
"Joseph, aku sangat kesal padanya!"aduh Alice, tak kala syuting hari ini sudah berakhir dan kini keduanya berada di dalam kamar. Itu adalah kamar yang sama, kamar di bar langganan Joseph.
"Dia selalu saja menyindirku! Padahal dia yang melakukan kesalahan, tapi lagaknya seperti tidak melakukan kesalahan apapun. Apanya bintang besar, dia hanya artis yang besar karena orang dalam," maki Alice.
Wajahnya merah kesal. Satu harian ini, ia kalah telak oleh Camelia. Sindirannya selalu dapat dibalikkan.
"Lihat saja! Tidak lama lagi, aku akan membuatnya tergeser! Joseph kau harus mendukungku!"tekad Alice.
Namun, Joseph tidak menyahut. Membuat Alice menatap Joseph. Pria itu … tampaknya melamun. Sorot matanya gusar. Apa yang dipikirkan olehnya?
"Joseph?"
"Joseph?"
"Joseph?!"
"Ada apa?" Joseph menjawab dengan terkejut. Wajahnya menatap polos Alice.
"Kau? Kau tidak mendengarkanku?!" Alice langsung mengeram kesal.
"Beraninya kau!" Alice langsung merubah posisinya. Yang semula duduk di samping Joseph, menjadi duduk di lantai, wajahnya menghadap bagian bawah Joseph.
"Alice? Apa yang kau lakukan? Jangan tidak sabaran seperti ini!"pekik Joseph, tak kala Alice dengan cekatan membuka gasper dan menurunkan celananya.
"Apa yang kau pikirkan? Mengapa milikmu masih tidur? Kau benar-benar mengabaikanku?!"marah Alice, dengan kasar ia menggenggam milik Joseph.
"Lihat, apa kau berani mengabaikanku setelah ini?!"
"Uhh!"
Mata Alice melihat ke atas. Dahinya mengernyit kesal. Joseph menahannya?!
"Kau tidak suka ini, Joseph?" Menjilat dan mengulum.
"Mengapa kau berbeda?"
"Mendesahlah, Joseph. Aku suka suaramu. Hari ini, aku yang akan memimpin!"
Alice kembali memainkan mulutnya di milik Joseph.
"Uhh! Alice!!"
"Ahhh!"
"Hnggh!"
Tampaknya pria itu sudah kembali. ******* mulai keluar dari bibirnya. Kedua tangannya juga memegangi kepala Alice.
Alice membelalakkan matanya. Namun, hanya sejenak sebelum ia tersenyum puas.
Perlahan tapi pasti. Alice mulai merangkak naik. Mencium bibir Joseph dan menjelajahi tubuh pria itu.
Aku tahu, kau pasti memikirkannya! Aku tidak akan membiarkannya, Joseph!
"Stop! Giliranku!" Joseph menarik dirinya. Tatapannya sudah penuh dengan gairah.
"Ahhh!"
"Uhh! Yeah! Ummm!"
"Yeah! Di sana!"
"Hnggg!"
*
*
*
Joseph menghembuskan asap rokok. Duduk di tepi ranjang dengan hanya menggunakan celana pendek. Otot tubuhnya terlihat jelas. Dadanya bidang dengan punggung yang lebar.
Joseph adalah salah satu tipe pria idaman. Wajar saja. Wajahnya mendukung, kariernya juga mendukung. Hanya saja, karakter aslinya kurang mendukung. Kehidupan dunia malam yang hanya segelintir orang yang tahu.
Alkohol dan wanita adalah teman aslinya. Begitulah Joseph, memakai topeng jika di depan kamera.
Maaf, kita tidak sedekat itu.
Anda hanya sekadar teman. Jangan berharap jadi sosok spesial baginya!
"Wanitamu benar-benar menarik, Chris. Aku semakin penasaran padanya!"gumam Joseph.
Ucapan Camelia dan peringatan Kak Abi mengusik dirinya. Sebelum berhubungan dengan Alice, pikiran tertuju pada Camelia. Bahkan setelah berhubungan pun, kembali tertuju pada Camelia.
Semakin didekati semakin jauh. Belum lagi latar belakangnya Camelia. Belum lagi pengawalan ketat terhadap Camelia.
Joseph teringat ucapan Alice tadi.
"Dasar bodoh!"umpat Joseph pelan.
"Sekalipun mengandalkan latar belakang, kau masih sangat di bawahnya!" Joseph mencemooh wanita yang tidur nyenyak setelah berhubungan.
Oh … ternyata penilaiannya masih bagus.
__ADS_1
"Yang aku inginkan dia, bukan kau!"
Apakah Alice hanya pelampiasan nafsu semata yang berada di bawah kata pacar?
