Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 155


__ADS_3

Mengapa ayah menyuruh pulang cepat?


Dalam perjalanan pulang, Camelia memikirkan alasan mengapa Tuan Shane menghubungi dan menyuruhnya segera pulang.


Hal penting apa?


Kembali menerka. Namun, tidak ia jumpai jawabannya.


Dan kini, Camelia telah tiba di kediaman Shane. Duduk bersama dengan Tuan dan Nyonya.


"Lia, apa kau tahu apa yang Dion lakukan di sana?"tanya Tuan Shane.


Camelia sedikit memiringkan kepalanya. "Seharusnya Dion tengah bekerja," jawab Camelia yakin.


"Ada apa dengan hal itu, Dad?"tanya Camelia kemudian. Menyuruhnya cepat pulang hanya untuk hal ini? Rasanya tidak mungkin. Camelia mengeryitkan dahinya, bingung dan penasaran.


"Apa sesuatu terjadi pada Dion?" Camelia menajamkan matanya. Ia ingat beberapa hari yang lalu meminta Dion menyelidiki mengenai keluarga Ling. Namun, seharusnya itu tidak akan mempengaruhi pekerjaan. Bukankah yang utama tetaplah pekerjaan?


"Dad? Mom? Wajah kalian berdua menjawab pertanyaanku. Ada apa sebenarnya?"selidik Camelia. Sikapnya yang tenang menjadi gusar.


"Apa kau ada menyuruh Dion melakukan sesuatu?"tanya Tuan Shane. Heran, mengapa tidak langsung pada intinya?


Ah … Camelia tidak memberitahu siapapun mengenai ia yang meminta Dion menyelidiki keluarga Ling. Jika Tuan Shane bertanya seperti ini, ada kemungkinan Dion yang memberikan sendiri atau ada yang melaporkannya.


"Benar. Aku ada memintanya demikian."


Tuan Shane tersenyum. Yakin Camelia sudah tahu arah pembicaraan ini. "Apa kau tahu bahwa Tim X dilibatkan dalam hal tersebut?"tanya Tuan Shane lagi.


"Hah?" Camelia terkesiap.


"Ternyata kau tidak tahu." Nyonya Shane menghela nafas pelan.


"Dion tidak ada memberitahuku. T-tapi apa itu benar?" Camelia tergagap. Itu mengejutkan dirinya. Melibatkan Tim X? Artinya itu berisiko. Apa yang ia lakukan?!


"Saat ini ponselnya tidak aktif. Entah apa yang terjadi di sana," ujar Nyonya Shane. Mata Camelia membulat.


Jantungnya berdebar semakin kencang. Camelia dengan cepat meraih ponselnya. Menghubungi Dion. Dan tidak aktif.


"B-bagaimana dengan Tim X?"tanya Camelia. Wajahnya pias.


"Tenanglah, Lia!"ucap Tuan Shane. Camelia menggeleng. Bagaimana bisa ia tidak?! Ini sangat serius!!


"Aku akan ke Xian!"putus Camelia, setelah lama tidak mendapat jawaban pula.


"Tidak, Lia!"cegah Nyonya Shane. Dion tidak ada kabar, malah Camelia mau menyusul.


"Tenanglah, Lia! Dion akan baik-baik saja," ujar Tuan Shane, turut menenangkan Camelia.


"Tidak! Adikku dalam bahaya kerenaku. Ayah dan Ibu juga akan cemas jika mendengarnya. Aku akan menyusul ke Xian, untuk memastikan dan menyelesaikan masalahku!"putus Camelia. Gegas, ia meninggalkan ruang keluarga menuju kamar.


"Bagaimana ini?"tanya Nyonya Shane. Wajahnya benar-benar cemas.


"Suamiku, cegah Lia pergi! Aku tak mau dia kenapa-kenapa!"


Tuan Shane menghela nafasnya. "Anak itu sudah buat keputusan. Kita hanya bisa melindunginya."


Nyonya Shane menggeleng keras. Ia tidak setuju. Tetap membujuk Tuan Shane agar menghalangi niat Camelia untuk menyusul ke Xian.


Belum selesai Tuan Shane membujuk, Camelia sudah turun dengan menggendong ransel. Is sudah siap untuk berangkat.


"Dad, Mom, aku akan menyusul Dion," pamit Camelia.


"Lia, jangan pergi. Dion baik-baik saja. Tenanglah," bujuk Nyonya Shane, menghampiri dan menggenggam kedua tangan Camelia. Wajahnya memelas. Namun, ditanggapi datar oleh Camelia.


"Bagaimana dengan syutingmu jika kau pergi?" Ah, baru teringat hal itu. Berharap Camelia mengurungkan niatnya.


"Mom, adikku lebih penting daripada pekerjaan!"jawab Camelia.


"Sudahlah." Tuan Shane memegang pundak Nyonya Shane. "Biarlah Lia pergi. Aku akan menambah Tim Pengawalnya," ujar Tuan Shane.


"Ah … tidak!"


"Mom, aku akan baik-baik saja. Aku janji," ujar Camelia.


