
Tiba di rumah sakit terdekat, Camelia memanggil seorang perawat untuk membawakan kursi roda untuk wanita tua itu. Nama wanita tua itu adalah Jiang Yan Li. Beliau mengatakan kalau keluarga memanggilnya dengan panggilan Nenek Jiang.
Camelia sendiri mengenalkan dirinya dengan namanya sendiri, Camelia Shane.
"Nak Lia, cucu nenek belum bisa dihubungi juga. Nenek sudah terlalu banyak merepotkan Nak Lia. Kamu pasti juga akan hal lain, bukan? Nenek bisa sendiri. Ini adalah gelang giok Nenek, kamu bisa menemui Nenek di alamat kediaman Gong," ucap nenek Jiang setelah duduk di kursi roda. Camelia, sebelum bisa menolaknya, nenek Jiang sudah memasangkan gelang giok itu pada pergelangan tangan Camelia.
Dalam screen seperti ini, jika orang yang lebih tua namun tidak ada hubungan kerabat memberikan sesuatu seperti gelang giok, sebuah cincin berharga, khususnya dari kalangan wanita kepada seorang wanita, artinya wanita itu sudah dipilih sebagai calon untuk anak ataupun cucunya yang masih single.
"Nenek, saya tidak bisa menerimanya. Karena saya sudah menikah dan memiliki anak. Hanya saja, kedua anak saya tidak ikut. Apa saya terlihat seperti seorang single?" Camelia langsung meluruskan walaupun menyebabkan binar kecewa di mata Nenek Jiang. Tapi, itu bukan Camelia.
"Nyonya masih sangat muda dan cantik. Tidak terlihat seperti sudah menikah dan memiliki dua anak. Dan orang tua biasa dalam hal seperti ini, perjodohan tidak langsung namanya."
Camelia tersenyum mendengar ucapan suster itu. Usianya sudah menyentuh angka 28 tahun dan masih sangat muda? Itu karena perawatannya sebagai seorang artis.
Camelia lalu mengembalikan gelang giok itu. Raut wajah nenek Jiang sedih. Sepertinya apa yang ia harapkan tidak bisa tercapai.
"Untuk alamat nenek akan saya simpan. Manatahu nanti saya ada kesempatan, saya akan berkunjung ke rumah nenek."
Ya itu setidaknya bisa membuat nenek Jiang tersenyum walaupun terus mengusap gelang gioknya.
"Namun, untuk saat ini, saya akan menemani nenek sampai selesai pemeriksaaan. Saya yang membawa nenek ke rumah sakit, saya tidak bisa pergi setelah mengantar," imbuh Camelia. Nenek Jiang mengangguk pelan. Suster mendorong kursi roda menuju ruang pendaftaran. Nenek Jiang duduk di kursi roda di barisan kursi tunggu. Sedangkan Camelia mengambil nomor pendaftaran dan bagian mana yang akan dituju.
Saat duduk setelah mengambil nomor pendaftaran, ponsel Camelia berdering. Dari Dion. Segera ia menjawabnya.
"Hallo, Dion." Camelia berbicara dalam bahasa Inggris.
"Hallo, Kak. Kakak di mana?" Dion menjawab dengan bahasa inggris juga.
"Rumah sakit," jawab Camelia.
"Rumah sakit? Kakak kenapa? Apa yang terjadi pada Kakak? Rumah sakit mana?"cerca Dion langsung, nadanya sungguh khawatir. Camelia tersenyum.
"Bukan Kakak yang sakit. I'm fine. Tadi ada kecelakaan kecil di jalan dan Kakak membawanya ke rumah sakit," jelas Camelia.
"Kakak menabrak orang?"tanya Dion dengan tidak percaya dan memastikan.
"Bukan Kakak. Kakak hanya membantu!"jawab Camelia.
"Oh begitu. Rumah sakit mana? Aku akan ke sana."
"Pekerjaanmu sudah selesai?" Camelia melihat jam tangannya. Sudah pukul 14.00 waktu setempat.
"Tidak sedikit lagi. Akan aku selesaikan setelah menemani dan mengantar Kakak ke bandara."
Camelia mengangguk lalu menyebutkan nama rumah sakit di mana ia berada. Panggilan berakhir dan nenek Jiang memberikan tatapan tanya padanya, ingin tahu siapa yang berbicara Camelia tadi. "Suamimu, Nak?"tanya Nenek Jiang.
"Bukan, Nek. Tadi itu adik saya," jawab Camelia.
"Lalu suami dan anak-anakmu?"
"Anak-anak saya ada di rumah, Nek. Sedangkan suami saya …." Wajah Camelia berubah sayu. Nenek Jiang sepertinya mengerti.
