
"Lina!" Jordan menahan lengan Lina saat Camelia keluar meninggalkan studio latihan. Hanya satu jam Camelia berada di sana, dengan tajuk bercerita berbagi pengalaman. Jordan menarik Lina ke pintu darurat.
"Sopan sedikit, Jordan! Aku seniormu!"ucap Lina, menepis tangan Jordan. Jordan mendecih. Lina mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit. Lina menunjukkan wajah kesalnya.
"Sejak kapan kau kenal dengan Camelia?"tanya Jordan menyelidik. Tadi, ia benar-benar merasa dipermalukan. Bukankah dia yang mengundang Camelia untuk berkunjung ke Peach Entertainment? Mengapa malah Lina yang jadi alasan Camelia datang berkunjung ke Peach Entertainment?
"Why? Apa urusannya dengan Anda?"tanya Lina.
"Kau?!" Jordan menunjuk lina dengan tatapan rumit apakah yang di depannya ini masih Lina yang ia kenal? Biasanya Lina akan lebih banyak diam tanpa komentar ataupun protes. Apalagi membantah. Jordan seorang adalah bintang Peach Entertainment. Semua menaruh rasa hormat dan kagum padanya. Namun, karena tadi, ia banyak mendapat tatapan sinis.
"It's my privasi! Kau tidak ada hak untuk mencampurinya. Lebih baik kau mengurus dirimu sendiri yang penuh dengan skandal dan kebohongan!"ketus Lina dengan mendorong dada Jordan dengan tubuhnya kemudian melangkah pergi.
Apakah ini sebuah rencana untuk mempermalukanku?! Jordan menerka.
*
*
*
"Kau serius tidak ingin memperpanjang kontrak dengan agensi ini, Lina?" tanya Presdir Peach Entertainment pada Lina.
"Tidak," jawab Lina mantap.
"Sepertinya karena kau kenal dengan artis Kanada itu, membuatmu merasa hebat dan berani ya?" Itu sebuah sindiran yang disambut senyum tipis Lina.
"Aku terikat dengan kalian karena masalah itu. Saat akan kesempatan mustahil aku melepaskannya. Berani? Aku sangat berani sejak awal. Anda dan jajaran Andalah yang pengecut. Lari ketika salah seorang bagian dari Peach Entertainment terkena masalah!" Lina membalas dengan mencibir pula. Wajah Presdir itu menggelap dan langsung menggebrak meja. Lina terkekeh pelan.
"Jangan coba menjadi cara untuk menahanku di sini, Tuan Presdir! Simpan rencana licik Anda untuk diri Anda sendiri. Gunakan saja pada yang lain, jangan padaku. Ah dari pada Anda mengurusi saya yang sebentar lagi akan putus hubungan dengan agensi ini, lebih baik Anda mengurus aktor kebanggaan Anda yang reputasinya memburuk." Lina kembali melayangkan cibiran. Presdir tersebut mengeram kesal.
"Aku pastikan setelah lepas dari sini kau tidak akan bisa berkarier di dunia entertainment lagi!"ancam Presdir. Lina menyunggingkan senyum miring.
"Terima kasih atas ancaman Anda," ujar Lina sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruang Presdir dengan mengigit sebuah apel.
"Damn it!!" Dokumen di atas meja bertaburan. Presdir itu tengah marah.
*
*
*
Ya! Apa yang dilakukan Camelia memang untuk mempermalukan Jordan. Itu adalah langkah awal Camelia dalam membalaskan dendamnya kepada Jordan.
Membuat reputasi Jordan buruk dulu di rumah sendiri baru perlahan ia membuat reputasi Jordan buruk pula di mata publik.
Sama seperti kedua orang itu yang membuat namanya hancur di depan publik hingga membuatnya putus asa dan akhirnya memilih untuk meninggalkan tanah air.
Camelia tersenyum, sebuah senyum lebar.
Puas?
__ADS_1
Belum!
Ini masih sebuah permulaan. Camelia lalu menyalakan televisi mobil untuk melihat berita tentang Rose.
Sejauh ini Starlight Entertainment masih bungkam mengenai skandal yang menimpa Rose Liang.
Sejak skandal ini pecah, Rose Liang tidak terlihat datang ke gedung Starlight Entertainment ataupun ke lokasi syuting.
Dari informasi yang kami terima, pihak produksi drama terbarunya telah membatalkan kontrak kerja sama disusul dengan beberapa brand yang juga memutus kerja sama dengan Rose Liang. Ada kemungkinan Rose Liang di rumahkan.
Tim kami yang memantau kediaman Presdir Gong juga mengatakan bahwa tidak ada kendaraan yang keluar ataupun masuk ke kediaman Presdir Gong.
Kami masih menunggu Starlight Entertainment angkat bicara. Bagaimana nasib karier Rose Liang? Ikuti terus berita, okay!
"Dunia hiburan semakin keras," gumam Camelia.
"Aku penasaran dengan tanggapan Andrean Gong itu. Rose Liang … kita lihat seberapa kuat kau menghadapi hal ini. Apalah kau setangguh karang atau tidak?"
Camelia lalu menggeser layar televisi di dashboard menjadi layar telepon. "Iya, Mom." Camelia menghubungi Liam.
"Kirim hadiah istimewa kedua untuk Jordan," ucap Camelia.
"Okay, Mom," sahut Liam. Panggilan singkat berakhir.
"Aku akan membalas setiap tetes darah air mata dan darah yang aku keluarkan atas perbuatan kalian padaku!!"
*
*
*
"Crystal? Sini, Sayang." Rose tersenyum. Crystal melangkah dengan ragu.
"Ibu di rumah?"tanya Crystal.
