Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Prediksi Chap. 212


__ADS_3

Andrean segera mengambil ponselnya. Namun, sebelum ia memanggil kontak Camelia, ada panggilan masuk, dan itu dari Camelia.


"Hallo, Lia." Andrean merasa tegang dan gelisah bersamaan. Jantungnya berdegup kencang. Firasatnya mengatakan bahwa Camelia akan menjawab ajakannya kemarin.


"Sayang, mengenai ajakanmu itu … aku …."


Andrean semakin tegang. Ia duduk tegak dengan tangan kiri meremas celananya.


"Aku …." Andrean semakin tidak sabar menanti.


"Ya?"sahut Andrean.


"Aku,"


"Lia?"panggil Andrean. Saat tidak mendengar suara lagi. Dahinya mengernyit. Mengapa lama sekali?


Andrean melihat ponselnya. Tidak menyala. "Habis daya?"


Segera Andrean kalap menjadi pengisi daya ponselnya. Satu harian galau dan ponselnya terus ia gunakan tanpa ingat mengisi daya. Alhasil, ponselnya kehabisan daya.


Andrean meruntuki dirinya. Pasti tadi Camelia sudah menjawabnya. Mengapa ia ceroboh sekali? Camelia pasti merasa bingung di sana. Semoga saja tidak salah paham.


"Ayo, ayo! Cepatlah terisi!"gumam Andrean, panik.


"Tuan, Anda kenapa?"tanya Hans. Ia baru saja masuk, mengingatkan Andrean bahwa jam kerja telah usai dan saatnya pulang. Berkas-berkas di atas meja Andrean tidak harus diselesaikan hari ini. Namun, pasti akan dibawa pulang oleh Andrean.


Andrean tidak menjawab. Ia sangat tidak sabar menunggu daya ponselnya terisi. "Ponsel!"ucap Andrean, menengadahkan satu tangannya pada Hans.


Hans memberikan ponselnya. "Untuk apa, Tuan?"


Tidak dijawab oleh Andrean. Hans memiringkan kepalanya.


Andrean menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Lia. Jangan salah paham soal tadi. Ponselku habis daya. Ini aku menggunakan ponsel Hans. Aku harap kau tidak marah dan salah paham," ujar Andrean, menjelaskan dengan cepat.


Bertengkar dengan Calon Nyonya, kah?terka Hans dalam hati.


"Aku kira ada apa." Camelia menyahut datar di sana. Dugaan Andrean benar. Tampaknya memang kesal karena hal tadi.


"Jadi, apa jawabannya, Lia?"tanya Andrean. Kali ini suhu tubuhnya terasa dingin.


"Dengarkan baik-baik. Aku tidak akan mengulang untuk yang ketiga kalinya!"tegas Camelia, memberikan peringatan lebih dahulu pada Andrean.


"Ya! Ya!" Andrean berseru.


"Mari menikah, secepatnya!"ucap Camelia dengan serius. Andrean terdiam beberapa saat.


"S-ERIUS?!"


"Lia, katakan sekali lagi!"pinta Andrean.


"Tidak ada yang ketiga kalinya, Sayang!"tegas Camelia.


"AHHHH! YES! YES!" Andrean berteriak lantang dan Hans menjadi pelampiasan untuk mengekspresikan rasa senangnya.


"T-Tuan?" Susah payah Hans mengatakannya. Ia kaget dan merasa tercekik dengan pelukan Andrean yang tiba-tiba.


"Terima kasih, Lia! A-aku tidak tahu harus mengatakan apa, Lia. Aku sangat senang!" Wajah Andrean begitu cerah.


Hans menduga itu adalah kabar baik. Tapi, kabar apa? Hingga membuat Tuannya sesenang itu? Bahkan, lepas kendali sangking senangnya?


"Jangan senang dulu. Masih ada orang tuaku. Dan kedutaan," sahut Camelia.


"Aku tahu! Aku akan segera mengurusnya. Malam ini juga aku akan mengirim berkas ke kedutaan!"ucap Andrean.


Kedutaan? Hans kembali membatin.


