
Kini, mereka sudah tiba di rumah. Istana megah itu menyambut kepulangan mereka. Lagi dan lagi, rasa haru menyeruak begitu saja. Kabut itu telah sirna tergantikan dengan cahaya yang begitu terang.
“Lia!” Kak Abi yang sudah menunggu di ruang keluarga langsung memeluk Camelia.
“Bagaimana kabarmu, Kak?”
“Aku baik-baik saja.”
“Nona,” sapa Evelin dengan senyum mengembangnya.
“Di mana Kakekku?”tanya Andrean.
“Beliau ada di kamarnya,” jawab Evelin.
Segera Andrean mengajak anak dan istrinya menemui Kakek Gong. Sedangkan yang lain, mereka menunggu di ruang keluarga.
Keluarga kecil itu, menemui Kakek Gong di kamarnya. Di mana, Kakek Gong termenung menatap album keluarga. “Kakek,” panggil lembut Andrean, menepuk pelan bahu Kakek Gong.
“Rean? Kau sudah pulang?”
Andrean mengangguk. “Kakek aku pulang dengan anak dan istriku,” ujar Andrean.
“Kakek Buyut.” Anak-anak menyapa dan segera mengelilingi Kakek Gong,
“Kakek,” sapa Camelia. Ia merendahkan tubuhnya. “Ini Gong Yuwen,” ujar Camelia memberitahu.
“Yuwen? Yuwen sudah lahir?”tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
“Yuwen, aku ingin menggendongnya.” Dengan hati-hati memberikan Yuwen dalam gendongan Kakek Gong. “Sangat tampan. Yuwen, Yuwen, selamat datang cicitku.”
Hahahaha “Yuwen, pewaris keluarga Gong telah lahir! Aku senang sekali!”tawa Kakek Gong.
Lucas dan Liam saling pandang. Mereka tidak terkejut dengan ucapan itu karena mereka berdua adalah pewaris keluarga Shane.
“Penantianku sudah berakhir. Aku bisa pergi dengan tenang. Aku-”
“Kakek,” potong Andrean. “Jangan bicara yang tidak-tidak. Ini adalah hari yang sangat membahagiakan.”
“Benar, Kakek. Apakah Kakek tidak ingin melihat Yuwen tumbuh dewasa?”imbuh Camelia.
Hahaha
Kakek Gong kembali tertawa. “Benar-benar. Harus hidup lebih lama. Hari ini harus dirayakan. Andrean kau urus perayaan hal yang membahagiakan ini.”
“Baik, Kakek.”
“Pergilah istirahat, kalian pasti lelah.”
Mereka menurut, keluar dari kamar Kakek Gong. “Aku semakin tua, sampai kapan aku mampu bertahan?”gumam Kakek Gong.
*
*
*
Keesokan harinya, perayaan sederhana dibuat di kediaman Gong. Sebagai bentuk rasa syukur, memberikan sumbangan ke panti asuhan dan yayasan amal lainnya. Juga mengumumkan kabar bahagia itu ke media. Seluruh fans, terutama yang di Kanada, sangat bersuka cita dengan kabar itu. Dan banyak diungkapkan dalam bentuk pemberian donatur dan kegiatan amal lainnya. Ucapan suka cita juga hadir dalam bentuk tag instagram. Akun Liam yang biasanya sudah ramai, ramai dengan notifikasi postingan yang meng tag akunnya.
Hingga seminggu telah berlalu. Liam sudah benar-benar sembuh. Dion sudah kembali ke Kanada tiga hari yang lalu, bersama dengan Tuan dan Nyonya Shane. Ya, keputusan itu berubah.
Tuan dan Nyonya Liang berkunjung setiap hari. Lucas dan Liam sudah kembali pada kegiatan mereka sebelum sakit, kecuali pekerjaan. Main game, belajar bahasa, bermain dengan Archie dan Alel, dan ya yang pasti ada kenakalan di dalamnya.
