
"Mengapa kau menemuiku?"tanya Andrean, saat Lie menemui Andrean di kediamannya.
"Saya mohon, bantu saya menyadarkan Tuan Allen!"ucap Lie, dengan membungkuk di depan Andrean.
"Hm?" Andrean mengangkat alisnya.
"Apa dia tambah gila?"tanya Andrean, menatap Lie dengan rumit.
Orang Allen, tiba-tiba datang ke kediamannya lalu meminta bantuannya. Ini trik atau tulus?
"Jika Anda tidak menghentikannya total, Tuan Muda saya akan benar-benar gila!"ucap Lie. Nadanya tegas namun tak menghilangkan nada memohonnya.
"Saya mohon pada Anda, tolong beri Tuan Muda saya pelajaran yang berharga dan lebih keras lagi!"ucapnya lagi.
"Dengan apa yang aku lakukan, apa dia belum sadar juga?"
"Kekhawatiran dan keserakahan meliputi hati Tuan Muda saya. Mohon bantuan Anda!"
"Berdiri dengan benar!"titah Andrean. Lie sedari tadi membungkuk. Lie mengangkat wajahnya.
"Lebih susah menghadapi orang serakah ketimbang orang bodoh apalagi keduanya." Andrean memijat pelipisnya.
Ah benar-benar! Diberi peringatan bukannya berubah malah menjadi. "Jadi, dia semakin parah?"
"Dari yang saya lihat seperti itu, Tuan Muda."
"Aku tidak tahu mau berbuat apa padanya." Lie terhenyak.
"Rasanya aku sudah sering memberinya peringatan keras. Tapi, seperti katamu dia tak kunjung berubah." Andrean mengedikkan bahunya.
"Jika Anda tidak bertindak, Tuan Muda saya akan benar-benar hancur, Tuan Muda!" Sekali lagi memberi penekanan dan memohon.
"Aku akan bertindak jika dia bertindak. Jika aku bertindak tanpa alasan pasti, sama saja aku merugikan diriku sendiri." Andrean menolak untuk mengambil tindakan di awal.
"Sekretaris Lie, kau orang nya Allen. Kau paling tahu karakternya. Dan hari ini kau datang padaku. Aku hanya bisa menyarankanmu, mengawasinya 24 jam!" Katanya memang saran, akan tetapi itu adalah sebuah perintah.
Lie terhenyak beberapa saat. Andrean, memang tidak mudah. Pria itu punya perhitungan sendiri. Dan dari kata-katanya, seakan ia sudah mempunyai persiapan.
"Saya akan melakukannya, Tuan Muda!" Lie kembali membungkuk kemudian melangkah keluar dari kediaman Andrean..
Andrean, saat ini dan selama tiga hari ke depannya ia berada di Shanghai. Hal itu dikarenakan permintaan sang kakek dan juga direksi Group Gong.
"Aku penasaran, apa yang akan dilakukan oleh si bodoh itu." Andrean menyunggingkan senyum tipis.
*
*
*
"Apa kau tahu Tuan Muda Pertama ada di mana?"tanya Allen, pada salah seorang pelayan. Hari sudah gelap dan ia baru saja pulang dari kantor. Wajahnya terlihat datar. Akan tetapi, ada pancaran semangat di netranya.
"Tuan Muda Pertama tadi saya lihat keluar dari kediamannya. Kemungkinan besar beliau keluar," jawab pelayan tersebut.
Mendengar itu, Allen langsung melangkah pergi. "Aku merasa ada yang aneh dari Tuan Muda Kedua," gumam Pelayan itu, sebelum melanjutkan kegiatannya.
"Cari dia dan lakukan tugas kalian!!"ucap Allen pada seseorang, via telepon. Ia menarik senyum smirk, terlihat licik.
Hal apa lagi yang ia lakukan?
*
*
*
"Anda melakukan syuting perdana dengan sangat bagus, Camelia!"puji Joseph, tak lama mereka sedang break.
"Hanya kebetulan," jawab Camelia. Ia memegang kipas angin tangan, membuat wajahnya diterpa angin segar.
"Padahal saya sudah menghafal dan mempersiapkan syuting perdana dengan baik. Tapi, hasilnya masih banyak kesalahan." Joseph menunduk lesu.
"Hei," panggil Camelia. "Kesalahan di awal wajar. Kau hanya perlu memperbaikinya dan jangan mengulanginya. Jangan terlalu tertekan dengan hal itu," ujar Camelia, ia memberikan senyum simpul pada Joseph.
Dan hal itu, membuat Joseph terkesiap.
Damn! Tidak hilang juga, maki Joseph dalam hati. Jantungnya berdebar kencang.
