
Ballroom salah satu hotel yang digunakan sebagai tempat pesta perayaan itu sudah ramai dengan kepala.
Para waitress hilir mudik membawakan minuman dan juga makanan untuk para tamu.
Seperti kebanyakan pesta, tentu saja ada hiburannya. Penyanyi yang sedang naik daun diundang untuk itu. Ada pula pianis, dan pertunjukan teater.
Untuk persiapan yang singkat, hasil ini benar-benar luar biasa.
Camelia duduk bersama dengan sutradara dan beberapa orang penting lainnya. Lucas sibuk dengan menu di atas meja sementara Liam yang tidak tertarik dengan pembicaraan ataupun menu, menikmati hiburan yang ada.
Camelia tidak mengikuti pesta sampai akhir. Setelah foto bersama, Camelia langsung undur diri bersama dengan Lucas dan Liam.
"Memalukan!!"sinis Liam, melihat Lucas yang membawa paper bag. Mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kau mau kan?" Lucas merogoh paper bag itu, menyodorkan cake rasa coklat pada Liam. Cake yang disajikan dibungkus rapi satu persatu. Jadi, tidak akan belepotan dibawa seperti itu.
"Huh!"
Camelia menggeleng pelan. Kedua anaknya mulai bertingkah lagi.
"Mau tidak? Jangan jual mahal deh." Lucas masih menyodorkan cake cokelat tersebut.
"Kemarikan semua. Aku akan memilih." Liam mengulurkan tangannya.
Lucas tersenyum smirk.
"Dasar kau ini! Nah, ambil dan pilih sepuasmu!" Lucas memberikan paper bagnya pada Liam.
"Apa kau merampok toko kue? Ini banyak. sekali?"
"Mungkin karena gratis," sahut Lucas. Memang benar. Ada banyak cake di pesta tadi. Tidak ada salahnya mengambil beberapa untuk dibawa pulang, kan?
"Mom, lain kali jangan bawa Lucas," ucap Liam pada Camelia. Anak itu membuka bungkusan kue rasa lemon.
"Heh? Ya ada kau saja yang tidak usah ikut!"balas Lucas. Menoleh ke belakang, menatap berang Liam yang asyik mengunyah cake lemon itu.
"Kau itu diam saja seperti batu di sana. Daripada kau lelah bersiap lebih baik kau tidur sama di rumah!"ucap Lucas lagi.
Liam mengangkat satu alisnya. Ia baru saja menelan suapan terakhir. "Teaternya seru."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"seru Liam.
Liam menyeringai. Tidak mempedulikan Lucas yang bersungut-sungut kesal.
"Hmph!" Lucas menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Pipinya menggembung kesal.
Camelia terkekeh pelan. Melirik sekilas ke bangku belakang.
Sekitar 30 menit kemudian, mereka tidak di kediaman Shane.
"Nah. Ambil ini." Liam mengembalikan paper bag tadi pada Lucas.
"Rasanya kurang mantap!" Setelah mengatakan itu, Liam melenggang masuk lebih dulu.
"Lidahmu bermasalah!"teriak Lucas. Ia membuka paper bagnya. Matanya membulat sempurna.
"LIAM!!!" Lucas berlari menyusul Liam.
Camelia mengerutkan dahinya, kemudian mengedikkan bahunya.
"KATANYA KURANG ENAK, KEMANA SEMUA CAKE KU?!"
"TIDAK TAHU!"
"SIALAN KAU!"
"Astaga."
Camelia menepuk dahinya. Rumah menjadi sangat ramai.
*
*
*
"Nona, Sir Rui izin menghadap." Seorang pelayan menyampaikan itu saat Camelia sedang membaca majalah. Karena hari ini pemotretan agak siangan nanti, Camelia belum berangkat untuk pemotretan.
Ling Rui?
"Persilakan masuk."
Beberapa saat kemudian, Ling Rui datang. Penampilan sepupu Camelia itu sudah jauh berbeda. Tubuh tetapnya dibungkus dengan seragam pengawal. Rambutnya yang gondrong, disisir dan diikat rapi.
"Nona," sapa Ling Rui sopan. Mungkin mereka memang sepupu. Namun, itu tidak berlaku di sini. Camelia adalah anggota keluarga Shane sementara Ling Rui adalah pengawal Lucas dan Liam. Ah, ya, untuk liburan kemarin Ling Rui tidak ikut mengawal. Itu karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang masih kurang.
"Saya izin kembali ke China selama tiga hari," ucap Ling Rui, menyampaikan maksud kedatangannya.
Kembali ke China?
Mengapa?
"Izin dikeluarkan oleh pimpinan pengawal. Mengapa datang padaku?"
__ADS_1
"Beliau mengatakan harus ada izin dari anggota keluarga. Anda adalah yang paling dengan saya. Saya mohon izinkan saya kembali selama tiga hari saja. Saya tidak akan kabur ataupun membuat onar." Ling Rui membungkukkan tubuhnya.
