Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 241


__ADS_3

Kakek," panggil Camelia pada Kakek Gong, tak lama setelah mereka bubar dari dari makan malam, dan Kakek Gong dalam perjalanan menuju kamarnya.


"Camelia? Ada apa?"tanya Kakek Gong.


"Bisa kita bicara sebentar, Kakek?"tanya Camelia.


"Hm?" Kakek Gong sedikit mengernyit.


"Empat mata?" Camelia mengangguk.


"Di perpustakaan saja," ajak Kakek Gong yang diangguki oleh Camelia.


Kini mereka berdua sudah di perpustakaan. Camelia menghela nafasnya sebelum mengatakan maksud dan tujuannya bicara empat mata dengan Kakek Gong.


"Camelia Gong, apa kau serius dengan itu?"tanya Kakek Gong, berteriak marah pada Camelia.


Camelia menunduk sesaat. Bukan Camelia Shane, tapi Camelia Gong. Itu sebuah penekanan.


Namun, Camelia kembali mengangkat wajahnya dengan tatapan serius. "Saya serius, Kakek," jawab Camelia.


Nafas Kakek Gong seperti tersengal. Pria tua itu bak terkejut dan menatap Camelia tidak percaya. Tangannya terangkat, menunjuk ke arah Camelia. "Kau! Kau! Apa kau tahu apa yang barusan kau katakan, Camelia Gong?!"


"Saya tahu, Kakek!" Jawaban yang mantap.


Kakek Gong menatap Camelia. Ada yang dicari oleh pria tua itu. Kemudian menghela nafas kasar.


"Aku tidak bisa membantu apapun. Kau tahu kan kepala keluarga Gong adalah suamimu, bukan aku lagi."


"Kakek…." Camelia memelas.


"Katakan sendiri, aku tidak bisa melakukannya," tolak Kakek Gong.


"Jika aku mengatakannya, dia tidak akan setuju dan membiarkan aku pergi ke Kanada, Kakek. Dan selama itu pula …." Camelia menjeda ucapannya.


"Kakek, cucu menantumu ini memohon padamu. Tolong bantu aku, Kakek. Untuk kebahagiaan keluarga ini," pinta Camelia lagi.


Kakek Gong menggeleng. "Dari pada untuk kebahagiaan, itu lebih mirip memancing prahara, Camelia Gong! Kau pikirkan baik-baik, jika terjadi, tidak akan semudah kau bayangkan!"


Kakek Gong membalikkan tubuhnya membelakangi Camelia.


Bugh


"Kakek, aku mohon. Bantu aku … hiks … hanya kau yang dapat melakukannya, Kakek. Tolong bantu aku seolah itu bukan sebuah rencana…."


Kakek Gong kembali membalikkan tubuhnya. Terhenyak melihat Camelia yang berlutut dan kepala tertunduk. Seorang bermarga Shane, bisa seperti ini?


Kakek Gong memijat dahinya. Ia dihadapkan pada pilihan rumit. "Aku akan berangkat besok, Kakek. Tolong bantu aku," pinta Camelia lagi. Entah berapa kali sudah kata 'tolong' keluar dari bibirnya.


"Camelia Shane, bagaimana bisa aku melakukannya?"tanya Kakek Gong kemudian dengan nada lemah dan juga terlihat tidak berdaya.


"Aku tidak bisa janji akan berhasil," putus Kakek Gong pada akhirnya setelah melihat betapa tak berdaya dan putus asanya Camelia.


"T-terima kasih, Kakek!"jawab Camelia. Dengan wajah yang sedikit lega. Camelia membungkuk hormat pada Kakek Gong sebelum keluar dari perpustakaan.


Kakek Gong mengusap wajahnya kasar. "Bahkan marga cucu laki-lakiku bukan Gong. Camelia Shane, aku … bagaimana mungkin aku melakukannya? Prahara ini … hah!"


*

__ADS_1


*


*


Keesokan paginya, Camelia, Lucas, dan Liam serta anggota keluarga Shane telah siap untuk berangkat. Barang-barang mereka telah berada di dalam mobil. Namun, seperti permintaan Lucas dan Liam untuk tetap merayakan ulang tahun mereka di panti asuhan.


Saat keluar dari kediaman, butiran salju telah turun. "Salju turun lebih awal," ucap Hans yang ikut mendampingi Andrean.


"Kau benar, Hans," sahut Lie, mengulurkan tangannya menyentuh butiran kristal.


"Udara juga semakin dingin, aku semakin tidak tega melihat Tuan," ucap Hans lagi, menoleh ke arah Andrean yang tengah menggendong Liam dan saat ini mendudukkan Liam di dalam mobil.


"Ku pikir setelah menikah dia akan bahagia. Ujian ini, bukankah terlalu menghancurkan hati mereka?"tanya Hans.


Lie menghela nafasnya, asap dingin keluar dari mulutnya. "Kita berdoa saja supaya Tuan Muda Liam segera sembuh. Dengan begitu keluarga ini akan kembali berkumpul dan dampak baiknya juga kepada kita, bukan?"


Lie menepuk pundak Hans.


Hans diam sesaat sebelum mengangguk. Lie mengedarkan pandangnya. "Wanita itu?"


Hans mengikut arah pandang Lie. "Oh, Nona Evelin, mengapa?"tanya Hans heran, Lie seperti terkejut.


"Setahuku dia hanya bawahan Nyonya di Kanada, mengapa ada di sini?"


"Mereka bawahan yang setia dan di sini juga ada bagian dari Glory Entertainment. Sudahlah, ayo masuk," ajak Hans.


