
Malam semakin larut. Bahkan ini sudah tengah malam. Akan tetapi, kabar yang Andrean inginkan belum juga datang. Hal itu membuatnya gelisah dan tidak bisa tidur.
"Kemana mereka? Mengapa belum juga menghubungiku? Apa mereka masih marah atau kirimannya belum sampai?"gumam Andrean, menatap layar ponselnya. Wajahnya suram.
"Sangat mengantuk." Perlahan, matanya mulai terpejam. Dan layar ponselnya menjadi gelap.
*
*
*
"Wanita itu! Joseph selalu melihatnya!" Seseorang menatap marah Camelia dari balik dinding. Sorot matanya begitu penuh dengan ketidaksukaan. Apalagi saat melihat interaksi akrab antara Camelia dan Joseph.
"Seharusnya aku yang tertawa di sana! Peran utama ini harusnya milikku!" Dari kata-katanya, ia adalah pemeran antagonis lainnya.
"Nona Alice, mari ganti busana, selanjutnya adalah bagian Anda," ucap salah seorang kru, menyadarkan wanita yang bernama Alice itu.
Alice terkejut sesaat. Sesaat kemudian, ia mengubah ekspresinya menjadi ramah. "Baiklah."
Lihat saja, aku akan membuat perhitungan padamu!
Hm … aku merasakan punggungku dingin. Apa ada yang berniat buruk padaku?
Camelia melirik sekilas ke belakang seraya menyentuh lehernya. "Adegan ini penting dan berbahaya, Camelia. Apa kau sudah melatihnya?"tanya Joseph, sembari menunjukkan naskah untuk adegan yang dimaksud.
Camelia mengangguk. "Anda juga ada adegan menari balet, apa Anda sudah ada persiapan untuk itu?"balas Camelia.
"Sudah. Tapi, saya masih tidak yakin," jawab Joseph, dengan mengusap rambutnya.
"Kalau begitu berlatihlah," sahut Camelia. "Saya permisi dulu," lanjut Camelia, kemudian melangkah pergi.
Joseph mendesah pelan.
Aku kira dia akan menawarkan bantuan. Wanita ini semakin sulit saja.
Begitulah Camelia. Ia memang berinteraksi dengan pemain lainnya juga dengan para kru. Namun, hanya secukupnya saja. Tidak berlebihan dan juga tidak terlalu menutup diri. Kata-katanya juga diatur agar hanya yang penting saja yang keluar. Padat dan jelas, begitu jika ia sudah berkata. Yang mana hal itu membawa rasa segan untuk orang di sekitarnya.
"Silahkan, Nona," ucap Asisten Camelia, meletakkan sepiring buah apel yang sudah dikupas.
"Tiba-tiba aku ingin americano, apa kau bisa membelikannya?"ujar Camelia.
"Yang panas atau dingin, Nona?"tanya asistennya memastikan.
"Panas saja, takarannya seperti biasa, okay?"
Asisten itu mengangguk. Asisten itu adalah asisten yang termasuk baru ikut dengannya menggantikan asisten lama yang telah resign karena menikah.
"Untuk yang lain, belikan roti saja."
"Baik, Nona," jawab asisten itu. Kemudian segera pergi untuk membelikan apa yang Camelia mau. Camelia duduk membaca naskah juga membaca kembali catatan yang ia buat. Sembari menikmati potongan apel.
Adegan untuknya akan direkam nanti sore. Itu adalah adegan yang cukup berbahaya karena Camelia akan jatuh dari bangunan yang tinggi. Sekitar dari lantai 5 gedung. Meskipun dilengkapi dengan peralatan, tentu saja itu akan membuat jantung berdebar kencang.
"Nona Camelia." Camelia menoleh. Saat ada yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
"Nona Alice?" Camelia mengenalinya. Wanita yang menatapnya kesal tadi. Alice adalah peran pendukung wanita. Perannya di drama itu juga antagonis.
"Tadi asisten saya membeli beberapa coffee dan membagikannya. Saya lihat Anda tidak ada di tempat rekam adegan. Jadi, saya mencari Anda kemari. Silakan," ucapnya dengan ramah. Menyodorkan satu cup coffee yang Camelia kenali sebagai americano.
"Ah terima kasih," jawab Camelia, menerima dan tersenyum.
"Silakan diminum," ujar Alice. Camelia mengangguk.