Camelia tidak terlalu paham prosedur penyampaian izin cuti. Karena ia tidak pernah menangani hal demikian.
"Tapi, mengapa?"tanya Camelia. Alasan adalah hal utama.
"Nenek saya … meninggal dunia dini hari tadi," jawab Ling Rui dengan tercekat. Kesedihan terdengar jelas dari nadanya.
Camelia tersentak.
Nyonya Besar Ling, meninggal dunia?
"Kau, segeralah kembali. Aku akan mengurus izinmu." Camelia memijat dahinya. Kabar ini sedikit mempengaruhi dirinya.
"Terima kasih, Nona!"
Ling Rui beranjak. Namun, Camelia kembali memanggilnya.
"Aku tidak bisa menghadirinya. Tolong wakilkan aku, sampaikan permintaan maafku untuk itu," ujar Camelia. Biar bagaimanapun, yang meninggal itu adalah nenek kandungnya.
Ling Rui tampak terkejut. "Baik, Nona." Ling Rui tersenyum tipis dan benar-benar beranjak meninggalkan ruang keluarga.
*
*
*
Karena Dion sudah menjadi Presdir Shane Group, pemuda itu memimpin semua rapat yang ada. Kecuali, pada rapat tertentu di mana ada Tuan Shane di dalamnya.
Awalnya, banyak yang meremehkan kemampuan anak yang belum genap berusia 20 tahun. Banyak pula yang meragukan keputusan Tuan Shane selaku Presdir. Namun, itu berhasil mematahkan semua itu.
Ia memimpin Shane Group dengan sangat baik. Dan banyak yang mengatakan, saat aura Dion sama seperti aura Tuan Shane.
Shane Group terus berkembang dan merencanakan perkembangan.
Saat ini, Dion tengah memimpin rapat bulanan. Di saat demikian, terdengar suara dering ponsel. Kecuali Dion, yang lain saling memandang satu sama lain.
"Maaf, saya angkat telpon sebentar," ucap Dion, memecah keheningan itu.
"Iya, Kak."
Kakak? Nadanya lembut? Apa dari Nona Camelia?
Begitulah arti tatapan orang-orang itu. Aura Dion yang tadinya penuh dengan intimidasi, kini seperti dipenuhi dengan bunga.
"Kau sudah mendengar? Nyonya Besar Ling meninggal dunia dini hari? Ling Rui meminta izin padaku untuk kembali ke China. Dioan, kakak tidak tahu kau tidak tahu perihal ini."
"Bagaimana bisa kau menyepelekan hal ini, Dion?"
"Kakak … maaf. Aku tidak tahu kau peduli tentang itu."
Apa ini?
"Ya sudah. Tidak apa. Dion, perintahkan perwakilan di sana untuk mengirim karangan duka cita ke kediaman Ling."
"Baik, Kak."
"Maaf menganggu waktumu, kau pasti sibuk."
"Tidak masalah, Kak. Aku senang."
Panggilan berakhir. Dion menghela nafasnya. Ia kemudian langsung melaksanakan perintah Camelia.
Darah tetaplah darah, batin Dion.
"Lanjutkan!!" Setelah meeting terjeda, Dion kembali pada sikapnya sebelum menerima panggilan dari Camelia.
"Baik, Presdir."
*
*
*
"Nona, sudah dengar kabar terbaru belum?"tanya Evelin, saat mereka tengah break. Evelin menyodorkan air minum pada Camelia. Juga pada Lucas dan Liam.
"Kabar apa?"tanya Camelia, kemudian minum. Keringatnya terlihat sangat banyak. Padahal ini pemotretan dalam ruangan. Pemotretan itu dilakukan di tempat pembuatan video promosi kemarin, yakni apartemen Amare.
"Katanya Nona Alice ditemukan tewas di sungai," jawab Evelin dengan berbisik.
Camelia menatap Evelin tidak percaya. "Serius, Nona. Lihat." Evelin menunjukkan berita yang ia maksud.
"Katanya tidak ada indikasi pembunuhan. Apa mungkin Nona Alice bunuh diri?"pikir Evelin, dengan berbisik pula pada Camelia.
Camelia membaca berita itu.
Satu hari ada 2 kabar kematian yang ku dengar, keluh Camelia dalam hati.
"Apa ini cara baru bunuh diri? Setahu saya kalau dalam industri ini, kalau tidak gantung diri, memotong nadi, ya overdosis obat-obatan, itupun mayatnya ditemukan di kediaman pribadi," heran Evelin.
"Itu bukan urusan kita, Eve," sahut Camelia, mengembalikan ponsel Evelin.
__ADS_1
Evelin sedikit mengerucut bibirnya. Mengapa Nonanya tidak tertarik dengan hal demikian?
*
*
*
Ling Rui kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, Xuan. Penerbangan yang panjang dan lebih lama karena menggunakan pesawat komersial. Belum lagi harus transit sebelum terbang ke Xian.
