Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 106


__ADS_3

Keesokan paginya….


Camelia sudah tidak lagi memusingkan perihal Andrean. Mau lanjut yang terserah, mau tidak yang tidak masalah. Atau kalau mau berhadapan di meja hijau juga ia siap untuk menghadapinya. Camelia tidak lagi cemas ataupun takut.


Dan hari ini adalah hari tanda tangan kontrak untuk drama terbarunya. Camelia tampil ceria untuk acara tanda tangan kontrak. Mengenakan dress kuning dengan topi baret berwarna hitam.


Lucas dan Liam tidak ikut. Mereka masih istirahat untuk jadwal besok. Sementara Lina sudah pergi lebih dulu. Wanita itu berangkat dengan menggunakan mobil, menyetir sendiri. Awalnya Lina menolak, sudah tinggal gratis, diberi fasilitas pula, rasanya sangat tidak nyaman. Namun, apa daya Camelia kekeh dan Lina terpaksa menerimanya.


"Lucas, Liam, Mom pergi dulu," ujar Camelia pada kedua anaknya yang tengah bersantai di ruang keluarga.


"Iya, Mom," sahut keduanya seraya mengangguk.


"Apa kalian ingin sesuatu?"tawar Camelia. Ini adalah kebiasaannya saat pergi sendiri.


"Em … ayam goreng sepertinya enak," sahut Lucas cepat.


"Tempat biasa?"tanya Camelia, memastikan. Lucas mengangguk.


"Liam?"


"Pangsit buatan Mommy," jawab Liam, menatap Camelia penuh arti. Camelia terkesiap. Tidak perlu dicari di luar, Liam ingin makanan yang dibuat olehnya sendiri.


Ahh … hati Ca camelia menjadi hangat. Namun, juga terselip rasa bersalah.


"Baiklah. Mom akan pulang cepat dan memasaknya untuk kalian," tutur Camelia.


"Memasaknya bersama," imbuh Liam.


"Ya … memasaknya bersama," balas Camelia.


"Ya sudah, Mom berangkat dulu." Camelia melangkah keluar mansion setelah mengecup kedua kening putranya.


"Apa ingin melakukan interogasi berkedok quality time?"bisik Lucas pada Liam. Liam tidak menjawab, hanya tersenyum tipis, menimbulkan kesan mencurigakan.


*


*


*


"Selamat bergabung di drama Split Love, Camelia Shane," ucap perwakilan pihak drama pada Camelia setelah penandatangan kontrak selesai.


"Terima kasih, Tuan Dave," ucap Camelia, jabatan tangan Tuan Dave.


"Semoga semuanya berlangsung dengan lancar dan sesuai harapan," ucap Kak Abi saat berjabat tangan dengan Tuan Dave.


"Kami juga harap demikian, Manager Abi. Ini adalah kali pertama Camelia memainkan drama rumah tangga, saya yakin banyak yang menantikan comeback Anda pada drama ini."


Camelia tersenyum lebar. "Saya juga berharap demikian, Tuan," balas Camelia.


"Besok adalah pembacaan naskah, dan satu bulan kemudian baru syuting dilakukan," ujar Tuan Dave lagi. Camelia mengangguk singkat.


"Kalau begitu kami permisi," pamit Kak Abi. Tuan Dave mengangguk.


"Hati-hati di jalan."


Kak Abi dan Camelia kemudian meninggalkan rumah produksi film itu.


"Setelah ini, apa ada lagi jadwalku, Kak?"tanya Camelia setelah keluar dari area parkir rumah produksi.


"Tidak ada. Hari ini hanya tanda tangan kontrak," jawab Kak Abi.


"Syukurlah." Camelia bernafas lega.


"Kau ada acara setelah ini?"tanya Kak Abi setelah melihat Camelia yang tampak lega.


"Hm … quality time bersama Lucas dan Liam."


"Oh … hm … kalian tidak ada masalah lagi, kan? Karena tempo hari itu?"


"Masalah apa?"tanya Camelia dengan mengernyit heran.


Kak Abi mengerjap sesaat, kemudian tertawa pelan. "Sepertinya aku salah ingat."


Camelia hanya tingkat kemudian fokus ke ponselnya.


Artinya sudah tidak ada masalah. Syukurlah, batin Kak Abi lega.


"Ah … ya Kak. Nanti berhenti sebentar ya. Beli ayam goreng untuk Lucas," ucap Camelia tiba-tiba, dengan cepat mengalihkan pandangnya ke arah Kak Abi.


"Oh … baiklah."

__ADS_1


*


*


*


Sebelum jam makan siang, Camelia tiba di mansion. Kak Abi langsung pamit pulang.


Camelia masuk ke dalam mansion dengan menenteng sebuah box berukuran sedang.


"Selamat siang, Nona." Pelayan menyambutnya.


"Di mana Lucas dan Liam?"tanya Camelia, setelah tidak mendapati kedua anaknya di ruang keluarga.


