
"Ck. Ini bahkan belum sebulan. Kasus kedua tahanan itu banyak sekali. Semua kasus berat, benar-benar tidak mengerti apa yang mereka pikirkan," cibir salah seorang polisi. Sembari melihat lembaran kertas berisi kasus para tahanan. Dilihat dari bintang di pundaknya, dia adalah kepala polisi di sini.
"Aku dengar mereka berdua adalah publik figur. Agensi mereka juga sudah mengirimkan pengacara. Apa menurutmu mereka akan bebas seperti waktu itu?"sahut rekannya. Polisi itu menggeleng.
"Ada tuntutan percobaan pembunuhan untuk wanita itu. Maksimal hukuman lima belas tahun, belum untuk kasus dan tuntutan lainnya. Dan untuk prianya, penggelapan pajak dan mencelakai orang. Tapi, apapun ganjarannya, pengadilan yang akan menentukannya." Rekannya manggut-manggut mendengar penjelasan itu.
"Sore nanti mereka akan dikirim ke pengadilan karena bukti yang diberikan sudah cukup. Saksi untuk percobaan pembunuhan itu juga sudah ada."
"Pak, ada sedikit masalah." Seorang polisi lainnya masuk dan melapor.
"Masalah apa?"tanya kepala polisi itu.
"Ada perwakilan dari kedutaan Kanada," jawabnya.
"Perwakilan dari kedutaan Kanada?" Mengernyit bingung.
"Ada masalah apa hingga kedutaan datang?" Segera bangkit.
"Mungkin karena orang yang dicoba dibunuh adalah warga negara asing. Setahuku dia memiliki latar belakang keluarga yang kuat. Aku ragu, dia memang tidak akan lepas jika keluarganya sudah bertindak," bisik rekannya itu. Kepala polisi itu menghela nafas pelan.
"Merepotkan saja," gumamnya.
*
*
*
"Suamiku, kau sudah sadar?" Wajah Nyonya Liang langsung berseri saat melihat mata suaminya terbuka.
Tuan Liang mengerjap perlahan dengan melengkungkan senyum. "Aku senang kaulah yang aku lihat saat membuka mata." Tuan Liang menggenggam jemari Nyonya Liang.
Nyonya Liang tersenyum. Namun, matanya berubah sendu. "Maafkan aku. Tadi, aku tidak bisa mengontrol emosiku," sesal Nyonya Liang.
Tuan Liang menggeleng lemah. "Kau berhak marah. Tapi, apakah kau masih marah padaku?"tanya Tuan Liang, menatap dalam Nyonya Liang.
Wanita itu menggeleng. "Rasa marahku sudah meluap pergi." Nyonya Liang mengecup punggung tangan suaminya.
"Terima kasih."
"Susan…." Tuan Liang memanggil lembut.
"Aku merindukan Jasmine dan Dion. Menurutmu, apakah suatu hari nanti kita akan bertemu dan berkumpul lagi dengan mereka? Menurutmu, apa mereka akan memaafkanku?" Tuan Liang bertanya lirih.
"Pasti!" Langsung dijawab dengan penuh keyakinan. "Mereka akan memaafkan kita, juga pasti akan bertemu dan berkumpul lagi."
Tuan Liang dan Nyonya Liang kemudian berpelukan. "Aku tenang mendengarnya."
__ADS_1
Kriet.
Tuan dan Nyonya Liang melihat ke arah pintu. Keduanya sedikit membulatkan mata dan berbinar melihat siapa itu. "Lia, Dion, kalian datang?"tanya Nyonya Liang, dengan cepat berdiri dan menghampiri Camelia dan Dion.
"Lia, Dion … mengapa mata kalian merah? Apa kalian menangis?"tanya Nyonya Liang bingung melihat ekspresi dan mata merah Camelia dan Dion.
"Ibu!" Tidak menjawab, keduanya malah serentak memanggil Nyonya Liang dengan sebutan Ibu dan langsung memeluk wanita itu.
Nyonya Liang terperanjat. Ia memang meminta kedua anak itu untuk memanggilnya ibu. Namun, panggilan kali ini terasa berbeda. Dadanya berdebar kencang dan masih dalam perasaan bingung. Camelia dan Dion menangis sambil memeluk Nyonya Liang.
"Anak-anak, ada apa? Mengapa kalian menangis?" Entahlah. Bahkan Nyonya Liang kini turut menangis tanpa tahu alasannya. Tuan Liang yang berbaring di ranjangnya menatap pemandangan itu dengan perasaan tidak menentu.
"Ibu, maafkan kami, Ibu." Dion berbicara dengan parau.
"Lia? Dion? Kalian salah apa pada Ibu?"
"Aku bukan Camelia, Ibu. Aku Jasmine, putri ibu!"jawab Camelia yang otomatis membuat Nyonya Liang membeku.
"Ibu, aku Dion, putra ibu." Dion menambahkan.
Mendengar pengakuan kedua orang itu, Tuan Liang melebarkan matanya. Air matanya jatuh tanpa diminta. "A-apa kalian serius?" Tuan Liang bertanya dengan gemetar. Bahkan ia sudah bangkit dan mencoba untuk turun.
Namun, terhenti karena ada yang menahannya. Itu Dion, yang langsung memeluk ayahnya itu.
"K-kau sungguh Jasmine? Putri ibu? Kau tidak berbohong, bukan?"tanya Nyonya Liang, gemetar seraya menyentuh wajah Camelia yang sudah berlumuran air mata.
