Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 177


__ADS_3

Camelia menepuk dahinya pelan. Melirik Andrean yang masih kebingungan. Sifat narsisnya keluar, menurutnya make up nya itu sangat bagus.


Alhasil, Camelia tidak bisa menahan tawanya.


"Hei! Ini sempurna, bukan?"tanya Andrean. Ia menjadi kesal.


"Iya. Sempurna menjadi seorang badut," sahut Camelia.


"APA?!"


"Jangan teriak! Aku harus mengurus kalian! Lucas, Liam, pergi tidur! Dan kau Andrean, hapus semua make up di wajahmu!"titah Camelia, dengan berkacak pinggang. Wajahnya dibuat sangar.


Lucas dan Liam merasakan alarm bahaya. Kedua gegas berlari. Begitu juga dengan Andrean.


Camelia menghela nafasnya. Duduk di sofa. Tanpa dijelaskan pun ia tahu situasi yang terjadi. Kartu Uno di atas meja itu menjelaskan semuanya.


"Hahaha. Kau benar, riasanku sangat menyeramkan." Andrean tertawa canggung. Wajahnya sudah bersih dari make up.


"Kedua anak itu pandai bermain kartu. Lain kali jangan main kalau ada sistem permainan lagi di dalamnya," peringat Camelia dengan datar. Ia tidak tahu, apa saja yang terjadi sebelum ini.


"Ya … mereka memang agak menyeramkan," sahut Andrean.


"Agak?" Camelia mengatakan itu dengan tercekat.


"Hahaha … ya begitulah." Camelia tertawa pelan.


"Sepertinya tidak," sahut Andrean.


"Lupakan saja. Aku sangat mengantuk," tukas Camelia. Ia bangkit dan hendak menuju kamar. Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba Andrean menggendongnya.


"Hei?!"


"Tidurlah."


Andrean membaringkan Camelia di ranjang. Andrean juga ikut berbaring. Posisi mereka berpelukan. Lagi, posisi wajah Camelia tepat di depan dada Andrean. Tangan Andrean melingkar di pinggangnya. Desir nafas dan detak jantung Andrean pun terasa. Wajah Camelia tersipu. Ia belum terbiasa dengan hal ini.


Aku tidak tahu bagaimana caranya bisa tertidur. Tapi, aku sangat mengantuk. Ini sangat nyaman dan hangat.


"Aku ingin menjadi ayah yang sempurna."


"Hm?"


Camelia merasa aneh mendengar kalimat itu. Tampaknya Andrean sudah tidur dan mengigau. Camelia menduganya, itu adalah efek dari permainan kartu tadi.


*


*


*


"Ratatouille!!"seru Lucas saat melihat menu makan siang.


Tadi pagi, karena ada acara, Camelia buru-buru pergi meninggalkan penthouse. Bahkan Andrean saja belum bangun sepenuhnya. Alhasil, rencana sarapan bersama tidak terlaksana.


"Dan homemade!"timpal Camelia.


"Ya … setelah menghancurkan dapur," celetuk Liam, melirik Andrean yang dapat duduk dengan posisi tegak dan datar.


"Ayah sangat pandai memasak! Mungkin karena menunya asing dan ada teman masaknya. Jadi, kalau Crystal lihat dibuku, katanya itu canggung," ujar Crystal, membela Andrean.


"Mana ada hal seperti itu," sergah Liam.


"Ada! Tadi itu buktinya!" Crystal melemparkan balasan. Kedua anak itu bertatapan sengit.


"Kalau katanya pandai memasak, mau memasak menu apa saja tidak akan menghancurkan dapur! Ayah hanya pandai memasak makanan tertentu saja. Dan pastinya yang sudah sering dimasak! Berbeda dengan Mom. Mom pandai memasak menu dari negara manapun!!"balas Liam lagi. Ia tidak mau kalah.


"Sudah, hentikan!"ucap Camelia. Tapi, tidak digubris.


"Orang pandai pun butuh belajar! Orang jenius pun pernah melakukan kesalahan! Memangnya ada orang yang benar-benar sempurna tanpa pernah melakukan kesalahan?!"teriak Crystal.


"Kau berteriak padaku?" Liam balas berteriak.


"Aku tidak setuju dengan pendapatmu!!"


"HENTIKAN!!" Andrean memukul meja. Mau makan siang dengan damai mengapa harus ribut?!


"Rasanya pasti enak." Tampaknya Lucas tidak terganggu dengan keributan itu. Ia sudah membuka piringnya.


"Mengapa kalian meributkan hal itu? Kami saja tidak ribut. Meskipun dapur hancur, hati kami sangat bahagia!"ujar Camelia, ia menggeleng heran.


"Pendapat kalian tidak ada yang salah. Jadi, tolong jangan ribut lagi. Ayo sekarang saling jabat tangan," tutur Camelia.


Hmph!


Kedua anak itu saling membuang muka. Enggan. Ego anak kecil masih begitu besar.


"Hei, kalian ini mau makan atau ribut? Jika mau ribut, bagian kalian akan aku makan," ujar Lucas.