"Joseph, siap-siap. Kau akan take lagi dalam lima belas menit," ucap kru pada Joseph.
"Ah! Baiklah!" Joseph tersadar.
"Fighting, Joseph!"ucap Camelia sebelum Joseph beranjak.
Damn!! Ini semakin menjadi! Apa aku terobsesi padanya? Bahkan aku mulai membayangkan! Sh"it! Kecantikan Asia memang memikat!!
Joseph, ya bagaimanapun dia pria dewasa. Dan pastinya sudah pernah merasakan hubungan antara pria dan wanita.
Kini, Camelia duduk sendiri. Asistennya tengah pergi membelikannya sesuatu.
"Uh!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Camelia merasakan kepalanya berdenyut.
Aku membencimu!!
Aku tidak akan pernah memaafkanmu!!
Aku membencimu, Alexander!!!
"Apa itu?!" Nafas Camelia terengah. Padahal ia tidak tidur. Tapi, kata-kata itu terlintas dalam benaknya.
Sebenarnya apa itu? Dan kali ini, ia mendengar nama suami dari wanita yang sering ada dalam mimpinya.
Alexander, identik dengan nama orang Eropa.
"A-apa ini petunjuk lagi?" Camelia bergumam. Mengambil tisu untuk menyeka keringatnya.
"Nona, salad Anda."
"Ah!" Camelia terkejut. Ia tersadar saat suara asistennya menyapa.
"Terima kasih."
"Keringat Anda banyak sekali. Apakah Anda merasa sangat panas, Nona?"
"Mungkin. Padahal sudah pakai kipas angin," jawab Camelia dengan kekehan khasnya.
"Saya akan bawakan ice untuk Nona."
"Hm."
"Kapan teka-teki ini akan selesai?"gumam Camelia, memilih menikmati saladnya, mengesampingkan dulu apa yang terlintas dalam benak.
*
*
*
"Ahhh! Ada apa ini?"
"Apa yang terjadi?"
"Perampokan! Ada perampokan!"
"DIAM!"
DOR!
Beberapa orang, menggunakan pakaian serba hitam dengan topeng menutupi wajah mereka. Orang-orang itu membawa pistol.
"Diam atau mati!" Salah satu dari mereka berteriak lantang. Membuat semua menggigil takut.
"Ada apa ini?" Seorang pemuda datang, bertanya dingin. Sorot matanya tajam dan pemuda itu adalah Dion.
"Minggir! Kami hanya menyelesaikan urusan kami!" Salah satu menodongkan senjata pada Dion.
Dion mengangkat kedua tangannya, sebagai bentuk respon. "Jika kalian ingin menyelesaikan urusan kalian, selesaikan di luar restoran ini! Jangan membuat noda darah di sini. Aku tidak mengizinkannya!"ucap Dion. Ia memang mengangkat tangannya. Akan tetapi, sorot mata dan sikapnya tidak berubah.
"Apa aku yang kalian cari?" Dion menolehkan wajahnya. Andrean mendekatinya dengan langkah tenang. Tersungging senyum di bibirnya.
Sontak, beberapa pria itu, selain yang menodong Dion, langsung menodongkan senjata pada Andrean. "Wait-wait!"
Andrean terkekeh, "benar rupanya." Kemudian mendengus, sebal.
"Mr. Gong?"
"Aku akan mengurusnya," ucap Andrean.
"Aku tahu maksud kalian, lakukan di luar restoran ini." Andrean berkata tenang. Namun, sorot matanya menegaskan dan menatap tajam mereka.
Para pria itu saling melempar pandang. Kemudian saling angguk dan membawa Andrean keluar.
"Mr. Gong!!" Dion hendak mengejar Andrean. Namun, ditahan oleh Nyonya Liang.
"J-jangan pergi. Sangat berbahaya." Memegang erat lengan Dion.
Dion menatap Nyonya Liang, kemudian menatap Andrean yang dibawa dengan mobil, menjauh.
Dion menggigit bibirnya. Bagaimana bisa ia diam saja? Pria itu adalah ayah dari kedua keponakannya!
"Maaf, Ibu." Dion melepaskan pegangan tangan Nyonya Shane dan segera berlari keluar.
"Dion!"
"Dion! Kembali!!"
"Tenanglah, Susan." Tuan Liang menatap Nyonya Liang.
"Dion mengejar mereka. Cepat lakukan sesuatu!"
"Aku sudah menghubungi polisi," jawab Tuan Liang. Menatap ke arah pintu, di mana para pelanggan langsung berhamburan keluar setelah Andrean dan orang-orang misterius itu pergi.
