Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 147


__ADS_3

Sesuai ucapan Sutradara yang mana Camelia bisa pulang lebih awal. Camelia segera pulang. Dengan sebelumnya singgah untuk membeli beberapa makanan.


Donat favorit kedua anaknya, juga minuman coklat yang belakangan ini cukup viral.


Nanti malam, Camelia juga ada janji keluar dengan Lina. Sudah cukup lama mereka tidak bersua. Lina yang sudah tinggal di kediaman di Smith, juga dengan kesibukannya sebagai training manager juga sebagai istri seorang David. Kemudian, Camelia yang disibukkan dengan kegiatannya, menyebabkan mereka sudah lama tidak bertemu. Dan kebetulan malam ini ada waktu.


Tiba di kediaman, tampak lenggang. Camelia melihat jam tangannya.


"Ah, pantas saja." Camelia bergumam. Ini masih jam kerja. Tak heran jika Tuan dan Nyonya Shane tidak ada di kediaman.


Lucas dan Liam juga masih ada pemotretan. Kemungkinan sebentar lagi akan pulang.


Setelah memberikan apa yang ia bawa pada pelayan, Camelia menuju kamarnya.


Membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ah, Camelia merindukan ranjangnya. Matanya terpejam. Namun, baru saja terpejam, kembali siluet yang membayanginya datang.


Camelia duduk. Menyeka pelipisnya.


"Alexander, Ling Xiayu." Menggumamkan dua nama.


"Aku harus menyelidiki dua nama ini! Marga Ling, bukan?" Camelia tidak tahan lagi. Siluet dan mimpi itu terus datang. Artinya, menuntutnya untuk mencari tahu.


Segera Camelia mengambil ponsel. Masih pukul 16.00. Di China ini sekitar pukul 04.00 pagi.


Camelia menghubungi Dion. Butuh waktu yang cukup lama sebelum dijawab oleh Dion. Wajar saja, ini masih jam tidur.


"Ya? Hallo," jawab Dion di ujung sana. Dari suaranya yang parau, Dion terbangun dan masih separuh sadar.


"Dion, aku butuh bantuanmu," ucap Camelia, tegas.


"Emm … kakak?" Di sana, Dion tampaknya baru sadar setelah mendengar suara Camelia.


"Ah, bantuan apa, Kak?"tanya Dion kemudian.


"Tolong cari tahu tentang marga Ling di Xian. Marga Ling yang salah satu anggota keluarganya bernama Ling Xiayu. Juga cari tahu mengenai keluarga Ling yang berhubungan dengan orang asing," jawab Camelia, menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Dion.


"Keluarga Ling?" Dion mengulang nama keluarga yang ingin Camelia ingin selidiki.


"Benar. Secepatnya!"tegas Camelia.


"Apa ada hubungannya dengan pencarian keluarga kandung kakak?"tanya Dion memastikan.


"Aku tidak tahu. Tapi, itu terus datang menghantuiku. Jadi, aku harus mencari kebenarannya!"


"Baiklah, Kak. Aku akan menyelidikinya. Akan aku kabari secepatnya."


Camelia mengangguk. Kemudian panggilan berakhir.


Camelia menghembuskan nafas kasar. Berharap ia segera mendapat jawabannya. Teka-teki mengenai identitasnya harus segera terjawab.


Tok!


Tok!


Ada yang mengetuk pintu kamarnya. "Mom, apakah Mom di dalam?" Terdengar suara Lucas.


"Ya," jawab Camelia, dan kemudian membuka pintu.


"Mom, kau pulang lebih awal," ucap Lucas, menatap Camelia dengan wajah senang. Begitu pula dengan Liam.


Camelia mensejajarkan tinggi badannya dengan Lucas dan Liam. Mengacak rambut keduanya kemudian mencium pipi keduanya.


"Bagaimana pemotretan kalian?"tanya Camelia.


"Ya begitu, Mom. Seperti biasa," jawab Liam, dengan mengendikkan bahunya.


"Seperti biasa? Kalian membuat masalah?"terka Camelia yang dibalas dengan kerucutan bibir Lucas dan Liam.


"Kami ini profesional, Mom," ucap Lucas, dengan membusungkan dadanya.


"Yaya … Mom percaya itu."


"Mom!!" Keduanya merengek. Dibalas dengan kekehan Camelia.


Ia hanya menggoda kedua anaknya. "Ayo ke dapur. Tadi Mom beli donat dan minuman coklat," ajak Camelia, agar keduanya berhenti merengek.


"Benarkah?" Lucas terpancing. Camelia mengangguk membenarkan.


"Liam?"


"Katakan dulu kami ini professional, Mom," ujarnya. Nadanya antara meminta dan menegaskan.