Andrean sudah kembali bekerja, sibuk di perusahaan namun tetap memperhatikan keluarganya. Sementara Camelia, ia menjalankan tugasnya sebagai ibu, istri, menantu, dan ibu rumah tangga, Nyonya kediaman ini. Andrean menyerahkan urusan rumah tangga pada Camelia. Dan ya, Camelia adalah pemegang kekuasaan tertinggi di kediaman ini juga perusahaan.
Hans, waktunya antara pekerjaan dan keluarga sudah seimbang. Tidak perlu pergi lebih awal dan pulang paling akhir. Menemani sang istri yang tengah hamil tua. Usia kandungan Silvia sudah menginjak usia 7 bulan.
“Han Jiayu, apa kau sudah menyiapkan nama untuk anak kita?”tanya Silvia sembari bermanja pada Hans. Ia berbaring dengan paha Hans sebagai bantal.
“Sudah,” jawab Hans, merapikan anak rambut Silvia.
“Han Fu Guang. Fu artinya kaya dan Guang artinya kemuliaan, aku berharap putra kita akan mewarisi kekayaan kita dan mampu mempergunakannya dengan baik untuk menjaga dan membawa kemuliaan bagi dirinya sendiri dan orang tuanya, bagaimana menurutmu?”
“Nama yang luar biasa. Aku setuju!” Silvia menerimanya dengan senang hati. ‘Han Fu Guang.” Memanggil nama putranya sembari mengusap perut yang membuncit.
“Besok adalah jadwalku check up. Kau bisa kosongkan waktumu menemaniku?”tanya Silvia penuh harap.
“Tentu saja!” Tanpa ragu langsung menjawab.
__ADS_1
Silvia sangat senang. Ia bangun dan memeluk Hans. Tak lupa memberikan kecupan pada bibir sang suami. “Aku mencintaimu, Han Jiayu.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Lu Jia Li.”
*
*
*
Seperti janjinya kemarin, Hans menemani Silvia untuk check up. Rasa haru memuncak saat melihat bayi dalam kandungan Silvia dari layar mesin USG. Dokter memberikan penjelasan mengenai kondisi sang bayi dan ibu. “Pemeriksaan bulan lalu dapat melihat jenis kelaminnya. Hari ini, tampaknya sang bayi malu-malu,” lakar Dokter.
“Tuan, Nyonya, usia tujuh bulan, semua anggota tubuh sudah lengkap, begitu juga dengan organ-organnya. Namun, tulang bayi masihlah sangat lembut, organ-organ tubuhnya juga terus mematangkan diri sampai nanti pada waktunya lahir,” jelas dokter.
Dokter menjelaskan bahwa Hans harus menjaga Silvia dengan baik.
“Kau dengar itu, Han Jiayu? Kau harus lebih menjagaku!”
“Baik-baik, aku akan lebih menjagamu dan memperhatikan pola makanmu, okay?”
“Dan posisi kepala sang bayi juga sudah di bawah, di posisi untuknya nanti lahir. Syukurlah tidak sungsang,” tambah dokter lagi.
“Terima kasih banyak, dokter,” ujar Hans yang diangguki dokter. Kemudian mereka meninggalkan ruangan. Dalam perjalanan pulang, Silvia merengek ingin makan kue mochi namun toko kue itu bukan yang ada di Beijing melainkan di luar kota. Hans bingung harus menyanggupinya atau tidak. Itu di luar kota, dan ia hanya izin selama beberapa jam, untuk menjemput, menemani, dan mengantar pulang Silvia.
“Han Jiayu, tadi kau barusan berjanji padaku. Tapi, kau langsung menolak permintaanku. Apakah terlalu sulit? Kau tidak sungguh-sungguh dengan ucapanmu?” Silvia terisak. Menatap kesal Hans.
“Tunggulah sebentar,” ujar Hans. Ia mencoba untuk meminta izin cuti untuk satu hari ini pada Hans, dan masalahnya ini adalah hari Senin.
