Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 187


__ADS_3

"Tuan, Anda sedang menghukum saya?"tanya Hans, menatap Andrean memelas.


"Kita tidak akan pulang sebelum target terpenuhi!"tegas Andrean.


"Tuan." Hans memanggil dengan memelas. Ia seakan hendak menangis.


"Saya benci memancing!"pekik Hans dengan berdiri.


"Lebih baik Anda berikan saja setumpuk berkas pada saya. Daripada menunggu ikan menyambar kail pancing!"pinta Hans. Ia menatap Andrean penuh harap.


Andrean tidak menggubrisnya. Ia fokus pada pancingnya.


Melihat itu, Hans menghembuskan nafas kasar. Ia kembali duduk dan memegang pancingnya. Raut wajahnya sangat tertekan.


Memancing. Itu mimpi buruk untuknya. Membosankan! Hans lebih menyukai setumpuk berkas yang menggunung daripada berusaha dengan pancing memancing ikan seperti ini.


"Padahal yang memaksakan nona Vivi, mengapa saya yang kena hukuman? Anda tidak adil, Tuan," cibir Hans.


"Dulu Anda kan tidak pernah memarahi saya jika nona Vivi tiba-tiba datang dan masuk ke ruangan Anda. Dibandingkan Anda, saya lebih kaget lagi. Nona Vivi telah meninggalkan China 10 tahun yang lalu. Tiba-tiba muncul lagi, mana berani saya melarangnya," keluh Hans.


Andrean melirik sekilas. Ia menatap dalam birunya air laut. Mereka memancing di tengah laut.


Laut biru itu sangat mempesona. Sekilas melihatnya memang sangat indah. Namun, kita tidak tahu seberapa dalam laut biru.


Ingatannya kembali pada hari kemarin.


*


*


*


"Kau kenapa, Hans?"tanya Andrean, mengernyit heran melihat ekspresi Hans. Andrean baru saja kembali dari kantor pusat Gong Group.


Hans tampak panik. Namun, seperti kesulitan untuk mengatakan penyebabnya.


"Di-di dalam ada …."


"Bicara yang jelas!"


"Lebih baik Anda lihat sendiri." Hans seperti tidak ada kekuatan untuk mengatakannya.


Andrean membuka pintu ruangannya. Hans tampak begitu tenang.


Andrean mengernyit mendapati ada seseorang di ruangannya. Seorang wanita, rambutnya pirang. Andrean tidak melihat wajahnya, posisinya membelakanginya dirinya.


Tapi, siapa yang berani masuk ke ruangannya? Ada Hans pula. Rambut itu bukan rambut Camelia.


Di saat Andrean bingung, wanita itu menolehkan kepalanya.


"Kakak?!" Wanita itu berseru dengan wajah sumringah.


Andrean terkejut. Apalagi saat menyadari bahwa wanita itu memeluknya.


"Kakak, aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu!" Wanita itu memeluk Andrean dengan erat.


"Ugh!"


Andrean menatap Hans penuh tanya. "Kakak, aku senang sekali bisa bertemu denganmu. Apakah Kakak juga merindukanku?" Wanita itu mendongak, menatap Andrean dengan penuh arti.


"Ehem. Nona Vivi, karena sudah terlalu lama mungkin Anda lupa jika Tuan memiliki penyakit buta wajah," papar Hans.


"Ah?! Aku melupakannya!" Wanita yang dipanggil Nona Vivi oleh Hans itu melepas pelukannya.


Andrean langsung menepuk jasnya. Menatap tajam wanita itu. Tatapan matanya kesal.


"K-Kakak, kau tidak pernah menatapku seperti itu. Kakak, ini aku Vivi. Aku adalah cinta pertama Kakak!"ucap wanita itu, Vivi.


Andrean mengerutkan dahinya kesal. "Siapapun kau, aku tidak peduli. Lancang sekali masuk ke ruanganku tanpa izin!" Andrean mengibaskan jasnya dan melangkah duduk di kursinya.


"Kakak?" Bahu Vivi gemetar. Wajahnya itu, cantik dan imut bersamaan. Tingginya beda jauh dengan Andrean. Mungkin hanya sedada Andrean.


Matanya memerah. Mendung.


Hans hanya sebagai penonton.


