
Dion mengemudi dengan kecepatan tinggi. Hal itu didukung oleh kondisi jalanan yang lenggang mengingat waktu yang sudah tengah malam. Dan hari pun sudah berganti.
Camelia diam, pandanganya lurus ke depan dengan tangan menyangga pipinya.
Dion, seakan mengemudi dengan kecepatan tinggi bukan karena waktu melainkan melampiaskan isi hatinya.
Raut wajahnya dan Camelia sama. Kecewa, amarah, keduanya bercampur menjadi satu yang menciptakan aura suram.
Alasannya? Meskipun mereka sudah menduga dan mengetahuinya, mendengarnya kembali dari bibir orang yang terlibat langsung, jelas kembali mencuatkan dan menambah amarah pada pelaku sebenarnya, Jordan dan Rose. D
"Damn!" Dion menurunkan kecepatan mobil kemudian mengumpat. "Andai membunuh bukan kejahatan, aku pasti sudah menyeret mayat dua sialan itu!" Dion memukul kemudi. Camelia melirik sekilas.
"Mengotori tanganmu dengan darah mereka? Mereka terlalu terhormat untuk itu!"ucap Camelia. Nadanya dingin. Dion memilih menepikan mobil. Mengemudi dengan kecepatan tinggi tadi tidak membuat hatinya mendingin. Malah semakin panas dan emosinya semakin bertambah.
"Terlebih, dia suadara kandungmu. Jika saling membunuh, maka leluhur akan sangat marah," lanjut Camelia. Pertumpahan darah pasti akan menjadi sejarah kelam. Dan itu akan menjadi catatan gelap dalam sejarah keluarga. Camelia tidak ingin itu terjadi.
"Dan aku tidak ingin kau menjadi pembunuh!"tegas Camelia. Jika pada akhirnya tujuannya menghabisi nyawa Rose dan Jordan, untuk apa berlarut-larut? Itu sangat simple, bukan? Tinggal menyewa pembunuh bayaran maka masalah akan selesai. Namun, bukan itu yang Camelia inginkan. Mati begitu saja, itu sangat mudah dan sangat tidak setimpal!
Dion kemudian melihat telapak tangannya.
"Ya. Kau benar, Kak. Dan mereka mungkin tidak punya kehormatan. Kedua manusia hina itu, mereka akan mati dengan cara terhina juga. Membunuh mereka, aku tidak akan memberi mereka kehormatan meskipun seujung kuku."
Camelia menghela nafas. Bukannya ingin semakin merenggangkan hubungan suadara antara Dion dan Rose. Akan tetapi, sejak awal menginjakkan kaki di kediaman Liang, Dion sudah tidak menyukainya.
Ditambah lagi dengan kelakuan Rose, maka bertambah besarlah rasa tidak suka Dion pada kakak kandungnya itu.
Dan setelah insiden yang menimpa Camelia lima tahun yang lalu, rasa tidak suka itu berubah menjadi rasa benci dan setelah tahu seberapa buruk kelakuan Rose, rasa benci itu semakin mendalam.
Bagi Dion, Rose bukankah saudaranya. Ia tidak mengakuinya meskipun tidak bisa memutuskannya. Baginya saudara dan kakaknya hanyalah Camelia seorang.
"Ayo kita pulang. Besok pagi kau harus kembali ke Shanghai," ujar Camelia, menenangkan dan mengingatkan Dion. Camelia menepuk pundak Dion.
"Tidak bisakah aku kembali besok?"tanya Dion dengan wajah tak rela.
"Cepat selesaikan urusan maka cepat kita meninggalkan negara ini. Selain itu, besok apartemen akan kosong. Aku ada job. Lucas, Liam, dan Kak Abi akan menghadiri fashion show," ujar Camelia.
Dion menghela nafas kasar. Yang kakaknya katakan benar. "Baiklah. Kita pulang. Kakak pasti sangat lelah, kan?" Tersenyum.
Camelia mengangguk kecil seraya tersenyum. Dion kembali melajukan mobil, dengan kecepatan sedang pulang ke apartemen.
*
*
*
Pagi buta, sebelum matahari terbit, Dion sudah meninggalkan apartemen untuk kembali ke Shanghai. Dion ada agenda meeting pagi ini. Dan itu agenda mendadak.
Awalnya ia ingin pulang setelah sarapan dan karena jadwal mendadaknya, itu tidak bisa dilakukan.
Melihat belum ada siapapun yang bangun, Dion pergi tanpa berpamitan langsung. Ia hanya menyelipkan surat sebagai tanda permintaan maaf karena kembali ke Shanghai tanpa pamit.