"Sebelumnya, bicara dulu dengan Mom dan Daddy. Aku akan mengirimnya setelah mereka merestui," jawab Camelia.


"Laksanakan, Nyonya!!"jawab Andrean.


"Nyonya?"sahut Camelia dengan bingung di sana.


"Benar, Nyonya Gong!"jawab Andrean dengan tersenyum lebar.


"Hahaha … kau bisa saja, Sayang."


"Wo ai ni, Lia," ucap Andrean..


"Sampai jumpa di pencatatan sipil," ujar Camelia.


"Pencatatan sipil?" Andrean memiringkan kepalanya.


"Ya, benar. Kita hanya ke pencatatan sipil untuk membuat surat nikah. Begitu saja. Soal pemberkatannya nanti, kita lakukan setelah sudah sepakat kapan pernikahan kita akan diumumkan," terang Camelia. Raut wajah Andrean berubah.


"Kau tidak masalah, kan? Yang penting kita sudah menikah," tanya Camelia. Cemas di sana.


"Jika itu keinginanmu, aku akan mengikutinya," jawab Andrean. Meskipun sedikit kecewa.


"Sayang, ini adalah pernikahan keduaku. Aku ingin yang terbaik. Memang bisa kita mempersiapkan pernikahan dalam waktu singkat. Namun, jika terburu-buru, bagiku kurang bermakna. Jadi, untuk saat ini membuat dan mendapatkan surat nikah adalah pilihan yang tepat. Karena, itu sudah memberikan kepastian untuk kita berdua. Bukankah itu yang kau ingin, Sayang?"jelas Camelia.


Andrean mengangguk kecil. "Aku mengerti. Aku sama sekali tidak masalah," jawab Andrean. Dan jujur saja, ada kebohongan di dalamnya.

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih atas pengertianmu, Sayang."


"Kalau begitu, aku tutup ya? Aku akan menghubungi orang tuamu," ujar Andrean.


"Yaa."


Panggilan berakhir. Andrean menghela nafas pelan.


"T-Tuan, Anda akan menikah?"tanya Hans dengan mata membola.


"Hm." Andrean mengembalikan ponsel Hans.


"Kosongkan rapat langsung minggu depan. Ganti dengan rapat online!"titah Andrean. Ia mengecek ponselnya. Sudah cukup. Andrean mencabut pengisi daya dan segera menghubungi Tuan Shane. Sementara Hans masih bergelut dengan jawaban Andrean.


*


*


*


Tuan Shane langsung memanggil Camelia setelah selesai berbicara dengan Andrean.


Camelia langsung datang menghadap. Ia tampak tenang. Yakin Andrean dapat meyakinkan Tuan Shane dengan baik, seperti dahulu.


"Duduk." Camelia duduk. Tuan Shane menatapnya penuh keseriusan. Begitu juga dengan Nyonya Shane. Mereka berada di perpustakaan keluarga.


"Kami sudah mendengarnya dari Andrean." Camelia mengangguk mendengar ucapan Nyonya Shane.


"Kalian memang akan menikah cepat atau lambat. Namun, kami tidak menduga kalian akan memiliki rencana seperti ini," ujar Nyonya Shane.


"Andrean sudah menjelaskan semuanya. Dad dan Mom juga tidak bisa menghalangi kalian. Kami berharap kalian bahagia dalam pernikahan itu," ujar Tuan Shane.


Camelia melebarkan matanya sesaat. Dugaannya benar. "Terima kasih, Dad, Mom!"


"Tapi, Lia. Apa kau tidak apa jika meskipun kalian sudah membuat surat nikah, namun tidak tinggal satu atap?"tanya Nyonya Shane. Jelas itu hal yang berat untuk pasangan, bukan?


"Mom, sebelumnya kami melakukan pemberkatan dan resepsi, fakta bahwa kami berhubungan jarak jauh tidak terelakkan. Hanya saja, ada yang berbeda kalian hubungan kami sudah pasti, diikat oleh tali pernikahan," tutur Camelia. Sorot matanya yang penuh keyakinan membuat Nyonya Shane menggeleng pelan.


