
Kediaman Liang tampak lenggang. Suasana pagi tanpa ada keriuhan sama sekali. Pagi, seperti rumah tanpa penghuni. Padahal, kediaman itu dihuni oleh banyak orang. Tuan dan Nyonya Liang, bersama dengan pelayan mereka.
Kembalinya sang Putri ke rumah pun tidak membuat suasana rumah menjadi lebih baik. Malah, para pelayan tampak tertekan dengan kembalinya Rose. Terlebih tadi malam, Rose kembali dengan membawa amarah. Tentu saja, mereka ikut terkena imbas akibat amarah Rose itu. Mereka harus membersihkan kekacauan dan pecahan barang di kamar Rose sementara pelakunya tidur setelah melampiaskan amarah.
Pagi ini, Nyonya Liang menyuruh pelayan untuk membuat menu favorit Rose. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 08.00. Namun, Rose belum bangun juga. Tuan dan Nyonya Liang sudah berada di meja makan.
Tuan Liang menghela nafas. "Bangunkan dia," ujar Tuan Liang pada pelayan.
Pelayan mengangguk, "biar aku saja," ucap Nyonya Liang. Segera bangkit meninggalkan meja makan.
Kembali, Tuan Liang menghela nafas. "Rose sudah pulang. Tapi, mengapa aku hampa? Apa yang salah?" Ia bergumam lirih.
"Tuan … kediaman ini akan terasa kurang tanpa Nona Jasmine dan Tuan Muda Dion. Kediaman ini … merindukan mereka. Tanpa mereka … kediaman ini kehilangan rasanya," jawab pelayan yang sudah lama melayani keluarga Liang. Ia adalah pelayan senior.
"Jasmine? Dion? Bagaimana bisa aku melupakan mereka?" Emosi sesaat yang berdampak fatal. Suatu kesalahan yang tidak bisa diperbaiki lagi.
Sebuah penyesalan yang tiada arti! Sedikit banyaknya membawa perubahan signifikan dalam keluarga Liang.
Dan juga berpengaruh pada hubungan Tuan dan Nyonya Liang. Mereka tidak lagi semesra dulu. Seakan ada dinding pembatas yang dingin di antara mereka.
Kebahagian mereka seakan pergi bersamaan dengan melangkah keluarnya Jasmine dan Dion kediaman ini.
Mengingat Jasmine, membuat Tuan Liang mengingat saat ia melihat berita tentang Andrean bersama dengan Camelia. Kala itu dalam hatinya langsung menyebutkan Camelia sebagai Jasmine. Namun, karena melihat dan mendengar informasi tentang Camelia, Tuan Liang menampiknya. Hatinya merasa kecewa, namun … itu juga imbas dari perbuatannya.
Di atas, Nyonya Liang mengetuk pintu kamar Rose. "Rose … Sayang, kau sudah bangun?"
Tidak ada jawaban. Nyonya Liang yakin Rose masih tidur.
"Ibu masuk ya …." Nyonya Liang memutar knop pintu. Tidak dikunci. Didapati Rose masih tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuh.
Nyonya Liang tersenyum simpul. Ia melangkah mendekati jendela untuk membuka gorden agar cahaya masuk ke dalam kamar.
Pancaran sinar itu menganggu tidur Rose. Ia mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut. "Ibu jangan ganggu tidurku. Aku masih mengantuk!"rengek Rose dengan nada ketus. Ya itu lebih mirip sebagai sebuah kekesalan.
"Matahari sudah tinggi, Rose. Saatnya bangun. Cepatlah … kita sarapan bersama. Bukankah kau juga ada acara konferensi pers jadi pukul 10.00?"tutur Nyonya Liang.
"Aku malas menghadirinya, Bu. Aku mau tidur saja!" Rose membalikkan tubuhnya dan kembali menarik selimut menutupi kepala.
"Jika kau tidak menghadirinya, itu membuktikan kau benar-benar bersalah. Jangan seperti ini. Ibu dengar juga setelah konferensi pers kau akan menjalani pemeriksaan. Lebih baik cepat dihadiri dan masalah akan cepat selesai," tutur Nyonya Rose lagi. Dengan lembut menarik selimut Rose.
Rose membuka matanya. Wajahnya masam. Ia tampak tidak senang. Namun, apa yang dikatakan Nyonya Liang ada benarnya.
"Ibu tidak ingin rumor di luar sana benar," bujuk Nyonya Rose lagi. Nyonya Rose sangat menyayangi anaknya. Ia akan tetap sayang, perhatian, dan lembut walaupun kelakuan putri mereka kurang menyenangkan.
"Rumor apa?"tanya Rose.
