
"Beraninya kau mengabaikanku?! Tapi, tunggu. Camelia berani sekali ya membawa brondongnya kesini. Apa dia takut terkena skandal? Ah … atau dia sudah kehilangan rasa malu? Benar-benar. Kelihatannya saja tidak tertarik menjalin hubungan lagi. Tahunya jadi sugar mommy. Ckckck … kasihan sekali mendiang Chris. Istrinya sangat luar biasa!"
Wanita itu menghina Camelia di depan Dion. Tawanya begitu renyah. Wajahnya begitu mencemooh dan penuh kebencian.
Dan tentu saja, itu berhasil memantik amarah Dion. Wajah Dion sudah merah padam. Tapi, tidak ada tanda bahwa wanita itu akan berhenti.
"Wanita antah berantah. Tapi, dia memang punya keberanian. Berani naik ranjang Chris dan mengandung anaknya. Lalu dengan cara licik berhasil menikahi Chris. Kemudian! Dengan angkuh dia mengambil posisi yang seharusnya milikku!"
Wanita itu kembali melemparkan hinaan.
"Omong-omong, kau diperbolehkan jalan-jalan? Wah keberanian patut diacungi jempol. Tapi, aku sarankan kau segera meninggalkannya. Dia itu, tidak beres. Kau akan dicampakkan nanti. Lebih baik, kau ikut aku saja."
"TUTUP MULUT SAMPAHMU!"
Dion menampar wanita itu. Wajahnya begitu gelap. Nafasnya naik turun. Dion benar-benar emosi. Beraninya wanita gila itu menghina kakak tersayangnya?!
Apa katanya?!
Kakaknya tidak beres?!
Keributan itu menarik perhatian. Dalam sekejap, mereka sudah dikerumuni banyak orang.
"Kau! Beraninya kau menamparku?!" Wanita itu hendak menampar balik Dion. Namun, Dion menahannya. Mencengkram tangan itu dengan erat.
Wanita itu menggertakan giginya. "Kau tersinggung?! Lepaskan aku, Br*ngsek!"
Dion menggunakan satu tangannya lagi. Untuk mencengkram dagu wanita itu.
"Sekali lagi kau menghina kakakku, aku akan memotong lidahmu!!"
Wanita itu membelalakkan matanya.
"Kakak?" Susah payah ia mengatakannya.
Aura membunuh Dion begitu pekat. Hatinya benar-benar panas. Wanita ini benar-benar gila!
"Dion, apa yang kau lakukan?!" Camelia yang mendengar keributan langsung datar. Bersama dengan Evelin dan sutradara. Joseph juga datang. Matanya membulat sempurna melihat wanita yang dicengkeram oleh Dion. Itu adalah Alice!
"Lepas? Lepaskan aku!"
"Dion, lepaskan. Kau bisa membunuhnya!" Camelia mencoba melonggarkan cengkraman Dion pada Alice.
"Wanita gila ini! Beraninya dia menghina Kakak di depanku! Benar-benar cari mati!"
Gila! Apa ini Tuan Muda yang tadi? Dia seperti orang yang berbeda.
Evelin bergidik. Ia tidak boleh macam-macam pada Camelia. Bisa-bisa, ia yang berada dalam posisi Alice.
"Aku tahu. Lepaskan dulu. Kekerasan tidak dibenarkan," ujar Camelia, membujuk dengan memeluk Dion.
"Aku takut."
"Kakak."
Dion masih menatap Alice. Alice benar-benar menahan sakit. Cengkraman itu tidak main-main.
"Jangan takut, Kak. Aku ada di sini." Dion melepas cengkramannya. Memeluk Camelia. Tatapannya begitu lembut. Namun, kembali dingin dan tajam begitu melihat Alice.
UHUK!
UHUK!
Alice langsung batuk dan bersimpuh di tanah. Lututnya terasa lemas. Ia merasakannya. Rasa hampir kehabisan oksigen.
"Ayo." Camelia mengajak Dion pergi. Di sini terlalu ramai dan sudah banyak yang mengambil foto. Jika tidak pun, akan tetap menjadi pembicaraan panas. Ini tidak bagus untuk Camelia dan Dion, juga keluarga Shane.
"Masalah ini belum selesai, Kak!" Bahkan Dion tidak bergerak saat ditarik Camelia.
"Anda sutradaranya?" Tiba-tiba Dion melayangkan tatapan tajam dan mengintimidasi pada Sutradara.
Sutradara yang belum tahu jelas apa yang terjadi, tercekat. "I-iya, Tuan Muda."
Bagaimana anak semuda ini, auranya begitu menekan?
"Anda orang yang hebat. Sayangnya, Anda tidak teliti. Bagaimana bisa memasukkan sampah ke tim Anda??"kecam Dion.
