
"Lalu, apakah kalian tidak akan mengganti marga lagi?"tanya Tuan Liang. Sebagai kepala keluarga jelas ia mempertanyakan hal itu. Rasanya melihat anak-anaknya mengganti marga atau nama keluarga adalah sebuah kegagalannya untuknya.
Camelia menghela nafasnya. Ia melirik Dion yang juga meliriknya. "Mungkin … aku tidak akan mengganti marga lagi, Ayah."
Deg!
Terkejut mendengar jawaban Dion. Putra mereka tidak akan mengganti marga lagi? Apakah ini akhir dari keluarga Liang?
Nyonya Liang langsung menangis."Leluhur pasti mengutukku!"
"Ahhh … jangan seperti ini, ayah, ibu," ucap Dion.
"Bagaimana bisa kami tidak seperti ini? Anak-anak kami tidak memakai nama keluarga lagi. Bagaimana pertanggungjawaban kami kepada leluhur nanti?"
Camelia kembali menghela nafasnya. Marga memang hal yang cukup sakral. Mengganti marga bisa dikatakan tidak mengakui keluarganya lagi, atau meninggalkan keluarga itu. Namun, berganti marga lagi pun seperti mempermainkan sebuah nama keluarga.
"Ibu, Ayah, kami tahu ini egois, akan tetapi, nama keluarga Shane bukanlah nama keluarga kecil. Begitu juga dengan posisiku dan Dion sekarang. Bukannya apa, sekarang aku adalah artis yang cukup terkenal, sementara Dion, tak lama lagi ia akan menggantikan ayah mertuaku memimpin grup Shane. Jika kami mengubah marga lagi, akan terjadi ketidakseimbangan yang akan berujung dengan kekacauan. Aku mohon ayah dan ibu dapat mengerti," ungkap Camelia panjang lebar.
Ya … benar juga. Status Camelia sekarang adalah artis top Kanada. Dan Dion, juga akan memimpin Shane Group, meskipun hanya sampai usia Lucas dan Liam dewasa.
"Meskipun demikian darahku tetaplah darah keluarga Liang. Ayah, Ibu, leluhur mungkin marah karena ulah kami. Namun, kami yakin mereka akan mengerti. Kami juga sudah menziarahi leluhur dan memohon maaf," jelas Dion.
Tuan Liang menunduk. "Mau bagaimana lagi?" Ia juga tidak bisa berbuat banyak apalagi sampai menuntut. "Kau sudah mengambil keputusan. Kau juga sudah dewasa dan mempunyai kehidupan sendiri. Ayah tidak bisa memaksamu karena alasan kalian mengubah marga adalah karena ayah." Berkata lemah. Perasaan tidak karuan. Tuan Liang tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
"Lia?"
"Aku sama dengan Dion, Ibu. Namun, sejujurnya aku pun bingung dengan identitasku sendiri."
"Maksudmu?"
"Seperti yang ayah dan ibu katakan dulu, aku adalah anak angkat kalian dengan nama Jasmine Liang. Sementara di keluarga Shane, aku adalah Camelia Shane. Aku … ingin tahu siapa keluarga kandungku. Darimana asalku, siapa aku sebenarnya." Menunduk. Mengatakan itu dengan ragu, cemas Tuan dan Nyonya Liang salah mengerti maksudnya.
"Ah … begitu rupanya."
"Mungkin ini adalah waktunya. Kau juga sudah dewasa dan mampu. Namun, ibu hanya bisa memberitahu panti asuhanmu dulu. Karena ibu, ataupun ayahmu sama sekali tidak tahu tentang keluarga kandungmu."
Syukurlah. Nyonya Liang tidak salah mengerti. Bahkan membuka jalan untuk itu. "Terima kasih, Ibu."
Dion tersenyum lega. "Panti asuhanmu dulu berada di Xian. Kalau tidak salah namanya adalah Panti Asuhan Peony. Namun, ibu tidak tahu apakah panti asuhan itu masih ada atau tidak, mengingat sudah hampir 30 tahun lalu."
"Tidak apa, Ibu. Aku yakin asalkan berusaha pasti akan berhasil." Tersenyum lembut. Nyonya Liang mengangguk pelan.
"Ayah, Ibu …." Dion kembali memanggil.
"Apa kalian baik-baik saja? Maksudku dengan kasus …."
"Sudahlah, Dion. Tidak perlu dibahas lagi. Biarlah dia menerima ganjaran atas perbuatannya. Ayah juga tidak akan memaksa kakakmu untuk memaafkannya."
Camelia tidak membalas. Nyonya Liang hanya tersenyum getir. Camelia melirik Dion, mengisyaratkan jangan membalas hal tersebut.
"Tadi, kalian mengatakan akan pulang hari ini, apakah tidak bisa diundur?"tanya Tuan Liang. Tatapannya tidak rela, begitu juga dengan Nyonya Liang. Pertemuan ini terlalu singkat.
Camelia menggeleng. "Lusa aku ada acara, Ibu. Tapi, aku janji akan sering menghubungi kalian. Juga jika senggang aku usahakan untuk ke China."
__ADS_1
"Begitu, ya?"