"Umm … Joseph."
Alice sudah bangun. Wanita itu duduk sembari mengusap matanya.
"Tadi itu sangat menyenangkan," ucapnya dengan mata berseri.
"Emm … tadi kau belum menjawab pertanyaanku. Aku mau jadi yang pertama, apa kau mau mendukungku, Joseph?"tanya Alice.
Keduanya duduk berhadapan. Dan jujur saja, pose Alice itu menggoda dirinya.
Joseph mengangkat alisnya. "Bagaimana caranya?"
Alice membisikkan jawabannya.
"Kau tahu apa yang baru saja kau katakan?"
"Off course. Selain itu, aku ingin kita mengumumkannya. Bahwa kita sudah berpacaran," ujar Alice.
"No!"
"Kau menolaknya? Sampai kapan di berita itu hanya rumor? It's real, Joseph!" Alice menggertakan giginya.
"Kau masih menginginkannya? Answer me!"
"Hentikan, Alice!"
"Ahh!"
Joseph mendorong Alice. Pria itu berdiri dan menyugar rambutnya.
"Jangan pernah menuntut itu padaku! Hubungan kita hanyalah teman ranjang. Kau tidak bisa membatasi diriku! Jika kau keberatan, silakan pergi dan jangan temui aku lagi!"
Alice meremas sprei. Rasanya sakit.
Hanya sebatas teman ranjang. Apa hanya sebatas saling membutuhkan?
Alice mau lebih dari itu. Tapi, pria di hadapannya ini tidak menginginkan hal itu.
Rumor itu nyata. Mereka berpacaran.
"Apa kau sebegitu menginginkannya?" Alice mendongak. Ia berkata dengan menggigit bibirnya.
"Apa maksudmu?"
*
*
*
Karena mengejar target, jadwal syuting dipadatkan. Hingga membuat kebanyakan kru dan pemain drama 'Split Love' harus menginap di lokasi.
Begitu juga dengan Camelia. Sudah tiga hari ia menginap di lokasi syuting. Membuatnya sangat merindukan rumah, terlebih kedua anaknya.
"Nona … Nona."
Evelin membangunkan Camelia yang masih tidur.
"Hm…."
Camelia membuka matanya. Penglihatan yang lamat-lamat perlahan menjadi jelas. Duduk dan menguap. Merenggangkan tubuhnya.
"Jam berapa sekarang, Eve?"tanya Camelia.
"Pukul 06.00, Nona." Baru beberapa menit setelah matahari terbit.
"Aku akan kembali 30 menit lagi," ujar q. Evelin mengangguk.
Selagi menunggu Camelia kembali, Evelin membersihkan ruangan Camelia. Tak lupa memeriksa dan memenuhi stok yang kurang.
Lima menit sebelum Camelia kembali, Evelin telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia memutuskan menunggu Camelia di luar. Sekalian menikmati suasana pagi di mana udara masih segar. Juga melihat para kru yang sudah mulai sibuk mengatur persiapan syuting.
"Apa kau sudah dengar gosip terbaru?"
"Gosip apa? Aku sangat sibuk belakangan ini. Huft, sangat melelahkan."
"Itu loh, dengar-dengar, Tuan Joseph dan Nona Alice sering tidak berada di ruangan mereka saat selesai syuting. Banyak yang mengatakan mereka pergi berdua. Semakin banyak yang yakin bahwa rumor mereka berpacaran itu benar."
"Sungguh?"
Evelin memasang telinganya baik-baik. Ia mendengarkan kru yang bergosip itu dalam diam.
Gosip yang menarik, batinnya.
"Jika mereka berpacaran, aku rasa tidak ada masalah."
"Tapi, mengapa aku lebih kepada mereka hanya saling membutuhkan? Apa kau pernah dengar kalau Tuan Joseph itu kental dengan kehidupan malam?"
"Tidak. Aku tidak pernah mendengar. Jangan mengada-ada. Tidak mungkin wajah sepolos itu kental dengan kehidupan malam. Itu hanya rumor yang disebarkan hatters."
__ADS_1
"Ah benar. Kau kan salah satu fansnya. Apa kau tidak cemburu mendengar gosip ini?"
"Mengapa aku harus cemburu? Aku ini fans yang mendukung karyanya. Asmaranya bukan urusanku. Asalkan dia bahagia, aku tidak peduli mau pacaran ataupun menikah dengan siapa."
"Fufu … aku merasa geli mendengarnya."
"Sudah, ayo. Nanti sutradara marah lagi."
Hihi, aku dapat gosip. Nanti aku bicarakan dengan Nona ah.
Evelin tersenyum lepas, dan kemudian tertawa.
