Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 91


__ADS_3

Keesokan paginya, persidangan Rose dan Jordan digelar. Yang pertama kami disidang adalah Jordan.


Ruang sidang penuh dengan peserta sidang juga wartawan. Jordan duduk di depan hakim, mengisyaratkan bahwa statusnya bukan terdakwa melainkan tersangka karena bukti yang diberikan semua konkrit. Belum lagi saksi hidup yang dihadirkan yakni Tuan Jerry yang mana pria gendut itu turut andil dalam kejadian lima tahun silam. Pengacara yang membela Jordan pun tidak bisa berbuat banyak karena peluang untuk menang sangatlah kecil. Ia hanya bisa membantu untuk meringankan hukuman Jordan.


Tuntutan demi tuntutan disampaikan, begitu juga dengan jaksa penuntut umum yang memaparkan bukti. Hakim bertanya pada Jordan, apakah ia mengakui semua tuntutan yang dilayangkan padanya?


Pecahnya kasus Jordan membuat publik gempar, terkejut dan kecewa dengan image yang Jordan tampilkan. Dulu, ia dipuja. Namun, sekarang dicibir dan dicaci. Roda memang berputar. Apalagi setelah Jordan mengakui semua tuntutan itu. Alhasil, denda atas penggelapan pajak dan penjara atas tuntutan lainnya sudah di depan mata.


Denda sebesar 92 juta Yuan. Itu sekitar 200 juta rupiah. Selain itu, Jordan juga dijatuhkan hukuman penjara selama 7 tahun 8 bulan atas perbuatannya mencelakai Jasmine Liang yang merusak reputasi dan kerugian bagi Jasmine Liang.


Setelah diumumkan putusannya, hakim mengetuk palu tidak kali yang artinya keputusan telah final dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Namun, sebelumnya hakim mengatakan bahwa Jordan berhak mengajukan banding untuk hukumannya.


Selama persidangan, Jordan banyak diam dan hanya menjawab seperlunya. Rasa bersalah dan malu meliputi hatinya. Saat wartawan meminta pendapatnya ataupun perasaannya, Jordan sama sekali tidak menjawab. Oleh pengadilan dan polisi, Jordan langsung dibawa ke penjaga, di mana Jordan akan menghabiskan waktu 7 tahun 6 bulan di dalamnya.


Satu jam setelah persidangan Jordan selesai, persidangan Rose dilaksanakan.


Kali ini, penonton dan wartawan lebih banyak lagi. Rose berjalan kaku menuju ruang sidang. Ia duduk dengan wajah tertunduk, tidak berani mengangkat wajah saat satu persatu tuntutan kepadanya di dibacakan.


"Karena kecemburuan kepada saudara Anda, Jasmine Liang, terdakwa Rose Liang melakukan kejahatan dengan membayar orang untuk melecehkan Jasmine Liang hingga berakibat menyebabkan kerugian materi dan batin pada korban. Apakah terdakwa mengakui kejahatan tersebut?!"


Hakim membacakan tuntutan dan menanti jawaban Rose. Mendengar itu, Rose mendongak. Wajahnya terlihat muram. Agaknya ia tidak terima dengan tuntutan itu?


"Ya! Aku mengakuinya!"jawab Rose lantang.


Seketika ruang sidang menjadi hening. Biasanya, pelaku kejahatan menjawab dengan suara pelan dan lirih, ataupun hanya anggukan. Namun, Rose menjawab dengan lantang dan sorot mata yang penuh emosi.


"Aku melakukan karena dia pantas untuk hal itu! Atas dasar apa, dia yang anak angkat memiliki semua yang harusnya menjadi milikku? Bahkan dia mendapatkan semua yang aku inginkan? Ayah, ibu, pacar, karier? Atas dasar apa manusia yang tidak tahu asal usulnya itu mendapatkan semua itu?!"tanya Rose lantang dan menggebu.