__ADS_1
"Jordan. Dia diperiksa oleh polisi atas tuduhan melakukan pelecehan seksual. Ibu tidak ingin rumor yang menyebutkan kalian itu dou bermasalah benar. Hah … ibu tidak menyangka Jordan akan terseret kasus seperti itu. Jika benar, dia tidak akan bisa berkarier lagi."
Rose langsung duduk mendengar jawaban sang ibu. "Jordan diperiksa polisi? Pelecehan seksual? Ibu serius?" Rose memegang pundak Nyonya Liang.
"Untuk apa ibu berbohong? Beritanya rilis tadi malam." Rose buru-buru mengambil ponselnya dan mencari berita trending. Benar, dan tagar dou bermasalah yang merujuk padanya dan Jordan menjadi nomor 3.
"Brengs*k!!" Rose berteriak kesal. "Lekas bangun, mandi, dan turun sarapan. Ibu dan Ayah menunggumu di meja makan," ujar Nyonya Liang sembari menepuk lembut pundak Rose. Nyonya Liang kemudian meninggalkan kamar Rose.
"AHH … ****!! BRENGSEK KAU JORDAN!!!"umpat Rose.
"Beraninya! Beraninya kau melakukan itu hah?! Sialan, brengs*k!"desis umpat Rose.
"Ahhgkkhhh!!" Rose kembali menyerakkan barang yang ada di atas nakas.
*
*
*
"Ke mana Tuan?"tanya Nyonya Liang yang tidak mendapati suaminya di meja makan.
"Tuan sudah berangkat, Nyonya," jawab Pelayan.
Pelayan tersebut mengangguk pelan. Nyonya Liang menghela nafas pelan. "Ya sudah." Nyonya Liang duduk. Ia menunggu Rose.
Rose baru turun lima belas menit kemudian. Ia sudah berhias dan tampaknya hanya cuci wajah dan gosok gigi.
"Rose, sarapan dulu!" Nyonya Liang langsung memanggil ketika melihat Rose tidak menuju ke meja makan melainkan ke arah luar. Rose menghentikan langkahnya.
"Sarapan dulu."
"Aku sudah hampir terlambat, Ibu," jawab Rose dengan tidak sabar.
"Kau akan menghadiri konferensi pers. Kau butuh energi, Sayang," bujuk Rose.
"Aku tidak ada waktu, Ibu. Aku berangkat." Rose tidak menggubris. Wajah Nyonya Liang menunjukkan rasa kecewa. Namun, Rose tampak tidak peduli. Ia langsung melanjutkan langkahnya.
Nyonya Liang mengelus dadanya. Sorot matanya begitu sendu. Tak lama kemudian air mata membasahi pipinya.
"Jasmine, Dion, Ibu merindukan kalian. Kapan kalian pulang? Apa kalian tidak merindukan Ibu?"
*
*
__ADS_1
*
Camelia membuka matanya. "Ibu."
Tiba-tiba Camelia teringat pada ibu angkatnya, Nyonya Liang.
Apa yang terjadi?
Mengapa hatiku berdenyut? Ini sakit, sesak. Apa yang terjadi pada Ibu?
Benak Camelia menjadi tidak tenang. Sesuatu mengusiknya dan itu adalah rasa rindu.
"Pukul 10.00, aku akan makan siang di restoran Ibu. Lebih baik aku kabarin Kak Abi," gumam Camelia.
"Peserta nomor 21." Camelia mendongak saat dirinya dipanggil. 21 itu nomor urutnya.
"Hadir." Segera Camelia menjawab. Ia lalu masuk ke dalam ruang uji.
Di sana ada tiga orang juri. Juga ada sebuah layar monitor. Mungkin untuk memperbesar tampilan layar ponsel waktu tes. Camelia diintruksikan untuk duduk.
"Camelia Shane," panggil salah seorang penguji.
"Ya. Itu saya," jawab Camelia tenang.
"Apa alasan Anda mengikuti casting ini?"tanya penguji.
"Karena saya salah seorang pemain dari game ini," jawab Camelia.
"Benarkah? Sudah level berapa?"
Camelia menjawab. Jawabannya membuat penguji cukup tersentak.
"Selain itu? Anda adalah seorang artis dari luar negeri. Menurut Anda, mengapa kami harus memilih Anda?"
"Justru karena itu. Anda sudah membaca biodata saya. Otomatis Anda tahu akan popularitas saya. Jika saya menjadi BA untuk game ini, maka Anda akan mendapat banyak keuntungan. Saya juga punya kemampuan dan keahlian di dalam game tersebut," jawab Camelia.
"Bisa kita buktikan?" Camelia mengangguk. Melawan seorang juri yang juga merupakan pemain game tersebut.
"Hebat!" Penguji tersebut berseru.
"Selamat, Anda lulus seleksi," ucap penguji.
"Hanya seperti ini?"
"Ini baru tahap awal, Nona."
__ADS_1