Pukul 06.00, Camelia sudah bangun. Sedangkan kedua anaknya masih tidur. Camelia mengecup kening Lucas dan Liam sebelum bangkit dari tempat tidur.
Camelia melangkah menuju jendela. Menyibak gorden dan menatap keluar jendela. Matahari sudah mulai terbit, namun gelap belum sirna sepenuhnya.
Camelia mendongak, menatap langit. Masih ada goresan kemerahan di langit. "Sepertinya hari ini adalah hari yang indah," gumam Camelia, tersenyum.
__ADS_1
"Mom." Camelia berbalik saat mendengar suara Liam memanggilnya. Liam sudah bangun dan kini duduk dengan mengucek matanya.
"Morning, Mom," sapa Liam dengan tersenyum manis pada Camelia.
"Morning too, Liam," balas Camelia.
"Mom pulang jam berapa tadi malam?"tanya Liam yang membuat Camelia terhenyak.
"Kau tahu?" Liam mengangguk. "Lucas juga tahu," tambah Liam dengan menunjuk Lucas yang baru saja membuka matanya karena terganggu dengan percakapan Camelia dan Liam.
"Tidak terlalu malam kok," jawab Camelia.
"Lalu apa yang Mom dan Uncle lakukan?"tanya Liam, rasa penasaran begitu menggelitik hatinya.
Lucas yang sudah sadar dan nyambung dengan percakapan Camelia dan Liam, menganggukinya tanda ia juga ingin tahu.
"Kalian akan tahu nanti. Lebih baik ayo bangkit dan mandi. Mom akan ke dapur dulu," ujar Camelia, memberikan titah. Sebelum Lucas dan Liam bertanya lebih jauh, Camelia sudah lebih dulu melangkah keluar kamar.
"Ah. Jawaban Mommy semakin membuatku penasaran," keluh Lucas.
"Tapi, Mommy sangat yakin dengan ucapannya. Pasti itu hal yang akan mengejutkan. Baiklah. Tidak masalah menunggu dan ku rasa itu akan setimpal," sahut Liam. Ia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
"Hold me, Liam!" Lucas mengejar langkah Liam.
Di luar kamar, Camelia mengernyit mendapati secarik kertas di bawah vas bunga. Jangan penasaran Camelia mengambil dan membaca kertas tersebut.
From: Dion Shane
Kakak … aku ada meeting mendadak pagi ini. Maaf tidak berpamitan secara langsung. Masalah tadi malam, aku pastikan itu akan selesai dan Kakak tinggal menunggu beritanya keluar. Sampaikan ucapan maafku pada Lucas, Liam, dan Kak Abi. Aku menyayangi kalian.
Okay. Hati-hati di sana. Fighting, Dion!
Setelahnya Camelia menuju dapur. Nasi goreng akan menjadi menu sarapan mereka pagi ini. Camelia mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari dalam kulkas, dari bumbu hingga sayuran dan bahan pelengkap lainnya. Sementara beras tengah dimasak menjadi nasi, Camelia mempersiapkan semua bumbu, memotong sayuran dan juga lalu kemudian dicuci.
Di lain sisi, mendengar suara berisik Camelia yang tengah memasak, Kak Abi terbangun. Ia membuka matanya dan langsung duduk. Dari matanya, jelas ia masih mengantuk. Akan tetapi, perut tidak bisa diajak kompromi. Kak Abi bangkit, keluar dari kamar.
Kak Abi ke dapur untuk mengambil air minum. "Tidurmu nyenyak, Kak?"tanya Camelia.
"Nyenyak sekali," jawab Kak Abi setelah minum.
"Nasi goreng?"
"Ya," jawab Camelia.
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Akan segera selesai. Lebih baik kakak segera mandi dan bersiap," jawab Camelia.
"Okay." Kak Abi meninggalkan dapur. Ya saat di luar jam kerja memang begini.
Tak sampai 5 menit nasi goreng buatan Camelia telah matang dan siap dihidangkan. Camelia mengambil 4 piring dan mengisinya sesuai porsi. Setelah meletakkan keempat piring itu di meja makan, Camelia menuju kamar Kak Abi.
"Kak," panggil Camelia dengan mengetuk pintu kamar Kak Abi.
"Ya?"
"Jika kakak sudah selesai nanti tolong buatkan susu dan teh, ya," ucap Camelia.
__ADS_1
"Okay," jawab Kak Abi.
"Okay." Camelia kemudian menuju kamarnya. Lucas dan Liam telah selesai mandi dan kini sedang merapikan penampilan mereka. Camelia langsung masuk kamar mandi dan bersiap pergi untuk pengambilan gambar.
