Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 75


__ADS_3

Erggh….


Camelia mengerang. Matanya mulai terbuka. Pandangannya kabur dan kepalanya terasa sangat pusing. 


Camelia masih setengah sadar. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menghilangkan rasa kantuk juga rasa pusing. 


"Uhhh … tubuhku terasa sangat sakit," keluh Camelia sembari bangkit dari tidurnya. 


"Eh?" 


Ia terperanjat mendapati tubuhnya polos. Camelia segera menarik selimut menutupi dadanya. 


Wajahnya pucat. Matanya bergerak gusar. Ia menelan ludah kasar. Tidak mungkin, kan? Apakah aku mengulangi malam itu? Camelia meruntuk dalam hati. Matanya terpejam dan dengan gerakan kaku menoleh ke samping.


Deg!


Jantung Camelia seakan berhenti berdebar. Wajahnya kini benar-benar pucat dengan mata terbelalak. "Tidak mungkin!" Ia bergumam tak percaya. 


Bagaimana bisa ia menghabiskan malam keduanya bersama dengan orang yang sama?


Andrean. 


Bagaimana bisa ia bersama dengan Andrean?


Tidak. Aku harus kabur!


Itu yang terlintas saat ini. Camelia hendak turun dari ranjang. "Kau sudah bangun?" Namun, itu terhenti. Tubuhnya terasa sakit. Itu suara serak Andrean. 


Gawat! Dia sudah bangun! Bagaimana ini?


Rasa takut menghinggapi Camelia. 


Camelia kembali menelan ludahnya dan menoleh kaku ke arah Andrean. Pria itu baru saja bangun dan kini sudah duduk. Pria itu telanjang dada. Dan Camelia yakin Andrean juga polos seperti dirinya, hanya berbalut selimut, itupun berbagi. 


"Hehehe. Kau sudah bangun?"tanya Camelia dengan canggung. Ia memaksakan senyumnya. 


"Jika aku tidak kabur kau pasti akan kabur, bukan? Seperti malam itu!"


"Ah? Aku rasa kita …."


Grep.


Bugh.


"Auh!"


Sebelum Camelia menyelesaikan ucapannya, Andrean sudah bergerak dan kini berada di atas tubuhnya. Andrean memegang erat kedua tangan Camelia. Tatapannya begitu tajam. "Kau mau mengatakan kita salah paham? Atau kau mengatakan itu hal wajar? Nona Camelia, jangan lupa siapa yang memancing lebih dulu. Aku akan menuntutmu untuk bertanggung jawab!"ucap Andrean. 


"A-apa maksudmu? Tanggung jawab apa?" Camelia merasa takut. Tanggung jawab apa? Bukankah dia yang dirugikan. 


Tunggu!


Ia yang memancing lebih dulu. Rasa sakit menyerang kepala Camelia dan potongan kejadian tadi malam, sebelum ia dan Andrean bangun, hadir. 


God!


Sungguh!


Dia yang memancing. 


Tanggung jawab?


Tidak!


Camelia mencari cara. "Sepertinya kau sudah mengingatnya. Jika tidak, aku tidak keberatan mengulanginya agar kau mengingat semuanya. Dari awal, dari awal kita bertemu lima tahun lalu!"


Andrean kemudian beringsut. Duduk di samping Camelia sembari meregangkan otot lehernya. 


"Itu … begini, malam itu dan malam ini adalah sebuah kecelakaan. Jadi, lebih baik dilupakan saja! Lagipula kita sudah sama-sama dewasa. Okay?"ucap Camelia.


Itu terdengar menyebalkan untuk Andrean. 


Kecelakaan?


Lupakan saja karena sama-sama dewasa? 


Tentu saja tidak bisa! 


Namun, secara tidak langsung Camelia mengakui bahwa ini adalah yang keduanya kalinya dengan Andrean. 


"Aku tidak mau menganggapnya seperti itu!"tegas Andrean. Sorot matanya begitu tajam pada Camelia.


Camelia menelan ludahnya. "Come on. Kau juga menikmatinya. Kau tidak rugi apapun. Akulah yang rugi!"


"Tidak! Kau salah!"sergah Andrean. 


"Kau lah yang kabur. Kau tidak meminta tanggung jawabku. Kau lah yang lari. Dan aku … selama ini aku terus mencarimu. Kau tahu, sejak lima tahun lalu, aku memang tidak ingat jelas wajahmu. Namun, aku ingat jelas aroma tubuhmu. Camelia, kau bilang kita sudah sama-sama dewasa, bukan?" Andrean mengeluarkan kekesalannya. Ia sudah jatuh hati pada Camelia. 


Sejak malam itu, Andrean terikat dengan Camelia secara tidak langsung. Why? Karena Andrean hanya bereaksi pada Camelia. Wanita pertamanya!

