
Dan begitulah Camelia menjalani kegiatan artisnya dengan jadwal yang telah diatur oleh Kak Abi. Jadwal pertama yang dilakukan adalah pemotretan untuk apartemen Amare. Yups, apartemen yang berdiri di bawah naungan Shane Group.
Agenda pemotretan itu berlangsung dengan lancar tanpa kendala apapun. Jadwal berikutnya adalah latihan untuk rekaman dan dilanjutkan dengan pemotretan brand busana.
Setelah kedua pemotretan itu selesai, Camelia akan berangkat ke Milan. Dia akan di sana selama dua hari. Setelah kembali baru akan membuat MV serta rekaman yang sesungguhnya.
Satu hari sebelum keberangkatan Camelia ke Milan, Camelia mengunjungi butik desainer kepercayaan keluarga Shane untuk mengecek perkembangan gaunnya.
Gaun pengantinnya hampir selesai. Begitu juga dengan gaun yang akan digunakan pada saat resepsi. Gaun yang digunakan untuk prosesi pemberkatan, berwarna putih dan bagian bawahnya mengembang seperti gaun putri Disney.
Di gaun pengantin tersebut menggunakan payet berbentuk bunga camelia. Itu spesial request dari Andrean.
Sementara untuk gaun resepsi mengusung tema gaun Putri Disney. Ada dua gaun resepsi, satu berwarna biru, merujuk pada gaun Elsa, dan satu lagi berwarna kuning merujuk pada gaun Belle.
Dan keesokan harinya, Camelia terbang ke Milan bersama dengan Evelin.
Sementara Camelia mengikuti pergelaran selama 2 hari di Milan, Lucas dan Liam menyelesaikan job yang mereka ambil. Ah, tidak hanya Lucas yang mengambil peran.
Kak Abi tidak ikut karena harus menemani Liam syuting.
Dua hari itu terasa begitu cepat. Dan Camelia sudah kembali lagi ke Ottawa. Beristirahat selama 1 hari dan esoknya langsung kembali aktif untuk pembuatan MV dan juga rekaman.
Memang dikejar waktu, karena tanggal pernikahannya kurang dari dua minggu lagi. Rencananya pembuatan MV ini akan susah dalam satu minggu dan 3 hari untuk rekamannya. Mengapa lama sekali? Karena MV tidak dibuat di kota ini namun di luar kota.
Selama 10 hari Camelia dan tim benar-benar mengejar waktu. Camelia bekerja keras untuk menyelesaikan proyek itu sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.
Tiga hari sebelum hari pernikahannya, Tuan dan Nyonya Liang sudah datang ke Ottawa. Mereka menginap di kediaman Shane.
Saat mereka tiba di kediaman Shane, Camelia belum pulang. Begitu juga dengan Lucas dan Liam.
"Anak itu … apakah ia tidak sadar pernikahannya tinggal menghitung hari? Bukannya istirahat atau perawatan dia malah masih bekerja?"heran Nyonya Liang. Menggelang tidak paham setelah tahu di mana Camelia sekarang.
Nyonya Shane terkekeh pelan. Wanita seusianya itu belum tahu bahwa Camelia pernah lebih dari ini dan bagi Camelia ataupun keluarga Shane, itu sudah biasa. Keluarga ini terkenal dengan keluarga yang sangat ambisius.
"Tenanglah, Nyonya Liang. Mungkin saja hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di dunia entertainment Kanada. Setelah menikah ia akan ikut dengan Andrean ke China dan akan lebih dekat dengan kalian," ujar Nyonya Shane, tenang.
"Apakah Lia selalu seperti ini?"tanya Nyonya Liang.
"Hm … bulan ini ia sangat sibuk. Bulan lalu syuting di Swiss, ya dia termasuk sibuk. Namun, aku malah kagum padanya yang dapat membagi waktu," tutur Nyonya Shane.
Nyonya Liang menghela nafas kasar. Putrinya itu benar-benar pekerja keras.
"Nah, itu mereka sudah pulang," seru Nyonya Shane, saat melihat Camelia, Lucas, dan Liam memasuki ruang keluarga.
"Lia, lihat siapa yang sudah datang," ujar Nyonya Shane.
"Ibu?!" Camelia terhenyak. Nyonya Liang langsung berdiri dan merentangkan tangannya.