"Mom percaya itu," jawab Camelia.


"Mom!" Liam ingin mendengar kata profesional dari Camelia.


"Ayo, hentikan di sini. Nanti minuman sudah tidak enak lagi." Camelia menggendong Liam. Anak itu sedikit memberontak. Namun, saat Camelia mencium pipinya, berubah menjadi kerucutan bibir.


Ketiganya kemudian menuju meja makan. Setelah diturunkan, Lucas dan Liam segera mengambil tempat duduk. Sementara Camelia mengambil apa yang ia beli tadi.

__ADS_1


"Wah!" Wajah anak kembar itu begitu sumringah. Gegas keduanya menikmati hidangan itu. Camelia menatapnya dengan senyum lebar. Mengambil ponsel untuk mengabadikan momen itu.


"Eh?" Camelia tertegun sendiri. Saat menyadari bahwa ia mengirimkan video yang ia ambil pada Andrean.


Saat hendak menghapus, Camelia berubah pikiran. Toh tidak ada yang salah dengan itu.


"Mom, apa kau tahu kabar Ayah?"tanya Liam, setelah ia menghabiskan satu donat dengan topping coklat.


"Ayah kalian sangat sibuk. Mom tadi membaca beritanya, ayah kalian mengambil alih Group Gong," jawab Camelia.


"Really?" Liam tertegun. Begitu juga dengan Lucas.


"Bukankah perusahaan itu ada pemimpinnya, mengapa Ayah mengambil alihnya? Apakah pemimpin sebelumnya tidak becus?"terka Liam, tertarik dengan hal itu.


"Maybe," jawab Camelia.


Aku harus mengkonfirmasi nya pada Ayah, batin Liam.


*


*


*


Sekitar satu jam kemudian, Tuan dan Nyonya Shane pulang. Camelia menyambut mereka dengan menyajikan teh putih juga donat yang ia beli tadi.


"Apakah besok kau libur, Lia?"tanya Nyonya Shane, mengingat besok akhir pekan.


"Iya, Mom."


"Baguslah. Kita bisa menghabiskan waktu bersama," ujar Nyonya Shane, tersenyum lebar.


Camelia menganggukinya. "O iya, Mom, Dad. Nanti Lia akan bersama dengan Kak Lina," ucap Camelia, memberitahu keduanya bahwa ia tidak ikut makan malam.


"Hanya berdua?" Camelia menganggukinya.


"Kalian sudah lama tidak bertemu, pergilah bersenang-senang. Tapi, ingat! Jangan lupa waktu!"ucap Tuan Shane, mengizinkan dan memberi pesan pada Camelia.


"Tentu, Dad."


*


*


*


"Bertemu Aunty Lina."


"Ikut."


"No!"tolak Camelia.


"Why?"


"Hei, Lucas!" Liam keluar kemudian menyentak Lucas.


"Mom juga butuh waktu pergi tanpa mengajak kita. Biarkan Mom bersenang-senang bersama Aunty Lina," ucap Liam, yang langsung diberi jempol oleh Camelia.


"Kalau begitu aku ingin sesuatu." Ya, tak mengherankan. Sesuatu. Tapi, nyatanya lebih dari satu.


"Kirimkan saja nanti pesanan kalian lewat chat," ucap Camelia.


"Mom pergi dulu," pamit Camelia, setelah mencium bergantian pipi Lucas dan Liam. Kemudian melangkah pergi.


"Ayo pikirkan mau pesan apa," ucap Lucas, dengan menyenggol lengan Liam.


"Aku ikut kau saja," jawab Liam, kemudian kembali masuk ke dalam kamar.


Ayah pasti sudah bangun. Ayo cari tahu apa yang terjadi belakangan ini, gumam Liam dalam hati, sembari merenggangkan jari-jarinya dan mulai menari lincah di atas keyboard.


*


*


*


Camelia menjemput Lina di kediaman Smith. Di sana, Lina sudah menunggunya dengan tak sabar. Tidak sendirian, akan tetapi ditemani oleh David.


"Lia!" Lina langsung melambaikan tangannya begitu Camelia turun.


"Kak," balas Camelia. Kedua sahabat itu kemudian saling berpelukan.


"Kau tampak lebih gendut, Kak," ucap Camelia, tak kala memperhatikan tubuh Lina.


"Benarkah?" Lina tersipu.


"Sudah aku katakan, aku akan menjaganya dengan baik," cetus David. Di wajahnya terlihat jelas ingin dipuji.


Camelia mendengus senyum. "Baguslah. Jika tidak, aku akan memukulmu!"balas Camelia.

__ADS_1


"CK!" David berdecak.


