Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 193


__ADS_3

"Tampaknya ada yang ingin menguji namun malah terkena s*ial," ledek Hans. Ia meninggalkan mejanya dan menghampiri Lie yang tengah membersihkan bajunya yang basah dengan tisu.


Lie mendongak. "Sekretaris Hans? Anda di sini juga?"tanya Lie. Terkejut dengan kehadiran Hans.


"Jangan mengejek saya, Sekretaris Hans," balas Lie kemudian. Ia tersenyum mengejek juga pada Hans.


"Anda juga sama kan? Kencan buta Anda juga gagal," lanjut Lie lagi.


"Setidaknya aku tidak disiram," balas Hans. Ia tersenyum puas saat Lie tidak bisa membalasnya lagi.


"Omong-omong tidak saya kira Anda ikut kencan buta begini. Apa Anda benar-benar jika punya pacar?"tanya Hans.


Lie mendengus. "Anda sendiri tidak jauh beda dengan saya. Padahal Anda adalah sekretaris Presdir entertainment. Banyak bertemu dengan wanita cantik. Kok masih ikut kencan buta? Saya tebak Anda juga menyembunyikan identitas!"sahut Lie.


Kedua sekretaris Andrean itu bertatapan sengit. Tidak ada yang mau mengalah.


"Aku tidak berbohong. Dia saja yang terlalu fokus pada satu kriteria. Jangan mengelak, kita sama namun saya lebih beruntung," pungkas Hans.


Lie terkekeh. Ucapan Hans tidak salah. Hanya saja gengsi enggan mengakuinya.


"Anda tidak sibuk?"tanya Lie.


"Ini kesempatan langka. Sama seperti Anda," jawab Hans.


"Mungkin ini kebetulan. Bagaimana jika kita minum bersama? Saya tahu tempat minum enak di sini," tawar Hans. Mereka jarang bertemu meskipun punya satu Tuan. Meskipun gedung kerja mereka berdekatan, aktivitas mereka jauh berbeda.


Keduanya meninggalkan restoran. Lie mengikuti Hans. Mereka menuju salah satu bar yang menjadi langganan Hans.


"Lihat siapa ini. Hans!" Seorang pria berambut gondrong menyapa Hans dengan merentangkan tangannya.


"Kai!" Hans menyambut rentangan tangan itu. Keduanya tampak sudah kenal akrab.


"Tumben kau berkeliaran sendiri. Di mana Tuan gila kerjamu itu? Eh … kau tidak sibuk?"


Yang dipanggil Kai itu bertanya beruntun. Ia merangkul Hans dengan raut wajah penasaran.


"Malam ini cukup senggang. Bahkan jika dia memanggilku, aku tidak akan pergi. Dan jika kau bertanya di mana Tuan, dia di istananya," jawab Hans.


"Hoho, begitu rupanya. Aku senang melihatmu lagi. Ayo-ayo, hari ini aku traktir dirimu," ucap Kai. Ia menyuruh bartender untuk membuatkan minuman.


"Eh? Ada wajah baru. Siapa ini, Hans? Apa kau selingkuh?"tanya Kai, menatap Lie yang diam saja memperhatikan.


"Selingkuh?" Lie menatap horor Hans dan Kai.


Hans berdecak, memukul kepala Kai. "Aku bukan dirimu. Ini, ku perkenalan padamu. Namanya Lie. Dia adalah sekretaris Tuan juga. Bedanya dia menangani Gong Group," jelas Hans, gantian ia merangkul Lie.


"Jangan pegang-pegang!" Lie menepis rangkulan Hans. Masih menatap horor Hans.


Kai tertawa melihatnya. Hans menatap kesal Kai. Kata-katanya tadi jelas ambigu. Orang lain akan mengira ketertarikan tidak normal.


"Jika aku suka batangan, aku sudah memakanmu sejak lama, Lie!"ketus Hans. Ia kemudian menenggak habis minumannya.


"K-kau! Rupanya ini aslimu!"tunjuk Lie. Ia spontan memeluk dirinya sendiri. Tatapannya masih sama, malah semakin horor.


"Wah-wah, kebanyakan ketertarikan itu didorong oleh pertengkaran dan ketidakakuran. Sekretaris Lie, Anda harus hati-hati," ucap Kai. Mimik wajahnya serius memberi peringatan pada Lie.


"T-tidak!" Lie mundur.


"Sialan kau, Kai!!"umpat Hans. Ia begitu berang pada Kai. "Jika ada yang harus diwaspadai itu adalah kau! Kau si penyuka batangan!!"maki Hans. Ia normal. Normal senormalnya!