"Mengapa kau tertawa seperti itu, Eve? Kau mendapat sesuatu yang bagus?"
"Nona?!" Evelin terlonjak kaget.
"Hehehe. Ada sesuatu yang menarik, Nona."
"Apa itu?"
Evelin mengajak Camelia masuk. Sebelum menjawab pertanyaan Camelia, Evelin lebih dulu menyajikan jus yang ia buat tadi, sebelum menunggu di luar.
"Saya dengar Tuan Joseph dan ulat bulu sering tidak ada di ruangan saat syuting selesai. Menurut Nona apa itu hanya kebetulan atau ada hal lain di baliknya?"
"Oh … kau mulai bergosip?"
"Tidak sengaja mendengarnya, Nona," jawab Evelin, tersenyum menunjukkan deretan giginya. Camelia menggeleng pelan. Meletakkan gelas jus yang sudah kosong.
"Tapi, yang paling menarik katanya Tuan Joseph kental dengan kehidupan malam. Apa Nona percaya dengan itu?" Evelin meminta pendapat Camelia.
Camelia sedikit memiringkan kepalanya. "Itu hal yang cukup sentral. Namun, jika demikian. Aku tidak akan heran. Dunia ini adalah panggung sandiwara. Semua orang memiliki topeng," jawab Camelia, sembari mengedikkan bahunya. Wajahnya kembali acuh.
"Evelin, ke depannya lebih baik kau acuh saja dengan hal begitu," ucap Camelia. Evelin bergidik. Ia merasakan penekanan di sana. Juga sebuah ancaman.
Evelin menganggukinya. Camelia segera bersiap untuk syuting.
Evelin mengikuti Camelia. Wanita itu siap siaga dengan tasnya.
Nona benar-benar ditakdirkan menjadi seorang aktris. Tubuh Nona tetap ideal tanpa diet meskipun banyak makan. Lalu khaayy … aku jatuh cinta pada penampilan Nona. Pembawaannya memang pusat perhatian!
Evelin memekik kagum dalam hati. Ia tengah melihat Camelia akting. Sorot mata begitu mendalami peran. Ekspresinya begitu pas.
Nonaku! Aku akan setia dengan Anda!
*
*
*
"Nona, ada coffee dari Tuan Joseph," ujar Evelin. Ini jam istirahat untuk Camelia. Evelin datang dengan membawa satu cup coffee dan satu potong cake.
"Coffeenya untukmu saja," ujar Camelia. Wanita itu meletakkan buku naskah kemudian meraih kue yang dibawa Evelin tadi.
"Jika saya buang, tidak apa kan, Nona?" Evelin masih trauma. Ia takut kembali sakit perut seperti waktu itu.
"Baiklah," jawab Camelia singkat.
"Eh, jangan!"cegah Camelia, sesaat sebelum coffee itu masuk ke tong sampah.
"Berikan padaku." Evelin bingung. Bukankah tadi tidak apa jika dibuang? Kok malah diminta lagi?
Camelia menyimpan coffee tersebut. Juga kue nya.
Camelia kemudian memanggil salah seorang pengawalnya. Membisikkan sesuatu kemudian pengawal itu keluar dengan membawa coffee dan kue itu.
"Jika ada lagi, berikan saja pada pengawal tadi," ucap Camelia.
Evelin mengangguk. Ia bingung. Tapi, tidak berani bertanya. "Aku harus hati-hati terhadap pemberian seperti itu. Bisa saja kejadian yang kau alami terjadi padaku."
Meskipun terasa berlebihan. Namun, Camelia harus tetap waspada. Ia tahu, banyak yang ingin menyingkirkannya. Hanya saja, kebanyakan takut dengan latar belakangnya. Dan hanya berani dengan trik kecil.
"Kapan jadwalku hari ini berakhir?"tanya Camelia.
Evelin lekas melihat list jadwal.
"Hari ini Nona akan selesai lebih awal."
Camelia mengangguk mengerti.
Sekitar 30 menit kemudian, Camelia keluar bersama dengan Evelin. Sebentar lagi bagiannya.
"Joseph, apa kau yang lakukan di sana?"tanya Camelia dingin. Saat mendapati Joseph mengendap di dekat ruangannya.
"Ah? Hahaha." Pria itu malah tertawa sembari mengusap rambutnya.
"Saya ingin memanggil Anda untuk adegan selanjutnya. Tapi, Anda sudah keluar lebih dulu," jawab Joseph.
Terlihat sekali bohong!sinis Evelin dalam hati.
"Okay." Camelia menjawab datar.
Joseph berjalan di belakang kedua wanita itu. Ekspresinya tampak buruk. Seperti ada yang tidak sesuai perkiraannya.
__ADS_1