
"Welcome Camelia, Lucas, Liam," sambut Presdir Glory Entertainment, menyambut artis dan aktor kebanggaannya.
"Terima kasih, Tuan David," balas Camelia dengan tersenyum ramah. Lucas dan Liam menuju sofa, duduk di sana sembari menikmati cemilan yang tersedia.
"Bagaimana kabarmu, Lia?"tanya Tuan David, berbincang dengan Camelia di meja kerjanya.
"Setelah berziarah, saya merasa lebih baik, Tuan David," jawab Camelia.
"Tidak perlu begitu formal. Panggil saja aku seperti biasanya, saat Chris masih ada," tutur Tuan David.
Usia Tuan David, hampir sama seperti usia Chris, sekitar 37 tahun. Dulu, sebelum Chris pergi, Camelia biasa memanggilnya kakak. Camelia tersenyum simpul.
"Ahaha, baiklah, Kak." Melihat wajah tegas Tuan David, Camelia mengiyakan.
"Seratus hari sudah Chris pergi, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Comeback atau masih ingin vakum?"tanya Tuan David, ingin tahu keinginan artisnya ini. Camelia menghela nafas pelan.
"Besok, saat acara red carpet aku akan mengumumkan comeback," jawab Camelia, tegas.
"Hm … lantas kau akan comeback di mana? Syuting atau model?"
"Kak Lina memberiku beberapa naskah dan juga tawaran model, aku rasa aku akan mengambil keduanya." Wajah Tuan David tampak ragu.
"Kau yakin?"
"Saranku lebih baik pilih salah satu," lanjut Tuan David.
Mengingat Camelia baru kembali dan keluar dari kesedihannya setelah ditinggal pergi Chris. Menurutnya, lebih baik ambil satu proyek saja yang tidak terlalu berat. Sembari menyesuaikan diri kembali.
Camelia menghela nafasnya kemudian tersenyum. "Aku tahu kekhawatiranmu, Kak. Tapi, keputusanku sudah bulat," jawab Camelia. Tetap tersenyum meskipun Tuan David menghela nafasnya kasar.
"Lagipula, selama ini aku tidak bisa dikatakan vakum karena di China aku mengambil job," imbuh Camelia, kali ini dengan nyengir.
Tuan David menggelengkan kepalanya.
"Kalian suami istri memang mirip, bahkan anak kalian pun sama." Mendengus pelan. Sama-sama gila kerja, sama seperti anak mereka, yang sejak bayi bahkan sudah bekerja, jadi model.
Camelia terkekeh. Memang, mereka punya banyak kemiripan sehingga tidak heran mereka dapat menunjukkan citra keluarga yang sempurna.
"Dulu, pada saat Chris merekomendasikanmu, aku sempat ragu padamu. Secara kau itu pendatang dari luar negeri dan tidak punya latar belakang di dunia akting atau hiburan. Bahkan wajahmu saja saat datang audisi tidak menyakinkan. Tapi, siapa sangka kau berhasil memukau para juri juga aku. Sungguh, Chris benar-benar hebat menemukan pertama seberharga dirimu." Sedikit lari dari topik, membahas masa lalu. Camelia tertawa.
"Anda terlalu memuji, Tuan." Membalas formal.
"Tidak. Jangan merendah."
"Hm … bawaanmu serius sekali hari ini. Kalau begitu katakan proyek mana yang akan kau ambil untuk comeback."
Percakapan kembali pada bahasan, membicarakan comeback Camelia. Camelia menerima salah satu tawaran dari brand perhiasan dan memilih satu naskah drama tentang drama rumah tangga untuk comebacknya.
"Hm, kau mau mencoba genre baru?"tanya Tuan David. Biasanya Camelia membintangi drama romansa anak muda, atau action. Mengambil genre rumah tangga ini adalah pertama kalinya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin akting atau kemampuanku monoton, Kak," jawab Camelia.
"Hm … boleh saja. Aku tidak akan membatasi artisku untuk mengembangkan kemampuannya."
"Ah ya … mengenai orang yang kau rekomendasi itu, aku sudah mencari sedikit tentang latar belakangnya," ucap Tuan David.
"Jadi, kakak menerimanya, bukan?"tanya Camelia, menunjukkan wajah berharap. Tuan David tersenyum simpul.
"Camelia Shane, apa kau sadar akan posisimu?"tanya Tuan David serius.
Camelia mengangguk. Tentu saja ia sadar akan posisinya.
"Seharusnya kau tahu jawabanku," balas Tuan David.
Camelia tertegun. Matanya mencari persetujuan dari Tuan David. Namun, itu tidak ia dapatkan.
"Tapi, Kak …."
"Lia, kau bukan orang baru di perusahaan dan industri hiburan. Aku yakin kok pasti tahu aturan perusahaan. Memang kau tidak dilarang untuk merekomendasikan seseorang. Namun, perusahaan harus melihat kemampuan dari orang yang kau rekomendasikan itu."