"Kakak? Bagaimana bisa kau bicara seperti itu padaku? Kau sudah tidak mencintaiku?"tanya Vivi, wajahnya benar-benar mendung. Kedua tangannya mengepal.


"Apa kau gila? Aku hanya buta wajah, ingatanku masih jelas. Sejak kapan aku pernah mencintaimu?"balas Andrean sarkas. Gaya bicaranya tidak bersahabat.


"Kakak?" Vivi kembali berseru.


"Ugh!" Vivi langsung menunduk menerima tatapan Andrean.


Mengerikan.


"K-kalau begitu, aku adalah adikmu. Kakak, apa kau tidak merindukanku?"


Tidak tahu malu.


Hans mencibir dalam hati.


"Tidak," jawab Andrean tanpa pertimbangan.


"Pergilah. Aku sibuk," usir Andrean, pria itu membuka laptopnya, mulai bekerja.


"Aku kabur. Aku tidak tahu harus ke mana. Hanya Kakak tempatku pulang. Izinkan aku tinggal bersama denganmu, Kak," pinta Vivi. Ia mendekati Andrean.


"Maaf, aku bukan rumahmu," sahut Andrean. Ia memiliki keluarga, memasukkan orang asing, ya meskipun orang itu dari masa lalunya, akan merusak kedamaian.


Andrean telah banyak belajar dari drama, komik, dan novel romantis yang ia baca. Jangan pernah membawa orang lain masuk ke dalam rumah tanpa izin.


Di istana juga ada Crystal. Andrean menilai wanita ini akan menjadi pengganggu.

__ADS_1


"A-apa kakak sudah melupakan kakakku?!"


Andrean mendongak. Vivi baru saja berteriak padanya.


Dia berani sekali, memancing singa mengamuk, batin Hans.


"Biarlah aku tinggal bersamamu, Kak. Aku tidak tahan lagi tinggal di sana. Aku mohon!" Mata Vivi kembali berkaca-kaca.


Jika didebutkan, aku yakin akan dapat penghargaan pendatang baru. Namun, dengan karakter, itu mustahil.


Hans sibuk mengamati dan menilai.


"Oh. Hans, pesankan hotel untuknya!"ucap Andrean.


"Loh? Kok saya?"


"Ups!"


Hans nyengir. "Baik, Tuan."


"Mari, Nona," ajak Hans. Vivi menatap Andrean tidak puas.


Yang ditatap tidak peduli. Sibuk pada pekerjaannya.


"Kalau begitu, besok temani aku berbelanja ya, Kak. Aku tidak membawa kebutuhanku," pinta Vivi lagi.


Dengan uang Tuan? Ah, kasihan sekali.


"Tidak bisa. Besok aku dan Hans akan memancing di laut."


"Apa?!" Hans terkejut.


"Kakak menghindariku?"


"Anggap saja begitu. Hans, cepatlah. Jika tidak mau seret saja!"


"I-iya, Tuan." Hans tampak linglung. Dengan wajah yang tertekan, ia kembali mengajak Vivi. Akan tetapi, Vivi enggan. Seperti perintah Tuannya, Hans menarik Vivi keluar. Tidak peduli dengan penolakan Vivi.


"Menyebalkan! Mengapa datang pengganggu, sih?!"gumam kesal Andrean.


*


*


*


Kembali ke masa saat ini.


"Dapat!"


Andrean dikejutkan dengan Hans yang tiba-tiba berteriak.


"Ini pasti ikan besar!"


Keringat mengucur deras. Di bawah teriknya matahari, Hans berjuang keras. Satu ikan naik, berarti mempercepat waktu memancing.


"Perlu bantuan?"tawar Andrean.


"Tidak, Tuan!" Hans menjawab dengan terbata.


"Menyerah juga!" Hans girang saat ikan sudah tidak memberikan perlawanan lagi.


Hans menarik ikan tangkapannya ke atas. Ukurannya cukup besar. Pantas saja tarikannya keras dan butuh waktu untuk menaklukkannya.


"Tuan, barramundi check." Hans mengangkat jempolnya pada Andrean.


"Kerja bagus!"


"Bagaimana? Tetap menyebalkan?"