Camelia langsung berlari dalam pelukan Nyonya Liang. Mata Camelia sembab. Ya sangat merindukan ibunya ini. Dan jangan ditanya lagi bagaimana dengan Nyonya Liang. Nyonya Liang memeluk erat Camelia, air matanya jatuh dan tak hentinya mencium pucuk kepala Camelia. Terakhir mereka bertemu adalah tahun lalu pada saat Camelia menyusul Dion ke Xian, kemudian keluarga Shane menyusul dan menyebabkan pertemuan kedua keluarga yang tidak direncanakan sebelumnya.
"Bagaimana kabarmu, Ibu?"tanya Camelia, menatap Nyonya Liang penuh arti dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Ibu sangat baik, Lia. Bagaimana denganmu? Kau pasti sangat lelah setelah bekerja keras. Ibu akan membuatmu rileks, ayo duduklah. Ibu akan memijatmu," ucap Nyonya Liang, membawa Camelia agar duduk di sofa.
"Hanya pada Mom?" Lucas dan Liam saling tatap, kemudian mengedikkan bahu.
Lucas dan Liam kemudian duduk di samping Nyonya Shane. "Boleh aku minta air hangat?"tanya Nyonya Liang.
Nyonya Shane menyuruh salah seorang untuk membawakan air hangat.
"Ibu, tidak perlu repot-repot," tolak Camelia. Ia merasa tidak enak.
"Repot apanya? Jarang-jarang Ibu melakukan ini!"tegas Nyonya Liang.
__ADS_1
"Ibumu benar, Lia," timpal suara yang familiar bagi Camelia, suara Tuan Liang.
"Ayah."
"Duduklah. Kau pasti sangat lelah," ujar Tuan Liang. Ia datang bersama dengan Tuan Shane, baru saja selesai berbincang di luar.
"Nikmatilah kasih sayang ibumu."
"Ayahmu benar. Lagipula ini hanyalah pijatan ringan."
"Ah … baiklah." Camelia pasrah.
"Lucas, Liam, bagaimana kabar kalian? Kalian terlihat lebih tinggi daripada saat terakhir bertemu," sapa Tuan Liang pada kedua cucunya itu.
"Kabar kami baik, Kakek," jawab Lucas.
"Dan tentu saja, karena tinggi kami memang berbeda dan akan terus bertambah. Aku akan jadi anak laki-laki tinggi! Setinggi Daddy, tidak lebih tinggi lagi dari itu!"ucap Liam dengan semangat.
"Hoho, ayo kita lihat, apakah kau bisa setinggi itu," sahut Tuan Liang.
"Tentu saja," Jawa Liam percaya dirinya.
"Iya, Kakek. Tumbuhnya ke samping," celetuk Lucas.
"Apa katamu?"
"Tumbuh ke samping alias pendek."
"Kau saja yang tumbuh ke samping!"
"Enak saja, model kok tumbuh tinggi ke samping," ketus Lucas.
"Jadi Presdir itu juga harus punya tubuh tinggi, biar bebas mengintimidasi!"sahut Liam tidak mau kalah.
"Ah? Rupanya berbeda ya?"
"Ya, begitulah. Pemikiran mereka lebih dewasa daripada usianya. Jadi, jangan terkejut jika mereka berbicara seperti itu." Tuan Liang mengangguk mengerti.
Lucas dan Liam masih meneruskan perdebatan mereka. Bahkan setelah Camelia menyuruh mereka untuk membersihkan diri, masih terdengar suara mereka berdebat.
"Kediaman akan terasa sepi jika mereka tidak berulah," ucap Nyonya Shane, memberitahu.
"Dan sebentar lagi kediaman ini akan kehilangan satu anggota penting," lanjut Nyonya Shane, menatap Camelia.
Camelia langsung membuka matanya. Sorot matanya sendu pada Nyonya Shane. "Jangan seperti itu, Mom. Kediaman ini tidak akan kehilangan anggota keluarga. Aku tetaplah Putri kalian. Aku janji akan sering-sering mengunjungi kalian."
"Baiklah kalau begitu. Kau sendiri yang mengatakannya ya, Lia," sahut Nyonya Shane.
Nyonya Liang masih memijat bahu Camelia. Dan perasaan Camelia jauh lebih baik. Rasa penatnya cukup terobati.
"Tiga hari lagi adalah pernikahanmu, besok kau harus istirahat dan perawatan, Lia," ujar Nyonya Liang.
"Aku sudah menjadwalkannya, Bu," jawab Camelia.