Camelia mengambil dan hendak meminumnya. Namun, sebelum itu, seorang kru berteriak memanggil nama Alice.
"Iya, aku datang!" Sebelum melihat Camelia minum, Alice sudah keluar.
Camelia kembali meletakkan cup itu. Memilih mengambil kembali memakan buah.
Camelia, ia cenderung tidak akan memakan, minum, ataupun memakai apa yang buat seleranya, dan juga bukan takarannya. Melakukan hal itu hanya agar tidak menyinggung. Cukup rasakan sedikit lalu letakkan, itu sudah cukup.
Sekitar sepuluh menit kemudian, asisten Camelia kembali, dengan membawa beberapa roti dan juga satu cup americano untuk Camelia.
__ADS_1
"Kau tidak beli untukmu?"tanya Camelia, melihat hanya membeli satu cup.
"Saya tidak terlalu suka coffee, Nona," jawabnya.
"Baiklah. Jika kau ingin, itu ada satu cup lagi. Kau minum saja jika mau. Ini juga, makanlah," ujar Camelia, menatap ke arah cup coffee yang diberikan oleh Alice tadi. Dan juga roti yang baru saja dibeli.
"Baik, Nona." Asisten itu kemudian duduk di tempatnya. Melihat Camelia membaca sembari minum.
Asisten itu menikmati roti dengan isian coklat. Melihat Camelia minum, juga aroma coffee yang harum, membuatnya tergugah.
Ada rasa ingin mencoba itu juga. "Nona, boleh saya minum ini?"
"Ya, minum saja," jawab Camelia, menatap sekilas kemudian kembali fokus.
Tidak suka bukan berarti tidak ingin mencoba, bukan? Coba saja, mana tahu suka, batinnya, meraih cup coffee yang Alice berikan tadi. Jika Camelia yang panas, maka yang diberikan Alice adalah yang dingin.
"Hm … ini enak, Nona!"seru asisten Camelia saat merasakan ice americano itu.
"Rasanya tidak begitu pahit seperti yang saya pikirkan. Sangat pas," ucapnya dengan berbinar.
"Kalau begitu habiskan," sahut Camelia.
"Rasanya tidak seburuk yang saya pikirkan."
"Maka jangan menilai dari penampilannya."
"Saya mengerti, Nona."
Camelia kembali fokus. Sesekali ia mencoret catatan juga naskah.
"Uhh!!"
Camelia menoleh saat mendengar suara aduan keluar dari bibir Evelin, asistennya.
"Ada apa, Eve?" Camelia mengernyitkan dahinya, melihat Evelin yang tampak kesakitan dengan memegang perutnya. Keringat juga mulai keluar.
"P-perut saya sakit, Nona. Ahh … aduh! Saya permisi dulu, Nona!"
Evelin segera bangkit. Tak lama setelah Evelin bangkit, Camelia mencium bau tidak sedap.
Camelia duduk di salah satu kursi yang berada tak jauh dari ruangannya. "Mengapa tiba-tiba? Apa yang salah? Apa Eve ada masalah jika minum coffee? Jika iya, aku merasa bersalah."
Camelia memikirkan apa yang barusan terjadi. "Atau apakah ada masalah dengan coffee nya? Jika aku yang minum, aku akan demikian juga? Apa maksudnya? Apa dia …."
Camelia membelalakkan matanya. Hanya sebentar. Kemudian membuat pose menutup sebagian wajahnya.
"Ada yang ingin bermain?" Menarik senyum smirk.
"Jika itu benar, aku tidak akan melepaskanmu!"
"Ah, Eve!" Camelia berseru pelan. Jika ada masalah dengan coffee nya, itu bisa berbahaya. Segera Camelia menghubungi David, meminta mengirim dokter untuk Evelin. Karena, Evelin adalah tanggung jawabnya.
"N-Nona." Selesai menghubungi David, Evelin datang dengan wajah yang pucat.
"Saya tidak berani minum coffee dulu. Ouhh … datang lagi!" Evelin kembali lari. Camelia menepuk dahinya pelan.
"Aku hanya ingin syuting dengan tenang," kesalnya. Camelia menyimpan buku catatannya dan menuju ke arah dapur para kru. Meminta garam dan air. Kemudian membawanya pada Evelin.
"Minumlah ini dulu, dokter akan datang sebentar lagi."
"Terima kasih, Nona." Evelin meminumnya hingga tandas.
"Asin!"
"Apa masih terasa sakit? Dan ingin datang lagi?"