"Kamu ke China pasti karena masa berkabung dan mengunjungi kerabat. Walaupun margamu Shane, kau punya wajah chinese. Maafkan Nenek atas ketidaktahuan dan ketidaksopanan Nenek tadi."
Nenek Jiang ikut merasakan perasaaan Camelia dan menyesali apa yang ada di dalam pikirannya. Namun, apakah Nenek Jiang benar-benar sedih? Itu membangkitkan kembali harapannya. Nenek Jiang ingin Camelia jadi cucu menantunya!
Namun, apa akan semudah itu? Tadi nenek Jiang mengatakan bahwa dirinya tinggal di kediaman Gong. Keluarga bermarga Gong ada banyak di kota dan negara ini. Dan keluarga Gongnya Andrean adalah salah satunya.
__ADS_1
Jika benar itu kediaman lama keluarga Andrean Gong, maka ada kemungkinan cucu yang dimaksud nenek Jiang adalah sepupu Andrean. Kira-kira apa tanggapan Andrean jika hal itu benar?
Tak lama kemudian, nama Nenek Jiang dipanggil dan segera menuju ruang pemeriksaan. Dokter memeriksa pergelangan kaki nenek Jiang, memberinya sedikit tekanan yang membuat Nenek Jiang mengadu sakit.
Di saat demikian, seorang Pemuda yang usianya sekitar 25 tahunan masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan tatapannya tertuju pada Nenek Jiang. "Nenek," panggilnya dengan khawatir.
"Allen," jawab Nenek Jiang.
"Apa yang terjadi pada Nenek? Mengapa bisa sampai begini?" Ia menggeser posisi Camelia. Camelia mengerjap.
"Dia yang telah menabrak Nenek?" Tatapannya ketus pada Camelia. Camelia menaikkan alisnya, seenaknya saja main tuduh, penampilan saja perlente akhlaknya minus, itulah yang ada dalam benak Camelia.
"Untung saja Anda bertanggung jawab. Jika tidak, saya pasti akan mencari Anda dan membuat Anda menyesal!"
Oh My God! Pria itu bahkan tidak melihat sang nenek yang ingin menjelaskan. Sungguh mengesalkan.
"Nenek … karena cucu Anda tidak menerima dan malah menuduh saya, lebih baik saya pamit. Siang, Nenek!" Camelia melangkah keluar dari ruang pemeriksaan.
"Hei, kau! Siapa yang mengizinkanmu pergi?!"serunya dengan menunjuk Camelia. Allen sungguh kesal dengan Camelia.
"Tidak sopan sekali! Berbicara dengan Tuan Muda ini tanpa melepas maskernya!!"gerutu Allen. Yap, Camelia memang tidak membuka maskernya
"Allen apa yang kau lakukan tadi, hah?!"kesal nenek Jiang.
"Dia menabrak nenek, membuat nenek seperti ini, bagaimana bisa aku tidak memarahinya?"
"Cucu tengik! Mengapa kau malah memarahi dan membuatnya kesal, hah?!" Nenek Jiang yang kesal memukul keras bok*ng Allen.
"Nenek kok malah membelanya?"keluhnya sembari mengusap bok*ng yang terasa sakit.
"Eh artinya aku salah paham?"
"Dan dia tersinggung dengan ucapanmu!" Allen tampak menyesal dan bergegas keluar ruang pemeriksaan.
"Cucu tengik! Mau ke mana kau?!"seru Nenek Jiang.
"Nyonya, jangan marah-marah, nanti Anda darah tinggi," ucap Dokter yang menangani cidera kaki Nenek Jiang.
"Cucu tengik itu sudah membuatku naik darah. Bagaimana bisa aku tidak menderita darah tinggi?"sahut Nenek Jiang.
*
*
*
Allen mengedarkan pandangnya mencari Camelia. Ia berjalan dengan cepat, menuju ke arah pintu keluar. Allen menghela nafas saat matanya mendapati Camelia masih berada di lobby, sedang berbicara dengan seorang Pemuda. Dengan cepat ia menghadiri Camelia. Allen mengenalinya dari pakaian dan style Camelia.
"Nona," sapanya dengan nada bersahabat. Dion dan Camelia menoleh pada Allen.
"Kau?" Camelia terhenyak sesaat kemudian mulai mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Saya mohon maaf atas ucapan kasar saya tadi. Saya telah menuduh Anda tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mohon kemurahan hati Anda," ucap Allen dengan menundukkan kepalanya.
"Kau berkata kasar pada kakakku?" Dion bertanya dengan nada dingin dan mengintimidasi.