Kai tertawa. Wajahnya sampai merah.


Bugh!!

__ADS_1


"Tertawalah sebelum aku membunuhmu!!"kesal Hans, kembali memukul kepala Kai.


"Hahaha … ini sakit. Maafkan aku."


Lie menghela nafasnya. Sorot matanya berubah menjadi kesal. Kedua orang ini … baru saja mengerjai dirinya! Dan dengan polosnya Lie tertipu, termakan obrolan dua orang itu.


"Maafkan aku. Itu hanya sambutan," ujar Kai, ia mengikat rambutnya yang mana tadi ikatannya terlepas karena pukulan Hans.


"Omong-omong, aku penasaran. Kalian ada masalah hidup apa sih? Sampai-sampai mau dan bertahan menjadi sekretaris iblis gila kerja itu?"heran Kai, ia sudah selesai mengikat rambut gondrongnya.


Ia bertopang dagu. Menatap Hans dan Lie bergantian.


"Mungkin kami punya ikatan yang tidak bisa dilepaskan," jawab Hans, ia menuangkan whiskey ke dalam gelasnya tadi.


"Jawabanmu ambigu. Lihat ekspresi sekretaris Lie," cetus Kai, melirik Lie yang kembali membulatkan matanya terkejut.


Hans tertawa. "Aku dan Tuan sudah bersama dengan zaman kuliah. Hingga sekarang ia punya anak. Dan anehnya, saat aku ingin berhenti namun saat ia berkata akan membuatku pensiun dini, aku tidak senang. Entahlah, apapun alasannya yang pasti bukan keabnormalan. Pikiran kalian jangan terlalu liar!"jawab Hans lagi.


Jika dihitung, sudah lebih dari satu dekade Hans mengikuti Andrean. Banyak hal yang mereka lalui bersama. Hubungan mereka sudah bak saudara kandung. Ya meskipun dulu sebelum Andrean mengumumkan pertunangan dan memiliki anak, ia sering digosipkan menjadi 'kekasih' Andrean, alisan sekretaris complex.


"Kalau Anda sekretaris Lie?"tanya Kai.


Lie mendongak. Ia tengah memikirkan jawaban terbaik. Baginya tidak ada alasan khusus. Dulu Tuannya adalah Allen. Tidak mengikuti Andrean. Namun, ia sudah kenal Andrean sejak lama. Kemudian Allen tumbang dan ia diberi tawaran menjadi sekretaris Andrean.


"Mungkin karena saya tidak ada pilihan," jawab Lie. Baginya itu jawaban terbaik. Lagipula, orang lain tidak perlu tahu semuanya. Dan Hans, pasti tahu alasannya.


"Ah … itu kurang meyakinkan. Namun, aku kagum pada kalian. Bisa bertahan bekerja dengan iblis gila kerja itu," ucap Kai.


"Hei, Kai!"sentak Hans. Tangan Hans sudah berada di bahu Kai.


"Ya?" Kai menciut. Itu bukan hal yang bagus.


"Coba katakan lagi julukan Tuan. Biar saja kirim pada Tuan sebagai ucapan selamat tidur."


"Tidak! Kau mau membuatku mati?!"tolak Kai.


Sudah mabuk? Lie menatap Hans. Wajah Hans memerah.


"Baik-baiklah sekretaris Hans. Saya paham. Sekarang duduklah dan minum dengan tenang." Kai bangkit dan menekan bahu Hans agar kembali duduk. Hans kembali menenggak minumannya.


"Kedua sekretaris, aku masih ada urusan. Kalian silahkan nikmati suasananya," ujar Kai. Lie mengangguk.


"Sekretaris Hans, Anda sudah mabuk?"tanya Lie, menyenggol lengan Hans. Hans melirik singkat. Ia meletakkan kepalanya di atas meja.


"Sudah lama aku tidak minum. Tubuhku perlu penyesuaian ulang," jawab Hans.


"Alasan. Katakan saja Anda tidak kuat minum," cibir Lie. Ia kembali minum. Mendengar itu, Hans kembali duduk tegak. Dengan mata yang jelas menandakan sudah mabuk, ia menatap protes Lie. Tidak terima dikatakan demikian.


"Akan aku buktikan. Ayo, adu minum denganku!"ajak Hans, ia menyodorkan gelasnya ke arah Lie, menantang sekretaris Presdir Gong Group itu.


"Ayo, siapa takut!" Lie menyanggupinya. Ia kembali menuangkan minuman ke dalam gelas.


