
"Konferensi pers? Apa yang akan diumumkan olehnya?"gumam Camelia yang menonton siaran televisi yang tengah mengabarkan bahwa besok pagi, Starlight Entertainment akan mengadakan konferensi pers.
Camelia penasaran. Ia mencoba menerka dan melihat kemungkinan yang terjadi besok.
Alisnya menyatu. "Tidak!" Camelia berseru. Agaknya ia melihat kemungkinan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.
"Ada apa, Lia?" Kak Abi yang tengah memasak makan malam datang tergesa dari dapur saat mendengar Camelia berseru.
"Tidak. Dia tidak boleh hancur secepat ini. Ini masih awal! Tidak! Aku tidak bisa membiarkannya!"ucap Camelia. Ia menggigit ujung jari telunjuknya. Ia tengah memikirkan caranya.
"Apa yang kau katakan?" Kak Abi tidak mengerti.
"Aku paham maksud Mommy," ucap Liam yang turut bergabung bersama dengan Lucas yang masih fokus bermain game. Kedua anak kembar itu duduk di sisi Camelia.
"Aku sudah mengirim hadiah untuk Pria itu. Selain itu, aku tidak sebaik itu, Mom. Mom benar. Jika hanya karena hal kecil ini dia langsung hancur, itu terlalu ringan. Oleh karenanya, aku sudah mempersiapkan kejutan lagi untuk besok," papar Liam. Lucas melirik singkat. Agaknya ia sudah tahu kejutan apa yang dimaksudkan oleh Liam.
Camelia dan Kak Abi menatap Liam yang duduk dengan bersilang kaki. Senyum tersungging di bibirnya.
"Apa yang kau rencanakan, Liam?"tanya Camelia.
"Besok Mom akan melihatnya. Lebih baik Mom fokus pada casting Mom untuk besok saja. Mom harus banyak latihan lagi akan besok tampil perfect," jawab Liam. Lucas mengangguki hal itu.
"Ah … begitu ya?" Camelia tidak bisa memaksa. Camelia lalu mengalihkan pandang ke arah Kak Abi yang terdiam.
"Kau kenapa, Kak?" Kak Abi tersentak.
"Ah … tidak. Aku … aku hanya merasa bingung saja," jawab Kak Abi. Tatapannya rumit pada Lucas dan Liam.
"Hm?" Liam menatap Kak Abi dengan satu alisnya terangkat.
"Begini. Meskipun aku sudah tahu sejak kalian bayi kalian berdua itu genius. But … kekaguman dan kadang kala aku merasa bingung tidak bisa berhenti. Bagaimana bisa kalian secerdas ini di usia dini? Pemikiran kalian, tindakan kalian sudah seperti orang dewasa dan ahlinya. Rencana. Hal yang paling sulit. Namun, kalian … astaga. Aku tidak menggambarkannya," ucap Kak Abi. Ia menggerakkan kedua tangannya sebagai gerakan ekspresi. Kak Abi mengungkapkan isi hatinya. Baik Liam ataupun Lucas tersenyum lebar mendengarnya.
"Aunty, tentu saja karena kami punya orang yang sangat cerdas, hebat, dan berbakat. Kami juga tumbuh di lingkungan yang keras sehingga itu membuat kami dewasa di usia dini. Aunty, usia bukan patokan kedewasaan seseorang," tutur Lucas.
"Namun, terkadang seseorang yang sudah dewasa secara usia belum tentu dewasa secara pemikiran," timpal Liam.
"Tapi, kalian tidak menikmati masa balita bahkan masa kanak-kanak kalian. Golden age," sergah Kak Abi.
__ADS_1
"Lalu ini apa?" Lucas mengangkat ponselnya. Liam menunjukkan rubik yang ada di dekatnya. Lucas kemudian menunjuk papan puzzle yang berada di atas meja.
"Kami juga bermain, Aunty. Kami juga punya kasih sayang orang tua. We're not broken home. Dan kami juga tidak akan kehilangan golden age kami karena kami satu keluarga berada dalam bidang yang sama," papar Lucas.
Ya. Namun, permainan yang ditunjuk oleh Lucas, adalah permainan yang membutuhkan konsentrasi. Permainan yang bertujuan untuk melatih motorik anak. Ketiga permainan itu membutuhkan strategi, juga pengamatan yang tajam.
