
Tuan dan Nyonya Shane menghela nafas pelan. Mereka baru saja melihat postingan terakhir Camelia dan juga pernyataan dari akun resmi Glory Entertainment mengenai hal tersebut.
Keduanya tidak punya alasan khusus untuk mengubah kesepakatan Camelia dan Andrean yang boleh menikah setelah tiga tahun Chris berpulang. Alasannya hanya satu, karena melihat mereka bahagia dengan hubungan itu. Dan jengah karena kebahagiaan itu harus dibatasi sehingga tidak bebas. Dan ada satu alasan lagi, yakni Tuan Shane yang menemukan sosok putranya dalam diri Andrean.
Satu kesepakatan yang belum mereka lepas adalah mengenai Lucas dan Liam. Tidak tahu bagaimana ke depannya. Karena masa depan belum tentu sama seperti yang telah direncanakan atau yang diharapkan.
Harapan keduanya adalah semoga pernikahan Camelia dan Andrean membawa kebahagiaan untuk semua.
*
*
*
"Sayang? Apa itu benar? Camelia Shane akan menikah?"tanya seorang wanita, dengan mata membola kaget. Bertanya pada suaminya yang tengah membuat makanan di dapur.
"Beritanya sudah jelas, Sayang." Dan suami dari wanita itu adalah Nicholas. Ia tengah berada di dapur, membuat makan malam untuk mereka.
"Ini sangat mengejutkanku! Apa kau pernah melihat mereka berinteraksi selama syuting bersama?"tanya isterinya, dengan mata penuh rasa penasaran.
Nicholas diam sejenak. Lalu menggeleng. "Dia sama sepertiku, sangat berhati-hati," jawab Nicholas.
"Wah! Hubungan mereka jarak jauh! Pasti banyak lika liku yang mereka hadapi!"seru sang istri.
"Calon suaminya orang Asia, bukan? Latar belakangnya juga sangat hebat. Apakah ini definisi jika mencari pengganti harus yang setara atau lebih?"
Nicholas tersenyum simpul. Istrinya itu sangat menggemari Camelia.
"Hm? Belum menikah tapi sudah punya anak. Duda tapi bukan duda. Tidak masalah! Yang penting dia dapat membuat Camelia dan kedua Pangeran L bahagia, apalagi tampan dan kaya. Benar-benar idaman," ucap istrinya lagi.
Nicholas sudah siap, mendengar ocehan sang istri mengenai berita itu.
Dan uniknya lagi, sang istri tengah menimang sang putri sambil mengumpulkan informasi. Dan putri mereka terlihat senang dengan ocehan ibunya.
"Astaga! Astaga!" Lagi wanita itu berseru.
"Sayang, aku baru sadar, wajah calon suaminya sangat mirip dengan Chris. Apakah ini takdir?!"
"Ayo, minum dulu," ujar Nicholas.
"Takdir kah?"
"Setiap orang memiliki takdirnya sendiri. Dan aku rasa mereka memang ditakdirkan. Itu kebetulan yang luar biasa," tutur Nicholas. Setelah itu barulah sang istri minum.
"Kita mendapat undangan pernikahan, bukan?"tanya sang istri kemudian.
"Aku pikir undangan belum disebar."
"Jika sudah dapat, kita harus menghadirinya. Aku ingin berjabat tangan dengannya. Dan aku sangat iri padamu. Bagaimana bisa kau dulu yang bisa berjabat tangan, berpelukan, dan berciuman dengannya!"
"Sayang?"
"Aku cemburu sebagai fansnya! Di luar itu, bukankah itu adalah bagian dari pekerjaan? Aku percaya padamu, karena aku tahu hanya aku yang kau cintai."
"Namun, Sayang. Jika kita menghadirinya makan kita akan mengungkapkan pernikahan kita. Bukankah?"
"Tidak masalah. Mungkin juga sudah saatnya pernikahan kita diumumkan."
*
*
*
Lagi, dan lagi, Hans menjadi sasaran karena ulah Andrean. Setelah Andrean memposting undangan pernikahan dan siapa yang menjadi pengantinnya, banyak panggilan masuk dari media. Yang ingin mencari tahu dan mengkonfirmasi kebenaran postingan itu.
Seperti yang dilakukan Glory Entertainment, Starlight Entertainment juga mengeluarkan pengumuman yang mendukung postingan Andrean.
