Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 83


__ADS_3

"Coba kau lihat aku baik-baik, Jordan Chin! Lihat diriku, apa kau tidak mengenaliku?!"tanya Camelia, menatap Jordan semakin tajam. 


"T-tidak mungkin." Jordan terbelalak. Ia bahkan sampai terlonjak kaget. Logikanya tidak bisa mengalahkan hatinya lagi. 


"B-bagaimana bisa itu kau?" Jordan sungguh tidak percaya. Wajahnya benar-benar seputih mayat. Ketakutan, rasa bersalah, semua bercampur menjadi satu. Apa yang pernah ia khawatir namun ia anggap angin lalu, terjadi kini. 


"Mengapa tidak mungkin? Aku ada di hadapanmu sekarang. Dan mengapa kau begitu kaget? Bukankah seharusnya kau sudah memperkirakan hari ini?"tanya Camelia, santai dengan melipat tangannya. Wajahnya begitu tenang namun tatapan matanya begitu menghunus.


 Puas melihat Jordan pias seperti itu? 


Tidak!!


"Bagaimana bisa kau berubah seperti ini? Kau, kau orang yang berbeda!"tunjuk Jordan. Ia sungguh tidak mengerti.


Bagaimana bisa?


Bagaimana bisa Jasmine Liang menjadi Camelia Shane?! Pertanyaan itu terus berputar namun tak ia jumpai jawabannya. 


"Berhentilah membodohi dirimu sendiri, Jordan. Aku kembali untuk membalas dendam! Kesetiaanku padamu kau balas dengan penghianatan dan penghinaan. Perjuanganku untuk hubungan kita kau bahas dengan rasa malu dan sakit hati yang tak terkira."


Suara Camelia melemah. Ya, bagaimanapun ia seorang wanita. Di hadapan pada masa lalu yang menyakitkan, setidaknya ia sangat berpengaruh pada perasaannya. Dan air matanya pun loloh. Wajah cantik itu dibasahi oleh butir air mata. 


Dan Jordan. Ia juga menangis. Namun, tangisnya tidak terdengar. Ia malu untuk menangis dengan suara.


"Jordan, dulu aku sangat mencintaimu. Kau adalah cinta pertamaku. Dulu, kita berjanji untuk berjuang bersama, selalu bersama dan saling mencintai, seumur hidup. Melewati semua berdua dan saling percaya. Tapi … tapi, semuanya rusak karena kau mengingkarinya. Apakah kau tahu rasanya dikhianati oleh orang yang kita cintai? Sakit, Jordan! Sakit! Dan kau tidak hanya membuatku sakit hati, kau juga menyakiti fisik dan harga diriku. Dan kau tanya mengapa aku berubah seperti ini? Itu karenamu, Jordan!"


Camelia mengatakannya dengan air mata yang terus mengalir. Menumpahkan perasaan yang selama ini ia pendam. Amarah, kekecewaan, hari ini ia keluarkan semua untuk Jordan.


Mendengar itu, Jordan semakin tertunduk. Masa lalu indah bersama Camelia teringat, berputar bak kaset.


"Kenapa, Jordan? Mengapa kau mengkhianatiku?! Apa karena aku bukan anak kandung keluarga Liang? Apa karena aku menjaga kehormatanku sebelum menikah? Atau karena apa? Jika karena semua itu, kau benar-benar pria murahan! Ah, tidak. Kau memang murahan!!" Camelia menghapus kasar air matanya. Matanya yang merah menatap dingin Jordan. 


Jordan tergugu, "a-aku salah. Semua ini salahku. Aku memang murahan! Aku memang pengecut! Aku memang baj*ngan!"


 Dan pria itu mengakui alasannya. Murahan? Itu Camelia sematkan karena Jordan mau dijadikan selingkuhan padahal Roselah yang sibuk sana sini. Ia pengecut, dan baj*ingan karena membiarkan darah dagingnya memanggil orang lain Ayah. 


Plak!


Plak!


Plak!


Jordan menampar wajahnya sendiri. 


Namun, Camelia segera menahannya. Keduanya bertatapan. Jordan, sorot matanya kosong. Camelia tersenyum sinis. 


PLAAKK


Sebuah tamparan keras Camelia hadiahkan untuk Jordan. 

__ADS_1


Panas, perih, dan berkedut. Tamparan itu sekuat tenaga dan amarah yang terpendam selama ini. 


Jordan memejamkan matanya. "Tamparlah lagi, Mine. Pukul aku! Beri pria bajingan ini hukuman!!"


"Cih! Jangan panggil aku dengan nama itu. Aku sangat jijik mendengarnya! Dan kau tidak pantas memanggilku dengan nama itu, Jordan Chin!!"hardik Camelia. 


"Maafkan aku. Aku mohon." 


"Apa semua penderitaanku di masa lalu akan hilang hanya dengan kata maaf? Tidak, Jordan. Ini belum selesai!"ungkap Camelia.


"Aku mohon, maafkan aku. Aku tahu, apa yang aku lakukan sulit untuk dimaafkan. Tapi, aku mohon padamu, Camelia. Aku mohon karena hubungan kita di masa lalu," ucap Jordan dengan berlutut. Camelia melangkah mundur saat melihat Jordan hendak memeluk kakinya. 


Camelia yang tersenyum sinis semakin sinis mendengar kata-kata itu. "Sungguh tidak tahu malu!"geram Camelia. 


"Aku semakin muak padamu!"


"Aku sudah merasakan apa yang kau rasakan. Aku tahu itu tidak sebanding. Tapi, aku mohon maafkan aku. Aku akan lakukan apapun asal kau memaafkanku!"ucap Jordan, mengiba. 