"Setelah saya pikirkan, ini lebih baik daripada berurusan dengan Nona Vivi," sahut Hans.


Hans kemudian memasukkan ikan itu dalam fiber yang telah diisi dengan es batu. Dan kembali melemparkan umpan.


"Tuan, apa Anda masih ada perasaan terikat pada kejadian satu dekade lalu?"tanya Hans, membuka obrolan.


"Aku tidak tahu," jawab Andrean. Lagi, ia menatap birunya langit..


"Anda dan Nona Camelia sudah begitu dekat. Jika Nona Vivi dibiarkan di sisi Anda, takutnya jika ketahuan, Nona Camelia akan salah paham," ujar Hans. Hans mengakuinya. Ia tidak suka pada Vivi. Mau saat ini ataupun di masa lalu.


Tuhan, jika diturunkan cobaan untuk hubungan Tuan dan Nona, turunkan saja pada mereka. Mohon jangan libatkan saya, ratap Hans dalam hati.


"Jika begini, aku akan terbuka pada Lia."


"Lia pasti tahu bagaimana cara mengatasinya."


"Strike!" Umpan Andrean disambar ikan. Melihat dari tarikannya, ikan itu tidak sebesar tangkapan Hans tadi.


Dan benar saja, tidak butuh waktu lama ikan itu sudah takluk dan berhasil naik ke kapal. Ikan yang ada yang dapat adalah kakap merah, ukurannya tidak begitu besar. Andrean terlihat tidak puas.


Hans tertawa kecil. Kali ini ia unggul dari Andrean. Padahal ia benci memancing. Namun, ikan besar malah menghampirinya.


"Tapi, mengapa Nona Vivi tiba-tiba kembali? Kalau saya tidak salah dengar, Nona Vivi mengatakan bahwa ia kabur. Apakah kita harus mengembalikannya? Atau membiarkannya?"


"Entahlah." Andrean mengangkat bahunya.


"Aku kemari untuk memancing bukan memikirkannya!"


"Hehe, baik, Tuan."


*


*

__ADS_1


*


Andrean dan Hans tiba di istana saat hari sudah malam. Andrean melepas jaketnya. Kepala pelayan menghampirinya dan menerima jaket tersebut.


"Tuan, dari ada orang yang mencari Tuan," ujar Kepala Pelayan.


"Siapa?"tanya Andrean.


"Kalau saya tidak salah ingat namanya adalah Nona Vivi."


"Lantas?"tanya Andrean.


"Saya tidak berani mengizinkan masuk. Nona itu sangat pemaksa."


Sepertinya Kepala Pelayan kesal dengan orang tersebut. "Kerja bagus!" Andrean tersenyum puas.


"Di mana Crystal?"tanya Andrean.


"Nona muda ada di kamarnya, Tuan."


Andrean mengangguk kemudian segera melangkah menuju kamarnya. Sementara Hans mengurus ikan hasil tangkapan. Cukup banyak. Lebih dari cukup untuk persediaan. Sepertinya, penghuni istana ini akan makan ikan terus sampai ikan-ikan itu habis.


Setelah mandi Andrean menghubungi Camelia. Di sana masih pagi hari.


Ia duduk di balkon ditemani segelas wine. Di telinganya terpasang earphone.


"Selamat pagi, Lia. Bagaimana kabarmu pagi ini?"sapa Andrean, menggoyahkan gelasnya. Menatap langit malam yang tidak begitu cerah.


"Pagi, Rean. Aku baik-baik saja."


"Aku yang tidak baik. Perasaanku buruk," aduh Andrean langsung.


"Maksudmu?"


"Lia, jika seseorang dari masa lalu datang, bagaimana tanggapanmu? Dia datang dengan membawa jasa saudaranya, dan menuntut sesuatu padamu," tanya Andrean.


"Kau mengalaminya? Jika aku yang mengalaminya, aku tidak akan memberikannya peluang. Dengan sikapmu, jika kau terhutang budi pada seseorang, pasti kau sudah membalasnya. Namun, jika hutang budi itu dijadikan kalung mengikat lehermu, artinya kau dimanfaatkan. Andrean, cerita itu klise sekali. Aku sudah banyak membaca naskah demikian." Camelia terkekeh. Andrean ikut terkekeh juga.