"Iya, Nona! Ahh, datang lagi!" Evelin kembali lari.
"Astaga!"
Sekitar dua puluh menit kemudian, saat Evelin telah terkapar lemas, dokter baru tiba. Kedatangan dokter ke ruangan Camelia, membuat kehebohan tersendiri. Apalagi, hanya beberapa orang yang bisa masuk. Termasuk sutradara di dalamnya.
"Dia begitu setelah minum coffee," ucap Camelia pada dokter.
__ADS_1
"Apa Anda ada masalah dengan coffee?" Evelin menggeleng.
"Jika begitu, kemungkinan besar Anda terkena obat pencahar."
"Obat pencahar?" Camelia membeo. Dokter mengangguk. Sutradara dan Evelin saling pandang.
"Okay, saya mengerti." Camelia memberi kode pada sutradara untuk tetap diam.
"Coffee yang Anda minum dari siapa, Nona?" Evelin menatap Camelia. Dokter dan sutradara juga turut menatap Camelia.
"Aku mendapatkannya dari orang sinting," jawab Camelia.
"Mengingat dia juga membagikan kepada semua orang, Anda pasti dapat kan?" Camelia menaikkan alisnya pada sutradara.
"Ah?" Sutradara itu tertegun. "Apakah…."
"Maukah Anda berdua bermain peran dengan saya?"tanya Camelia.
"Maksud Anda, Nona?"
Evelin yang dapat dikatakan masih orang baru, hanya menatap mereka bergantian. Dalam benaknya, Evelin memikirkan sesuatu. Coffee yang ia minum ditujukan untuk Camelia, dan yang kena adalah dia. Artinya, ada orang yang berniat buruk pada Camelia. Dan Camelia tahu orangnya. Tapi, tidak mengatakannya dengan gamblang. Ini membuatnya sangat penasaran.
"Evelin, kau istirahat saja," ucap Camelia, setelah berbicara dengan dokter dan Camelia.
Evelin mengangguk. Jujur saja ia merasa sangat lemas karena kehilangan banyak cairan.
Camelia kembali duduk. Dokter dan Sutradara keluar. Di mana, di luar sudah banyak orang berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Salah satunya adalah Joseph dan Alice.
"Apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu pada Camelia?"tanya Joseph, dengan cemas.
"Nona Camelia terkena diare. Saya sudah memberikan obat dan saat ini tengah istirahat. Harap tidak mengganggunya," papar dokter dengan tegas. Dan jelas hal itu membuat wajah Alice berseri dan tak lama kemudian berubah menjadi prihatin.
"Lanjutkan kegiatan!" Sutradara memberi perintah.
Mendengar itu, semua bubar.
"Aku dengar tadi Nona Camelia ke dapur meminta air dan garam."
"Padahal tadi baik-baik saja. Mungkin, Nona Camelia kurang perhatian pada makanannya."
"Kalau begitu apakah rekam adegannya akan tetap dilakukan sore ini?"
"Tidak pulang, kemungkinan iya."
"Kasihan sekali."
Mendengar gosip itu, Alice menarik senyum. Wajahnya puas. Dan tak mampu menyembunyikan senyum smirknya.
"Kasihan sekali. Hahaha."
*
*
*
"Nona, sebenarnya siapa yang berniat buruk pada Nona?"tanya Evelin, rasa penasaran menggelitik hatinya.
"Kau tidak perlu tahu, Eve. Biar aku yang menanganinya," jawab Camelia.
"Anda akan membalasnya?"
"Aku tidak akan diam jika diganggu." Evelin merasa merinding dengan ekspresi Camelia. Tatapannya seperti seorang singa yang tengah mengintai mangsa.
"Apakah selalu begini, Nona?"
"Aduh, mentalmu harus dilatih lagi," ucap Camelia, melihat raut wajah Evelin.
"Apa kau kira dunia hiburan ini seindah yang terlihat? Ketahuilah, bahwa dunia hiburan ini keras. Semua bermain di dalamnya. Jika kau terlalu baik apalagi mudah ditindas, kau tidak akan bisa bertahan!"
Evelin menelan ludahnya. "Oleh karenanya, kau harus pandai melihat karakter orang lain. Okay?"
"Baik, Nona."
__ADS_1
"Dan satu lagi, aku harap kau tidak trauma minum coffee karena kejadian ini," harap Camelia, yang dibalas tawa dari Evelin.