"Enak saja!"seru Liam dan Crystal bersamaan.


"Eh, kok kompak?" Lucas pura-pura terkejut.


"Ck!"


"Sudah-sudah. Ayo makan. Sebentar lagi Mom akan bekerja lagi," ajak Camelia. Ia mulai menghidangkan makan siang ke piring masing-masing.

__ADS_1


Pandangan Andrean tidak lepas dari gerak-gerik Camelia. Melihatnya seperti ini, menjalankan peran sebagai seorang Ibu dan juga istri, Andrean merasa de javu. Mereka juga pernah makan bersama, lengkap seperti ini.


Jika sudah menikah nanti, aku akan makan siang di rumah, batin Andrean.


Sayangnya, mungkin tidak akan selengkap ini.


Wajahnya berubah sendu.


"Rean, kau melamun? Ayo makan."


Andrean tersentak. Camelia sudah duduk di sampingnya. Menatapnya dengan heran.


"Ayo makan."


"Ini enak!"


*


*


*


"Kalian masih marahan?"tanya Lucas, menatap bergantian Liam dan Crystal.


Saat ini ketiganya tengah menikmati suasana sore kota Paris dari tempat mereka berada. Susu hangat menemani ketiganya.


Sementara Andrean pamit keluar entah kemana. Mungkin menemui Camelia. Dan ketiganya tidak terlalu peduli.


Lucas mendengus sebal. Ia tidak digubris. Rasanya tidak nyaman. Liam yang dasarnya sudah dingin, auranya menjadi suram. Sementara Crystal yang pribadinya ceria menjadi pendiam.


"Huh! Terserah kalian. Aku mau main rank!"ketus Lucas, meraih ponselnya.


"Aku ikut." Liam mengambil ponselnya juga.


Crystal melirik kedua anak kembar itu. Wajah keduanya serius dengan ponsel yang miring. Jari-jari kecil keduanya bergerak lincah di layar.


Apa tidak ada yang membujukku?


Dari yang aku baca, jika adik perempuan merasa tidak senang, seorang kakak akan membujuk atau menghibur. Sedangkan mereka … malah bermain game?


Crystal meremas bajunya. Ia semakin merasa tidak nyaman. Perasaan asing menyelimutinya.


Bagaimana caranya bicara dengan mereka? Mengapa susah sekali? Mereka kan sudah pernah bicara dan bermain bersama?


Aku tidak akan diabaikan, kan?


"K-kakak." Crystal memanggil ragu.


"Hm?" Lucas menoleh singkat. Kembali fokus pada gamenya. Sementara Liam sama sekali tidak menoleh.


"Siapa yang mengabaikanmu? Kami sedang main rank. Jika kalah, bintang kami bisa hilang. Tunggulah sebentar," jelas Lucas, menjawab tanpa menoleh.


"B-benarkah? Crystal takut." Mata Crystal sudah berkaca-kaca.


Liam melirik singkat. "Dasar cengeng! Kemana nyalimu tadi?!"


"Hei, Liam!"sentak Lucas, dalam bahasa Jerman.


"Apa?"sahut Liam, dalam bahasa Jerman pula.


Crystal menatap keduanya heran. Ia tidak mengerti.


"Jangan seperti itu!"


"Fokus saja pada gamemu! Kau hampir mati!"ketus Liam.


"Jika kau ketus begitu, anak itu akan ketakutan. Lalu menangis. Akan sangat merepotkan. Mom akan memarahi kita nanti!"


Apa yang mereka bicara? Bahasa apa itu?


" Lagipula tadi kau agak kelepasan. Tapi, tadi seru juga. Anak itu berani membalasmu bahkan berteriak. Akhirnya aku melihat wajah merahmu lagi." Lucas tertawa.


"Huh! Menyebalkan!"gerutu Liam.


"Jika dia tahu apa yang kita bicarakan, menurutmu bagaimana reaksinya?"tanya Lucas.


Keduanya berbicara dengan tetap fokus bermain game.


"Mungkin … dia akan meminta pulang."


"Kau dingin sekali. Ayo, berbaikan dengannya. Apa enaknya liburan dengan aura suram dan lesu begitu?"


"Memang aku yang salah?"


"Turunkan gengsimu, adikku sayang. Katanya, tidak peduli siapa yang salah, meminta maaf lebih dulu adalah tindakan yang gentleman."


"Diamlah. Fokus saja pada gamemu. Jika kalah, aku tak segan memukulmu!"ketus Liam.


"Yayaya … terserahmu saja."


Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Mengapa diam? Bahasa itu keren. Aku ingin mempelajarinya. Tapi, bahasa Inggris saja aku belum lancar.


Crystal kembali tertunduk lesu. Selama ini, jika berkomunikasi dengan Andrean, Camelia, Lucas, ataupun Liam, menggunakan bahasa China. Kecuali jika kalimat singkat yang sudah hafal luar kepala.


"Huh!"

__ADS_1


Liam menghembuskan nafas. Game berakhir dengan kemenangan.


"Hei, Crystal!"


