Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kemiripan bukan Penentu


__ADS_3

Lagi dan lagi, Lina terpana dengan tempat tinggal Camelia. Unit termahal di kawasan apartemen, yang di Beijing dikenal sebagai kawasan apartemen mewah. Lina sungguh-sungguh tidak menyangka kalau Camelia akan mendapat kesuksesan setelah tertimpa musibah. Sungguh, ia benar-benar tercengang membaca artikel tentang Camelia Shane. Tidak sukses di negara sendiri tapi berhasil membesarkan nama di Kanada walau bukan atas nama Jasmine. Tidak ada lagi Jasmine Liang di dunia ini. Dia sudah lenyap lima tahun lalu.


"Mommy!"sapa Lucas dan Liam bersamaan saat Camelia dan Lina yang masuk dengan celingak-celinguk melihat interior apartemen. Kedua anak itu tengah menonton drama. Entahlah, Camelia juga tidak mengerti mengapa Lucas dan Liam yang sepertinya kecanduan menonton drama negeri Tirai Bambu itu. Liam Kerley remote dan mematikan siaran televisi. 


Camelia duduk di antara Lucas dan Liam, memberikan kedua anak itu kecupan manis di dahi. "Mommy tidak terlalu lama meninggalkan kalian, kan?"


"Aman, Mom. Kami kan bukan anak kecil," sahut Liam.


"Okay-okay. Mom mengerti. Ah ya kenalkan ini Aunty Lina, manager Mommy dulu sekaligus Kakak Mommy," terang Camelia. Mereka berdua sudah kenal dengan Lina. Namun, harus tetap menyapa secara formal.


"Hallo, Aunty!"sapa Lucas dan Liam pada Lina. 


Lina terkesiap. "Lucas? Liam?" Nama yang ia sebutkan memang tepat. Namun, yang ditunjuk olehnya terbalik.


"Kau terbalik, Kak. Lucas yang di sebelah kananku dan Liam, di sebelah kiriku. Kau bisa membedakan mereka dari perilaku mereka nanti."


"Ah salah ya? I'm sorry. Aunty keliru tadi," ringis Lina. Padahal Camelia sudah memberitahunya tentang Lucas dan Liam serta cara membedakan keduanya. Tapi, karena banyaknya masalah yang menghampirinya akhir-akhir ini membuat Lina sedikit pikun.


"All right, Aunty. Selamat datang di rumah kami," sahut Lucas ramah.


"Duduk, Kak. Jangan sungkan. Ini rumahku, kok," tutur Camelia. Lina menurut.


"Uncle Dion sama Aunty Abi mana?"tanya Camelia pada Lucas dan Liam.


"Uncle Dion tadi pamit keluar. Kalau Aunty Abi lagi susun belanjaan di dapur," jawab Lucas.


"Loh kok baru disusun sekarang? Kalian berapa lama tadi belanjanya? Terus kenapa nggak bantuin Aunty Abi?" Liam berdecak mendengar cercaan dari Mommynya. Camelia heran pasalnya pulang pergi ke Xian saja naik pesawat sudah memakan waktu empat jam lebih. Sedang ia meninggalkan apartemen, keempat orang itu sudah sekitar satu jam-an keluar. 


"Aunty Abi tadi tidur dulu, Mom," sahut Liam.


"Aunty yang nggak mau, Mom. Aunty Abi nyuruh kita untuk duduk manis saja," tambah Lucas. Kedua anak itu mau tak mau hanya bisa menuruti perintah manager itu. 

__ADS_1


Camelia mengangguk mengerti. Ia kemudian pamit sebentar ke dapur. Tinggallah Lucas, Liam, dan Lina. Lina menilik lekat keduanya.


 Perasaan terkejut menghampiri dirinya. Kedua anak ini, begitu mirip dengan Presdir Gong. Apa jangan-jangan kedua anak ini adalah anak Presdir Gong? Tapi, ada kemiripan juga dengan suami Lia. Siapa ayah sebenarnya kedua ini?


"Apa Aunty merasa ada yang aneh dari kami berdua?"tanya Lucas melihat tatapan Lina padanya dan Liam.


