
"Tuan, misi telah selesai," lapor Hans, pagi hari saat keduanya bertemu. Andrean mengangguk singkat. Ia menuju ruangannya.
Di sana sudah ada berkas yang harus ia periksa dan tanda tangani. Andrean menghela nafas pelan.
Hans melangkah dan membuatkan Andrean secangkir kopi. Andrean melirik kesal pada Hans. Hans hanya tersenyum lebar.
Dua perusahaan yang ia pimpin berbeda bidang. Satu bidang entertainment. Dan satu lagi bidang real estate beserta teman-temannya. Tidak hanya satu.
Andrean menyangga dagunya. Tidak langsung menangani berkas-berkas di atas meja itu.
Hans tidak bertanya. Ia malah dengan lancar menjelaskan agenda Andrean hari ini. Juga beberapa informasi penting mengenai artis yang berada di bawah naungan agensi Starlight Entertainment.
"Penjualan album Winter sesuai dengan yang diharapkan. Kemudian lagu dari group yang baru debut beberapa bulan lalu masuk nominasi. Minggu depan acara penghargaan digelar. Anda akan menghadiri acara tersebut. Karena banyak penyanyi dan grup kita yang masuk nominasi," papar Hans.
Hans terus menjelaskan. Cukup lama.
"Tuan, apa yang Anda pikirkan?"tanya Hans. Mulutnya sudah berbusa menjelaskan. Namun, tidak ada ekspresi tertarik di matanya. Meskipun Andrean terlihat tidak memperhatikan, Hans yakin Andrean mendengarkan penjelasannya. Ia penasaran dengan apa yang Andrean pikirkan.
"Aku berpikir, apakah bulan ini aku bisa pergi ke Kanada?"jawab Andrean. Hans tercengang.
Tak lama, ia mendengus sebal. "Tidak! Jadwal Anda sudah sangat padat bulan ini!"tegas Hans.
"Bulan depan?"tanya Hans lagi.
"Tidak."
"Bulan depannya lagi?"
"Tidak. Rapat akhir tahun dua perusahaan. Jadwal Anda padat selama tiga bulan ke depan. Jangan harap Anda bisa meninggalkan China!"tegas Hans. Ia menjawab dengan datar.
"Tahun baru aku tidak bisa libur?"tanya Andrean.
"Tidak. Mungkin awal musim panas jadwal Anda senggang," jawab Hans.
"Bisakah kau menjawab 'iya'?"kesal Andrean.
"Tidak," jawab Hans.
"S*ialan kau!"umpat Andrean. Sekretaris ini sudah menyusun jadwalnya dengan sangat teliti.
"Tidak. Anda yang pemimpin s*ialan!"balas Hans.
"Kau berani mengumpatku?"berang Andrean. Ia menatap tajam Hans.
"Tidak."
Jawaban itu terdengar sangat menyebalkan. "Apa sudah kau pastikan wanita itu tidak akan datang lagi?"tanya Andrean, mengalihkan pembicaraan.
"Tentu," jawab Hans. "Anda tidak perlu meragukan kinerja saya," tegas Hans.
"Serius?"
"Ya!"
"Kalau begitu kau kerjakan ini, aku akan pergi," titah Andrean.
"Tidak. Itu tugas Anda. Saya akan keluar. Panggil saya jika ada sesuatu yang penting," ujar Hans. Ia kemudian melangkah keluar.
Andrean berdecak pelan. Sekretarisnya itu sangat menyebalkan.
"Aku ingin membakar semua ini!" Menatap kesal tumpukan berkas serta jadwal yang sengaja Hans cetak.
*
*
*
Aku sudah mengurusnya.
Camelia membaca pesan dari Andrean. Ia segera membalasnya.
Oke.
Singkat saja.
Camelia kemudian menyimpan ponselnya. Kemudian menuruni tangga. Hari masih pagi. Camelia tidak ada jadwal apapun.
Syuting film itu masih lama. Setelah musim dingin selesai nanti.
Meskipun demikian, sudah ada susunan jadwalnya. Dari menjadi bintang tamu, memberikan penampilan spesial pada drama, dan jadwal lainnya. Kak Abi sudah mengirimkan jadwalnya. Dan itu membuat Camelia mengesah pelan. Akhir tahun, jadwal selalu padat. Belum lagi ada acara konser.
Tapi, di pagi yang cerah ini, Camelia tidak ingin memusingkan jadwalnya yang padat itu. Hari ini ia free dan berniat membuat kue bulan di dapur.
Lucas dan Liam tengah pergi bersama dengan Kak Abi. Mereka tengah melakukan persiapan syuting. Dan kebetulan latarnya adalah musim dingin.
Tuan dan Nyonya juga juga pergi bersama dengan Dion ke perusahaan. Jadi, Camelia sendiri di kediaman ini bersama dengan para pelayan.