“Baiklah-baiklah. Ayo pergi ke Nanjing. Jangan menangis, okay? Jujur aku tak tahan mendengar tangisan, lebih baik kau mengomel dan berteriak padaku,” ujar Hans.
“Sungguh? Presdir Sirius yang kejam itu memberi izin?”
“Ya atau tidak?”tanya Hans.
“Ck! Kau langsung kesal saat aku mengatainya. Huh! Tapi, tidak masalah. Hari ini aku tidak akan mengumpatinya.”
Hans tersenyum simpul. Sementara Silvia sangat senang. “Han Fu Guang, sebentar lagi kita akan macam mochi yang paling enak di Ibu Kota Selatan,” ujar Silvia pada sang bayi.
*
*
*
Seorang wanita menggunakan dress nude berlari sambil berteriak masuk ke dalam kediaman istana Gong. Semua pelayan yang melihat itu terkejut dan keheranan, siapa wanita tidak sopan itu?
“LIA? WHERE ARE YOU? I’M HOME!” teriaknya lagi.
“Lina, jangan berteriak seperti itu!”tegur pria yang menyusul di belakangnya, menggendong seorang bayi.
“Siapa?” Terdengar suara Camelia menyahut, muncul dengan dahi mengerut.
“LIA, IT’S ME!” Ya wanita itu adalah Lina, sahabat Camelia.
Kak Lina dan Evelin yang kebetulan ada di rumah, mendekat karena keributan itu. Lucas dan Liam, serta Crystal tengah menemani Kakek Gong di gazebo.
“Kak Lina?!” Camelia terkejut.
“Kak David? Kalian di sini?”heran Camelia.
“Haha sudah ku duga kau akan terkejut.” Lina tertawa senang. Kedua sahabat itu kemudian berpelukan. Sudah sekitar 18 belas bulan mereka tidak bertemu. “Maafkan aku baru bisa datang setelah semuanya selesai,” sesal Lina.
“No problem, Kak. Aku yakin kau ada kesulitan sendiri,” jawab Camelia.
Keduanya melepas pelukan. “Pipimu chubby sekali, Lia!”gemas Lina.
“Ah … hahaha … bukankah kau juga sama. Kak?”kekeh Camelia. Lina mencembikkan bibirnya.
“Omong-omong selamat untuk kelahiran putra kalian,” ujar Camelia.
“Akhirnya kau jadi seorang ayah ya Kak.”
Camelia dan David berjabat tangan dengan senyum yang melebar. “Selamat untukmu juga, Lia.”
“Lia, ku perkenalkan secara langsung padaku, ini putra pertama kami, Alvis Gezan Smith,” ucap David.
“Lia, gendonglah keponakanmu,” pinta Lina. Camelia mengangguk. Kini anak David dan Lina itu sudah dalam pelukannya. Usianya sudah satu tahun.
__ADS_1
“Alvis, this is Aunty, Aunty Lia,” ujar Lina memberitahu.
“Ty Ia, Ty Ia, hehehe.” Matanya yang jernih dan polos itu menatap Camelia. Camelia langsung gemas dan mencium pipi anak gitu. Begitu chubby.
“Ty Ia, Ty Ia, ium - ium,” celoteh Baby Alvis. Langsung akrab dengan Camelia.
“Astaga … padahal sebelumnya Alvis akan menangis jika dicium pipinya oleh orang lain,” takjub Lina,
“Artinya Alvis cocok denganku,” kekeh Camelia.
Camelia kemudian meminta pelayan untuk menyiapkan kamar dan makan malam, karena sebentar lagi adalah jam makan malam. “Di mana bayimu, Lia?”tanya Lina.
“Ada di kamar,” jawab Camelia.
Lina dan Camelia yang masih menggendong Alvis kemudian menuju kamar. Sementara David melepas lelah di ruang tamu. Pelayan menyajikan minuman dan beberapa makanan ringan untuk David. “Presdir,” sapa Kak Abi dan Evelin.
“Ah … bagaimana kabar kalian?”tanya David setelah minum melepas dahaganya.
