
"Crystal mana?"tanya Nyonya Liang, saat tidak mendapati cucu perempuannya itu bersama dengan mereka untuk makan siang. Sementara Lucas menemani Liam makan. Ya, meskipun tidak dalam satu ruang.
"Ah, aku lupa memberitahu Ibu kalau Crystal sudah masuk sekolah dasar, mungkin sebentar lagi akan tiba," jawab Camelia.
"Hah?" Nyonya Liang tampak terhenyak. Bukankah kemarin home schooling?
"Itu kemauan Crystal juga. Di taman kanak-kanak ia sudah homeschooling. Anak-anak seusianya butuh interaksi dengan anak-anak seumuran. Jadi, kami memutuskan untuk menawarkannya masuk sekolah dasar regular dan itu disetujui," jelas Camelia.
Tuan Liang manggut-manggut paham. "Lantas Lucas dan Liam?"tanya Nyonya Shane. Bukankah Crystal, Lucas, dan Liam seumuran?
Camelia tersenyum sembari menyentuh telinganya. "Itu sedikit berbeda, Bu," jawab Camelia.
"Maksudku Lucas dan Liam itu, tidak akan cocok disatukan dengan anak kelas 1 sekolah dasar. Agak sulit diceritakan karena Ibu dan Ayah tidak melihat perkembangan mereka. Intinya mereka itu genius. Level mereka tidak di sana," jelas Camelia.
"Tidak, Lia. Kata-kata mereka telah membuktikan sejauh apa kedewasaan mereka. Kau benar, mereka butuh kelas khusus," kekeh Tuan Liang.
"Aku juga sudah memikirkannya, Yah. Rencananya setelah Liam sembuh, mereka akan aku daftarkan ke sekolah dengan kelas akselerasi," jawab Camelia. Tuan Shane mengangguk setuju.
*
*
*
Sore harinya, Tuan dan Nyonya Liang pamit kembali ke kediaman mereka. Camelia mengantar sampai depan pintu.
"Kami akan sering-sering datang," ujar Nyonya Liang pada Camelia, Lucas, dan Crystal.
Dibalas dengan anggukan. Melambaikan tangan melepas kepergian kedua orang tua itu.
"Mom! Rain! Rain!" Tiba-tiba Lucas berteriak senang dan langsung berlari menuju halaman. Diikuti oleh Crystal di mana Toby selaku pengasuh yang masih ditugaskan ikut juga.
Gerimis datang. Dan semakin deras menjadi hujan. "Jangan main hujan, Lucas, Crystal!"peringat Camera berteriak. Kedua itu malah bermain hujan di halaman bersama dengan Archie dan Alel.
Yups, kedua hewan itu ikut dengan mereka ke Beijing. Karena pada dasarnya, Tuan Shane membeli kedua hewan itu untuk kedua cucunya.
"Lucas, masuk! Jangan main hujan!" Camelia kembali berteriak. Namun, Lucas dan Crystal tidak bergerak masuk. Mereka malah semakin bersemangat bermain hujan bersama dengan dua macam kumbang yang sudah beranjak remaja itu. Dan Toby tampak tidak bisa menghentikan itu. Ia mematung, dan tersenyum melihat senyum kedua anak itu.
"Astaga, dua anak ini!" Camelia kesal. Itu tidak baik untuk mereka. Cukup Liam saja yang sakit.
"LUCAS! CRYSTAL! MASUK!"
"Sebentar lagi, Mom!"
"TOBY!"
"Iya, Nyonya!" Toby tersentak dan langsung menggendong kedua anak itu masuk. Meronta dan merengek.
"Mom!"protes Lucas.
"Lihat diri kalian. Cepat mandi atau kalian akan demam!"titah Camelia.
"Sebentar lagi," pinta Lucas, dengan mata memelas.
"Bukankah tubuh kalian sudah basah?" Camelia menaikkan alisnya. Baginya itu sudah cukup. "Kalian bisa sakit. Bagaimana jika kalian sakit? Mom bisa merawat kalian tapi melihat rasa sakit kalian, Mom tidak sanggup!"ucap Camelia dengan memelas.
"Maaf, Mom." Lucas menundukkan kepalanya. Baru menyadarinya. "Aku akan segera mandi." Beranjak pergi. Archie dan Alel mengikutinya.
"Crystal juga." Crystal juga beranjak pergi dengan berlari kecil. Tampak kedinginan diikuti oleh Toby.
"Astaga, apa yang aku lakukan?"gumam Camelia. Ada raut penyesalan. Ia tidak bermaksud untuk marah tapi emosi keluar begitu saja.
Ting
Ada suara notifikasi masuk. Camelia langsung mengecek ponselnya.
Lia, maaf. Hari ini aku tampaknya akan lembur. Makan malam lah tanpa diriku. Tolong sampaikan permintaan maafku pada anak-anak.