Ya, tentu saja Camelia sudah punya persiapan untuk itu. Gaun pernikahan dan gaun resepsi juga sudah selesai dan sudah dikirim ke kediaman Shane.
Ballroom tempat acara resepsi diadakan juga telah selesai dekorasi. Persiapan sudah 99% dan tinggal menjalankannya untuk melengkapi 100%.
*
*
*
__ADS_1
Dua hari sebelum hari pernikahannya, Andrean sudah tiba di Ottawa. Namun, ia tidak menginap di kediaman Shane. Melainkan melakukan reservasi salah satu hotel, menyewa cukup banyak kamar. Karena yang ikut dengannya bukan hanya Kakek Gong dan beberapa anggota keluarga Gong lainnya. Hans beserta Silvia dan juga Lie ikut dalam rombongan. Belum lagi kepala pelayan istana Andrean dan juga pengasuh Crystal. Tentu saja, mereka harus ikut, untuk menyaksikan momen sakral seumur hidup Andrean.
Sementara Andrean istirahat, Camelia melakukan perawatan di salon langganannya. Untuk melakukan perawatan itu Camelia ditemani oleh Lina. Yups, gantian. Jika kemarin Camelia mendampingi Lina mempersiapkan diri pernikahan, maka kali ini Lina yang menemani Camelia perawatan. Lina juga akan menginap di kediaman Shane, menemani Camelia sampai hari H pernikahan.
Why? Karena setelah menikah Camelia akan diboyong ke China. Artinya jarak kedua sahabat itu akan semakin jauh. Dan waktu mereka untuk bertemu juga semakin sulit. Karena sudah beda negara lagi beda benua.
"Lia, aku ada satu permintaan. Apakah kau mau mengabulkannya?"
"Apa itu?"tanya Camelia.
"Jadilah ibu baptis untuk anakku," ucap Lina sungguh-sungguh.
Camelia terdiam. Terkejut dengan permintaan Lina. "Menjadi Ibu Baptis anakmu?"
"Kau adalah sahabatku. Kau adalah saudaraku dan orang yang sangat penting bagiku. Aku berharap kau mau menerima permintaanku ini. Bagaimana, Lia?"tanya Lina penuh harap.
"Kau serius, Kak?"
Lina mengangguk. "Dua serius!"
"Kau mau, kan?"
Camelia menggeleng pelan. "Tentu saja aku mau!" Camelia lalu mengusap lembut perut Lina.
"Semoga kau lahir dengan sehat dan selamat. Kami menunggu kehadiranmu," bisik Camelia pada bayi dalam kandungan Lina.
*
*
*
"Lia!"
"Sayang!"
Andrean dan Camelia bertemu di sungai Ottawa. Lebih tepatnya di Parliament Hill.
"Aku sangat merindukanmu," ucap Andrean. Sejak Andrean mendarat, ini adalah pertemuan pertama mereka di mana besok sudah menjadi hari -H pernikahan.
"Aku juga." Dan ya, adegan yang tidak boleh terlupa saat menyuarakan kerinduan, ciuman.
Hari sudah malam. Camelia memang mencuri waktu untuk bertemu dengan Andrean.
"Besok kita akan melakukan prosesi pemberkatan. Bagaimana perasaanmu, Sayang?"tanya Camelia.
"Aku sangat menantikannya, bagaimana denganmu, Lia?"tanya balik Andrean.
"Sama sepertimu, Sayang."
"Aku sangat menantikan saat di mana aku menjawab bersedia menjadi istrimu. Aku sangat menantikan di mana besok kau akan mengulurkan tanganmu padaku untuk naik ke altar. Hari di mana kau akan menjawab bersedia menjadikanku sebagai istrimu," papar Camelia.
"Aku juga sangat menantikan hari esok. Aku tak sabar melihatmu dalam balutan gaun pengantin. Aku tak sabar melihatmu berjalan ke arahku. Dan aku sangat tidak sabar untuk mengulurkan tanganku padamu. Aku sangat menantikan hari esok, Lia."
Andrean dan Camelia saling tatap, keduanya penuh dengan kebahagiaan.
"Nona, kita harus kembali," ucap pengawal Camelia.
"Ah, baiklah." Hampir saja ia lupa waktu.
Andrean melepas genggaman tangannya pada Camelia dengan tidak rela. "Bersabarlah, setelah ini kita akan selalu bersama. Sampai jumpa besok, Sayang."
"Sampai jumpa besok, Istriku."
__ADS_1