"Hei, tunggu aku!" Kini keduanya sudah masuk ke dalam mobil. Hans dan Lie berada dalam satu mobil yang sama, dengan Hans yang mengemudi.


"Artinya dia akan tinggal di sini?"tanya Lie lagi.


Hans mengangguk. Tak lama dahinya mengerut tipis. "Kau begitu peduli dengan itu?" Menatap Lie dengan selidik.


"CK." Hans berdecak pelan.


*


*


*


Acara ulang tahun Lucas dan Liam, diadakan secara sederhana dan tertutup, tidak ada awak media di sana. Panti asuhan yang dipilih, adalah tempat di mana Andrean menjadi donatur tetap.


Dekorasi yang sederhana karena dibuat dadakan. Dan kue rasa coklat bertingkat dua, dengan angka 07 di atasnya.


Balon-balon berwarna biru mendominasi. Ruangan aula menjadi tempat pelaksanaan. Dibuka dengan sambutan dari Andrean dan juga Camelia. Dilanjutkan dengan acara doa bersama dan pemotongan kue. Dan akhiri dengan sesi hiburan dengan foto bersama. Singkat memang, karena mereka juga mengejar waktu.


"Lucas, Liam, tadi itu bukan hadiah utamanya. Katakan pada Ayah, apa yang kalian inginkan?"tanya Andrean, tak kala mereka sudah berada di dalam mobil dan kini menuju bandara.


"Apa yang kami inginkan?"tanya Liam balik.


"Ya, benar. Katakan pada Ayah," balas Andrean.


Liam memakai pakaian yang lebih tebal dari yang lain. Anak itu menoleh pada Lucas yang juga menatapnya. "Bukankah keinginan kita semua sama, Ayah?"


"Ah …." Andrean terhenyak. "Maaf. Ayah terlalu bodoh menanyakan hal itu."


"Aku akan segera sembuh! Mom, Ayah, maaf karena aku, kita harus berpisah lagi." Liam menunduk dalam.

__ADS_1


"Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini lagi, Liam?" Camelia menoleh ke belakang. Wajahnya … meskipun ditutupi oleh makeup, wajah itu tertekan dan juga sedih.


"Maaf, Mom."


Andrean menghela nafas. Sejak bangun, tidak, ia bahkan tidak tidur tadi malam, entah berapa kali sudah ia menghela nafas.


"Kalian baik-baiklah di sana. Lucas, Crystal, jaga Mom dan adik kalian selama Ayah tidak bersama dengan kalian. Jangan lupa untuk mengabariku pagi dan sore, aku akan menunggunya. Kemudian, aku akan mencari waktu untuk segera menyusul kalian," ucap Andrean dengan fokus pada kemudinya. Nada bicaranya lemah, dan tangannya mengepal erat. Dapat Lucas lihat bahu Andrean bergetar. Ini memang bukan keputusan yang mudah. Camelia tidak tega melihat Andrean seperti itu. Apalagi ia mulai mendengar tangisan dari ketiga anaknya.


"Syuuttt, jangan menangis. Ini tidak akan lama."


"Hiks … hiks, maaf … maaf…."


"Sudahlah Liam, kau semakin membuat sedih," ketus Lucas dengan masih menangis.


"Hiks, maaf … maaf, Crystal nggak bisa bantu apa-apa, hiks … maaf."


Camelia memejamkan matanya. "Untuk apa menangis? Ini hanya sebentar, kalian berani kan? Lagipula kalian kan pulang ke rumah Kakek dan Nenek, mengapa menangis? Anggap saja Ayah tengah ada urusan penting jadi kalian pergi lebih dulu baru Ayah menyusul," ucap Andrean, nadanya sudah tidak lagi lemah. Lebih hangat, dan itu malah membuat tangis mereka semakin kencang.


*


*


*


Dan kini mereka tiba di bandara. Pesawat keluarga Shane telah menunggu.


"Andrean," panggil Kakek Gong, menarik Andrean menjauh dari keramaian yang sedang melakukan perpisahan itu.


"Ada apa, Kakek?"tanya Andrean bingung.


"Baca pesan dariku," ucap Kakek Gong.


"Maksudnya?" Andrean semakin bingung. Ditarik menjauh, malah disuruh membaca pesan, ada apa?


Dengan ragu, Andrean mengambil ponselnya.


Mata Andrean melebar membaca pesan Kakek Gong. "Apa ini, Kek?"


"Istrimu yang memintaku untuk melakukan hal itu. Tapi, aku tidak bisa melakukannya," ucap Kakek, menoleh ke arah Camelia yang tengah berpelukan dengan Nyonya Liang.


"Kakek, apa Lia benar-benar mengatakan hal ini padamu?"tanya Andrean memastikan. Tatapannya berubah tajam dan dingin.


Kakek Gong mengangguk. "Andrean jangan bertindak…." Sebelum Kakek Gong selesai dengan ucapannya, Andrean sudah berlari ke arah Camelia.


Dengan cepat memegang tangan Camelia. "Rean?" Camelia bingung. Apalagi ekspresi Andrean.


"Ikut aku!"ucap Andrean dingin.


"Hah? Tapi …." Tanpa mendengarkan itu, Andrean menarik Camelia dari kerumunan itu dan dengan cepat memasukkan Camelia ke dalam mobil.


"Ayah!"


"Andrean!"


"Mr. Gong!"


Semua yang tertinggal terkejut dengan tindakan Andrean yang tiba-tiba. Apalagi saat ini, Andrean melajukan mobil meninggalkan bandara. "Apa yang terjadi, Kakek Gong?"tanya Dion. Dion melihat dari Andrean dan Kakek Gong sempat bicara.

__ADS_1


Kakek Gong menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


*


__ADS_2