Tadi, sebelum membuka pintu dengan lebar, Camelia dan Dion mendengar percakapan Tuan dan Nyonya Liang. Mendengar penyesalan dan kerinduan kedua orang itu, hati keduanya sungguh tidak tahan. Terlebih lagi, tujuan mereka kembali ke China sudah tercapai, dan berpikir tidak mungkin selamanya mereka menutupi identitasnya, maka keduanya memutuskan untuk mengaku pada Tuan dan Nyonya Liang.
"A-anakku." Kembali dipeluknya Camelia dengan erat. Kemudian diciumi dengan sayang.
"Perasaan ibu tidak pernah salah. Kau memang putriku. Jasmine…."
"Ayah, maafkan aku."
"D-Dion?"
"Huhu … Dion, maafkan ayah, Nak!!"
Keluarga itu berpelukan haru. Lima tahun bukan waktu yang singkat. Sudah merubah banyak hal. Satu sisi lima tahun yang penuh dengan perjuangan. Satu sisi lima tahun yang penuh dengan penyesalan, kesepian, dan rasa bersalah.
Lima tahun loss contact, menciptakan sebuah praduga yang tidak jelas. Lima tahun yang terbuang karena sebuah kekerasan kepala.
Namun, hari ini, semua itu telah mencapai final dan menemui titik terang. Hati yang beku sudah cair. Pengakuan sudah diucapkan. Konflik masa lalu telah selesai.
"Jasmine," panggil Nyonya Liang lembut.
"Ibu, meskipun aku mengaku aku Jasmine hari ini, akan tetapi nama itu adalah masa laluku lima tahun yang lalu. Sekarang namaku adalah Camelia, Ibu." Camelia menolak untuk dipanggil Jasmine. Nama itu sudah ia copot lima tahun yang lalu.
__ADS_1
"T-tapi, Nak …."
"Ibu, panggil saja aku seperti biasa, Lia," ujar dan pinta Camelia.
"Benar, Bu. Identitas Kakak sekarang adalah Camelia Shane …," tambah Dion. Mendengar penuturan Camelia dan Dion, Nyonya dan Tuan Liang sedih. Penyesalan kembali menghampiri mereka. Andai … andai saja dulu mereka tidak … pasti putri mereka tidak akan mengganti identitasnya.
"Ibu … meskipun identitasku sudah berganti, akan tetapi aku adalah orang sama. Jasmine dan aku adalah satu. Begitu juga Dion. Kami tetaplah anak kalian," tutur Camelia, kembali memeluk Nyonya Liang.
"Hiks … hiks, anakku. Maafkan kami."
"Ibu, sudah berlalu. Kami juga keluar dari masa kelam itu. Lembaran itu sudah tertutup ibu." Camelia menyeka air mata Nyonya Liang seraya tersenyum lembut.
"Kemarilah, Nak." Tuan Liang memanggil serak.
"A-ayah." Parau. Camelia tidak langsung menghampiri Tuan Liang. Anak dan ayah itu saling tatap. Memancarkan sejuta kerinduan.
"Mine, Lia … kemarilah, Nak." Kembali memanggil. Camelia melangkah pelan. Saat sudah dekat, Camelia langsung memeluk Tuan Liang. "A-ayah. Huhuhu."
"Maafkan Ayah, Lia. Ayah yang salah, membiarkanmu menderita, padahal seharusnya ayah percaya padamu."
"Ayah, sudah. Semua itu sudah berlalu."
Sementara Nyonya Dion, memeluk dan menciumi wajah Dion. Akhirnya, setelah berpisah lima tahun mereka bertemu lagi. "Dion, kau sudah dewasa, Nak."
Dulu, saat ikut dengan Camelia, usia Dion barulah 13 tahunan. Sekarang sudah hampir 19 tahun.
Setelah puas melepas rindu, Dion dan Camelia menceritakan hidup mereka selama di negeri orang. Tuan dan Nyonya Liang tak hentinya menangis mendengar cerita hidup kedua anaknya yang diawali dengan begitu sulit.
"J-jadi Lucas dan Liam benar cucu kami?"tanya Nyonya Liang. Camelia mengangguk.
"Lalu di mana suamimu, Nak?"tanya Tuan Liang. Mendengar pertanyaan itu, Camelia diam beberapa saat.
"Kakak ipar … sudah tiada beberapa bulan yang lalu, Ayah." Dion yang menjawab.
"Astaga! Maafkan kami, Anakku." Tuan Liang menyesal.
"Lia … lalu di mana Lucas dan Liam sekarang? Mengapa mereka tidak ikut?"tanya Nyonya Liang, ingin bertemu dan memeluk kedua cucunya itu.
"Ibu, mereka sudah kembali lebih dulu ke Kanada," jawab Camelia.
"Sebenarnya hari ini kami akan kembali ke Kanada."
Deg!
Tuan dan Nyonya Liang langsung tertegun, wajah keduanya langsung sedih. "Kalian akan tetap di Kanada?"
"Lalu, apakah kalian tidak akan mengganti marga lagi?"tanya Tuan Liang. Sebagai kepala keluarga jelas ia mempertanyakan hal itu. Rasanya melihat anak-anaknya mengganti marga atau nama keluarga adalah sebuah kegagalannya untuknya.
__ADS_1