"Menunggu tidak akan membuatku tenang, Mom."


Dihadapkan pada alasan-alasan Camelia, lidah Nyonya Shane terasa keluh. Ia hanya bisa menatap suaminya serta Camelia bergantian. "Aku pergi, tolong katakan Lucas dan Liam, ya?"


"Hati-hati." Camelia melangkah pergi. Langkah Nyonya Shane tertahan. Dan akhirnya hanya bisa menyembunyikan wajahnya pada dada sang suami. "Tenanglah."


"B-bagaimana jika kita ikut menyusul?"saran Nyonya Shane.

__ADS_1


"Hatiku tidak tenang jika hanya menunggu," ucapnya, menggunakan kata-kata Camelia tadi.


"Kita pergi setelah Lucas dan Liam pulang, okay?"bujuknya penuh harap. Tidak menyerah. Nyonya Shane sudah merasakan sakitnya kehilangan anak. Ia tidak mau lagi!!


*


*


*


Kini, di sinilah Camelia berada. Di pesawat dalam perjalanan menuju Xian bersama dengan sekitar dua puluh orang pengawalnya. Sebagian adalah pengawalnya yang biasa dan sebagian lagi adalah pengawal tambahan dari Tuan Shane.


Dalam perjalanan itu, Camelia menghubungi Kak Abi, juga Sutradara untuk mengurus cutinya. Hal ini dadakan. Dan alhasil membuat Kak Abi kelabakan. Begitu juga Sutradara. Mau disuruh kembali, Camelia sudah terbang.


Begitu juga dengan David. Saat menerima berita itu, hanya bisa mengusap wajahnya kasar.


Camelia tidak memusingkan apa dampaknya akibat kepergiannya ke Xian. Di benaknya hanya ada Dion. Menyuruh para pengawalnya untuk mencari informasi.


*


*


*


"Wanita sialan itu!!"geram Alice, saat menerima kabar bahwa syuting dijeda selama satu minggu karena Camelia ada urusan mendadak. Ketidaksukaan Alice pada Camelia semakin besar.


"Sok sekali dia! Banyak tingkah sekali! Apa karena dia pemeran utama berani seperti itu?!" Kembali mengeram. Dengan menggertakan giginya.


Huh!


"Awas saja! Aku akan buat perhitungan dengannya!"tekad Alice.


Drtt…


Drtt…


Alice melihat ponselnya. Ada pesan masuk.


"Ahh … lupakan saja. Mari bersenang-senang malam ini."


*


*


*


Ia mengenakan dress mini berwarna hitam yang dibalut dengan jaket. Segera menuju ruangan yang telah Joseph pesan.


"Hai, Alice," sapa Joseph, begitu Alice masuk.


"Hai, Tuan Joseph," balas Alice dengan tersenyum. Mendudukkan dirinya di samping Joseph.


"Joseph saja. Kita berteman, bukan?"


Alice tertawa renyah. "Okay-okay, Joseph."


Joseph mengangguk. "Mari, aku tuangkan minum untukmu."


"Terima kasih." Alice menerima dan meminumnya perlahan. Diikuti oleh Joseph. Keduanya sama-sama melempar senyum. Kemudian mulai berbincang dengan santai.


"Aku penasaran mengapa Nona Camelia tiba-tiba pergi?"tanya Joseph, ia sudah setengah mabuk.


Sementara Alice, wanita itu sudah diambang batas. "Mengapa membahas tentangnya? Dia itu wanita sok sibuk," jawab Alice ketus.


"Heh?"


"Daripada membahasnya, mengapa tidak membahas tentang kita?"


"Kita?"beo Joseph. Dahinya mengernyit. Tentang kita apa? Apa mereka punya hubungan selain hubungan kerja?


"Aku penasaran, mengapa tidak ada lagi gosip pacaran tentang Anda? Apa Anda tidak ada kekasih lagi?"tanya Alice.


Bagi Joseph itu lucu, menggemaskan. "Heh? Bagaimana denganmu? Apa Nona cantik ini tidak punya kekasih?'


"Hehehe … apakah Anda tidak kesepian?"


"Hm?"


Alice melepas jaketnya. Mendekati Joseph dan mengendus di leher. Aroma alkohol melekat pada keduanya.


Telinga Joseph memerah. Kedua tangan Alice kini melingkar di lehernya. "Bagaimana dengan saya? Saya rasa saya cocok menjadi pasangan Anda,* tawar Alice.

__ADS_1


"Sungguh kehormatan untuk saya," jawab Joseph. Sepertinya, kewarasan keduanya sudah di ambang batas.


"Kita pacaran?"tanya Alice. Matanya yang sudah sayu menatap lekat Joseph.


"Jika Nona bersedia. Saya tidak akan menolaknya," jawab Joseph. Disambut dengan ciuman oleh Alice.


Joseph memeluk Alice. Keduanya berciuman panas. Lepas dari bibir, Joseph menurunkan ciumannya pada leher Alice. Meninggalkan kissmark di sana, membuat Alice mendesah..