“Kami baik, Presdir.”
“Presdir.”
“Ya?”
“Mengapa tiba-tiba Anda kemari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?”tanya Kak Abi penasaran. Tidak ada kabar sebelumnya.
“Istriku terus merengek ingin pulang kampung dan mengancam akan pulang sendiri dengan Alvis. Aku tidak tahan mendengarnya dan kami pergi tanpa rencana. Ini dadakan,” jawab David sekenanya. Ya, sebenarnya itu sudah sejak Alvis dalam kandungan dan sampai usianya satu tahun barulah terwujud. “Sekalian mengunjungi leluhur.”
“Ah … begitu rupanya.”
“Mana anak-anak?”tanya David. Ia sangat merindukan anak-anak itu. Pasti sudah semakin besar sekarang.
“Mereka ada di gazebo samping,” jawab Kak Abi. David mengangguk paham. Ia kemudian memejamkan matanya lelah.
*
Andrean mengernyit heran dengan suasana rumah yang sedikit berbeda, lebih ramai dari biasanya dan terdengar derai tawa dari ruang keluarga. Suara tawa anak-anak juga terdengar jelas. Dan ada tawa wanita dan pria lain. Andrean mempercepat langkahnya. Lie yang ikut di belakangnya mengekor saja pada Andrean.
“Lia,” panggil Andrean pada sang istri. Semua menoleh ke sumber suara.
“Rean, kau sudah pulang. Kami menunggumu sedari tadi,” ujar Camelia menghampiri Andrean.
“Lia, siapa mereka?”tanya Andrean dengan suara yang jelas hingga membuat Lina membulatkan matanya. “K-kau?!”
Camelia tertawa pelan. “Kau tidak mengenal mereka?”
Andrean menggelengkan kepalanya. “Hei! Mr, Gong. Mentang-mentang sudah lama tidak bertemu kau tidak mengenalku lagi, hah?”hardik Lina kesal.
“Apa aku pernah bertemu dengan mereka?” Camelia menepuk dahinya.
“Ini Kak Lina dan ini Kak David,” tutur Camelia mengenalkan kembali Lina dan David.
“Ah ….” Tampaknya Andrean sudah ingat. “Rupanya Presdir Glory Entertainment dan istri.”
“Tidak perlu formal seperti itu, Mr. Gong. Di sini kami datang bukan untuk membahas bisnis namun datang sebagai kerabat Camelia,” ujar David. Kedua pria itu berjabat tangan.
“Oh begitu rupanya, kalau begitu selamat datang di kediaman Gong. Semoga Anda betah di sini.”
“Lia, mengapa atmosfernya berubah? Bukannya mereka tidak ada masalah?”bisik Lina was-was dengan senyum kedua pria itu, tatapan keduanya tajam seakan berdiri berhadapan sebagai lawan.
“Cukup! Apa-apaan kalian?” Camelia mencubit pinggang Andrean. Begitu juga dengan Lina. Kedua pria dewasa itu meringis sakit. Layaknya seekor harimau yang langsung berubah menjadi kucing.
Melihat itu, Kak Abi dan lainnya terkekeh. Meskipun sudah hampir kepala 4 mereka masih kekanakan. "Lia, Sayang. It's hurt," rajuk Andrean dengan mata yang menyedihkan.
"Cepatlah bersihkan tubuhmu lalu turun untuk makan malam," titah Camelia yang langsung diangguki lesu oleh Andrean.
"Kau lagi! Kan tahu Andrean itu bagaimana, malah kau tanggapi. Sial! Sebenarnya aku tidak paham akarnya di mana. Sudahlah, ku rasa sudah terprogram seperti itu," dengus Lina.
David kembali duduk, diam saja untuk meredakan rasa sakit cubitan Lina. "Cubitan Mom sangat sakit, Ayah keren tidak menangis," bisik Lucas pada Liam yang pernah merasakan cubitan Camelia.
"Ayah akan kehilangan muka jika menangis," jawab Liam.
"Hehe."
__ADS_1