Camelia membuka maskernya, "hanya salah paham. Dia adalah cucu dari wanita yang ku tolong tadi," jelas Camelia. Sementara Allen tertegun melihat wajah Camelia, sangat cantik.
__ADS_1
"Hei!!"sentak Dion. Allen tersentak. Ia tampak salah tingkah.
"Anda memaafkan saya kan, Nona?"tanya Allen. Camelia tersenyum, "hal kecil. Sudah biasa. Saya juga sudah melupakannya," balas Camelia.
"Jika begitu kita sudah berdamai, Nona?" Allen mengulurkan tangannya. Seperti hendak berkenalan.
"Bukan Nona. Tapi, Nyonya! Kakakku sudah menikah!" Dion yang membalas uluran tangan itu.
Allen terkesiap dengan jawaban Dion. Ia kembali merasa canggung. "Saya tidak tahu jika Anda sudah menikah. Saya mohon maaf," ucap Allen.
"Dion Shane," ucap Dion mengenalkan dirinya.
"Allen Gong." Allen juga mengenalkan dirinya. Camelia tersenyum simpul. "Kita sudah tidak ada urusan, selamat tinggal, Mr. Allen," ucap Camelia.
"Ah iya, terima kasih Nyonya." Camelia mengangguk kemudian melangkah pergi bersama dengan Dion. Meninggalkan Allen yang terpaku di tempatnya.
"Tuan Muda Allen." Allen tersadar saat ada yang menyapanya. Ia berbalik.
"Sekretaris Hans? Kakak sepupu?"
Ternyata satu keluarga dengan Andrean. Keluarga Gong yang sama. Andrean menatap Allen dingin, seperti tatapan biasanya.
"Kakak sepupu, kau di sini?"tanya Allen dengan ramah.
Andrean mengangguk singkat. "Kapan kau datang, Kak? Kau menginap?"
"Tuan ke Shanghai karena urusan pekerjaan, Tuan Muda Allen. Kami juga sudah berkunjung ke kediaman lama dan akan kembali setelah ini," balas Hans.
"Ah urusan pekerjaannya. Jika Anda sendiri, Tuan Muda?"
"Nenekku mengalami kecelakaan dan saat ini berada di ruang dokter. Eh Nenek!!" Allen terkejut sendiri.
"Bagaimana kondisinya?" Hans melihat Andrean yang acuh.
"Tidak terlalu parah. Apa Kakak sepupu mau menjenguknya?"tanya Allen.
"Aku sibuk," jawab Andrean.
Kemudian melangkah pergi. Hans yang agaknya sudah terbiasa langsung berkata, "Tuan ada meeting lagi di perusahaan. Tuan dan saya titip salam saka untuk Nenek Jiang," ucap Hans. Allen mengangguk kecil. Hans segera menyusul Andrean.
Dia selalu sibuk dan acuh. Bagaimana mungkin peduli dengan nenekku?batin Allen, tersenyum kecut dan melangkah untuk kembali ke ruangan dokter tadi.
"Tuan, kita langsung ke bandara atau bagaimana?"tanya Hans setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Aku lapar," jawab Andrean. Hans mengerti. Segera ia melajukan kendaraan keluar rumah sakit. Andrean baru saja selesai menjenguk artisnya. Juga telah selesai mengurus masalah pergantian artis. Dan apa kalian tahu siapa yang Andrean ajukan sebagai peran pengganti untuk artis yang cidera itu?
Camelia! Andrean mengatakan Camelia Shane yang akan mengisi screen terakhir tanpa persetujuan! Sembarang dan luar biasa bukan?
Hans yang ditugaskan untuk mendapat persetujuan Camelia. Dan Hans lah yang sekarang pusing bagaimana caranya agar Camelia mau. Aduh Andrean kau yang bertingkah, Hans yang terkena imbasnya.
Bagi Hans, menghadapi Camelia bagaikan lebih sulit dari menghadapi Andrean. Orang yang ada di sisi Camelia sangat banyak. Dion, Kak Abi, Lucas, dan Liam, dan terlebih Camelia adalah warga negara Kanada yang tidak terikat dengan agensi mereka. Sungguh pusing!!
Hans memberhentikan mobil di area parkir sebuah restoran yang cukup mewah dengan gaya modern.
Saat memasuki restoran, Andrean mendapati ada Dion dan Camelia berada di restoran ini juga. Segera Andrean menghampiri keduanya. Hans merasa kagum dengan kebetulan ini.
"Sepertinya kita memang berjodoh," ucap Andrean dengan tersenyum pada Camelia.
__ADS_1