__ADS_1
*
*
*
"Apa?!" Hans terkejut bukan main mendengar info dari Dion.
"Sialan!" Ia mengumpat kesal. Gegas mengambil laptopnya untuk mencari ke mana Andrean dibawa.
Setelah mendapatkan rutenya, segera ia kirim pada Dion.
Di sisi lain, Andrean dibawa ke sebuah gudang kosong yang terletak di pinggiran kota. Pria itu diikat di kursi. Dengan mata dan mulut yang ditutup.
"Tuan, kami sudah membawanya!" Salah seorang dari mereka menghubungi seseorang.
"Tuan akan segera datang."
Andrean mengandalkan pendengarannya. Beberapa langkah menjauh. Artinya, jumlah orang di sini berkurang. Kemudian dari bau yang ia cium, tempat ini jelas kotor dan kumuh.
"Tidak disangka, mudah sekali menangkapnya." Seseorang mencibir.
"Jika begini, satu orang saja pun cukup." Kembali meremehkan Andrean. "Katanya Presdir perusahaan besar, cucu utama konglomerat, sama sekali tidak ada penjagaan. Apa yang Tuan takutkan dari pria ini?"
Tangan Andrean yang terikat mengepal.
Beraninya merendahkanku!maki Andrean dalam hati.
"Kerja bagus!" Andrean menangkap suara yang ia kenali.
"Buka penutupnya!" Penutup mata dan mulut Andrean dibuka.
"Hai, Kakak sepupu."
Andrean hanya diam, memberikan tatapan tajamnya pada Allen. Ya, otak dibalik penculikan ini adalah Allen. Pria itu tersenyum sinis. Sangat sinis pada Allen.
Sementara Allen, pria itu tersenyum kecewa.
"Kau tidak terkejut, apa kau sudah menduganya?"tanya Allen, sedih.
"Ternyata kau menganggapku terlalu tinggi," ucap Andrean.
"Tinggi? Tidak! Karena sekarang kau ada di bawahku!" Dengan lancang, Allen menapakkan kakinya di atas kaki Andrean. Andrean melihatnya sekilas.
"Apa maumu?"tanya Andrean.
"Nyawamu," jawab Allen, disertai dengan tawanya.
"Oh. Aku ragu kau tidak akan bisa membayarnya." Andrean tetap tenang. Entah mengulur waktu atau ia sudah punya rencana tersendiri.
"Tampaknya kau tidak takut mati. Baiklah, aku tidak segan untuk membuatmu merasakannya secara perlahan. Ini adalah balasan karena kau telah menyinggungku!"
Allen mengeluarkan sebuah pisau. Andrean menatapnya datar. "Kata-katamu terbalik," ralat Andrean.
Sejak kapan ia mencari masalah dengan Allen? Yang ada Allen yang selalu mencari masalah dengannya. Dibalas ngamuk nggak dibalas semakin jadi. Serba salah memang.
"Aku tidak peduli. Setelah malam ini, kau hanya tinggal nama." Allen mulai menorehkan luka pada paham Andrean.
"Sttt!"
"Ahhh!"
"Sttt!"
Allen terkekeh puas. Ia menorehkan dua luka pada Andrean. Celana kanan Andrean, tepatnya bagian paham dan pipinya berdarah.
Andrean menunduk, melihat warna celana yang perlahan berubah.
"Saat ini, kau hanya pecundang!"
"Stt!"
Allen mencengkram dagu Andrean. Kedua mata mereka saling memandang.
"Rasanya lega sekali. Tidak akan ada lagi yang mengusikku!"
"Hari ini sudah ku tunggu selama bertahun-tahun. Tak ku sangka, kesempatan itu datang! Bahkan, kau tidak melawan sama sekali. Ke mana kekuatan dan kekuasaanmu? Apa kau jadi lemah karena seharian duduk saja?" Allen meledeknya lagi.
"Bodoh!" Andrean mendecih. Satu kata itu, membuat Allen berang.
Plak!
"****!"
Allen menampar Andrean pas di bagian yang luka. Bayangkan saja bagaimana sakitnya itu. Sudah luka, ditampar lagi. Perih dan sakit bercampur menjadi satu.
"Jika kau pintar, mana mungkin kau percaya aku mudah dibawa apalagi menyerahkan diriku sendiri," kekeh Andrean, disela rasa sakitnya.
Andrean benar-benar merasa kesal dan juga geli. Bagaimana bisa ia percaya pada orang seperti ini!
Gila! Ini adalah kesalahan besar!
__ADS_1
Allen kau benar-benar mengecewakan! Kepercayaan yang diberikan padamu, kau sia-siakan!