"Ya?!"


Crystal tersentak. Panggilan itu terlalu mengejutkan.


Liam menatap dingin Crystal. Tatapan itu seperti biasanya. Crystal menelan ludah. Mempunyai kakak seperti Lucas dan Liam itu menyenangkan. Namun, juga menegangkan.


"Aku suka kau membalas pendapatku. Lain kali, jangan ragu untuk melakukannya."


"Hah?" Bukan hanya Crystal, Lucas pun terkejut.


"Aku ke kamar dulu." Liam beranjak.


"A-apa maksud Kak Liam? Kak Liam masih marah pada Crystal? Kakak, Crystal takut."


Lucas menepuk dahinya. Berbicara seperti itu lebih menakutkan.


Dasar Liam!


*


*


*


"Aku akan menunggu di mobil. Kalian bisa menghubungiku jika ada sesuatu. Selain itu, jangan minum terlalu banyak. Terutama kau, Lia! Dan kalau bisa tidak perlu sampai akhir. Selain itu, penerbangan kalian berdua besok adalah pukul 10.00!"tegas Kak Abi. Saat ini, mereka dalam perjalanan menuju bar tempat di mana pesta diadakan. Seperti yang disebutkan sebelumnya, pesta itu khusus untuk model brand ambassador. Jadi, yang hadir hanya model satu brand itu saja.


Ketiga model cantik itu menganggu. Mereka juga bersiap hanya untuk absen muka saja.


"Nah, hati-hati!"


"Sampai nanti, manager Abi."


"Lia, jangan minum alkohol!"


"Iya, Kak!"


Ketiga model itu memasuki bar. Benar-benar sudah dibooking. Bar itu penuh dengan semua brand ambassador satu brand dari banyak negara.


Waiters hilir mudik membawakan minuman. Musik ditabu dengan semangat. Dan di atas panggung itu, ada beberapa tiang. Itu diperuntukkan untuk pole dance.


"Lebih ramai dari dugaanku," ucap Ascania.


"Ayo cari tempat duduk," ajak Moana.


Ada banyak yang menari. Ada juga yang duduk mengobrol. Suasana di dalam terasa sesak. Musik hingar bingar itu terasa tidak nyaman di telinga Camelia. Kepalanya sudah terasa pusing.


Ascania dan Moana memesan cocktail. Sementara Camelia dipesankan minuman tanpa alkohol atau mocktail.


"Pole dancenya sudah dimulai," ujar Moana. Ada beberapa model yang naik. Pakaian mereka cukup seksi. Camelia menunjukkan wajah tidak terakhir. Menyesap minumannya.


"Sepertinya kau benar-benar tidak tertarik, Lia. Lihat saja pakaianmu, sangat tertutup," kekeh Ascania. Camelia menggunakan celana panjang yang longgar dan blazer.


Sementara Ascania dan Moana menggunakan dress.


Camelia tersenyum tipis. "Tariannya sangat erotis. Baru pembukaan saja sudah seperti itu," cetus Moana.


"Eh? Boleh menantang yang lain?" Ascania tersentak.


Ini acara pesta atau ada maksud terselubung lainnya?! Tidak! Bukan penyelenggaraanya. Melainkan yang berpesta.


Benar. Ini bisa menjadi ajang untuk membuktikan siapa yang paling hebat.


Camelia memutar bola matanya malas.


"Aku sedikit takut. Jika ada yang menantangku, lebih baik aku meminta yang lain!"ujar Moana. Matanya was-was.


"Ayo mengobrol sebentar dengan mereka lalu pamit pulang pada penyelenggara," ajak Camelia. Minumannya sudah habis. Ia sudah berdiri.


"Ayo."


Ketiga orang itu mencoba bersosialisasi. Tidak terlalu sulit. Ternyata ada banyak yang mengagumi mereka. Sejujurnya menyenangkan. Tapi, ada beberapa hal yang membuat acara itu malah terasa menyebalkan.


"Astaga. Bukankah ini Nona Camelia Shane? Artis terkenal dari Kanada itu?" Tiba-tiba Camelia mendengar ada yang menyebut namanya. Ia berbalik.


Seorang wanita dengan pakaian yang bisa dikatakan seksi tersenyum sinis padanya. Camelia tidak mengenalnya. Tapi, dilihat dari fitur wajahnya, tampak seperti orang Asia.


"Apa Anda dari China?"tanya Camelia, sopan.


Wanita itu tersenyum sinis. Matanya menatap rendah Camelia. Camelia tidak nyaman dengan itu.


"Aku Zhao Ziying! Artis terbaik dari Starlight Entertainment," ucapnya memperkenalkan diri dengan angkuh.


Model Andrean rupanya. Tapi, apa masalahnya denganku?


"Kalau begitu salam kenal Nona Zhao. Senang bertemu dengan Anda," ujar Camelia. Ia tetap tersenyum.


"CK! Bagaimana rasanya berjalan di catwalk dunia melalui jalur pintas?"


Jalur pintas?


Model ini sedang menghinanya?

__ADS_1


__ADS_2