__ADS_1


"Maka kau harus bertanggung jawab! Bukankah itu sikap orang dewasa?" Camelia terjebak ucapannya sendiri. 


"Dan aku rasa ada banyak hal yang harus kita perjelas!"tegas Andrean. 


Tidak! Apa dia menyadari dan mengetahui seusai?


Apa yang akan terjadi jika Andrean tahu Lucas dan Liam adalah darah dagingnya?


Andrean tidak akan merebut keduanya, bukan?


Tidak. Meskipun Andrean tidak melakukannya, bagaimana dengan keluarnya? Keluarga Gong?


"Aku akan mandi. Kau tetaplah di sini. Jika kau kabur, aku tidak keberatan membuatmu tidak bisa berjalan!"ucap Andrean dengan memberikan ancaman. 


Camelia menatap horor Andrean. Dalam hatinya, sudah terpikir hukuman apa itu, hal yang mereka lakukan tadi malam.


Andrean kemudian bangkit dari ranjang. Dengan polos, ia melangkah menuju kamar mandi.


Tidak! Aku tidak bisa tetap di sini. Aku harus kabur!


Itu yang ada dalam pikiran Camelia. Dengan cepat, Camelia membungkus tubuhnya dengan selimut, tak lupa ia membawa barang-barangnya keluar dari kamar Andrean.


Setibanya di apartemennya yang hanya terletak beberapa langkah, Camelia tanpa membasuh tubuhnya langsung mengemasi barangnya. Ia melakukan dengan cepat. 


Dengan penampilan berantakan, Camelia menuju lift. Ia berpacu dengan waktu. Dan ini ia sudah di basement. 


Persetan dengan balas dendam! Aku harus kabur dulu darinya!


Camelia akan kembali ke Kanada!


"****! Damn it! Beraninya kau!"umpat Andrean saat tidak menemukan Camelia di kamarnya. 


Dia pasti kabur. Kemana?


Andrean memijat dahinya. Bandara?


Benar! Kemungkinan besar ia akan menggunakan bandara. 


Andrean segera mengambil ponselnya. 


Oh Gosh!


Di saat penting, ponselnya malah habis daya. Dengan sedikit panik, Andrean mencari pengisi daya. 


Butuh waktu. Untunglah itu ponsel keluaran terbaru. "Hans!"


"Saya, Tuan!"


Andrean kemudian bergegas berpakaian. 


Aku tidak akan melepaskanmu, Camelia! Aku tidak bercanda! Tunggu saja kau!"


Bergegas turun dan menuju bandara.


*


*


*


Di sisi lain, Hans bingung dengan perintah Tuannya. Menghentikan bandara? Menghentikan semua penerbangan? Jangan biarkan dia kabur?


Dia?


Hans berpikir keras untuk menerka siapa itu dia.


"Ah! Masa depan Tuan dipertaruhkan!"ucap Hans, segera melakukan apa yang Andrean perintahkan. 


*


*


*


"Ayo berangkat sekarang!"ucap Camelia saat memasuki pesawat pribadi keluarga Shane. Nafasnya terengah. Keringat mengucur deras. Camelia takut jika Andrean akan menyusul. 


"Maaf, Nyonya. Baru saja pihak bandara mengumumkan pemberhentian semua penerbangan, termasuk penerbangan pribadi," ucap Pramugari. Camelia membulatkan matanya. 


"Mengapa di saat seperti ini?"gumamnya cemas. Camelia yakin, ini adalah ulah Andrean. Ya, pria pasti punya kemampuan untuk ini! Menyebalkan! Andai saja ini Kanada!


"Harus bagaimana sekarang?"


"Nyonya, ada yang mencari Anda di luar!"ucap Pramugari pada Camelia yang tengah pusing. 


"Ini aku, Camelia!" Sebelum pramugari itu menjawab, ada yang menjawab pertanyaan itu. Andrean!


Wajah Camelia langsung pucat pasi. Bagaimana bisa secepat ini?


"Aku sudah memperingatkanmu! Kau tidak akan bisa kabur!"

__ADS_1


"Sialan!" Camelia benar-benar terjebak. Dahinya mengernyit. 


Andrean menghentikan aktivitas bandara, pasti akan berdampak besar. 


Aku tidak bisa kabur. Aku harus menghadapinya!


Camelia membatin. "Buka pintunya!" Pramugari itu menurutinya. 


Saat pintu dibuka, Camelia terkejut. Dan sebelum ia sempat bereaksi, tubuhnya sudah dipanggul bak karung besar. "Auh!" 


"A…." Sebelum Camelia melayangkan protes karena dipanggul paksa dan dilemparkan di kursi mobil, bibirnya sudah dibungkam oleh Andrean. 


Camelia meronta. Ia 


 sadar sepenuhnya. Tangannya memukul dada Andrean dan bibirnya menggigit bibir Andrean. "CK!" Perih karena gigitan itu, hingga bibirnya berdarah, Andrean melepaskan ciumannya. 