Pengadilan senyap. Semua tertegun dengan apa yang Rose katakan. Atas dasar apa? Bukankah itu sudah takdir dan Rose yang tidak dapat menerimanya?


Mengapa menyalahkan orang lain padahal Rose sendiri yang memiliki penyakit hati?!


PLAKKK!!


Ruang sidang itu kembali riuh saat mendengar suara tamparan keras. Seorang wanita menatap marah Rose. Dadanya terlihat naik turun, emosi yang begitu tinggi.


Rose memegang pipinya yang terasa sangat panas. Kemudian melihat siapa yang menamparnya. "I-Ibu?"


"Jangan salahkan putriku dengan mulut kotormu itu! Kaulah yang tidak tahu diri!! Kaulah yang penuh dengan iri dan dengki. Kaulah yang menciptakan masalah untukmu sendiri!!" Nyonya Liang dengan lantang menghardik Rose.


Amarahnya menggebu. Bukannya menyesali perbuatannya, Rose malah menyalakan Camelia atas tindakan yang ia lakukan.

__ADS_1


Ruang sidang gaduh seketika. Banyak peserta sidang yang menyoraki Rose dengan berbagai cacian dan umpatan. Hakim mengetuk palu untuk mengkondisikan ruang sidang.


"Nyonya, tolong kembali ke tempat Anda," pinta hakim pada Nyonya Liang.


"Sekali lagi kau berkata buruk tentang putriku, aku tak segan membungkammu!!"ucap Nyonya Liang dengan menunjuk Rose.


"I-ibu? Kau membelanya?!"


"Iya! Aku membela putriku! Mau apa kau, hah?!"


"Nyonya, tolong kembali ke tempat Anda atau Anda akan mendapat sanksi!!"tegas Hakim sekali lagi sambil memukul palu.


Nyonya Liang baru menggubrisnya. Ia mengedarkan pandang. Wartawan sibuk mengambil gambar. Baru menyadari apa yang ia lakukan mengganggu persidangan.


Nyonya Liang kemudian membungkuk, "saya minta maaf." Lalu beralih keluar dan meninggalkan ruang sidang. Awalnya, Nyonya Liang hanya ingin mengikuti persidangan Rose dan mendengar putusan hakim akan nasib Rose. Akan tetapi, jawaban Rose tadi memantik emosinya.


"Persidangan akan dilanjutkan! Harap kondusif!"


Sepanjang persidangan, Rose sama sekali tidak tenang. Ibunya terlihat sangat membencinya. Belum lagi tatapan sinis publik. Jika tadi Rose menjawab dengan lantang, maka tuntutan selanjutnya dijawab dengan anggukan.


"Terdakwa silahkan berdiri untuk berdiri untuk mendengar putusan hakim!"


Rose hanya bisa membulatkan matanya. 100 juta Yuan dan hukuman penjara 15 tahun?! Rose bergetar.


"T-tidak!" Rose bergumam pelan tak lama ia jatuh tak sadarkan diri. Kecuali petugas pengadilan, yang lain hanya menonton dan ada beberapa yang masih mencibir.


Begitulah, persidangan Rose dan Andrean selesai. Sejoli itu sama-sama dijatuhi hukuman penjara dan denda.


*


*


*


"Tuan, pengadilan sudah mengeluarkan putusan." Hans masuk ke ruangan Andrean, melaporkan hasil sidang yang sudah dipublikasikan kepada Andrean.


Gegas, Andrean meraih tablet yang Hans sodorkan. Matanya dengan cepat membahas berita itu.


"Mereka pantas mendapatkanya!"tandas Andrean, mengembalikan tablet pada Hans.


"Pengacara yang kita kirim akan mengurus pembayaran denda dari aset-aset Nona Rose. Dan kita juga sudah memutuskan kontrak dengannya. Penalti atas pembayaran kontrak akan dikirimkan sebagai tambahan pembayaran denda," ucap Hans.

__ADS_1


Andrean mengangguk singkat.


