Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 206


__ADS_3

*


"Archie, Alel, come here!" Lucas memanggil kedua peliharaan keluarga Shane itu dengan penuh semangat.


Kedua anak black panther itu berlari, memenuhi panggilan Lucas.


"Lucu sekali. Wangi, kalian sudah mandi kah?"tanya Lucas. Dibalas dengan Archie dan Alel yang dengan manja mengajak Lucas bermain.


"Sini-sini, aku gelitikin kalian!" Lucas tertawa ceria.


"Hei, Lucas!"


Liam berteriak dari anak tangga. "Jangan curang kau!!"


"Curang apanya? Kau saja yang telat bangun, wekkk!"


"Harusnya kau membangunkanku!"seru Liam.


"Bukankah biasanya kau bangun lebih awal?"sahut Lucas. Sama sekali tidak mau disalahkan. Liam mendengus sebal.


"Alel, come here. Datang padaku!"panggil Liam, melambaikan tangannya pada memanggil Alel.


Archie langsung menghampiri Liam. Berputar mengelilingi kakinya.


Tak berselang lama, kedua anak panther hitam itu meringkik, bak anak kecil yang tengah lapar.


"Mom!" Kedua anak itu serentak memanggil Camelia. Kedua anak itu menuju dapur. Diikuti oleh Alel dan Archie.


"Ada apa?"sahut Camelia. Camelia tengah membuat sarapan. Mumpung ia masih menikmati masa senggangnya. Sebelum kembali sibuk dengan pemotretan, persiapan syuting film, dan kemudian terbang ke Swiss untuk syuting film.


"Susu," ucap Lucas. Camelia melihat ke bawah. Sejenak menghela nafasnya pelan.


Tugas membuat susu diberikan padanya. Kedua panther hitam itu sudah terbiasa dengan takaran susu yang ia buat. Dan anehnya, meskipun takarannya sama namun orang lain yang membuatnya, kedua panther hitam itu tidak mau minum. Benar-benar membuat orang pusing. Makanya, saat akan bepergian lama, menstok susu di kulkas adalah caranya.


"Sebentar," jawab Camelia. Ia lebih dulu menuntaskan masakannya. Tidak satu menu itu saja.


Lucas dan Liam menunggu sembari mengajak Alel dan Archie main. Untuk mengalihkan rasa lapar.


Sekitar 5 menit kemudian, Camelia telah selesai masak. Bergegas untuk membuat susu.


"Hari ini Mom ada mau beli mall, kalian mau ikut?"tanya Camelia, saat menyerahkan dua botol susu pada Lucas dan Liam.


"Hmm … tidak. Hari ini mau full bermain dengan mereka," jawab Lucas, memberikan keputusannya.


"Ikut, Mom," jawab Liam.


"Kau serius tidak mau ikut, Lucas?"tanya Camelia memastikan. Lucas menggeleng.


"Tapi, belikan pesanan Lucas ya Mom," jawab Lucas dengan tersenyum lebar.


"Sama saja!"dengus Liam. Tidak ikut tapi nitip.


"Baiklah. Kalau begitu jam-jam 10 nanti kita gerak," ujar Camelia.


*


*


*


Sepertinya jam yang Camelia katakan tadi, ia dan Lucas meninggalkan kediaman Shane sekitar pukul 10.00.


Camelia membawa mobil brand dalam negeri, yang sebelumnya mereka pernah menjadi BA produknya.


Tempat yang pertama Camelia datangi adalah salon. Camelia tidak lama di salon. Ia hanya merapikan rambutnya saja. Kemudian menuju butik.


Camelia memesan dua potong gaun dengan desain dan motif yang telah ia persiapkan. Meskipun hanya lewat kata-kata, tidak dengan desain. Sebab ia adalah jurusan perfilman, bukan desainer yang pandai menggambar fashion.


Liam menunggu dengan bosan. Dalam benaknya membatin. Urusan wanita memang sangat lama. Apalagi jika soal perawatan.


Wait! Apa Lucas tahu? Makanya tidak ikut? pikir Liam.


"Liam, mau mau pesan tidak? Sekalian diukur jika iya," tanya Camelia, menyadarkan Liam yang melamun.

__ADS_1


"Boleh, Mom?"tanya Liam.


"Mengapa tidak boleh?" Liam langsung turun. Ia mempersilahkan pegawai untuk mengukur tubuhnya.


"Secepatnya kami akan mengabari Anda, Nona," ucap pemilik butik pada Camelia.


Camelia mengangguk. Mereka kemudian meninggalkan butik.


"Mau ke mall? Cari makan, sekalian makan siang?"tawar Camelia.