"Apa?" Sutradara jelas terkejut mendengarnya.
"Wanita itu, aku tidak mau dia ada di dalam daftar pemain lagi," ucap Dion tegas dengan melirik sinis Alice yang melebarkan matanya. Alice mendongak, menatap punggung Dion.
"Apa maksud Anda? Bagaimana itu mungkin?"
"Karena mulai hari ini, dia diblacklist!"
Jeder!
Tubuh Alice menegang.
"Dion?"
"Kau tidak bisa melakukannya?! Kau tidak punya hak untuk itu!"hardik Alice. Ia tidak terima. Memangnya mengapa kalau Dion adiknya Camelia? Mereka hanya menantu! Tidak punya kekuatan apapun!
"Heh?!" Dion tersenyum smirk.
Ia membalikkan tubuhnya. Menatap Alice yang masih bersimpuh di tanah.
"Mulutmu benar-benar busuk. Tapi, lebih busuk lagi hatimu. Kau punya otak tapi tidak digunakan. Menghina kakakku di hadapanku, sama saja kau menghina dirimu sendiri. Hei, kau! Apa kau pikir aku tidak bisa melakukannya?! Namun, benar. Aku tidak bisa melakukannya. Tapi, bagaimana dengan keluarga Shane? Dalam satu jentikan jari, kau akan tamat!"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Dion mengangkat ponselnya. "Halo, Dad. Apa aku mengganggu waktumu?"
"Ada yang harus aku laporkan."
"Ada yang menghina Kakak. Dia menganggapku berondong kakak dan mengatakan bahwa kakak tidak tahu malu. Wanita yang tidak beres. Dia juga mengungkit pernikahan kakak dengan kak Chris. Selain itu, wanita ini juga mengatakan bahwa kak Chris orang yang bodoh. Aku ingin ayah mem blacklistnya dari industri apapun."
"Baik, Dad."
"Tunggu saja kabarnya. Tidak akan lama kok," ujar Dion pada Alice. Nadanya begitu ringan.
Jantung Alice semakin berdebar kencang. Sekarang ia benar-benar menyadari keseriusannya. Sadar akan kefatalan yang ia buat.
Bagaimana ini? Jika benar, maka ia tamat. Jika tidak ….
Sial!
Ini benar-benar hari sialnya!
Bagaimana ini?
Apakah ia harus berlutut dan memohon?
Apa semudah itu?
Alice menatap Camelia. Wanita itu membalas tatapannya dengan dingin.
Wanita itu tidak mencegah adiknya. Dia tidak bodoh! Dia tidak akan mengampuni orang yang menghinanya.
Siapa?
Siapa yang bisa membantunya?
Joseph?
Pria itu, batang hidungnya sudah hilang.
"Sutradara, saya rasa Anda tahu sponsor terbesar drama ini." Dion kembali berbicara dengan Sutradara.
Tentu saja Glory Entertainment. "Bagaimana jika Mr. David tahu, bintang perusahaan dihina seperti itu?"
"Saya paham!"
"Tunggu! Maaf. Maafkan aku. Tolong jangan lakukan itu!" Pada akhirnya, Alice berlutut dan memohon.
Belum selesai ia memohon, terdengar dering ponselnya.
"Hallo, Pak Presdir."
"Maaf. Maafkan saya."
"Tolong. Jangan lakukan hal itu!"
Wajah Alice benar-benar kebingungan.
Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering.
"Hallo, Kak."
"A-aku…."
"Apa?!"
Hancur! Hancur sudah.
Kontraknya dengan agensi diputus. Kerjasama dengan pihak lain juga diputus sepihak.
"Jika ada berita tentang hari ini, kalian akan mendapatkan imbasnya!"
Dion mengancam sebelum menarik Camelia pergi.
"Tidak! Tunggu! Jangan pergi! Saya akan meninggalkan drama ini. Tolong jangan blacklist saya. Saya menyesal!"
Alice mengejar. Namun, tertahan untuk pengawal Camelia. Yang mana, para pengawal tadi mengamankan ponsel orang yang melihat keributan itu.
Sutradara menghela nafasnya. Hari ini benar-benar kacau.
"Alice, kau dipecat!" Setelah mengatakan hal itu, melangkah pergi. Karena hal ini, syuting kembali ditunda hingga besok.
Satu persatu beranjak. Meninggalkan Alice sendirian.
*
*
*
"Bagaimana bisa kau bertahan dengan lawan main sampah itu, Kak?"tanya Dion kesal. Tak kala mereka tiba di mobil. Evelin turut ikut. Wanita itu tidak mengatakan apapun. Rasa kaget masih mengelilinginya.
Gila! Dalam sekali dering, karier dan hidup seseorang langsung hancur.