Camelia membuat kue bulan itu dengan sepenuh hati. Sebenarnya ini cukup terlambat. Seharusnya pas musim gugur kemarin ia membuat kue bulan ini, untuk merayakan festival musim gugur. Namun, ia tidak mendapatkan kesempatan untuk membuatnya. Alhasil, Camelia baru sempat saat ini.
Waktu yang Camelia butuhkan untuk membuat kue bulan itu cukup lama. Apalagi ia membuat beberapa varian rasa. Dan ia seorang diri mengerjakannya.
__ADS_1
"Huft! Akhirnya!" Camelia menyeka dahinya. Kue bulan yang ia buat sudah selesai dicetak dan sudah masuk oven. Tinggal menunggu waktu oven selesai. Selagi menunggu itu, Camelia makan siang. Jamnya sudah cukup lewat untuk itu. Tapi, tidak masalah. Jika sudah serius di dapur, terkadang lupa waktu dengan yang lainnya.
Aroma harum tercium jelas dari dapur. Banyak pelayan yang mengintip. Tampaknya mereka tergugah dengan aroma itu. Camelia tersenyum tipis. Ia sengaja membuat banyak, untuk dibagikan juga pada orang terdekatnya. Ada Lina, Kak Abi, dan juga Evelin.
Camelia tersenyum puas saat hasilnya sempurna.
"Jika sudah dingin, silakan dimakan," ujar Camelia. Ia sudah memisahkan mana yang untuk pekerja di kediaman ini dan untuk keluarga.
"Terima kasih, Nona!"
Camelia meninggalkan dapur. Ia menuju ruang keluarga.
Entah mengapa ia jadi merindukan villa tempatnya dulu tinggal bersama dengan Chris. Mungkin karena di sana adalah rumah pertamanya setelah menikah. Tempat di mana Lucas dan Liam melewati masa kecil mereka sebelum akhirnya pindah ke kediaman Shane. Atau mungkin juga karena villa itu adalah saksi bisu rumah tangganya dengan Chris. Mau bagaimana pun, hal itu tidak bisa hilang dari hatinya.
"Aku akan mengunjunginya!"gumam Camelia.
Camelia meninggalkan ruang keluarga. Ia naik ke kamarnya. Sekitar 30 menit kemudian, Camelia kembali turun dengan penampilan rapi. Menuju garasi dan masuk ke dalam mobil yang akan ia gunakan.
"Hanya dua orang saja dan nanti kalian tunggu di luar gerbang perumahan!"ucap Camelia pada para pengawalnya.
"Baik, Nona."
Camelia mengemudikan mobilnya meninggalkan kediaman Shane diikuti oleh dua pengawal.
Perjalanan memakan waktu cukup lama. Sekitar satu jam.
Seperti yang Camelia perintahkan, kedua pengawalnya menunggu di luar gerbang perumahan. Sementara Camelia masuk setelah menunjukkan kartu identitasnya.
Kawasan villa ini sangat aman. Untuk masuk ada pemeriksaan ketat dan tentunya penghuni villa di sini kebanyakan adalah orang penting.
Letak villa Chris yang sudah berganti nama menjadi atas nama Camelia letaknya sangat strategis. Dan merupakan villa terbesar di kawasan ini.
Camelia membuka gerbang sendiri. Villa ini tidak ditinggali. Tidak ada pula penjaga gerbang ataupun asisten rumah tangga yang merawat villa.
Namun, meskipun begitu Camelia tetap mengirim kepercayaan satu bulan sekali untuk mengecek dan membersihkan dedaunan di halaman.
Camelia sejenak menatap villa dari luar. Karena belum jadwalnya dibersihkan, dedaunan berserakan di halaman.
Camelia memutuskan untuk masuk, membuka pintu villa.
Tek.
Bunyi itu terdengar saat Camelia menghidupkan lampu. Karena tidak ditempati lagi, semua barang ditutupi dengan kain dan plastik.
Sepi dan hening.
Camelia kembali menghela nafasnya. Villa ini benar-benar saksi bisu.
"Tidak terasa, sudah lebih satu tahun kau pergi, Chris."
"Aku juga tidak tahu mengapa, sampai saat ini belum bisa melupakanmu. Tenang saja, ini bukan cinta. Mungkin, karena kau orang yang mengulurkan tangan padaku. Atau mungkin juga, aku bisa di posisi ini karenamu. Meskipun bukan cinta, kau sangat berarti bagiku, Chris," lirih Camelia.
"Aku sudah bahagia. Aku sudah menemukan belahan jiwaku. Andai ada kesempatan, aku ingin bertemu. Aku ingin menceritakan semuanya padamu. Apa mungkin takdir berpihak untuk itu?"
Huh!
"Bahkan aku tidak tahu kau masih hidup atau tidak. Namun, jika kau sudah tiada, bukankah pelarianmu terlalu singkat. Aku jadi kasihan pada istrimu jika kau sudah tiada." Camelia terkekeh. Kekehannya terdengar kecut.
Hati memang sulit dipahami.