"Selesaikan urusan dengannya. Aku tidak mau di kemudian hari berurusan dengannya, dalam hal apapun!"titah Andrean dengan penuh penekanan.


"Lalu, Tuan apa rencana Anda selanjutnya? Setelah putus dengan Nona Rose, keluarga Anda dan tetua menuntut Anda untuk segera menikah, mengingat Anda belum memberikan cucu atau keturunan laki-laki untuk melanjutkan silsilah keluarga," tanya Hans, secara Andrean adalah cucu utama. Keturunan laki-laki darinya lebih dituntut. Meskipun sudah ada Crystal, kakek Gong yang sudah tahu jelas tidak bisa menerima anak yang bukan darah daging Andrean sebagai calon pewaris.


"Siapa yang mengatakan aku belum punya anak laki-laki? Apa kau melupakan hal penting itu, Hans?" Bertanya dengan nada dingin.


Hans mengernyit. Hal penting? "Apa maksud Anda … Lucas dan Liam?"tanya Hans memastikan.


"Siapa lagi memangnya? Sepertinya ingatanmu semakin buruk," cibir Andrean. Hans tersenyum simpul.


"Secara biologis, Anda memang ayah mereka. Namun, dalam kenyataannya, yang terlihat, Anda adalah orang lain. Selain itu, sejak kecil mereka mengenal Tuan Muda Shane sebagai ayah mereka. Meskipun mereka tahu Anda adalah ayah mereka, saya rasa akan cukup sulit menenangkan mereka. Terutama hati ibunya," tutur Hans.


Andrean merenung. Apa yang Hans katakan intinya sama dengan yang Camelia katakan kemarin.


"Kau benar. Tapi …." Andrean merubah sorot matanya. "Aku tidak akan menyerah!"tandas Andrean penuh tekad.


"Jangan Anda lupakan juga Nona Crystal. Biar bagaimanapun dia adalah putri Anda. Anda harus mempertimbangkan perasaannya. Saya mengatakan semua ini bukan untuk menggoyahkan Anda. Namun, agar Anda memiliki persiapan matang karena untuk menjalin hubungan tidak semudah yang terlihat," ucap Hans lagi.


Andrean tersenyum.


"Aku mengerti. Sejak jauh hari aku sudah memikirkan hal ini. Apalagi kakek yang menuntut jika Lucas dan Liam benar anakku harus kembali ke keluarga Gong dan bermarga Gong. Sejujurnya, dari semua kemungkinan hal inilah yang aku khawatirkan. Kau tahu bukan, urusan marga ini begitu sensitif. Terlebih lagi, Keluarga Shane bukan keluarga kecil. Selain itu, Lucas dan Liam sejak lahir sudah di dalam keluarga itu. Ditambah lagi, dengan pernikahan Camelia dan suaminya. Aku rasa, keluarga Shane akan sulit untuk hal ini."


Andrean menghela nafas kasar. Jujur, itu mengusik pikirannya.


"Tapi … tidak masalah. Pasti akan ada jalannya. Yang terpenting, Camelia mau diajak kerja sama. Katanya cinta butuh pengorbanan dan perjuangan, mungkin aku akan segera menghadapinya."


"Kalau begitu, saya memberikan dukungan penuh untuk Anda."


"Ah iya, kosongkan jadwalku tiga hari di Minggu depan. Aku akan keluar negeri."


"Anda ingin ke mana, Tuan?"


Andrean hanya tersenyum simpul. Tidak menjawab yang membuat Hans berdecak sebal.


Andrean kemudian melihat ponselnya. Kemudian dahinya mengernyit.


Mengapa belum menghubungiku juga? Apa dia lupa atau bagaimana?


Andrean bergumam dalam hati. Ia menunggu telpon dari Camelia. Namun, saat hampir pukul 12.00, Camelia tak kunjung menelponnya. Padahal kalau dihitung, seharusnya Camelia sudah tiba sejak lama.

__ADS_1


__ADS_2