"Dia bermain petak umpet, Dion. Mana mungkin aku bisa langsung menangkapnya. Tapi, terima kasih untuk hari ini. Kau membereskan ulat bulu itu dengan bagus!"jawab Camelia. Tersenyum puas. Sebelumnya, Camelia terus menantikan tindakan Alice dan Joseph. Namun, Alice malah melakukan hal bodoh dan berakhir di tangan Dion.
"Jadi, itu ulat bulu yang Evelin maksud?"
"Ya begitulah."
"Lalu pria ba*jingannya?"
__ADS_1
"Tadi ada tapi pergi entah kemana. Mungkin dia takut terlibat."
"Pengecut!" Camelia terkekeh.
"Tapi, Dion. Apa benar dia mengatakan semua itu?"
"Mana mungkin aku marah tanpa sebab kak," sahut Dion.
"Benar-benar bodoh."
"Bodoh sekali. Apa dia kira nama Shane ini hanya pajangan?"dengus Dion.
"Moodku jadi berantakan. Ayo ke pantai, Kak," ajak Dion kemudian.
"Evelin, kau mau ikut?"
"Ah … iya, Nona!" Evelin yang melamun menjawab spontan.
"Ya, kita harus menyegarkan pikiran. Terutama Evelin. Kau pasti kaget."
"Ya?"
Dion tersenyum simpul.
"Jika pulang langsung, Mom pasti sangat berapi-api."
"Kau sudah melakukannya dengan baik. Tapi, tidak menutup kemungkinan Mom melakukan hal lain," sahut Camelia.
"Ah … lupakan saja, Kak. Ayo ke pantai. Kemudian, karena setelah ini luang, bagaimana jika kita mengatakan pada Mom hari ini bisa?"tanya Dion.
"Ide bagus. Aku akan hubungi Mom."
*
*
*
"Dah Eve."
"Sampai besok, Nona."
Alice turun di dekat rumahnya. Menatap mobil yang menjauh.
Benar-benar hubungan kakak adik yang luar biasa. Aku iri pada mereka. Ahh … apakah aku harus meminta Ayah dan Ibu memberikan aku adik?
Alice terkikik geli sendiri.
Mereka tidak begitu lama di pantai. Hanya berjalan sebentar menikmati deburan ombak dan semilir angin, kemudian makan siang. Lalu pulang.
Sementara itu, Dion tidak mengemudikan mobil arah pulang, melainkan menuju pusat pengamanan dan pelatihan keluarga Shane.
Perjalanan memakan waktu cukup jauh. Janjinya, mereka akan langsung bertemu di lokasi.
Tempat yang mereka tuju, adalah lokasi yang dengan pengamatan ketat. Sebagai keluarga besar, wajar memiliki pusat tersendiri. Karena, ada banyak yang harus dilindungi.
"Kak."
"Hm."
"Pria baj*ngan itu pasti ada mengusikmu, kan?"tanya Dion. Camelia mengeryit. Mengapa membahas itu lagi? Tapi, jika tidak dijawab atau disangkal, Dion akan mencari tahunya sendiri.
"Begitulah. Hanya saja seperti yang aku katakan tadi, tidak terang-terangan," jawab Camelia.
"Aku ingin mengubur penulis artikel sialan itu! Beraninya dia menuliskan Kakak bersahabat dengan pria seperti itu."
"Entahlah. Aku yakin ada yang ia inginkan. Jadi, aku hanya menunggu saja," jawab Camelia.
"Namun, tidak ada pergerakan. Lalu tiba-tiba, ulat bulu itu membuat masalah besar. Huh! Siapa sangka, ia menamatkan dirinya sendiri," lanjut Camelia.
Tapi, pasti akan kehebohan besar. Seperti waktu itu.
Camelia sudah merasa bosan.
"Kita sudah sampai, Kak."
Camelia tersadar. Mereka sudah tiba. Di hadapan mereka, ada bangunan tinggi seperti menara.
Ada lapangan yang membentang luas dengan berbagai macam alat latihan fisik. Di belakang menara itu ada sebuah bangunan lagi. Tidak terlalu tinggi namun luas.
"Nona, Tuan Muda." Seseorang menyambut mereka.
"Mr. John."
John adalah kepala di area ini.
"Tuan dan Nyonya Besar sudah menunggu di dalam. Begitu juga dengan kedua Tuan Muda Kecil," ujar Mr. John.
Camelia dan Dion mengangguk. Keduanya segera melangkah masuk. Sepanjang perjalanan, mereka berpapasan dengan para pengawal.
"Katanya hari ini akan ada sparing."
"Benarkah?"
"Ya, anak baru dari China itu juga turut serta."
"Apa maksud mereka Ling Rui?"tanya Camelia pada Dion.
__ADS_1
"Mungkin, Kak."