"Apa Ayah kalian benar-benar Chris Shane?" Lina tak bisa membendung rasa penasarannya. 


"Sejak kami lahir, hanya Daddy yang berada di sisi Mommy dan kami. Tentu dia adalah Daddy kami. Kenapa? Apa Aunty menemukan ada yang janggal? Semisal kemiripan?" Lucas menunjukkan tatapan mengintimidasi. 


"Ah tidak. Aku tidak meragukannya. Lagipula ada bukti legal Mommy kalian adalah istri Daddy kalian. Tidak perlu diragukan lagi kalau dia adalah Daddy kalian," sergah Lina. Lina merasa tertekan dengan tatapan Lucas dan Liam yang lebih tajam nan dingin. 


"Rasanya aku ingin pulang ke rumah saat ini juga!"ucap Liam dalam bahasa Jerman. 


"Benar. Di sini terlalu banyak orang, mungkin sebentar lagi masalah akan bermunculan. Belum lagi mengenai Paman tadi. Entah mengapa aku merasa ada keterikatan dengannya. Namun, Melihat gadis kecil itu, aku seperti membencinya. Tapi, urusan Mommy belum selesai di sini. Tidak mungkin kita meninggalkan Mommy sendiri di sini."


Lina mengerjap mendengar bahasa asing yang tidak Lina ketahui apalagi kuasai. Adiknya berbicara singkat, Kakaknya menanggapi panjang, hanya itu yang bisa Lina telaah. 


"Kau berniat menyelidiknya?"tanya balik Liam, dengan nada datar.


"Hanya ingin menuntaskan rasa penasaran. Lagi, jika kita masuk ke sana, aku yakin banyak informasi penting yang akan kita dapatkan. Terlebih ia termasuk Paman angkat kita bukan?"


"Paman angkat dari mana?"


"Ahhh lupa. Masih tunangan." Lucas tertawa renyah. Liam mendengus.


"Kalau begitu kau setuju?"


"Kita harus membantu Mommy menyelesaikan urusannya di sini. Lalu kembali ke Kanada dengan tenang," sahut Liam.


"Yeah!"

__ADS_1


"Anak-anak apa yang kalian bicarakan?"tanya Lina ingin tahu. 


"Rahasia," jawab Lucas dan Liam dengan senyum lebar mereka. Lina malah merasa berdigik melihatnya. 


Liam lebih baik tetap datar. Jika tersenyum, aku seperti merasa ada hal besar yang akan ia atau keduanya lakukan. 


*


*


*


"What?!" Camelia memekik tertahan saat Kak Abi menceritakan tentang pertemuan Lucas, Liam, dan Andrean. Kak Abi melirik sekilas. Ia tidak terlalu mempedulikan ekspresi Camelia karena ia sendiri yang sudah melihat perkembangan dan pertumbuhan Lucas dan Liam sampai detik ini terkejut tadi.


"Benar. Parasnya begitu mirip dengan kedua anakmu. Jika ayah mereka bukan Chris, dari tingkat kemiripan aku dan orang lain pun akan langsung mengklaim pria itu sebagai ayah Lucas dan Liam," ucap Kak Abi. 


"Oh benarkah?" Camelia menjadi datar. Ia menyembunyikan rasa kaget dan kegugupannya di dalam hati. 


"Hm. Tapi, menurutku itu tidak terlalu mengejutkan sih. Di dunia ini banyak yang mirip. Kita tidak bisa mendikte seseorang yang mirip dengan seseorang lainnya satu darah bukan?"


"Ya, kau benar. Bahkan aku yang sejak kecil selalu mematri nama Ayah dan Ibu Liang sebagai orang tuaku, nyatanya aku hanya anak angkat. Kemiripan bukan dasar seseorang dan seseorang lainnya satu darah."


"Tes DNA bahkan bisa dipalsukan sekarang. Yang paling benar adalah pengakuan orang yang terlibat di dalamnya," ucap Kak Abi. 


Camelia tertegun sesaat. Pengakuan? Aku sudah mengakuinya. Bahkan Daddy dan Mommy juga sudah tahu. Asalkan inti sudah tahu, yang lain bukan masalah.


"Ya, kau benar, Kak."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2