"More!"pinta Alice saat Joseph berhenti menciumnya.


"Seperti yang kau minta, Sweetheart," jawab Joseph. Kembali mencium bibir Alice dan tanpa melepas ciuman menggendong Alice.


"Sentuh aku. Aku menginginkanmu!"ucap Alice. Tubuhnya menggeliat. Mata sayunya menggoda. Dress nya yang mini, menunjukkan jelas lekuk tubuhnya. Siapa yang tidak tergoda dengan hal itu?


Gairah Joseph naik drastis. Apalagi ini sudah di kamar. Segera, pria itu melucuti pakaian bagian atasnya, sebelum akhirnya melucuti dan menyentuh Alice.


*


*


*


"Tuan Muda, sudah 24 jam kita di sini. Akan tetapi, belum ada pergerakan dari mereka lagi." Dion menoleh saat mendengar pernyataan dari salah seorang Tim X.


Benar, mereka sudah menunggu lama. Tapi, masih terhenti. Mereka melakukan semuanya di dalam kediaman yang memiliki beberapa kamar, fasilitas lengkap. Dan dijaga ketat oleh orang-orang keluarga Ling. Belum lagi alat komunikasi mereka yang masih ditahan.


"Kita tunggu saja," jawab Dion. Dibandingkan dengan hal itu, Dion lebih mengkhawatirkan mengenai ia yang belum memberikan kabar pada sekretarisnya. Ia takut, sekretarisnya itu akan mengadu pada Tuan Shane.


Dan jika itu terjadi, akan terjadi kekhawatiran yang lebih besar. "Aku harap kakak tidak mendengarnya," gumam Dion.


"Semoga Ayah dan Ibu tidak begitu khawatir," gumam harap Dion lagi.


"Tuan Muda, kita terobos saja."


"Tidak. Tunggu sebentar lagi," tahan Dion. Kemarin, Nyonya Besar Ling jatuh tak sadarkan diri. Sebenarnya itu kesempatan. Namun, Dion menahannya. Ia ingin mendapatkan kebenaran tanpa kekerasan fisik.


"Anak Muda, Nyonya Besar memanggil Anda." Pria tua yang Dion yakini ditugaskan untuk melayani dan mengawasi mereka datang. Seperti biasa, ia tersenyum.


"Baik." Dion bangkit, meraih jasnya kemudian mengikuti pria tua itu. Tim X mengikut.


Mereka kembali ke ruangan tempat mereka pertama kali disambut. Nyonya Besar Ling tetap tampil elegan dengan cheongsam nya. Duduk diapit oleh Ling Lie dan Ling Rui.


Baru saja masuk, Dion merasakan atmosfer yang begitu serius. Sepertinya ini akan menjadi pertemuan final.


Di sana, di ruangan yang sama dengan orang-orang yang sama, seperti saat pertama kali Dion disambut. Tatapan mereka sangat tajam pada Dion, seakan mengulitinya.


"Bagaimana kondisi Anda, Nyonya Besar?"tanya Dion, mengabaikan semua tatapan itu.


"Baik," jawab Nyonya Besar Ling singkat.


"Kami sudah berdiskusi. Dan kami akan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi asalkan kalian menang dalam sparing yang akan dilakukan setelah ini. Kemudian juga harus mendatangkan jejak dari orang yang kalian cari," ucap Nyonya Besar Ling.


Dion langsung mengernyitkan dahinya. Sparing, itu tidak masalah. Toh, kemarin Ling Lie sempat mengatakan hal itu. Akan tetapi, mendatangkan Camelia?


"Dia sangat sibuk. Apa tidak bisa diganti dengan pertemuan video?"tawar Dion, mengingat jadwal Camelia, juga untuk keselamatan Camelia sendiri.


"Tidak!"tolak Nyonya Besar Ling langsung.


Ini cukup sulit.


"Untuk hal ini, tolong berikan waktu untuk saya me…." Belum selesai Dion berkata, seorang pelayan masuk dan menyela ucapannya.


"Ada tamu asing, Nyonya Besar. Seorang wanita yang mengaku sebagai Camelia Shane datang untuk menemui Anda."


"Camelia Shane?!" Dion terperanjat. Ia bahkan sampai bangkit dari duduknya.


"Kau tidak salah dengar, kan?" Terkejut dan khawatir bercampur menjadi satu.


"Camelia Shane, marga yang sama denganmu, apa itu dia?" Ling Lie menatap tajam Dion. Dan dari ekspresi Dion sudah dapat menyimpulkannya.


"Sepertinya tidak perlu berpikir lagi. Suruh dia masuk!" Nyonya Besar Ling memberi titah.


Pelayan itu mengangguk.


"DION?!"


"KAKAK?!"


Wajah cemas Camelia sirna saat melihat Dion baik-baik saja. Gegas, Camelia memeluk Dion.


Dan hal itu dalam pengamatan keluarga Ling. Terdengar bisik-bisik. Namun, tidak menganggu adik dan kakak itu.

__ADS_1


"Syukurlah kau baik-baik saja."


__ADS_2