"Ukuran anak genius. Kadang semakin dipikirkan … akan semakin rumit untuk mengerti. Lebih baik jangan tanya lagi darimana dan bagaimana mereka bisa seperti ini," tukas Camelia. Camelia tidak mau memusingkan hal tersebut.
"Ah kau benar juga," sahut Kak Abi. Ia menggaruk lehernya.
"Aku mencium bau gosong," celetuk Lucas.
"Gosong?" Serentak mereka mengendus.
"OH! GOD!!" Kak Abi berseru kemudian lari menuju dapur.
"OMG!" Kak Abi mendapati ikan yang goreng sudah gosong begitu juga dengan teplonnya.
"Wow … ikan gosong." Lucas dan Liam menggelengkan kepala mereka.
"Lia … bagaimana ini?"tanya Kak Abi dengan wajah bingungnya. "Kita tidak punya bahan masak lagi. Aku belum belanja," aduh Kak Abi kemudian. Camelia menepuk pelan dahinya.
"Restoran Liang. Aku ingin makan ramen!" Lucas langsung mengajukan request.
"Aku ingin dimsum," ujar Liam.
"Bagaimana, Kak?"tanya Camelia.
"Apalagi? Aku sudah lapar." Kak Abi melepas apronnya.
"Okay." Camelia menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil, tas, juga mantel.
Setelah itu, keempatnya keluar dari apartemen menuju basement. Camelia yang menyetir, mereka menggunakan Maybach hitam Camelia.
*
*
__ADS_1
*
Jordan baru saja tiba di apartemennya setelah seharian bekerja. Jordan langsung mandi. Membersihkan dan menyegarkan kembali tubuhnya. Saat berendam, Jordan memejamkan matanya. Secangkir wine berada di genggamannya.
"Apakah Rose akan hancur?" Jordan bergumam. Ia tidak bisa dan juga tidak ingin terlibat dalam masalah itu karena urusannya sudah menyangkut banyak pihak. Jordan juga harus mengamankan karier yang telah ia rintis selama ini. Egois memang. Namun, begitulah. Toh mereka juga beda agensi.
"Aku sangat penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Starlight Entertainment besok. Rose kita lihat besok apakah dia peduli atau tidak padamu."
Jordan tersenyum. Matanya terbuka. Jordan kemudian menenggak perlahan wine di gelas itu.
Setelah selesai berendam dan merasa bahwa tubuhnya sangat ringan, Jordan meninggalkan bath up untuk berganti pakaian. Harus diakui bahwa bentuk tubuhnya sangat bagus. Dan bentuk tubuh yang bagus nan sixpack tentu sudah melekat dengan pekerjaan yang namanya aktor. Namun, jika dibandingkan dengan Andrean apalagi Chris juga Dion, tentu masih kalah jauh.
Kini Jordan sudah menggunakan piyama untuknya tidur. Bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sebelum tidur, Jordan mengecek ponselnya lebih dulu. Bersamaan dengan itu ada sebuah panggilan masuk, dari managernya.
"Hallo, Kak? Ada apa malam-malam begini menghubungiku?"tanya Jordan.
"Kau masih bertanya ada apa? Kemana saja kau? Apa kau tidak membaca berita? Apa yang kau lakukan, Jordan? Mengapa kau mencari masalah, hah?!" Jordan terhenyak.
Apa yang terjadi?
Masalah apa?
*
*
*
"Ini sangat lezat," ujar Kak Abi setelah menelan kunyahannya. Semangkuk ramen yang cukup pedas dengan tambahan jamur juga ayam. Itu sangat enak dan menghangatkan di udara yang cukup dingin ini. Kecuali Liam, yang lain menikmati ramen mereka.
"Mom, apa kau sudah melihat berita terkini?"tanya Liam.
"Belum," jawab Camelia. Baginya waktu makan adalah waktu yang sangat berharga. Ia hanya akan fokus pada makanannya. Ponsel disimpan.
"Hadiah untuk pria itu sudah dibuka," ujar Liam.
"Menerima hadiah tentu dia senang, bukan?"cetus Lucas.
__ADS_1
"Ya … dia pasti sangat senang hingga tidak bisa berkata. Mungkin juga ia shock sampai pingsan," timpal Lucas.
"Semoga saja dia kehilangan nyawa karena apa? Ini baru dimulai," sahut Camelia.