Baginya kini, kata maaf tadi Camelia harus ia dapatkan agar hatinya dan hidupnya tidak dipenuhi bayang-bayang rasa bersalah lagi. 


Camelia diam. Tidak langsung menjawabnya. Camelia memperhatikan Jordan. Pria itu tampak sudah sangat putus asa.  


"Kau ingin mendapat maafku, bukan?"tanya Camelia dengan suara rendah. Jordan langsung mendongak dan mengangguk cepat. 


"Pergilah. Serahkan diriku dan akui kesalahanmu," ujar Camelia kemudian. 


"Hanya jika kau melakukannya," jawab Camelia, sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam apartemennya. Perasaannya jauh lebih lega. 


Camelia menghela nafas pelan. "Aku sudah memberimu kesempatan lagi. Aku harap kau memanfaatkannya dengan baik," gumam Camelia. 


"Hanya jika aku melakukannya?" Jordan menggumamkan kata-kata terakhir Camelia padanya. "Apa ini jalannya?"gumam Jordan. 


"Aku sudah hancur. Harga diriku sudah hilang. Seumur hidup akan menanggung malu. Setidaknya kata maaf darinya dapat meringankan hatiku." Pria itu bertekad. Ia bangkit dan melangkah pergi dengan lunglai. 


Ergghh….


Rose mengerang bangun dalam pelukan seorang pria. "Sudah bangun?" Sang pria juga terbangun karena erangan dan gerakan Rose yang memindahkan tangan sang pria yang memeluknya.


"Hm. Aku harus pulang, Paman," ucap Rose manja, lengkap dengan senyumnya. Pria itu terkekeh, kemudian merengkuh Rose dalam pelukannya. Pria itu, bukankah pria muda melainkan sudah berumur.


"Tinggallah sebentar lagi. Paman ingin melakukannya lagi," bisik pria itu, dengan meniup leher Rose. Rose bergidik, antara geli, dan juga ada perasaan enggan di sana. Rose melirik jam, masih pukul 03.00 dini hari.


"Paman, ayahku sudah ada di rumah pagi ini. Jika aku tidak pulang sekarang, aku pasti akan diamuk dan diusir oleh ayahku," tutur Rose. Dengan raut wajah takut akan kemarahan Tuan Liang.


"Jika kau takut, lebih baik kau tidak pulang. Kan ada Paman yang akan menyediakan segalanya untukmu, Mawarku," ucap pria itu, dengan semakin memeluk erat Rose bahkan mulai menggerayangi tubuh Rose. Rose memejamkan matanya. Benaknya menimbang.


"Benar juga … tapi …." Rose masih ragu.


Aku berbohong mengatakan bahwa ayah akan pulang pagi ini. Aku saja tidak tahu kapan ayah akan pulang dari rumah sakit. Aku ingin pergi karena ingin tahu kabar wanita itu. Tapi, ya sudahlah. Hanya sebentar saja….

__ADS_1


"Jangan takut. Ada Paman di sisimu," ucap pria itu sebelum akhirnya mengungkung Rose.


Rose berteriak. "Ah … Paman geli!"


"Paman akan memuaskanmu, Mawarku."


Marah atau tidak, itu urusan belakangan. Akan lebih baik jika ayah …. Dan wanita itu ….


Rose tersenyum smirk. Niat buruk sudah ada pada pikirannya.


*


*


*


Ahhhh ….


Rose berteriak kaget saat membuka ponselnya. Niat hati ingin mengecek pesan atau panggilan, malah disuguhkan dengan berita-berita miring tentangnya. Tidak, itu bukan berita miring namun berita akan fakta dirinya yang menggemparkan.


"Ada apa?" Pria yang bersamanya terbangun karena teriakan Rose.


"B-bagaimana bisa ini … siapa?!" Wajah Rose pucat bukan main. Ia panik. Dan sang pria mengernyit heran.


Sang pria yang tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya dari bibir Rose, langsung saja mengambil ponsel Rose yang jatuh ke lantai. "Apa ini, Rose?"


Breaking news!


Artis Rose Liang kembali terseret kasus! Artis Rose Liang diduga melakukan penggelapan pajak, perselingkuhan, dan kejahatan kepada saudaranya. Selain itu, kasus yang sempat menyeret namanya lebih dulu, juga kembali mencuat disertai dengan bukti yang lebih banyak lagi.


"Apa ini semua benar, Rose?" Pria itu menatap tajam Rose.


"T-tidak. Itu tidak benar!"jawab Rose. Dan segera ia mengenakan pakaiannya.


Pria itu kembali membaca berita itu. Video, foto, pengakuan saksi, bahkan di dalamnya ada pengakuan dari Jordan dan juga Andrean.


"Dasar *******!"desis Pria itu yang membuat Rose menoleh.


Rose tersenyum. "Paman, aku hanya ja*langmu. Aku mohon percaya padaku, ya. Aku janji akan segera membereskan masalah ini," ucap Rose. Ia tidak mau kehilangan sumber uang, pria itu adalah sugar daddynya.


Pria itu tidak menunjukkan reaksi apapun setelah Rose mencium pipinya dan pergi.


"******* tetaplah *******. Jika semua itu tidak benar, mana mungkin Tuan Andrean memutuskannya," gumam pria itu, tersenyum sinis.


Pria itu kemudian meraih ponselnya. "Tuan, tugas saya sudah selesai," ucapnya pada seseorang di seberang sana.


"Baik, Tuan." Panggilan berakhir dan pria itu bangkit dari ranjang. Sekilas ia menatap beberapa benda yang berserakan di bawah ranjang.


"Ah … Tuan, sungguh tugas ini menegangkan. Satu sisi aku merasa nikmat satu sisi lagi aku merasa takut. Tapi, ya sudahlah. Sudah selesai."

__ADS_1


__ADS_2