Camelia mendesah pelan. Ia melupakan hal penting itu. Perusahaan ini tidak menerima jalur belakang untuk masuk ke dalam perusahaan. Untuk masuk harus mengandalkan kemampuan. Sama sepertinya dulu, meskipun direkomendasikan oleh aktor ternama, bintang perusahaan ini, sekaligus suaminya, ia tidak serta merta langsung diberikan proyek besar. Camelia merangkak dan akhirnya bisa sampai di posisinya.
"Terlebih jika menjadi managermu. Akan banyak isu yang ditumbulkan. Kau itu artis besar. Bagaimana bisa managermu nanti orang yang baru masuk? Sedang sepak terjangnya tidak diketahui? Dampaknya tidak hanya kepadamu juga kepada perusahaan."
Camelia menunduk. Meremas jemarinya. Dalam benaknya gelisah.
Bagaimana ini? Kak Lina pasti kecewa.
"Kakak tidak bermaksud membuatmu kecewa. Hanya saja kau harus tahu peraturan perusahaan dan posisiku di sini," tambah Tuan David.
"J-jadi bagaimana? Orang yang aku rekomendasikan itu termasuk orang terdekatku. Saat aku terkena musibah hanya dia ada di sampingku."
Camelia menjadi bingung sekarang. Apa yang harus dia katakan pada kak Lina nanti? Perusahaan menolaknya? Padahal Camelia yang mengajaknya.
"Dia harus melalui perekrutan," jawab Tuan David.
"Aku bisa merekrutnya saat ini …." Mata Camelia berbinar mendengarnya.
"Akan tetapi … dia tidak akan langsung bekerja melainkan menjalani pelatihan dulu selama 3 bulan ke depan sampai perekrutan dibuka," lanjut Tuan David. Tiga bulan kedepan adalah perekrutan artis ataupun aktor.
"Aku harap kau tidak keberatan, Lia."
Camelia menimbang.
"Ya … biar bagaimanapun aku aku mengikuti peraturan perusahaan," jawab Camelia. Tuan David tersenyum.
"Sebenarnya tadi, andai kata kakak menolaknya, aku akan tetap merekrutnya menjadi asisten pribadiku," tutur Camelia kemudian. Di saat ia bingung tadi, terlintas ide tersebut.
Tuan David terkesiap. Tak lama kemudian ia tertawa. "Kau ini! Benar-benar teguh!"
__ADS_1
"Ya … jika perusahaan menolaknya, aku akan menerimanya!"
"Hahaha … tenang saja. Aku akan menjaganya sampai dia pantas untuk menjadi managermu!" Tuan David membuat janji.
"Aku percaya padamu, Kak!" Setelahnya keduanya berjabat tangan.
"Lalu anak-anakmu?"tanya Tuan David, melihat ke arah Lucas dan Liam yang kini tengah memainkan permainan monopoli. Ya karena sebelumnya Lucas dan Liam sering datang ke ruangan ini, dan kadang bosan mereka akan bermain.
"Mereka hanya akan mengambil tawaran model,” jawab Camelia.
"Why?"
"Mommy, dia meminta Lucas dan Liam mengurangi kegiatan mereka dan menemaninya di rumah," jelas Camelia.
"Hm … ya sudah kalau begitu. Aku akan segera mempersiapkan apa yang kalian butuhkan."
Camelia mengangguk. "Jangan lupa jaga kesehatanmu."
"Baik, Kak."
"Setelah ini, langsung pulang?"tanya Tuan David.
Camelia kembali mengangguk.
"Wait - wait? What the hell??!" Tiba-tiba saja Kak Abi berteriak heboh dengan wajah memerah. Sontak yang ada di ruangan itu menoleh pada Kak Abi. Wanita itu berdiri dengan memandang heran ponselnya.
"Ada apa manager Abi?"tanya Tuan David.
"Lia, lihat ponselmu!"titah Kak Abi, tidak menjawab pertanyaan Tuan David.
"Ada apa sebenarnya?" Dengan bingung Camelia membuka ponselnya. Ditariknya jendela notifikasi.
Mata Camelia melebar membaca salah satu notifikasi. Wajahnya tampak terkejut.
"Apa-apaan ini?!"
Tuan David yang masih bingung turut membuka ponselnya.
"Gosip macam apa ini?!" Tuan David malah berteriak paling kencang.
Lucas dan Liam saling pandang. Dari tatapan keduanya, agaknya sudah mengerti. Ada gosip atau skandal tentang mommy mereka. Namun, gosip apa?
Ponsel mereka ada pada kak Abi. Mau meminta? Melihat wajah geram kak Abi, mereka urung. Memilih duduk diam dan mendengarkan.
"Lia apa foto ini benar?!"tanya Tuan David, menunjukkan foto yang didapatkan dari postingan sebuah akun gosip. Foto Camelia berpelukan dengan seseorang di bandara.
"Lia, kau bisa menjelaskannya?" Kak Abi menatapnya tajam. Begitu juga dengan Tuan David.
Camelia memejamkan matanya. Dalam hati berdecak kesal.
__ADS_1
Siapa yang memotretnya?