Pesan dari Andrean.
Camelia tersenyum tipis.
__ADS_1
Baiklah. Jangan khawatir kami. Jangan lupa untuk makan malam, aku akan menyuruh orang untuk mengantarnya.
Tak berselang lama, ada balasan dari Andrean.
Xie-xie. Aku mencintaimu.
Aku juga.
Selesai berbalas pesan, Camelia langsung menuju dapur.
"Nyonya!" Dihadang oleh pelayan bagian dapur, beserta dengan kepala koki.
"Ya?" Camelia sedikit memiringkan kepalanya. "Ada apa?"
"Tolong urusan dapur serahkan kepada kami saja. Nyonya, kami di sini untuk melayani Anda dan keluarga. Bagaimana mungkin kami terus-terusan melihat Anda memasak? Kami tidak ingin digaji tanpa kerja, Nyonya. Kami juga tidak ingin dipecat karena tidak bekerja. Nyonya, mohon kerjasamanya !" Kepala koki berkata dengan tegas namun tetap sopan pada Camelia. Diikuti oleh pelayan dapur yang membungkukkan badan.
Camelia mengernyitkan dahinya. "
*
*
*
Pagi itu, Camelia membuka mata lebih dulu. Mendapati tangan Andrean melingkar di perutnya. Sudah menjadi suatu kebiasaan. Memijat dahi sejenak.
Dua minggu sudah berlalu. Rutinitas Camelia belum berubah. Sejauh ini ia belum menyentuh dunia keartisan, baik model ataupun aktris. Camelia hanya fokus pada keluarga kecilnya. Merawat tiga anak dan juga satu bayi besar yang sangat manja padanya. Ya, meskipun putra bungsu mereka sakit, tidak serta merta menghilangkan kemesraan Andrean pada Camelia.
Kondisi Liam tidak mengalami banyak kemajuan, sejauh ini masih stabil. Camelia berharap segera ada kemajuan yakni kesembuhan Liam. Jujur saja, sebagai seorang ibu, rasanya benar-benar kurang dan berbeda. Biasanya mereka bertiga dapat berkumpul tanpa jarak.
Hah…
Pagi itu, diawali dengan helaan nafas kasar Camelia. Dokter masih berusaha. Dan beberapa hari kemarin, juga ada perbincangan. Katanya, tali pusat bayi bisa menyembuhkan penyakit Liam dan jujur saja itu membawa tekanan tersendiri untuk Camelia. Karena, tali pusat bayi itu harusnya yang saudara kandung, artinya Camelia harus memiliki anak lagi.
Ya, itu juga sesuatu yang ia dan Andrean harapkan, memiliki anak lagi. Namun, jika diburu oleh waktu, rasanya benar-benar tidak nyaman dan itu adalah beban tersendiri.
Hah…
Kembali Camelia menghela nafas kasar. Melirik ke arah perut ketika merasakan pergerakan tangan Andrean.
"Aku tahu ini berat. Tapi, tolong jangan membuat dirimu sendiri tertekan, Lia. Aku, kau, kita melakukan yang terbaik untuk Liam. Jadi, bersabarlah, Liam kita akan segera sembuh," ucap Andrean serak, bangun dan langsung menarik Camelia dalam pelukannya.
"Everything's gonna be okay, Lia." Andrean mengecup pucuk kepala Camelia.
"Hentikan." Tiba-tiba Camelia melepaskan diri dari pelukan Andrean, segera bangkit dan kini tatapannya garang pada Andrean. "Jangan mencuri kesempatan! Cepatlah bersiap, bukankah kau ada meeting pagi, Mr. Gong?"tanya Camelia dengan penekanan disertai dengan senyum.
Andrean mendesah kecewa. "Morning kiss, Lia."
Camelia menggeleng dan berbalik meninggalkan Andrean yang masih dengan mimik kecewa namun juga tidak berdaya.
*
*
*
"Pagi, Mom!"sapa Lucas. Ia yang lebih dulu tiba di meja makan, mendahului Ayah dan juga saudara perempuannya.
"Pagi, Lucas," sapa balik Camelia dengan senyum lebar. "Kau semangat sekali hari ini?"
"Tentu saja, Mom! Aku dan Liam baru saja naik peringkat!"sahut Lucas sumringah.
"Hm?" Camelia memiringkan kepalanya.
"Yes, Mom! Look, sempurna! Kami mendapatkannya tadi, bukankah itu keren?" Lucas menunjukkan sesuatu pada Camelia. Camelia melebarkan matanya melihat peringkat Lucas dan juga Liam.
"Gosh! Kalian? Bagaimana bisa secepat itu? Bagaimana bisa?" Camelia terperangah.
"Pasti Mom tertinggal jauh, kan?"terka Lucas, tersenyum semakin lebar.