"Kedua Tuan Muda Kecil ada di kamarnya, Nona,” jawab pelayan tersebut.


"Baiklah. Terima kasih. Tolong sajikan ini di piring," ujar Camelia dengan menyerahkan box yang ia bawa pada pada pelayan tersebut.


"Baik, Nona."


Camelia kemudian menaiki tangga menuju lantai 2 untuk memanggil Lucas dan Liam


"Anak-anak, kalian di dalam?"tanya Camelia dengan mengetuk pintu kamar Lucas dan Liam.


"Iya, Mom." Terdengar sahutan Lucas. Tak berselang lama pintu kamar itu terbuka.


"Ayo, makan siang dulu. Mom beli ayam kesukaanmu," ajak Camelia. Lucas mengangguk semangat. Dengan cepat langsung menuju meja makan.


"Lalu pangsitnya, Mom?"tanya Liam.


"Makan siang dulu, baru kita buat pangsitnya," jawab Camelia, menggenggam tangan kecil Liam menuju ruang makan.


Liam tidak menjawab lagi. Ya, memasak juga butuh tenaga. Terlebih saat bagian membuat adonan. Harus punya tenaga yang cukup.


Tiba di meja, telah mendapati Lucas menikmati ayam goreng. Liam bergabung di dalamnya sementara Camelia ke dapur.


"Eit?" Lucas menarik piring berisi ayam goreng itu ketika Liam hendak mengambilnya.


Liam langsung menatap tajam Lucas. Lucas membalasnya dengan tersenyum. "It's mine. Punyamu masih dalam proses."


"What your mean?!"kesal Liam.


"Ini pesananku. Kalau kau lapar, itu ada makanan." Lucas mengarahkan pandangnya ke meja makan. Ya, memang terdapat banyak makanan. Namun, Liam ingin ayam goreng itu.


"Mom membelinya untuk kita berdua. Jangan serakah, kau tidak bisa menghabiskan semua itu!"ketus Liam.


"Itu urusanku," sahut Lucas, dengan kembali menggigit ayam gorengnya. Ekspresi wajahnya jelas tengah menggoda dan meledek Liam.


"L-U-C-A-S!" Liam memanggil kesal. Tangannya terkepal.


Kesal sekali ia. Di tengah lapar, saudaranya ini malah bertingkah!


"What?"balas Lucas. Ia begitu santai. Dan terlihat senang menggoda saudaranya itu.


"Tidak sopan sekali. Seharusnya kau memanggilku kakak," ucap Lucas kemudian dengan penekanan pada kata kakak.


"Hah?" Liam terkejut. "Kakak apanya? Kita sama!"tolak Liam.


"Hm … panggil dulu aku kakak, aku akan membaginya denganmu," ucap Lucas, dengan senyum mengembang.


"Aku merasa mual," sahut Liam dengan wajah kesalnya.


"Kalau tidak mau, ya sudah." Lucas kembali menggigit ayam gorengnya. Bibir Liam mengerucut. Ingin namun gengsi. Memanggil Lucas kakak? Selama ini saja, Lucas lebih sering bertanya padanya. Hanya karena beda lima menit, langsung menjadi kakak?


Tidak.


Yang penting adalah tanggalnya!


Kecuali mereka beda lima menit dan sudah berganti tanggal. Mungkin, ia akan mengakuinya.


"Loh-loh, ada apa ini?"tanya Camelia bingung melihat ekspresi kedua anaknya yang berbeda. Camelia datang dengan membawa tiga gelas jus.


"Mom, lihat dia. Pelit!"tunjuk Liam pada Lucas, mengadu. Camelia menatap Lucas dengan tanda tanya.


"Panggil dulu aku kakak, baru aku bagi," jawab Lucas, sama seperti tadi.


"Tidak mau." Perdebatan yang sama terjadi kembali.


Ahh…. Camelia paham masalahnya. Wanita itu menyunggingkan senyum geli.


"Bukankah tadi kau ingin pangsit, Liam? Mengapa ingin ayam goreng?"

__ADS_1


Jarang-jarang ada kesempatan menggoda anaknya itu.


"Mom?!" Liam mendelik tidak percaya. Ia kira Camelia akan membelanya, meminta Lucas berbagi dengannya.


"Benar itu. Jadi, tunggu saja pangsitnya matang. Kalau tidak tahan, itu ada banyak makanan," timpal Lucas.


"Menyebalkan!" Liam menunduk, menggerutu dalam gumamannya.


"Terserah, aku bisa beli sendiri!"tukasnya kemudian.


"Eh-eh, ngambek nih," goda Lucas dengan tawa lebarnya. Camelia juga ikut tertawa.


"Mom, Lucas …." Tawa itu berhenti saat Liam memanggil dengan nada pelan yang sedih. Dan benar saja, mata anak itu sudah berkaca-kaca. Tidak tahan lagi digoda oleh ibu dan saudaranya.