"Sejujurnya aku sudah melepas kalung itu satu dekade lalu. Tapi, orang itu datang lagi dan mencoba memasangkan kalung itu kembali. Lia, apa kau tahu dia itu orang sangat menyebalkan lagi pemaksa."


"Aku ingin mendengar ceritanya dengan rinci, maukah kau menceritakannya pada, Rean?"tanya Camelia.


"Tentu saja," jawab Andrean.


"Itu sudah terlalu lama. Aku hanya ingat, dulu ada wanita yang selalu mengajarku. Aku rasa itu masa kuliah."


Andrean mulai menceritakannya.


"Wanita itu terus menempel padaku. Aku tidak menyukainya. Singkat cerita hari itu adalah hari kelulusanku. Namun, ada kejadian tidak terduga. Seperti yang kau tahu, aku ini cucu utama Gong Group. Banyak yang mengincarku. Dan apa kau tahu, Lia? Di hari itu, aku diserang saat mengantar pulang wanita itu. Entah bodoh atau apa, dia berlagak melindungiku. Pada akhirnya dia tewas. Lalu datang seseorang yang mengaku sebagai adiknya. Dia menuntutku. Memintaku memenuhi keinginannya."


"Wait!"tahan Camelia.


"Kau mengantar pulang wanita itu? Bukankah kau tidak menyukainya?"


"Itu paksaan teman-teman kuliahku."


"Ouh."


"Tapi, tetap saja aku bingung, Rean. Apa kau memiliki rasa padanya?"tanya Camelia.


"Tidak. Aku hanya merasa berhutang budi untuk kebodohannya itu."


"Hahaha, kau benar-benar dingin, Rean."


"Jadi, apa aku harus ke sana untuk menghancurkan kalung itu sepenuhnya?"tanya Camelia, gemas sendiri mendengar cerita Andrean.


"Itu lebih baik."


"Ahh … tapi, aku yakin kau mampu menghancurkannya, Rean!"


"Lia!" Andrean merengek.


"Omong-omong, dia dari mana? Kok tiba-tiba muncul lagi?"tanya Camelia. Ia harus mengupas tuntas itu.


"Dijodohkan oleh keluarganya. Selama itu dia di luar negri," jawab Andrean.


"Ahh … begitu rupanya. Baiklah. Rean, aku tunggu kabar baiknya saja, okay?"


Andrean mendengus. " … Baiklah."


"Kalau begitu, dadah."


Panggilan berakhir.


"Menghancurkan kalung?"


Andrean meyakinkan dirinya. Camelia adalah satu-satunya. Yang datang itu tidak pernah ia anggap.


Anggap saja hatinya terlalu dingin. Jika tidak suka, mau cara apapun tidak akan mengubah hati Andrean.


Dia memiliki kemampuan bela diri dan pertahanan jika berusaha dengan penculikan. Ia juga memiliki pengawal sendiri. Jadi, Andrean menganggap pengorbanan itu adalah sia-sia.


Namun, ia juga tidak serta merta tidak peduli.


Selama beberapa waktu, Andrean memenuhi permintaan Vivi. Namun, tidak untuk menjadi pacar.


Vivi, wanita itu menjadi angkuh. Dan pada suatu hari, perusahaan keluarganya terancam bangkrut. Hal itu dikarenakan kesalahan fatal perusahaan itu sendiri yang bertentangan dengan hukum.


Vivi meminta bantuan Andrean. Namun, Andrean menolak. Jika berurusan dengan hukum ia tidak mau membantu.


Pada akhirnya, Andrean hanya memberikan sejumlah uang dan memutuskan untuk melepas tali jasa yang mengikat lehernya.


Nyatanya, uang yang diberikan Andrean tidak mampu menutupi dan berakhir dengan Vivi yang dijodohkan oleh orang tuanya untuk menyelamatkan keluarga. Begitulah, setelah itu, Andrean tidak mendengar kabar apapun dan tidak pula peduli dengan itu.

__ADS_1


"Hans." Andrean menelepon Hans. "Selidiki apa yang terjadi pada wanita itu. Aku harus segera membereskan!" Untuk itu Andrean butuh data untuk bisa menghancurkan kalung yang hendak kembali dipasangkan itu.


__ADS_2