"Tentu. Ibu di rumah, for you," jawab Rose kemudian membantu Crystal duduk di kursi. Rose kemudian melambaikan tangannya menyuruh para pelayan untuk pergi.
"Ibu tidak sibuk? Apa Ibu tidak bekerja?"tanya Crystal lagi. Sejak awal ia lebih sering dengan pengasuh ketimbang ibunya.
Untuk ASI saja, dibantu oleh susu formula. Wajar jika Crystal merasa kaget dan ragu membuat ibunya berada di rumah. Karena biasanya Rose itu kan pergi pagi pulangnya tengah malam. Entah kemana sang ibu pergi. Oleh karena itu juga, Crystal lebih dekat dengan Andrean.
"Untuk beberapa hari ke depan Ibu akan tetap berada di rumah, menemani Crystal. Crystal tidak senang Ibu di rumah hmmm?" Rose mengubah mimik wajahnya menjadi sedih. Padahal alasannya karena ia dirumahkan oleh Andrean. Rose dilarang keluar satu senti pun dari kediaman ini. Alasannya? Agar Rose tidak menambah masalah.
"Tidak. Bukan begitu," sangkal Crystal.
"Lalu?"
"Crystal senang. Sangat senang!!" Crsytal memeluk sang Ibu.
"Nanti Ibu temani Crystal main boneka ya?"pinta Crystal yang diangguki oleh Rose. "Tentu saja, Crystal."
__ADS_1
"Kalau begitu … ayo makan. Ibu suapi," ujar Rose. Sebelum pergi, pelayan sudah menyiapkan makan siang untuk Crystal di meja makan. Menu makan siangnya ada sup ikan, nasi yang dibentuk bulat, ada sayur rebus berubah brokoli dan wortel, lalu beberapa potong ayam krispy. Ditambah dengan segelas susu dan buah yang selalu tersedia di meja makan. Rose terhenyak melihat menu makan siang Crystal .
"Kau mau semua ini, Crystal?"
"Ayah yang mengatur menu makan siang untuk Crystal, Ibu," jawab Crystal. Ya, itu memang diatur oleh Andrean.
"Ayahmu sangat perhatian dan menyayangimu," ucap Rose. Merasa iri. Jangankan diatur menunya, ditanya sudah atau belum makan saja tidak pernah. Tapi, tunggu dulu!!
Kasih sayang Andrean pada Crystal sangat besar. Artinya … Rose juga punya arti karena dia adalah ibunda Rose. Namun, mengapa Andrean begitu dingin padanya? Ck! Rose merasa kesal saat memikirkannya.
"Lalu bagaimana dengan permintaan yang kemarin ibu sampaikan? Apa Ayah setuju?"tanya Rose sembari menyuapi Crystal. Crystal menggeleng.
"Ayah bilang akan mempertimbangkannya," jawab Crystal setelah menekan kunyahannya.
"Baiklah."
Sekitar lima belas menit kemudian, keduanya selesai makan siang. "Crystal ke kamar lebih dulu. Ibu mau menemui Ayah sebentar," ujar Rose. Crystal mengangguk dan segera menuju kamarnya.
Sedangkan Rose menuju ruang kerja Andrean.
Tok
Tok
Rose berlaku sopan. Ia mengetuk pintu sebelum masuk. "Masuk!" Suara bariton Andrean menjawabnya. Rose tersenyum lebar.
"Andrean," sapa Rose. Andrean mendongak, sedetik kemudian kembali pada pekerjaannya.
"Andrean. Ada yang ingin aku katakan. Look at me," ujar Rose, dengan nada lembutnya. Hans yang setia berada di sisi Andrean mengernyitkan dahinya. Tumben Rose tidak seperti orang kesurupan.
"What's?"sahut Andrean tanpa berpaling menatap Rose.
"Kau menyetujui permintaan Crystal, bukan?"
l
"Tidak."
"Bukankah kau akan mempertimbangkannya? Bukankah itu sama saja kau menyetujuinya, bukan?"sergah Rose. Ia menggeser posisi Hans dan menyentuh lengan Andrean. Hans memutar bola matanya malas. Ia memilih undur diri, malas menyaksikan perang kesekian kalinya antara Rose dan Andrean.
Rose malah tersenyum lebar saat Hans keluar. Andrean menatap punggung Hans dingin.
"Aku akan sangat lenggang hari ini dan besok sampai kau menyelesaikan salah paham itu. Bagaimana jika kita menghabiskan waktu berdua? Bukankah Kakek menginginkan seorang cicit laki-laki?"
Rose meletakkan kedua tangannya di pundak Andrean. Andrean menoleh ke kanan. "Enyah dari tubuhku!" Di depan matanya tepat belahan dada Rose.
"Andrean jangan terlalu dingin. Aku mencintaimu. Aku akan memberimu kehangatan." Rose membelai lembut pipi Andrean. Andrean diam. Ia malah memejamkan matanya.
Rose merasa senang, ia kira Andrean menerimanya. Perlahan … Rose membuka satu demi satu kancing kemeja Andrean. Setelah semua kancing terbuka, Rose menyentuh perut Andrean, menyentuhnya tanpa pembatas sedikitpun. Rose merasa bersemangat. Andrean mengernyitkan dahinya saat merasa ada yang mencoba membuka resleting celananya.
Sebelum itu selesai, Andrean membuka matanya dan mendorong Rose. Rose jatuh. Andrean berdiri dan kembali menaikkan resleting celana yang telah turun setengah.
__ADS_1
Kemejanya ia biarkan tidak dikancingkan. Andrean berkacak pinggang, "jangan bawa sikap pelacurmu ke rumah ini, Rose! Selamanya aku tidak akan pernah menyentuhmu!"hardik Andrean.