Camelia memijat dahinya. Ia khawatir dengan Liam, sementara kedua anaknya malah naik peringkat di game. Bukankah itu … astaga, Camelia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menaikkan jempolnya untuk Lucas.
__ADS_1
"Yeah!"
"Baiklah, ayo duduk."
"Mana ayah dan adikmu?"tanya Camelia kemudian. Lucas mengendalikan bahunya.
"Aku di sini, Lia."
"Selamat pagi, Mom." Andrean datang bersama dengan Crystal.
Andrean lebih dulu mencium pipi Camelia sebelum duduk. Crystal siap dengan seragam sekolahnya.
Keluarga itu sarapan pagi bersama. Tidak, kurang satu orang, Liam. "Ayo, cepat habiskan dan berangkat, jangan sampai terlambat," ujar Camelia.
Crystal mengangguk. Begitu juga dengan Andrean. Sekitar lima belas menit kemudian, mereka selesai sarapan. Andrean dan Crystal kemudian berangkat.
"Mom, aku ke kamar Liam dulu." Lucas langsung melangkah pergi.
Camelia juga meninggalkan meja makan. Ia memanggil dokter yang merawat Lucas dan Liam ke ruang perpustakaan.
"Nyonya." Dua dokter itu segera menghadap.
"Jadi, bagaimana update terbaru kondisi putraku?"tanya Camelia to the point.
"Tuan Muda Liam … kondisi stabil, Nyonya. Jika kondisi terus seperti ini, kami perkirakan dalam waktu dekat Tuan Muda akan sembuh total," jelas salah satu Dokter. Meskipun begitu, ada keraguan dari pancaran kedua dokter itu.
Camelia menghela nafasnya. "Lantas bagaimana dengan pengembangan obat?"
"Kami mengusahakan yang terbaik, Nyonya!"jawab keduanya pasti.
"Baiklah. Kembalilah," ucap Camelia, melambaikan tangannya.
Kedua dokter itu undur diri. Camelia kemudian termenung. Lagi, kembali menghela nafas. Tetap saja, hatinya tak bisa berhenti untuk tidak mengkhawatirkan Liam. Kata-kata everything's gonna be okay itu sama sekali tidak berefek.
"No! Jangan stress, Lia!"
"Tenang … tenang … semua ada jalannya." Pada akhirnya kembali menguatkan hati dengan kata-kata itu. Tidak tahu harus berbuat apalagi. Beberapa jenis obat yang telah dikembangkan sudah diberikan namun tidak menunjukkan efek yang signifikan. Dan masih ada beberapa obat lagi yang masih dalam tahap pengembangan, berharap itu akan mengakhiri rasa sakit Liam.
Drtt…
Drtt…
"Halo, Kak," jawab Camelia.
"Halo, Lia. Bagaimana kabarmu?"sahut seseorang di ujung sana, itu Kak Abi.
"I'm fine, Kak," sahut Camelia.
"Semua baik-baik saja, bukan? Liam? Kondisi sudah membaik, bukan?"tanya Kak Abi, tidak percaya dengan jawaban Camelia.
"Untuk saat ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya perlu berusaha lebih keras lagi, Kak."
"Katakan saja kau tidak baik-baik saja, Lia," cetus Kak Abi disambut dengan senyum kecut Camelia. "Maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu di saat seperti ini," sesal Kak Abi kemudian.
"Seharusnya aku ada di sana. Tapi, perpindahan kerja ini sangat menyebalkan!"gerutu Kak Abi.
"Kemarin sangat mudah untuk mengurus visa, mengapa sekarang bermasalah? Aku tidak mengerti lagi!"
"Benarkah?" Camelia terhenyak pelan.
"Tentu saja! Ck menyebalkan!"
"Jadi, bagaimana, Kak?"
"Bagaimana? Tentu saja aku akan tetap ke sana! Huff, tapi ini akan memakan waktu lagi. Tidak masalah, aku akan menunggu itu. Aku akan segera menemanimu, bersabarlah!"
"Aku menunggumu, Kak," jawab Camelia pasti. Benar, Camelia sudah memberikan kepercayaannya seratus persen pada Kak Abi untuk menjadi managernya. Jadi, meskipun ia pindah negara, Kak Abi tetaplah managernya.
"Baiklah. Nanti kita bicara lagi. Aku cukup senggang beberapa waktu ke depan, aku akan menghubungi dua keponakan tersayangku," ucap Kak Abi yang diangguki oleh Camelia. Panggilan berakhir.
Camelia melangkah mendekati jendela. Melihat matahari yang bersinar dengan cerahnya. Camelia kemudian menyatukan kedua tangannya, berdoa. "Kesehatan, benar-benar harta yang berharga. Tuhan, tolong segera angkat penyakit putraku. Tolong, segera kembalikan kebahagiaan kami. Aku mohon padamu, amin."
__ADS_1
*
*