"Mau!" Liam menjawab cepat.


Camelia melajukan mobil menuju ke mall. Setelah memarkirkan mobil, Camelia menggandeng tangan Liam menuju area food court.


"Makan berat dulu baru beli jajanan, bagaimana?"saran Camelia.


"Okay, Mom." Keduanya menuju salah satu restoran Korea. Beberapa menu khas Korea dipesan.


Tak menunggu lama, makan siang pesanan mereka datang.


"Nona Camelia?" Seseorang menyapa. Suara laki-laki. Camelia mendongak ke arah sumber suara.


"Nicholas?"gumam Camelia.


"Anda makan di sini juga?" Nicholas datang menghampiri. Bertanya dengan senyuman di bibir. Ramah.


"Ah, kebetulan," sahut Camelia. Ia juga tidak menduga akan bertemu dengan Nicholas di tempat makan ini. Camelia melirik sekitar, cukup ramai. Camelia juga tidak mengambil meja VIP.


"Hai, Uncle," sapa Liam, menatap datar Nicholas sekilas. Kemudian mulai makan.


"Apa boleh saya bergabung?"tanya Nicholas.


Camelia menimbang sejenak. Di sini ramai, dan meja hampir penuh. "Anda sendirian?"tanya Camelia.


"Iya," jawab Nicholas. Camelia kemudian mempersilakan Nicholas untuk duduk.


"Anda sudah pesan, kan?"tanya Camelia lagi. Jika sudah pesan, lebih baik menunggu pesanan Nicholas datang.


"Kalau begitu kami makan ya." Nicholas mengangguk. Tatapannya lekat pada Camelia. Ketimbang ke perasaan suka, tatapannya lebih kepada kagum. Namun, tetap saja. Camelia cukup risih dengan itu.


"Nona," panggil Nicholas.


"Hm?" Camelia mengeryit. Lama-lama, ia sebal juga dipanggil Nona oleh pria muda ini. Memang sih tidak ada yang salah. Namun, vibesnya Nicholas itu seperti bawahannya. Padahal mereka kan rekan kerja, hanya usia saja yang berbeda.


"Saya rasa panggilan kakak lebih cocok," ucap Camelia. Nicholas tertegun. Matanya berbinar.


"Baiklah, Kakak," jawabnya dengan tersenyum lebar.


Lagi, Camelia cukup tertegun dengan Nicholas. Sikapnya kini jauh lebih santai.


Camelia menilik ingatannya ke belakang. Agaknya, Nicholas bukan orang yang acuh.


"Tidak perlu cemas, Mom. Kan ada aku," ucap Liam, dalam bahasa China. Seakan mengerti kekhawatiran Camelia.


Camelia mengangguk pelan. "Kak, mengapa Anda mau mengambil peran dalam film ini?"tanya Nicholas.


"Ya?" Meskipun Camelia yang menyarankan, rasanya aneh dipanggil kakak oleh Nicholas.


"Ya? Maksudnya saya ini kan termasuk pendatang baru. Jauh dari kata profesional. Sementara Anda kan sudah profesional, kemudian artis tersohor. Sementara saya?"jelas Nicholas.


Camelia mengerti maksud Nicholas. "Ada dua alasan," jawab Camelia.


"Pertama, seperti yang Anda sebutkan tadi, bagi saya ini seperti tantangan. Kedua, saya tidak akan menerima tawaran tanpa mencari tahu semua informasinya. Jadi, bagi saya, lama atau tidaknya seseorang dalam dunia industri, tidak bisa mengukur seberapa besar profesionalismenya. Jangan terlalu dipikirkan. Lagipula, bukankah ini sebuah pengalaman berharga?" Camelia menjelaskannya, disertai dengan gerakan tangan.


Camelia menerima tawaran film ini bukan karena tidak ada tawaran lainnya. Banyak, ada banyak tawaran yang masuk untuknya. Namun, hatinya jatuh pada tawaran film ini. Kemudian, ada poin plusnya. Kontrak untuk menjadi pemeran dalam film ini sangat mahal. Dan lebih dari bayaran film yang pernah ia terima sebelumnya. Apalagi jika film ini akan sukses. Maka tentu saja akan ada bonus untuk pemain dan kru.


"Anda juga aktor pendatang baru terbaik. Jadi, saya rasa Anda sudah paham bagaimana jalannya syuting nanti. Kemudian, persiapan juga masih panjang. Jadi, jangan terlalu overthinking," tambah Camelia lagi.