"Tapi, mungkin Minggu depan aku sudah kembali ke Shanghai, Ibu. Sekitar dua bulan lagi, aku akan di sana mengurus perusahaan," jelas Dion.
Seperti kata Tuan Liang tadi, anak-anaknya sudah punya kehidupan sendiri.
*
*
*
Tiba waktunya untuk Camelia dan Dion berpamitan pada Tuan dan Nyonya Liang. Meskipun enggan, keduanya harus rela. Sebelum pergi, mereka berpelukan.
"Hati-hati di jalan. Kabarin ibu jika sudah tiba di sana," tutur Nyonya Liang sebelum melepas kepergian Dion dan Camelia.
Kakak beradik itu mengangguk. Kemudian berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan Tuan dan Nyonya Liang yang menatap mereka penuh arti.
"Anak-anak kita sudah dewasa, Susan."
"Suamiku, aku senang karena kita tidak benar-benar kehilangan mereka," balas Nyonya Liang.
*
*
*
"Iya, Kak. Aku juga," balas Dion. Beban di hati mereka akan rasa sakit menyembunyikan identitas di depan orang tua sudah menghilang. Rasanya benar-benar ringan.
Camelia mengangguk. "Ayo, kita berangkat."
Dion mengemudikan mobil meninggalkan rumah sakit menuju bandara. Di perjalanan, mereka singgah sebentar untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga Shane. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju bandara.
Tiba di bandara, sembari menunggu mobil masuk ke dalam kargo, dan pramugari memasukkan barang bawaan keduanya ke dalam pesawat, Camelia melihat sekeliling. Menikmati pemandangan salah satu bandara tersibuk di dunia ini. Matahari yang tidak terlalu terik mendukung hal itu.
Camelia tersenyum tipis kemudian menghela nafas. "Kakak, ayo," panggil Dion.
"Ya."
Baru beberapa langkah, belum lagi menaiki tangga pesawat, ada sebuah mobil berhenti tak jauh dari Camelia berada. "Camelia!" Diikuti sebuah panggilan lantang.
Camelia sontak berbalik. Dion mengeryit. Itu suara dan orang yang familiar.
"Andrean?"gumam Camelia, menatap rumit Andrean.
Andrean melangkah mendekatinya. "Kau di sini?"
"Kau mau pergi tanpa mengatakan apapun?"tanya Andrean dengan nada kesal.
"Apa yang mau aku katakan padamu?"tanya balik Camelia. Andrean berdecak. Langsung menarik tangan Camelia, menarik dalam peluknya.
"Kakak?!" Dion hendak turun dan mendorong Andrean. Namun, langkahnya terhenti saat mengingat ucapannya saat di dalam mobil tadi.
__ADS_1
"Hm … mungkin ini akan jadi awal hubungan serius mereka," gumam Dion, kemudian memutuskan masuk ke dalam pesawat.
"Lepaskan!" Camelia mendorong Andrean.
"Kau … tega sekali kau padaku!"tunjuk Andrean.
"Tidak usah basa basi, katakan apa yang kau inginkan."
"Jadilah milikku, Camelia." Penuh pengharapan. Ucapan yang sama lagi. Camelia terhenyak beberapa saat, teringat percakapannya dengan Dion tadi.
Menolakpun tidak akan menghentikan Andrean.
"Tuan Gong, Anda tahu bukan latar belakang keluarga kita?"
Mengangguk. "Di antara kita juga sudah ada Lucas dan Liam. Kedua anak itu, tidak seperti anak pada usia mereka. Kau bukan hanya harus memenangkan hatiku, juga hati kedua anakku. Selain itu, aku juga punya ayah dan ibu, juga adikku."
Andrean melebarkan matanya. Apakah itu sebuah lampu hijau?
"Jika kau serius, kau pasti membuktikan ucapanmu," lanjut Camelia.
"Kau serius?"
Camelia mengangguk. "Tidak ada salahnya memberi kesempatan, bukan?"
Andrean sungguh senang. Wajahnya begitu berseri. Ia kembali menarik Camelia dalam peluknya. Menggendong Camelia dan berputar-putar. "Ahhh … hentikan!"pekik Camelia yang merasa pusing.
Cup.
Sebelum Camelia protes, Andrean membungkam Camelia dengan ciuman. "Ehmmpp!"
"Aku senang sekali mendengarnya!"ucap Andrean setelah melepas ciumannya.
"Aku pasti akan membuktikan ucapanku." Andrean menempelkan dahinya pada dahi Camelia.
"Tapi, selain itu kau juga harus memenangkan hati kakekku dan Crystal," ujar Andrean dengan menyengir.
Camelia tertawa pelan. "Tentu saja."
"Sudah selesai, bukan?"tanya Camelia.
"Hm."
"Kalau begitu aku berangkat."
"Hati-hati di jalan. Kabari aku jika sudah mendarat."
"Ehm. Bye." Camelia melambaikan tangannya yang dibalas oleh Andrean.
"Aku akan merindukanmu."
"Hehe." Tidak tahu harus membalas apa, Camelia lekas berbalik dan lari naik ke pesawat.
Andrean tersenyum lepas. Hatinya senang bukan main. "Camelia, aku pasti akan menenangkan hatimu dan hati anak-anak!"tekadnya penuh semangat.
__ADS_1