"Sudah-sudah. Ayo kita pergi, Lia," ajak Lina. Jika menunggu David dan Lina selesai berdebat, mereka tidak akan jadi pergi.


"Okay, Kak."


"Jaga istriku dengan baik, Lia. Jangan beli yang aneh-aneh!"pesan David.


"Yayaya."


"Jaga lama-lama." David memeluk Lina. Camelia memutar bola matanya malas. Bahkan, mereka belum pergi.


"Hati-hati." Sebelum Lina pergi, David mengecup pipi istrinya.


"Hei! Jika kalian terus begitu, kami akan pulang sebelum pergi!"ketus Camelia.


Lina segera melepaskan diri kemudian masuk ke dalam mobil. "CK! Aku hanya pinjam isterimu sebentar. Mengapa ekspresimu begitu berat?"celetuk Camelia sebelum masuk ke dalam mobil.


"Bagiku itu sangat lama!"jawab David dengan berteriak. Namun, tidak terdengar oleh Camelia yang telah melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Smith.


"Interaksi kalian seperti tengah kasmaran. Apa kalian sudah saling jatuh cinta? Atau mungkin sudah melakukannya?"ucap Camelia dalam perjalanan. Mereka berencana ke mall.


"Melakukannya?" Lina mengulang kata itu.


"Malam pertama," jawab Camelia, memperjelas.


"Ah?" Tidak menjawab. Memalingkan wajahnya. Camelia melirik sekilas. Ada rona merah di pipi. Responnya lambat. Dan gagap. Camelia dapat menyimpulkannya.


"Selamat, Kak. Kau sudah jadi istri yang sepenuhnya," ucap Camelia.


"Ah?" Wanita itu kembali tergagap. Camelia tertawa dengannya.


"Pantas saja dia terlihat enggan kau pergi," celetuk Camelia kemudian.


"Ahaha, apakah terlihat seperti itu?"


"Ya, itulah yang aku lihat."


"Meskipun begitu, Lia. Masih ada keraguan di hatiku," ucap Lina, dengan menunduk.


"Setelah melakukannya, dia ada mengatakan hal apa?"tanya Camelia.


"Ingin anak."


"Hilangkan keraguanmu, Kak. Aku yakin, kau pasti bisa. Selain itu, apakah Nyonya Smith ada membuatmu tidak membuatmu tidak nyaman?"tanya Camelia lagi. Ini adalah waktu yang curhat.


"Ya, aku tidak nyaman dengan semua yang ia berikan padaku. Apa kau tahu, Lia? Dia memberiku banyak credit card. Katanya, gunakan sepuasmu," cerita Lina.


"Hahaha, benarkah?"


"Sungguh! Lihat ini!" Lina menunjukkan kartu black card yang ia ambil dari tasnya.


"Artinya kau harus mentraktirku, Kak."


"Aku takut, Lia. Mertuaku begitu baik padaku." Lina malah bergidik.


"Tidak perlu takut. Kan kakak tidak melakukan kesalahan apapun."


"Ayo, Kak." Tanpa disadari, sudah tiba di parkiran mall.


"Ayo, traktir aku," ajak Camelia lagi.


"Sungguh tidak apa?"tanya Lina, masih ragu untuk menggunakan kartu yang diberikan oleh ibu mertuanya.


"Iya. Percaya padaku."


"Baiklah."


Keduanya turun dari mobil. Masuk ke dalam mall. Ini waktu untuk shopping.


Mereka mengunjungi beberapa toko. Mulai dari toko pakaian, sepatu, dan juga perhiasan. Ada beberapa barang yang mereka beli. Dan semua dibayar dengan menggesek black card Lina.


Puas berbelanja, mereka menuju lantai yang penuh dengan gerai makanan. Keduanya masuk ke dalam restoran yang menjual steak dan juga seafood.


Tak berapa lama, makanan dan juga minuman terhidang di atas meja. "Eh, iya. Dion kapan kembali ke Kanada?"tanya Lina.


"Hm, tidak sampai satu bulan lagi," jawab Camelia.


"O iya ku dengar kau juga ada acara fashion show di Paris?"


Camelia tertawa. "Kau pasti sangat sibuk, Kak."


"Entahlah, Lia. Padahal aku bekerja di sana." Lina ikut terkekeh.


"Mau ikut? Atau ajak suamimu itu bulan madu di sana. Paris, kota itu kota paling romantis," saran Camelia.


"Aku rasa itu akan sulit, dia sangat sibuk."


"Sesibuk-sibuknya pria, pasti akan melakukannya demi wanita yang ia sayangi. Jadi, jangan takut, Kak. Minta saja, atau pancing dengan basa basi."

__ADS_1


__ADS_2