Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 66


__ADS_3

Teratai berwarna merah muda bermekaran di kolam yang airnya sangat jernih hingga menampakan apa ada yang di dalamnya. Ikan koi, aneka corak dan ukuran berenang bebas, melenggok dengan begitu cantiknya. 


Sebuah pendopo, di bangun di samping kolam. Dibuat supaya bisa nyaman menikmati pemandangan indah itu. Ditambah lagi dengan sekitar yang hijau. Pepohonan begitu rindang. Sepanjang pinggiran kolam  ditanami bunga plum. Belum mekar karena ini masihlah musim panas. Bunga cantik itu biasanya akan mekar pada akhir musim dingin dan di awal musim semi. 


Suasana di sini begitu teduh karena teriknya sang surya terhalang oleh pepohonan. Cocok sekali untuk tetap melepas penat setelah beraktivitas dan menghabiskan waktu luang. Melihat dan memberi makan ikan koi, menjadi kesenangan tersendiri. 


Di sanalah, Nenek Jiang mengajak Crystal. Duduk di kursi dengan meja berbentuk bundar. Ada enam kursi. Kursinya terbuat dari kayu yang dibentuk persegi. 


Crystal begitu ceria. Ia menunjuk-nunjuk ikan koi yang sedang makan. "Kau begitu senang, Crystal. Apa di istana ayahmu tidak ada seperti ini?"tanya Nenek Jiang. 


Crystal menggeleng. Sesaat wajahnya murung. "Tapi, di istana ada air mancur, cantik sekali. Tidak hanya itu, di sana memang tidak ada ikan ini tapi ayah punya akuarium besar. Isinya lebih beragam."


"Ah?" Sesaat tadi murung. Namun, sesaat kemudian kembali antusias dan mengatakan apa yang ada di istana Andrean dengan begitu semangat. Ditambah dengan gerakan tubuhnya, Nenek Jiang tertawa dibuatnya. 


Menggemaskan sekali!


"Jadi, mana yang lebih baik? Kediaman lama atau istana ayahmu, Crystal?"tanya Nenek Jiang lagi. 


"Asalkan ada ayah, maka tempat itu adalah tempat terbaik." Jawaban yang tidak disangka oleh Nenek Jiang. Sesayang, sedalam, dan seberarti itu Andrean bagi Crystal. 


"Bagaimana dengan ibu?" Menyinggung soal ibu, benar-benar membuat Crystal murung. 


"Crystal tidak membenci ibu. Crystal ingin bersama dengan ibu juga dengan ayah. Tapi, sepertinya itu tidak akan terjadi." 


Bukannya tidak tahu apa yang terjadi. Crystal hanya tidak ingin memikirkannya. Tanpa Rose dia juga tidak kekurangan kasih sayang. Kendati demikian, kasih sayang seorang ibu tidak akan bisa tergantikan. Dan Crystal memilih untuk tidak mengharapkan. Ya meskipun hatinya terkadang sulit untuk menerimanya. 


Jika Lucas dan Liam dewasa karena keinginan mereka. Maka, Crystal dewasa karena situasi. 


Terkadang, lahir dengan sendok emas tidak serta merta memiliki segalanya. Okey, materi terpenuhi. Namun, terkadang tidak dengan batin, kasih dan sayang, perhatian, hingga menyebabkan broken home. Orang tua yang sibuk bekerja. Terkadang seorang ibu yang lebih sibuk dengan urusannya di luar rumah, mengacuhkan anak yang dianggap sudah cukup diasuh oleh pelayan. 


Dan Crystal termasuk cukup beruntung. Meskipun bukan anak kandung Andrean, Andrean tetap mengakui, menyayanginya, perhatian di balik sikapnya. Crystal sangat bersyukur. 


"Cukup ayah saja. Crsytal tidak mengharapkan apapun," ucap Crystal dengan menyeka sudut matanya. 


"Kau pasti melalui hal yang berat." Nenek Gong memeluk Crystal. 


"Andai saja rumah kalian di Shanghai, Nenek pasti akan setiap hari berkunjung. Nenek sudah saat ingin memiliki cicit. Tapi, apa daya, Paman Allen mu tidak kunjung menikah!" Tiba-tiba saja berubah menjadi gerutuan. 


"Nenek saja yang ke istana," celetuk Crystal. 


"Hahaha, andai saja kesehatan nenek buyut ini mendukung, dengan senang hati, nenek tua ini akan ke sana, Crystal." Nenek Jiang mengusap lembut rambut Crystal. 


"Nenek sakit?"tanya Crystal polos. Nenek Jiang terlihat sehat. Ia bahkan masih sanggup berjalan cukup jauh. Nada bicaranya juga tidak serak seperti orang sakit. 


"Saat ini Nenek sehat, tidak tahu hari selanjutnya."


"Nenek harus menjaga kesehatan!"


"Tentu saja. Nenek masih harus melihat cucu nenek menikah. Nenek juga masih ingin melewati beberapa hari raya lagi."