"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan tadi, Camelia?!"


"Apa? Kau akan memperkosaku di sini, hah?"balas Camelia. Percuma saja takut! 


"Heh? Kau kira aku tidak akan melakukannya?"balas Andrean. 


"Lakukan kalau kau berani!"tantang Camelia. 


Andrean terhenyak sesaat. Ia kemudian tertawa. "Tapi, melakukannya di sini bukan gayaku!"


Andrean kemudian masuk ke dalam mobil. "Jalan!"perintahnya pada Hans. 


"Kita ke istana!" Merujuk pada kediaman Andrean yang mirip sebuah istana. 


"Kau!!"


"Diamlah. Mungkin aku akan berubah pikiran!"


Camelia menarik kembali telunjuknya. Menyebalkan!


Tiga puluh menit kemudian, Camelia dan Andrean tiba di kediaman Andrean. Istana itu indah, kental dengan warna keemasan. Namun, Camelia sama sekali tidak tertarik untuk mengagumi keindahannya!


Tenang, maka akan ada jalan. Panik membuatnya dalam masalah. Camelia sepanjang perjalanan menenangkan dirinya sendiri.


"Masuk!" Beranda memerintah, Camelia menurut. Kini, keduanya duduk di ruang tengah. Andrean mengibaskan tangannya, menyuruh yang lain meninggalkan mereka berdua. 


"Jadi, apa kau sudah merancang penjelasan untukku, Camelia?"tanya Andrean dengan gaya Tuan Mudanya. 


"Apa yang harus aku jelaskan? Kau sudah melihatnya sendiri. Aku mabuk dan terjadi hal itu."


"Aku keluar di dalam. Kemungkinan besar itu akan jadi bayi," ucap Andrean, frontal. 


"Aku tinggal minum obat penunda kehamilan," jawab Camelia.


"Lucas dan Liam, mereka anakku, bukan?"


Camelia terdiam sesaat. "Atas dasar apa kau beranggapan demikian? Jika aku single mother sejak awal, mungkin aku tidak begitu keberatan dengan pertanyaan itu. Namun, aku adalah wanita yang sudah menikah. Tolong, jangan tanya tentang privasiku!"tegas Camelia. Ia berusaha untuk tetap tenang. Lakukan dengan baik. Ini hanya akting!gumamnya dalam hati. 


"Begitu, ya? Tapi, kau memberi pengakuan lisan tadi malam. Bagaimana dengan itu? Jangan katakan kau lupa dengan pengakuan itu!"


Pengakuan?


Damn!


Camelia tidak ingat apapun. Ia hanya ingat gerak dan desah. Tidak dengan pembicaraan. 


"Mengapa? Mengapa harus kau ayah mereka?" Camelia menatap Andrean. Dia mengulang apa yang Camelia katakan tadi malam. 


"Itu yang kau katakan. Mereka merujuk pada Lucas dan Liam, bukan?!" Kali ini dengan penuh penekanan. Tatapannya begitu serius pada Camelia. 


Sejenak Camelia mematung. "Itu …."


"Aku tidak menerima alasan itu salah. Aku mabuk dan bicara sembarangan. Kau tahu, perkataan orang mabuk adalah perkataan yang langsung dari hati." Andrean seakan meniru kalimat yang akan Camelia ucapkan. Ia langsung memberi penolakan dan penegasan.


Ya … saat mabuk, keberanian bisa meningkat. Dan isi hati akan mencuat dengan sendirinya karena bergerak di bawah alam sadar. 


"Jadi, apa maumu?"


Andrean tertegun sesaat. Itu sebuah pengakuan lagi secara tidak langsung?


"Lakukan tes DNA. Harus ada bukti konkret untuk menunjukkan bahwa mereka adalah anak-anakku. Aku tidak mau hanya sekadar lisan!"


Andrean, ia menuntut kelengkapan.


Mendengar itu, Camelia tersenyum sinis. "Katakan saja kau ingin mengambil mereka dariku. Andrean, niatmu terlihat jelas!"cibir Camelia dengan ketusnya.


"Tidak. Aku tidak ingin mengambil mereka!"sergah Andrean. Ia kemudian bangkit dan mendekati Camelia. 


"Apa-apa kau?"tanya Camelia kesal saat Andrean memposisikan tubuh mereka berhadapan. Tatapan Andrean begitu lekat pada Camelia. 


"Aku tidak ingin mengambil mereka karena sejak awal mereka dan juga kau adalah milikku!" Camelia sedikit melongo mendengar itu. Apa dia sedang memproklamasikan kepemilikan?


"Aku ingin dirimu, aku akan menikah denganmu," ucap Andrean disusul dengan mencium bibir Camelia. 

__ADS_1


Otak Camelia masih loading, menikah denganku?


__ADS_2