"Asalkan kau bahagia, kami mendukungnya," ujar Tuan Shane. "Namun, jangan pernah lupakan kesepakatan yang telah disepakati oleh kita semua!"lanjut Tuan Shane. Menegaskan dan mengingat kembali pada kesempatan penting itu.


Camelia mengangguk. "Aku selalu mengingatnya, Dad."


"Baiklah. Jika begitu, segeralah mengurus berkas dan data yang diperlukan. Daddy akan membantu akan segera diproses oleh kedutaan!"ujar Tuan Shane.


Karena ini pernikahan dua negara, maka harus mengajukan permohonan dan berkas pernikahan kepada kedutaan masing-masing negara. Ini cukup rumit. Namun, dengan kedudukan keluarga Shane atau Andrean, mungkin akan lebih mudah dan cepat.


*


*


*


Lucas dan Liam begitu heboh saat tahu ayah dan Mom mereka akan menikah secepatnya. Memang sangat senang dan begitu menantikan hari itu. Hari di mana ayah dan ibu mereka mendapatkan surat nikah dan mereka benar-benar sudah menjadi keluarga.


Hal pernikahan ini, Camelia sembunyikan dari agensi. Karena, semakin banyak yang tahu, dikhawatirkan akan bocor sebelum waktunya.


Lagipula, mereka tidak mempublikasikan pernikahan. Hanya membuat surat nikah saja.


Tidak ada persiapan khusus. Dan sepertinya, keinginan Camelia memesan gaun ke butik beberapa hari yang lalu bersama dengan Liam adalah untuk digunakan pada saat ke kantor pencatatan sipil.


*


*


*


"Aku akan ikut!"ucap Kakek Gong pada Andrean, beberapa saat setelah Andrean menyampaikan keinginannya. Minggu depan ia akan ke Kanada untuk membuat surat nikah.


"Kakek ikut?"tanya Andrean, memastikan.


"Iya."


"Tapi, Kakek. Aku rasa ini bukan saat yang tepat. Aku hanya membuat surat nikah," ujar Andrean.


"Meskipun hanya membuat surat nikah, itu yang pertama untukmu, bukan? Lagipula aku belum pernah bertemu langsung dengan cucu menantu!"kekeh Kakek Gong.


"Perjalanannya sangat jauh, Kakek," ujar Andrean.


"Memangnya kita naik mobil atau kapal laut?"decak Kakek Gong.


"Memangnya kenapa kau tidak ingin aku ikut? Aku ingin bertemu dengan kedua cicit laki-lakiku!"tegas Kakek Gong. Tidak ingin dibantah lagi. Andrean menghela nafasnya.


"Baiklah." Pasrah.


"Nah begitu dong!"


"Kakek akan suruh orang mempersiapkan maharnya," ujar Kakek Gong kemudian.


"Tidak perlu, Kakek. Itu tugasku," tolak Andrean.


"Tidak ada penolakan. Aku akan mengurusnya. Aku tidak tahu, apakah jika tidak sekarang, apa aku punya kesempatan lagi? Di sisa hidupku ini, aku hanya ingin melihatmu menikah, memiliki istri dan anak." Kakek Gong berkata dengan tegas di awal dan menjadi seduh di akhir. Itu membuat Andrean tidak senang.


"Kakek akan berumur panjang!"ucap Andrean. Kakek Gong tertawa renyah. Ia tidak berharap umurnya sampai seratus tahun. Hanya berharap, ia bisa segera melihat kebahagiaan Andrean dalam pernikahannya.

__ADS_1


"Ya … ya, aku akan berumur panjang. Makanya kau harus rajin-rajin mengunjungiku!"


"Apa hubungannya?"tanya Andrean.


"Dasar tidak peka. Ya sudah. Nanti kabari saja kapan tanggal berangkatnya," ujar Kakek Gong. Kemudian mengakhiri panggilan sepihak.


Andrean mendengus sebal. "Hm … orang tua itu juga orang tua Lia. Apa perlu aku membawa mereka?"gumam Andrean.


*


*


*


Andrean berencana untuk pergi ke Kanada setelah urusan berkas di kedutaan selesai dan setelah Crystal mengikuti seleksi. Setelah itu, akan langsung terbang menuju Kanada.


