar."
"Yayaya … aku semakin tua, entah kapan Rean menikah dan aku punya cicit," keluh Kakek Gong.
Toby tersenyum simpul. "Tuan Besar, cicit Anda akan segera menjadi empat."
"Hah? Jangan mengarang kau! Kapan Rean menikah?"
"Itu-"
"Ah … mana cucu menantu? Mana Lucas, Liam, Crystal?"
Haduuh! Toby menggaruk kepalanya bingung.
"Tuan Besar, lebih baik Anda makan lebih dulu kemudian istirahat. Tuan berpesan demikian pada saya," ujar Toby.
Kakek Gong menatap singkat Toby kemudian berdiri dan meninggalkan meja makan. Toby lagi-lagi dibuat bingung.
Karena tugasnya sekarang lebih kepada menemani Kakek Gong, segera ia menyusul Kakek Gong.
Toby menghentikan langkahnya saat mendengar suara tangis. Tangisan Kakek Gong. "Astaga," gumam Toby pelan.
*
*
*
Andrean memijat dahinya pelan. Toby baru saja melaporkan apa yang terjadi pada Kakek Gong. Demensia yang semakin parah dan menangis karena tidak ada keluarga yang menemaninya. Mengeluhkan anak dan cucu yang sibuk bekerja sementara anak menantu sudah tidak ada.
"Di usianya sekarang, Tuan Besar perlu ditemani oleh anggota keluarga, Tuan. Saya melihat beliau menangis sambil menatap foto keluarga.”
Andrean menggigit jari telunjuknya. Pria itu bingung, dilema, apa yang harus ia lakukan?
Berharap waktu cepat berlalu, anak dan istrinya kembali ke rumah.
“Ayah,” panggil Crystal dengan membuka kecil pintu ruang kerja Andrean.
“Ayah memanggil Crystal?”tanya anak perempuan itu penasaran.
“Ada sesuatu yang ingin Ayah katakan padamu. Ini mengenai Kakek Buyut,” ucap Andrean.
Crystal menyimaknya. “Adakah yang bisa Crystal bantu, Ayah?” Seakan sudah paham, anak perempuan itu langsung mengarah pada pointnya.
“Sementara waktu, liburlah dari latihan dan temani Kakek Buyut, bisa?”tanya Andrean, kini berjongkok, mencoba mensejajarkan tingginya dengan tinggi Crystal.
Sementara, inilah jalan yang Andrean pikirkan.
“Bisa, Ayah!” Sedikit banyaknya Crystal sudah mendengar kondisi Kakek Gong. Sekarang, saat latihan pun ia tidak lagi ditemani oleh Toby melainkan dengan pengawal yang sang ayah siapkan.
“Anak baik. Kalau begitu pergilah tidur. Besok kau ada ulangan, bukan?”
Crystal mengangguk. “Selamat malam, Ayah,” ucapnya kemudian mencium pipi Andrean dan keluar dari ruang kerja Andrean.
*
*
*
Perut Camelia kian membesar. Sang bayi dalam kandungan sangat bergerak aktif. Anak-anak sangat antusias menantikan kehadiran adik mereka itu. Setiap malam, Lucas dan Liam pasti bercerita sembari mengusap dan mengajak ngobrol adik mereka yang masih dalam kandungan.
Dan tak jarang pula, Lucas dan Liam berdebat untuk alasan siapa yang akan lebih disukai oleh adik mereka. Mereka berdua unjuk diri dengan mengatakan apa saja yang mereka kuasai. Sangat menantikan saat mereka akan mengajari sang adik laki-laki. Bahasa, modeling, akting, dan lain-lain.
“Aku sangat penasaran dengan rupa anak kita ini,” ujar Andrean sembari mengusap kemudian mencium perut buncit Camelia.
“Hm? Tentu saja mirip denganmu karena dia laki-laki,” jawab Camelia, dan kemudian menggembungkan pipinya.
“Lucas dan Liam mirip denganmu, anak ini juga, padahal aku yang mengandung mereka 9 bulan lebih, mengapa tidak mirip denganku, hiks?! Ini tidak adil, hiks, mengapa mirip denganmu semua?”
“L-Lia?”
“Benarkan? Mengapa kau terkejut begitu? Karena mirip kan kalian merasa ada ikatan batin dulu? Tapi, ckck, bahkan dulu kau tidak menyadarinya. Syukurlah Lucas dan Liam peka tidak seperti dirimu.”
__ADS_1
Camelia misrah-misruh kesal. “Jadi, kau kesal?”
“Siapa yang tidak kesal, hah?! Apa kau merasakan hamil? Melahirkan? Jika kau merasakan hal yang sama, kau pasti akan lebih ribut lagi saat anak-anak yang dilahirkan tidak mirip denganmu, dan yang pasti kau tidak akan berani untuk menyakiti seorang wanita!”