Namun, bukan berarti Camelia ragu pada hatinya.
Ia hanya mengenang.
"Aku lelah." Camelia memejamkan matanya. Saat ini ia berada di kamarnya dulu. Tatakan perabot masih sama. Tidak ada yang berubah. Hanya penghuninya saja yang berubah.
*
*
*
Camelia terbangun saat mendengar dering telpon. Tangannya bergerak mencari letak tasnya. Dengan masih setengah sadar, Camelia menjawab panggilan tersebut.
"Mom, Mom di mana? Sudah gelap mengapa belum pulang?"tanya Lucas di ujung sana. Nadanya cemas. Camelia langsung membuka lebar matanya.
Ia menyibak tirai jendela. Benar, hari sudah gelap.
"Ahaha, Mom akan segera pulang. Jangan khawatir," jawab Camelia.
"Baiklah. Hati-hati, Mom!"
"Iya."
Setelah panggilan itu, Camelia menyugar rambutnya. Entah lelah atau apa, ia malah tertidur nyenyak sini. Bahkan hari sudah gelap. Camelia bergegas keluar kamar. Menutup rapat pintu villa kemudian mengeluarkan mobilnya. Setelah menutup dan mengunci gerbang, Camelia meninggalkan villa tersebut.
Di gerbang perumahan villa itu, dua pengawal Camelia setia menunggu. Langsung menyusul di belakang Camelia.
Sekitar satu jam kemudian, Camelia tiba di kediaman Shane.
"Mom!"
__ADS_1
"Kak!"
Disambut oleh keluarga Shane. "Kau dari masa saja, Lia?"tanya Nyonya Shane.
"Dari villa, Mom," jawab Camelia.
"Selama itu?"
"Ketiduran, Mom."
"Astaga."
"Mom curang! Ke villa tidak mengajak kami!"kesal Lucas. Padahal kan, jika tahu mereka akan ikut.
"Dadakan, Lucas. Tanpa rencana," jelas Lucas.
"Besok ke sana lagi," ucap Liam.
"Bisa kan, Mom?"
"Astaga." Bagaimana bisa Camelia menahan pancaran penuh harap itu. Camelia menganggukinya. Dion tidak berkomentar apapun.
"Mom, lihat si tukang makan ini. Perutnya membesar karena kue bulan!"tunjuk Lucas pada Liam.
Ah … mulai lagi.
"Kan Mom buatnya banyak," jawab Camelia.
"Iya sih. Hehehe."
"Kau berisik sekali, Lucas."
"Kau?!"
"Stop. Daripada kalian berdebat lagi, lebih baik lawan Grandpa main catur!"ucap Tuan Shane. Lucas dan Liam menatap Tuan Shane. Keduanya merasa itu adalah tantangan.
"Baik! Siapa takut!" Keduanya menjawab kompak. Kedua anak itu kemudian pergi untuk mengambil catur.
"Lia, kau sudah makan malam?"tanya Nyonya Shane. Camelia menggeleng.
"Kau begitu pergilah mandi lalu makan."
"Okay, Mom." Camelia meninggalkan ruang tengah.
"Kakak ke villa dan ketiduran, apa mungkin karena merindukan Kak Chris?"pikir Dion.
"Mungkin saja. Lia punya perasaannya sendiri. Kita tidak perlu terlalu cemas. Lia anak yang punya pertimbangan sendiri," ujar Nyonya Shane.
Dion menghela nafas pelan. "Baik, Mom," jawab Dion kemudian.
*
*
*
Ting.
Camelia yang tengah duduk di depan meja rias menoleh ke arah ponselnya saat terdengar bunyi pesan masuk.
Sudah tidur?
Jika belum, tolong berikan aku semangat.
Sebuah foto mengikuti pesan itu. Foto setumpuk berkas.
"Bukankah ini sudah biasa?"gumam Camelia.
Aku sangat membenci akhir tahun. Apalagi saat tahu tidak bisa menghabisi liburan dengan kalian.
Camelia tertawa membacanya. Padanya, Andrean lebih sering menunjukkan sifat manja, kekanakan, dan juga narsis yang tidak ketinggalan.
Apa kau juga sibuk, Lia? Jika tidak, bagaimana jika liburan lagi di sini?
Andrean menawarkan.
Mr. Gong yang terhormat, mohon bekerja keraslah, karena calon istri dan anak-anakmu ini sangat boros.
Camelia membalas pesan pertama Andrean.
Lalu, aku juga sangat sibuk. Ya, akhir tahun selalu begitu. Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu, apa kau tahu? Bertemu satu kota saja susah, apalagi beda negara.
Camelia mengirimnya. Menunggu balasan dari Andrean.
Aku bertambah lesu.
Camelia membalasnya dengan emoji kiss.
Semangat, Rean! Akan akan waktunya untuk kita bertemu kemudian bersama.
"Aku mencintaimu." Andrean membalas dengan voice note.
__ADS_1
Aku juga.