Dan menunggu keberangkatan, Andrean banyak memajukan jadwalnya dan lembur. Akan tidak begitu padat saat ia ke Kanada nanti. Jadi, waktunya dengan Camelia akan banyak. Tidak terganggu dengan pekerjaan.


Malam harinya. Hans melamun di balkon kamarnya. Ia tengah melamunkan masa depannya. Kapan ia akan menikah? Punya keluarga? Istri dan anak?


Andrean saja sebentar lagi akan menikah dan anaknya sudah tiga. Sementara ia? Umur semakin bertambah setiap hari.


Kencan buta juga tidak ada yang berhasil. Hal itu karena kebanyakan wanita menolak karena mengira ia miskin setelah mengobrol singkat. Memang salahnya juga. Namun, ia kan hanya menguji.


Hans lantas teringat ucapan Lie tempo hari.


Lagian, mengapa menyembunyikan identitas?


"Haruskah aku gunakan identitasku?"gumam Hans. Ia mengetukkan jarinya ke meja.


*


*


*


Urusan kedutaan telah selesai. Permohonan pernikahan sudah disetujui. Maka, tinggal menunggu Crystal mengikuti seleksi, baru mereka pergi. Kakek Gong sudah berada di istana Andrean. Mereka akan berangkat dari Beijing, bukan Shanghai.


Dan hari ini adalah hari di mana Crystal mengikuti seleksi. Busana yang digunakan berasal dari pihak penyelenggara. Karena yang mereka cari adalah model dengan kecocokan tinggi pada busana yang akan mereka launching.


Andrean tidak menemani Crystal. Hanya Toby yang menemaninya. Namun, bukan berarti Andrean acuh. Andrean mengantar Crystal ke lokasi seleksi. Memberi Crystal semangat dan meyakinkan anak itu. Kemudian pergi untuk meeting.


Di lokasi seleksi, sudah banyak model yang menunggu. Silih berganti mengikuti seleksi. Beberapa anak masuk ke dalam ruangan seleksi.


"Semangat, Nona!"ucap Toby.


"Semangat!"sahut Crystal.


Crystal masuk bersama dengan beberapa peserta lain yang nomor urutnya juga dipanggil.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Crystal dan peserta yang satu sesi dengannya keluar. Wajah Crystal tampak lega.


"Hasilnya akan diumumkan pukul 15.00."


Itu sekitar tiga jam dari sekarang. Toby mengajak Crystal untuk makan siang lebih dulu. Di mana, di tempat makan siang itu, Andrean dan Hans sudah menunggu.


"Bagaimana seleksinya?"tanya Andrean.


"Menegangkan, Ayah!"jawab Crystal.


"Peluangmu?"tanya Andrean lagi.


"Crystal sudah melakukan yang terbaik. Hasilnya pasti baik juga." Andrean mengangguk.


*


*


*


"Peserta yang terpilih adalah yang ketiga, nomor urut 12. Yang kedua, nomor urut 20 dan yang pertama nomor urut 22!"


"Nomor urut 22?"


"Crystal berhasil?" Crystal membulatkan matanya saat hasil sudah diumumkan.


"Selamat, Nona! Anda sangat hebat!" Toby langsung memeluk anak asuhnya itu.


Crystal sangat bahagia. Ia akan menunjukkannya pada Andrean, serta Lucas dan Liam. Crystal bisa!


*


*


*


Andrean menginjakkan kakinya di sebuah toko pakaian. Para pegawai toko menyambut dirinya dan Hans.


"Selamat datang, Presdir Gong," sapa pemilik toko sekaligus desainer pakaian toko ini.


Andrean mengangguk. "Selamat sore, Nona Silvia," sapa Hans. Dan ya, pemilik toko itu adalah Silvia, teman kencan buta Hans pertama kali.


"Anda?" Silvia terkejut. Mengapa Hans ada di sini? Datang bersama dengan Andrean pula.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Hans. Sekretaris Presdir Gong," ujar Andrean, memperkenalkan dirinya. Tersenyum lebar, seakan puas dengan wajah terkejut Silvia.


__ADS_2