Andrean menenggak ludah kasar. Istrinya semakin sensitif saja. “Lantas, apa yang harus aku lakukan agar kekesalanmu hilang, Lia?”tanya Andrean.
“Kau menyuruhku berpikir untuk itu?”tanya Camelia berang. Menatap kesal Andrean. “Aku saja tidak tahu jawabannya,” cicit Camelia.
Camelia membelakangi Andrean.
Andrean mengusap tengkuknya. Ia tidak mengerti bagaimana caranya. Melirik Tuan dan Nyonya Shane yang memandang mereka dengan senyum simpul.
Sedangkan anak-anak mereka tengah bermain bersama. “Ahgkkkk!” Tiba-tiba Camelia berteriak sakit dengan memegang perutnya.
“Lia? Lia ada apa?”tanya Andrean panik. Wajah Camelia menahan tangis.
“Sepertinya Lia akan melahirkan,” ucap Nyonya Shane, wanita itu langsung keluar untuk memanggil dokter.
“Mom, why?”
“Lia akan melahirkan!” Andrean langsung menggendong Camelia keluar. Liam gegas mengambil infusnya dan mengikuti Andrean bersama dengan kedua saudaranya. Tuan Shane mengikut di belakangnya.
*
*
*
Usianya sebentar lagi akan memasuki usia 40 tahun. Anak sudah 3, dan sudah menghadapi banyak hal. Namun, ini kali pertama Andrean menemani seseorang melahirkan di ruang bersalin. Kali pertama pula melihat melihat betapa sakitnya melahirkan.
Air mata Andrean tanpa sadar berjatuhan. Ringisan dan jeritan Camelia semakin sering mendekati pembukaan akhir. Apalagi saat perutnya terasa sakit, tidak langsung melahirkan, menunggu waktu itu sangatlah menguji kesabaran dan juga kekhawatiran.
“Nyonya, dorong saat hitungan ketiga, 1, 2, 3!”
“Eghggkkkk … Ahrggg ….”
Huhu
“Ahgkjkhjghgghjkkk!”
“Lia, kau pasti bisa!” Air mata Andrean semakin bercucuran. Sebesar itu perjuangan sang istri. Dalam hati berjanji dan kembali berjanji, tidak akan pernah menyakiti Camelia, selalu mencintainya setiap waktu. She is the one, one and only, forever and ever!
“K-kau! Berjanji satu hal padaku!”
“Apapun itu, aku akan berjanji, Lia. Huhuhu….”
“K-kau harus mencintai dan menyayangiku seumur hidupmu. Aku sudah melahirkan tiga anakmu, kau jangan macam-macam denganku! Jika kau macam-macam aku akan membawa kabur anak-anakku!”
“Tidak! Tidak akan pernah. Lia kau satu-satunya wanita yang aku cintai. Jika aku macam-macam kau campakkan saja aku, karena semua yang aku punya sudah menjadi milikmu,” jawab Andrean dengan air mata yang semakin deras.
“Baguslah! Kalau kau berani macam-macam, aku akan mencampakkanmu!”
“Ayo. Nyonya! Kepalanya sudah terlihat,” ucap dokter.
“Ahkgkhhkhhkggggg!” Andrean dan Camelia sama-sama menjerit disusul dengan suara tangisan bayi yang kencang sampai Tuan dan Nyonya Shane bangkit dari duduknya.
“Sudah lahir, sudah lahir,” ucap Nyonya Shane lega.
Di dalam, Andrean menghapus air matanya kemudian mencium kening Camelia. “Bayinya laki-laki, tampan seperti ayahnya,” puji dokter. Kemudian menyerahkan sang bayi pada perawat untuk dibersihkan.
“Yuwen, Gong Yuwen,” ucap Andrean, memanggil haru sang putra. Bayi itu mengerjap, anak itu benar-benar mirip dengan Andrean, lebih mirip daripada Lucas dan Liam.
“Lia, lihatlah putra kita,” ucap Andrean.
Camelia yang lemas setelah melahirkan tersenyum lembut. Menggendong dan mengecup lembut Gong Yuwen.
“Lihat, dia benar-benar mirip denganmu,” ucap Camelia dengan kekehan pelan.
“Akhirnya, hiks … hiks ….” Camelia menangis. Putranya lahir dengan selamat dan putranya, Liam akan segera sembuh total dan mereka akan kembali ke rumah. Camelia menangis tidak hanya karena kelahiran Gong Yuwen. Namun, juga karena sebentar lagi, kabut kesedihan di keluarga kecil mereka akan berganti dengan cahaya terang benderang. Penantiannya akan segera usai.
Aku bingung, dari mana Lia melihat kemiripanku dengan bayi mungil ini. Wajah bayi sama saja, Crystal juga begini dulu, batin Andrean yang memendam kebingungannya di balik senyum lebarnya.
*
__ADS_1