20 menit kemudian, Camelia keluar dari kamar dengan menggunakan celana panjang warna putih senada dengan kemeja yang digunakan. Rambutnya dikuncir kuda, dan tak lupa tas bermerek yang biasa ia gunakan. Memakaikan alas kaki dengan hak yang tidak terlalu tinggi.
Di meja makan sudah menunggu Lucas, Liam, dan Kak Abi. Dua gelas susu dan dua cangkir teh telah terhidang menemani menu nasi goreng yang telah dihidangkan lebih dahulu.
"Mom, mengapa hanya 4 piring? Uncle Dion kemana?"tanya Lucas. Bertanya pada Camelia Lucas dan Liam telah memeriksa kamar Dion dan tidak mendapati Paman mereka itu di dalamnya.
"Oh Uncle Dion sudah kembali ke Shanghai tadi pagi. Dia minta maaf karena bermain secara langsung. Katanya ada meeting mendadak," jelas Camelia yang dibalas anggukan oleh Lucas dan Liam. Camelia mengambil tempat. Mereka mulai sarapan.
*
*
*
Camelia mengemudi dengan kecepatan sedang menuju Phoenix teknologi di mana pemotretan akan dilangsungkan. Dijadwalkan pemotretan 09.00, masih ada waktu setengah jam sebelum itu tiba.
"Seharusnya sudah diberitakan, bukan?"gumam Camelia dengan tersenyum miring.
"Rose, apa yang kau pikirkan setelah mendengarnya?"gumam Camelia. Kini menarik senyum smirk.
"Hari ini dia. Besok, mungkin saja dirimu. Kau bisa lepas sekali, atau dua kali, namun yang ketiga kau akan terjerat selamanya. Nikmati harimu, okay!"
*
*
*
Menggemparkan! Hal mengejutkan kembali mengguncang dunia entertainment. Kali ini bukan berasal dari aktor ataupun aktrisnya melainkan dari sutradaranya.
Pagi tadi media dikejutkan dan dibuat sibuk memburu berita tentang Tuan Jerry yang ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri dan penampilan yang memalukan. Ia hanya memakai celana pendeknya, sama seperti saat kasih oleh Camelia dan Dion. Memar yang sudah menbiru terlihat jelas di sekujur tubuhnya. Saat bangun, Tuan Jerry akan merasakan sakit yang luar biasa. Atau mungkin rasa takutnya akan lebih besar dari rasa sakitnya. Dan lokasi ia berada adalah di pinggir jalan.
Saat sadar, Tuan Jerry berada di sebuah rumah sakit. Di sana ada polisi. Polisi datang karena menduga apa yang menimpa Tuan Jerry merupakan kasus kriminal.
Namun, alih-alih melaporkan apa yang terjadi padanya Tuan Jerry malah memohon agar dirinya dipenjara serta mengakui semua perbuatan buruknya selama ini. Bahkan saat polisi mengatakan akan menyelidikinya lebih dulu, Tuan Jerry menolak karena pengakuannya adalah bukti yang sangat kuat.
Jika polisi akan menyelidikinya, Tuan Jerry meminta polisi agar memasukkan ke dalam sel. Ia bahkan memberitahu siapa saja yang menjadi korban dirinya. Tentu saja yang benar-benar korban, bukan sukarela.
Pelecehan seksual adalah kasus yang sangat berat. Setelah pengakuannya tersebar di media, Tuan Jerry langsung masuk ke dalam blacklist entertainment negeri tirai bambu itu.
Dan kasusnya langsung menjadi trending. Banyak makian, cacian, hinaan, dan umpatan yang ditujukan pada Tuan Jerry. Citranya seketika hancur.
Bagi sebagian kalangan tentu pengakuan
Tuan Jerry itu menimbulkan tanda tanya. Apa yang membuat Tuan Jerry mengakui semua perbuatannya? Lebih-lebih iya ditemukan dalam kondisi yang tidak bagus.
Berbagai spekulasi bermunculan. Ini perbuatan salah satu korban untuk balas dendam? Karena Tuan Jerry tidak menceritakan apa yang terjadi padanya. Ia malah tampak sangat ketakutan dan begitu cemas. Tuan Jerry juga menolak untuk dilakukan penyelidikan atas apa yang menimpa dirinya.
Entah hal dan ancaman apa yang di gunakan oleh Camelia dan Dion sehingga Tuan Jerry bisa begitu ketakutan.
Di sisi lainnya, Rose terkejut saat melihat berita tersebut. Hal yang sama terjadi pada Jordan. Keduanya terkejut dan takut.
Dia sudah kembali membalas. Apakah selanjutnya aku?batin keduanya dengan wajah pucat.
__ADS_1