"Benar kata Mom. Jika profesional dinilai dari umur, bagaimana dengan saya yang masih kecil ini? Kemudian jika dinilai dari sudah lama atau belumnya, itu sebuah pengukuran yang tidak pasti. Harus dibuktikan dengan tindakan. So, fighting, Uncle!"


Liam turut menanggapi.


Nicholas merasa terharu. Tidak ia sangka akan mendapat dukungan dan kepercayaan dari Camelia.

__ADS_1


"Tuan, silakan pesanannya." Pegawai restoran mendatangi meja mereka dan memberikan pesanan Nicholas.


"Thanks," ucap Nicholas. Pegawai tersebut mengangguk.


"Kak, saya ada permintaan. Apakah boleh?"tanya Nicholas.


"Apa itu?" Nicholas mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah pulpen dan buku catatan.


"Tolong tanda tangan Anda," ucap Nicholas, dengan mata berbinar.


"Saya dan keluarga saya adalah fans Anda," ujar Nicholas. Ia menyodorkan buku dan pulpen itu.


Camelia terkesiap. Nicholas, penggemarnya?


"Okay." Camelia membubuhkan tanda tangan pada buku yang Nicholas sodorkan.


"Terima kasih, Kak." Nicholas tampak begitu senang.


"Saya permisi lebih dulu. Sampai jumpa lagi, Kak," pamit Nicholas, kemudian keluar dari restoran.


"Mom merasa aneh dengan sikapnya," ujar Camelia pada Liam.


"Tidak perlu begitu cemas, Mom," sahut Liam. Ia masih asyik dengan makanannya. Camelia memesan cukup banyak. Nanti juga akan pesan take away.


"Kau tahu sesuatu, Liam?"tanya Camelia. Liam mengedikkan bahunya.


"Dari gelagatnya, Mom," jawab Liam. "Karakter seseorang bisa diamati dari gerak tubuh, dan tatapan."


"Astaga," gumam Camelia. Kembali takjub dengan sang anak.


Setelah selesai makan, dan pesanan take away siap, Camelia langsung membayar dan meninggalkan restoran.


Mereka tidak langsung pulang. Liam menarik Camelia menuju salah satu store. "Mau beli apa?"tanya Camelia.


"Stabilo. Ada beberapa warna yang sudah habis," jawab Liam. Ia sudah mengambil keranjang. Meminta Camelia untuk menunjukkan padanya stabilo yang ada rak.


Dan yang namanya belanja, kadang tidak sesuai dengan list atau niat. Tadinya hanya mau beli stabilo. Namun, keranjang yang Liam bawa itu sudah beraneka macam isinya.


Setelah itu, tidak juga langsung pulang.


Mereka menuju store mainan. Liam mencari yang ia inginkan. Camelia hanya menunggu sembari melihat-lihat.


"Sudah, Mom." Liam kembali, menunjukkan keranjang yang berisi rubik, ada juga mainan mobil-mobilan. Serta pegawai store yang membawakan satu set puzzle.


"Ada lagi?"tanya Camelia setelah keluar dari store. Bawaannya sudah cukup banyak. Mana ia sengaja lagi tidak membawa pengawal. Begitu juga dengan Liam.


"Ada, Mom. Jajanan," jawab Liam. Dan mereka kembali ke area food court. Camelia kembali membebaskan Liam mau membeli makanan dan minuman apa saja.


Dan hasilnya, bagasi mobil penuh dengan belanjaan mereka. Liam tersenyum lebar. Kapan lagi quality time hanya berdua dan tentunya menghabiskan uang Camelia.


"Tidak ada yang mau disinggahi lagi, kan?"tanya Camelia, saat mengemudi mobil keluar dari mall.


Liam menggeleng. "Okay."


*


*


*


Sekitar 40 menit kemudian, Camelia tiba di kediaman Shane. Jalanan cukup macet. Jadi, butuh waktu yang lebih lama daripada biasanya.


Liam tertidur selama perjalanan. Sampai kediaman juga belum bangun.


Camelia masuk ke dalam dengan menggendong Liam.


Lucas menyambut. Ia tidak sedang bermain dengan Archie dan Alel.


Camelia menidurkan Liam di sofa. "Tadi Mom beli banyak makanan. Sebentar, Mom ambil dulu," ucap Camelia. Lucas mengangguk. Ketimbang makanan, ia lebih penasaran dengan Liam. Mengapa sampai ketiduran.


Lucas menggoyahkan lengan Liam. Dipanggil juga. Dibalas hanya dengan gumaman kesal.


"Ada stabilo." Lucas telah meng unboxing bawaan Camelia. Senyum jahil tersungging di bibirnya. Kapan lagi bisa menjahili Liam?

__ADS_1


__ADS_2