Lie mulai tumbang setelah dua gelas. Begitu juga dengan Hans. Rupanya keduanya sama-sama tidak kuat minum namun gengsi untuk mengakuinya.


"Hei, Sekretaris Hans!"panggil Lie dengan nada yang sudah mabuk. Suaranya serak dan terasa deep.


"Hm." Hans menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan.


"Apa Tuan masih berhubungan dengan artis Kanada itu?"tanya Lie.


"Tentu saja masih. Mereka semakin …." Hans menautkan kedua jari kelingkingnya.


"Sungguh?" Lie tercengang. Ia kira hubungan jarak jauh tidak akan bertahan lama.

__ADS_1


Hans mengangguk. "Kau tunggu saja. Dia akan menjadi Nyonya kita," ucap Hans, dengan percaya diri.


"Haha … aku menantikannya!"sahut Lie.


"Sekretaris Hans, Anda kalah. Anda lebih mabuk dari saya dengan jumlah minum yang sama,” ucap Lie. Ia tertawa.


"Kita masih nyambung berbicara. Artinya kita tidak mabuk. Ayo, minum lagi dan lihat siapa yang akan kalah!!"


Tetap tidak ada yang mau kalah. Keduanya kembali minum.


"Jika artis Kanada itu akan jadi Nyonya kita, Tuan akan segera menikah. Lalu bagaimana dengan kita?"tanya Lie. Ia semakin mabuk.


"Dasar kencan buta sialan!"umpat Hans tiba-tiba.


"Wanita itu akan berlutut padaku jika tahu siapa aku!" Lie malah mengikuti.


"Hei, Lie, wajahmu merah sekali. Kau mabuk apa marah? Hehehe," tunjuk Hans.


"Jangan meledekku, Sialan!"balas Lie.


"Hahaha. Ayo mabuk sampai pingsan!!" Hans kembali minum.


*


*


*


"Akhirnya kau sudah juga, Andrean," ucap Kai, buru-buru menyongsong Andrean yang baru saja menginjakkan kakinya di bar tempat Hans dan Lie minum.


"Mana mereka?"tanya Andrean datar.


"Di dalam. Mereka minum banyak sekali. Dan terus bertikai. Kedua sekretarismu itu benar-benar membuatku frustasi," ujar Kai, mensejajarkan langkahnya dengan Andrean.


Andrean menghentikan langkahnya. Ia menatap datar kedua kepercayaannya, Hans dan Lie yang masih adu mulut meskipun mereka sudah tumbang.


"Aku lebih baik darimu, Sekretaris Hans. Kau kalah!"


"Diam kau! Kepalaku sangat pusing!"


"Hahaha. Aku menang, hehehe." Lie mengeliatkan wajahnya di atas meja. Senyumnya mengembang lebar.


"Kencan buta ini tidak buruk," ucap Hans. Ia bersandar pada Lie.


"Aku berharap segera melepas keperjakaanku," lirih Hans.


"Dengan wanita manapun boleh. One night stand pun tidak masalah." Lie mendengarnya, menimpalinya.


"Lihat, padahal mereka tidak kuat minum," ucap Kai. Ada sekitar empat botol di atas meja.


"Kencan buta? Mereka?"tanya Andrean, menatap selidik Kai. Kai terkesiap. Ia buru-buru menjelaskan dengan tangan bergerak menolak, menyatakan ia tidak ada hubungannya dengan itu.


"Aku tidak tahu mereka dari mana. Tiba-tiba datang berdua."


"Kau tidak mengawasi mereka?" Kai mundur ke belakang.


"Aku ada urusan tadi. Saat kembali mereka sudah seperti ini," jelas Kai, meyakinkan Andrean. "Aku tidak tahu rumah keduanya di mana. Jika aku letakkan mereka dalam satu kamar, takutnya mereka akan gila. Jadi, aku memanggilmu saja. Ku dengar kau juga senggang. Hehehe," tambah Kai lagi.


"Sepertinya itu ide bagus," ucap Andrean.


"Hah?" Kai terperanjat. Tatapannya horor pada Andrean. Andrean kemudian memerintah pengawal yang ia bawa untuk membawa Hans dan Lie.


"Hei, Andrean. Apa yang akan kau lakukan pada mereka?"tanya Kai, mengejar langkah Andrean.

__ADS_1


Andrean tidak menjawab. Ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bar.


Kai menghela nafasnya. "Aku pikir itu bukan hal baik. Semoga kalian kuat," gumam Kai.


__ADS_2