Ling Rui merindukan tanah ini. Beberapa bulan saja ia pergi, rindunya sudah menggebu. Namun, kepulangannya bukan karena kerinduan itu. Kepulangan karena duka.
Gerbang kediaman Ling dipenuhi dengan kain putih yang bermakna duka. Sepanjang koridor, kain putih dan bendera putih menghiasi.
Kediaman ini seperti kehilangan semangatnya.
"Nenek." Mata Ling Rui memerah. Hatinya terasa perih melihat sang nenek yang tertidur abadi di dalam peti mati.
"Katanya Nenek sudah sembuh. Mengapa meninggalkan kami? Nenek, Rui pulang. Jangan pergi, okay…."
Ling Rui memeluk sang Nenek. Ia menangis.
Ling Lie memalingkan wajahnya. Calon pemimpin keluarga Ling itu tampak tegar. Akan tetapi, tetap saja tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Nenek, ini Rui. Buka matamu, Nek! Jangan tidur di sini."
"Tuan Muda." Beberapa tetua menghampiri Rui. Berusaha menabahkan anak itu.
"Tuan Muda, Nyonya Besar pergi dengan damai. Mohon jangan menghambat perjalanannya."
"Tuan Muda, Nyonya Besar pasti sedih jika Anda seperti ini. Mohon relakan Nyonya Besar pergi."
"Ling Rui! Hapus air matamu! Apa kau menjadi cengeng setelah dididik di luar negeri?!"hardik Ling Lie karena tangis Ling Rui semakin keras.
"Diamlah!"balas Ling Rui dengan membentak.
"Aku tidak menemani Nenek di saat terakhirnya! Biarkan aku menangis! Lalu, apa kau pikir aku menjadi pengecut karena air mata?! Kau perlu melihat dunia yang luas ini, Kakak!"hardik balik Ling Rui. Ia tidak peduli wajah Ling Lei yang merah padam.
"Kau! Tidak tahu sopan santun!!"teriak Ling Rui.
"Tuan Muda, tenanglah! Jangan buat keributan di hari duka seperti ini!"
"Anak itu!!"
Cara bicaranya berubah.
"Nenek, aku mempelajari banyak hal di sana. Aku bertemu dengan banyak orang dari latar belakang ya berbeda. Nenek, pergilah dengan tenang. Aku akan hidup dengan baik."
Ling Rui berdiri tegak kemudian membungkuk memberi penghormatan. "Laksanakan kremasinya," ucap Ling Rui yang dibalas dengan penegasan oleh Ling Lie.
Kediaman Ling memiliki rumah duka dan tempat kremasi sendiri. Ling Lie dan Ling Rui berdiri berhadapan. Mereka ikut mendorong peti mati ke dalam tempat pembakaran.
"Selamat jalan, Nenek."
"Selamat jalan, Nyonya Besar."
Ucapan itu keluar setelah terlihat nyala api.
Menunggu waktu kremasi selesai, Ling Lie mengajak Ling Rui untuk berbicara.
"Kau berbeda," ucap Ling Lie. Entah itu pujian atau apa, Ling Rui menanggapinya datar.
"Terima kasih."
"Kata-katamu formal sekali," decak Ling Lie. Pria itu kemudian memantik rokok.
"Berhentilah merokok. Kau akan jadi kepala keluarga," ucap Ling Rui, melirik Ling Rui.
"Didikan keluarga Shane sepertinya berpengaruh besar padamu."
Adiknya itu berubah sekali. "Apa ada pesan terakhir Nenek?"tanya Ling Rui.
Ling Lie membuang rokoknya. Ia menghela nafas pelan. "Harus akur denganmu. Lalu Nenek ingin abunya ditabur di sungai dekat pohon delima itu," jawab Ling Lie.
"Hei, aku senang baik baik-baik saja. Tapi, jangan harap berebut posisi kepala keluarga denganku!"tegas Ling Lie.
"Heh?"
"Aku sudah menemukan tujuanku. Kakak, jangan cemas. Fokus saja menjadi kepala keluarga yang hebat. Oh iya, lusa aku akan kembali ke Kanada," sahut Ling Rui. Sama sekali tidak ada keinginan untuk merebut posisi Ling Lie.
"Baguslah!"
"Tapi, mengapa cepat sekali?"tanya Ling Lie.
"Agar kau percaya kata-kataku, Kak."
Ling Lie terkesiap. Benarkah? Adiknya ini sudah dewasa? Tidak impulsif lagi?
Satu sisi senang. Satu sisi juga merasa ada yang hilang.
Setelah kremasi selesai, Ling Lie dan Ling Rui bersama-sama menaburkan abu Nyonya Besar Ling di tempat yang diwasiatkan.
Setelah itu adalah acara peletakan papan roh mendiang di aula leluhur keluarga. Acara itu berlangsung dengan khidmat.
__ADS_1