"Nanti Crystal bilang sama ayah buat sering-sering ke sini," ujar Crystal. 


"Hahaha baiklah. Nenek percaya padamu." 


"Crystal."


"Ayah!" Crystal langsung berlari menghampiri Andrean.


"Jangan lari, Nona Gong!"tegur Andrean. Seketika, Crsytal berjalan biasa. 


"Ayah sudah selesai bicara dengan kakek buyut?"tanya Crystal saat sudah dalam gendongan Andrean. 


"Hm."


"Andrean, kau akan ke kediamanmu?"


"Iya, Nenek. Terima kasih telah menjaga anakku," jawab Andrean. Kemudian menundukkan kepalanya dan meninggalkan tempat. 


"Dadah, Nenek Buyut," ucap Crystal sembari melambaikan tangan pada Nenek Jiang. 


"Dadah," jawab Nenek Jiang dengan tersenyum. 


Punggung Andrean menjauh dan hilang dari pandangnya. 


"Ah, gara-gara cucu tidak akur, hubunganku dengan Andrean juga tidak begitu baik," gumam Nenek Jiang, menatap nanar kolam. 


*


*

__ADS_1


*


"Musuh mengenali lawan," gumam  Lina setelah mendengar cerita Camelia saat bertemu dengan Rose tadi. 


Mereka berdua kini tengah berada di restoran. Memesan menu pangsit dan beberapa menu lainnya. Camelia menceritakan apa yang terjadi hari ini pada Lina. Rina mendengarkan dengan cermat cerita Camelia. 


"Begitulah. Sebenarnya itu sudah lama. Dan dia bertekad untuk membuktikan bahwa aku benar-benar Jasmine."


"Hoho. Tidak semudah itu ferguso! Camelia ku ini begitu cerdas dan dia malah mengatakan keinginannya!" 


Camelia tersenyum mendengarnya. "Bukan aku yang cerdas, Kak. Dia saja yang kurang memanfaatkan akalnya," sahut Camelia. 


"Hahaha!" Tawa Lina pecah seketika. 


"Tapi, benar sih. Benar-benar deh! Sudah makan makanan enak dan bergizi, semua kebutuhan terpenuhi, malah suka sekali menjadi prahara. Kapan sih dia itu jera? Aku saja bosan mendengar berita-berita miring tentangnya," gerutu Lina. 


Camelia tertawa renyah. Memasukkan pangsit ke dalam mulutnya. Mengunyah pelan.


"Ah ya benar. Kak, aku butuh bantuanmu," ujar Camelia setelah menelan kuyahannya. 


"Apa itu?"


"Apa kau kenal dengan Tuan Jerry? Sutradara yang hampir menjadikan Jordan sebagai peran utamanya namun dengan mengorbankanku?" Kegeraman terlihat jelas. 


"Mengapa tiba-tiba membahas hal itu?" Lina merasa aneh. Camelia sedikit menyeringai.


"Aku ingin menemuinya," jawab Camelia.


"Untuk?" Seringai Camelia semakin lebar. Hal itu membuat Lina bergidik. 


"Balas dendam?"tanya Lina dengan sedikit gugup. Dibalas anggukan Camelia. 


"Selain bukti cetak aku juga harus memiliki bukti lisan dan hidup. Aku harus membersihkan namaku sebelum aku dan kakak ke Kanada!"


Dari reaksi Lina, jelas Lina mengenal Tuan Jerry. "Dia masih sama. Tidak berubah sama sekali. Sutradara hidung belang!"maki Lina.


"Hm? Aku banyak melakukan peran sebagai pembasmi pria brengs*k," sahut Camelia dengan santainya. 


"Ah, maafkan aku." 


"Sepengetahuanku sejauh ini, dia sering berada di bar. Tapi, tunggu sebentar. Aku sedikit lupa nama barnya."


Lina menyentuh pelipisnya mengingat-ingat. "Ah ya! Hello Bar!"seru Kak Lina. 


"Hm? Kalau begitu bentuk harus menemukan panti asuhan sebelum kau diadopsi, bukan?"


"Benar. Oleh karenanya aku melakukan pendekatan dengan Ibu. Kakak bisa dikatakan dekat dengan Ibu. Aku bisa minta bantuanmu, Kak? Untuk mencoba menggali tentang asal-usulku?"


Besok Camelia kembali ada pemotretan. Dan besoknya lagi adalah acara live di televisi, mempromosikan game tersebut. Sekaligus juga siaran langsung pertandingan antara dirinya melawan beberapa pemain pilihan sebagai bukti bahwa ia benar-benar pantas menjadi brand ambassador Phoenix Teknologi. Tidak hanya mengandalkan rupa tapi memang memiliki skill.  


"Aku akan melakukan yang terbaik." 


*


*


*


Kakak Gong diam menatap lukisan empat musim di dinding perpustakaan. Musim gugur, dingin, semi, dan musim panas, dilukis dengan begitu apiknya. 


"Bagaimana jika kecurigaannya terbukti? Apa aku harus menerimanya?"gumam Kakek Gong. 