"Huhuhu … aku hanya ingin ayam … huhuhu. Mengapa pelit sekali. Aku ingin yang Mom beli, huhuhu."


"Eh?" Lucas mengerjap. Melihat air mata Liam, ia merasa bersalah.


Sementara Camelia menghela nafasnya. "Sudah-sudah, ayo makan dulu. Lucas, itu Mom beli untuk kalian berdua. Liam, Lucas memang kakakmu, jadi tidak ada salahnya memanggilnya kakak. Tapi, itu kembali pada diri kalian, karena di mata Mom, baik adik atau kakak, kalian sama. Anak-anak yang paling Mom sayangi," tutur Camelia kemudian, akhirnya menengahi drama antara kedua anak itu.


"Dengar itu Lucas!" Liam mengusap air matanya kemudian tersenyum.


Lucas menjawab dengan menjulurkan lidahnya. "Lucas, Liam, ayo makan! Setelah itu kita buat pangsit untuk makan malam!"tandas Camelia yang sudah lapar. Menatap tajam kedua anaknya agar berhenti berdebat atau apalah itu.


"Baik, Mom."


Patuh.


Lucas mengembalikan piring berisi ayam goreng itu ke tempat semula. Camelia mengambilnya satu, begitu juga dengan Liam.


Pada akhirnya mereka bertiga menikmati ayam goreng itu bersama. Makan siang itu diwarnai drama yang berujung dengan tawa lebar.


*


*


*


Selesai makan siang, mereka tidak langsung bekerja di dapur. Melainkan bersantai terlebih dahulu. Mereka menonton televisi di ruang keluarga.


Sengaja.


Agar nanti pangsitnya matang diwaktu yang tepat. Oleh karenanya, pembuatan juga harus disesuaikan.


Sekitar pukul 16.00, akhirnya mereka turun ke dapur. Lucas dan Liam yang membantu juga turut memakai apron.


Bahan-bahan telah tersedia di atas meja. Siap dieksekusi oleh ketiganya.


Hal pertama yang mereka lakukan adalah membuat kulit pangsit. Tugas Camelia adalah mengadon. Tugas Lucas dan Liam adalah menambahkan air, garam, dan telur. Telur ditambahkan setelah adonan diamkan dan mengembang. Adonan dibagi dua, akan membuat pangsit rebus dan pangsit goreng. Untuk yang rebus ditambahkan dengan telur sementara yang digoreng tidak.


Langkah selanjutnya adalah memipihkan adonan dengan menggunakan penggiling kayu. Mereka berbagi tugas. Camelia yang rebus, Lucas dan Liam yang bagian goreng.


Sebenarnya tahap itu tidak memakan cukup waktu, namun karena dikerjakan bertiga dengan berbagai tingkah, waktu pengerjaan memakan waktu lama.


Masih membuat kulit pangsit, belum membuat isiannya. Dan cukup membuat dapur berantakan. Namun, di mana letak kenikmatan dan kebersamaan terasa. Dan dinamakan quality time.


"Hmph!" Camelia menatap garang kedua putranya. Wajah Lucas dan Liam terdapat banyak noda tepung.


"Hehehe." Kedua anak itu hanya tertawa dengan menunjukan deretan gigi mereka.


Camelia menggeleng pelan. Mana tahan ia marah terhadap anak menggemaskan itu?


Lanjut membuat isian pangsit. Menggunakan tiga jenis isian, daging, ayam, dan udang. Kebetulan ketiga bahan itu ada di dalam kulkas.


Lagi, tetap terjadi drama. Terlebih pada saat membungkus isian dengan kulit. Camelia yang sudah biasa dan ahli, tentu bukan hal sulit. Namun, bagi Lucas dan Liam, mereka cukup kesulitan menyamakan bentuk yang mereka buat dengan Camelia. Alhasil, bentuknya tidak seragam.


"Sepertinya kau tidak berbakat di dapur, Liam," goda Lucas. Bentuk pangsit Lucas malah lebih mirip bakso.


"Memangnya kau berbakat?"balas Liam, dengan melirik tajam.


"Hehe … tidak."


"Sepertinya hanya Mom yang berbakat dan jago memasak." Lucas menoleh pada Camelia.


"Hm … benar." Liam menyetujuinya.


"Memangnya bakat selalu bawaan dari lahir?"tanya Camelia kemudian.


"Dulu, Mom sama seperti kalian. Bakat itu adalah keahlian. Semakin dilatih semakin lancar. Nah, kalau tidak punya bisa dipelajari, asalkan punya minat di dalamnya, tidak ada yang mustahil. Jika ia serius di dalamnya." Memberi petuah.


Lucas dan Liam mengangguk mengerti. Dan proses pembuatan maksud dari awal hingga matang memakan waktu hampir mendekati matahari tenggelam. Bahkan, Tuan dan Nyonya Shane serta Dion pulang, itu belum matang semua.

__ADS_1


__ADS_2