"Jika benar kedua anak itu darah daging Rean, sulit untuk mengambil hak asuhnya. Bagaimana ini? Keluarga Shane juga tidak akan melepaskannya kedua anak itu!"


Dilema melanda Kakek Gong. Andrean telah memberitahu siapa yang ia curigai sebagai wanitanya yakni Camelia.


"Situasinya sangat sulit. Dia pernah menikah dan kehidupannya bahagia. Anak-anak itu pasti mengenal dan mengakui ayah mereka adalah pria itu. Oh God! Mengapa begitu rumit?"


Kakek Gong memijat pelipisnya. "Mengejar? Rean, kau tertarik padanya? Atau hanya ingin membuktikannya?"


"Tidak!" Tatapan Kakek Gong berubah menjadi tajam. 


"Jika mereka anak Rean, maka harus kembali ke keluarga Gong!! Kalau ibunya, terserah!!"


Itu sudah seperti sebuah restu. "Aku harus membantu Rean menyelidikinya!"gumam Kakek Gong kemudian. 


Bertekad, "cucu menantu sepertinya juga tidak buruk."


*

__ADS_1


*


*


Bukti dan saksi yang dihadirkan tidak konkret. Saksi yang dihadirkan sebelum sidang tertangkap mengonsumsi obat-obatan terlarang.  Dan ada pernyataan saksi yang tidak sesuai dengan tuntutan. 


Maka dengan itu, Jordan dibebaskan. Tuntutannya dicabut. 


Hah!


Jordan bernafas lega saat keluar dari kantor polisi. Akhirnya ia keluar dari jeruji besi itu setelah menginap beberapa hari. 


"Silahkan, Tuan Jordan," ucap pengacara Jordan, mempersilahkan Jordan masuk ke dalam mobil. 


"Terima kasih, Pak," balas Jordan dengan tersenyum. Suasana hatinya begitu bagus. 


"Aku merindukan ranjangku," gumam Jordan, memejamkan matanya. 


"Anda diberi waktu istirahat selama satu minggu, Tuan Jordan. Setelahnya Anda bisa beraktivitas seperti biasanya," ujar Pengacara Jordan, pengacara yang diturunkan oleh perusahan, Peach Entertainment. 


"Aku mengerti."


"Selama aku di dalam, hal apa saja yang terjadi?"tanya Jordan, membuka matanya, bertanya pada managernya.  


Menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung yang berdiri tegak nan megah di pinggir jalan. 


"Tidak banyak yang terjadi. Namun, begitu menggemparkan," ucap pengacaranya. 


"Hm?"


"Presdir Gong putus dengan Nona Rose. Dan Nona Rose juga sudah bebas dari tuntutan namun dia diskor selama satu bulan."


Jordan langsung menatap managernya. "Mereka putus? Penyebabnya? Bagaimana dengan anak?"


"Silahkan Anda baca," jawab managernya dengan menyodorkan tablet yang menampilkan berita tentang putusnya Rose dan Andrean. 


"Beda pandangan?" Sedikit mendengus. Tidak percaya dengan alasan tersebut. 


"Mengenai anak, tentu saja jatuh ke Presdir Gong." Jordan tersenyum pahit. 


Anakku jatuh ke tangan orang lain. Anakku, darah dagingku. Tapi, aku tidak bisa menyentuh apalagi memeluknya. Aku bahkan tidak berani mengakui kalau aku adalah ayah kandungnya. Maaf, Crystal. Maafkan aku yang pengecut ini.


Jordan berharap, Andrean menjaga dan merawat Crystal dengan baik. Menyayangi dengan sepenuh hati. 


"Lalu?"


"Anda kenal dengan Nona Camelia?"tanya sang managernya. 


"Ya, ada apa dengannya?"


"Ya mungkin ini tidak terlalu penting. Namun, saya rasa tidak ada salahnya Anda mengetahuinya. Nona Camelia menjadi brand ambassador Pheonix Teknologi."


"Perusahaan game?" Managernya mengangguk. 


"Kemudian?"


"Nona Lina resmi mengakhiri kontrak dengan Peach Entertainment."


"Sudah berakhir?"


"Benar, Jordan."


"Ternyata banyak hal yang terjadi. Padahal aku cuma beberapa hari di dalam sana," gumam Jordan. 


"Aku sudah membuat jadwalmu. Minggu depan kau akan menghadiri acara amal untuk kembali menaikan dan memulihkan nama baikmu," ucap manager. Jordan mengangguk singkat. 


*


*


*


"Ini tempat tinggalnya?"tanya Allen sembari menatap bangunan tinggi dan marah dari dalam mobil. 


"Benar sekali, Tuan. Di lantai tertinggi sanalah dia tinggal," jawab Lie. 


"Luar biasa," decak Allen. 


"Dia sudah kembali," ujar Lie saat melihat sebuah sedan hitam masuk memasuki gerbang kawasan apartemen. 

__ADS_1


"Tuan ingin menyapanya?"


"Ya," jawab Allen. 


__ADS_2