Kedua negara itu gempar dengan pengumuman pernikahan Camelia dan Andrean. Itu adalah penyatuan dua keluarga konglomerat.
Banyak netizen yang mencari tahu dan mengulik kisah lama Andrean dan Camelia. Foto saat Camelia dan Andrean menghadiri acara penghargaan tahun lalu, juga saat keduanya berpelukan di bandara kembali bertebaran dengan banyak asumsi.
Intinya, media riuh dengan kabar itu.
Dan tentunya, para wanita kembali patah hati. Terus patah hati pada pria yang sama, yang tidak bisa digapai apalagi sudah ada pawangnya dengan latar belakang yang kuat dan sempurna.
"Minumlah," ucap Silvia, membawakan Hans teh.
"Terima kasih." Hans meminum teh itu.
"Bosmu itu memang sesuatu," celetuk Silvia.
"Hm, memang sesuatu," sahut Hans setuju.
"Kemarilah, beri aku pelukan." Hans menepuk sisinya. Silvia segara duduk dan masuk dalam pelukan Hans.
"Tugasmu berat sekali. Pantas saja dulu kau tidak ada waktu untuk mencari pacar atau istri. Sampai kau setua ini," goda Silvia.
"Suamimu ini tua, Lu Jia Li?"tanya Hans dengan suara beratnya.
"Hm? Kau sudah 38 tahun. Itu sudah tua kan? Sementara aku, kepala 3 saja belum."
"Aku tua?"tanya Hans lagi. Dan Silvia mengangguk.
__ADS_1
"Berarti aku pria tua yang beruntung. Wanita secantik dirimu mau menikah denganku," ucap Hans, ia menyentuh hidung Silvia.
"Salah!"sergah Silvia. "Akulah yang beruntung karena kau mau menikah denganku. Ingat, Han Jiayu, aku yang melamarmu lebih dulu! Dan kau adalah pria tua yang tampan dan mempesona," tutur Silvia.
"Bibirmu manis sekali," dengus Hans.
"Apa kau mau mencobanya?"tawar Silvia.
"Kau akan menyesal, Lu Jia Li," ucap Hans, mendesis. Silvia malah mengigit bibirnya.
"Mari lihat, siapa yang akan menyesalnya," tantangnya dengan mengerling nakal pada suaminya.
*
*
*
Keesokan paginya, seperti biasa, Hans berangkat bekerja. Ia berangkat bersama dengan Silvia. Arah perusahaan dan toko Silvia satu arah. Jadi, jika pagi mereka selalu berangkat bersama dan pulangnya tergantung. Tapi, keseringan pulang terpisah.
"Eh, wait!" Setibanya di ruang kerjanya, Silvia terkejut saat kembali melihat postingan Andrean.
Bukan pada undangan yang begitu elegan dan mewah itu, melainkan pada foto bersama dengan latar belakang pegunungan Swiss.
"Bukankah ini Crystal?"tanya Silvia pada dirinya sendiri, memperbesar foto anak perempuan dalam foto itu.
"Astaga!" Wanita itu bergumam kaget.
"Jadi, selama ini, Crystal itu putri dari Presdir Gong?"
"Pantas saja dia sangat berbakat. Darah yang mengalir padanya sangat hebat."
*
*
*
Undangan pernikahan Camelia dan Lucas tidak dibuat dari kertas biasa. Melainkan dengan pernikahan kaca. Di mana kaca itu bening sementara untuk background adalah warna emas. Undangan itu ditulis dalam dunia bahasa, China dan Inggris.
Ada pita yang begitu manis. Dan kelopak bunga camelia. Tak lupa menyelipkan souvenir pada undangan tersebut.
Benar-benar cantik dan elegan. Apalagi warna emas yang menunjukkan status keluarga.
Pernikahan akan dilaksanakan di gereja terbesar di Ottawa, dan resepsi akan dilaksanakan di sebanyak dua kali, di dua tempat berbeda, yakni pertama di Ottawa dan yang kedua di Beijing.
Dan jangan lupakan juga akan ada pesta yang akan diadakan di kediaman lama, sekaligus melaksanakan upacara secara tradisional.
Camelia menyeka sudut matanya. Ia baru saja kembali mengaktifkan ponsel dan juga online. Di beranda notifikasi, sudah banyak email, pesan, dan panggilan tidak terjawab.
Tapi, yang pertama kali Camelia check adalah akun Instagramnya. Postingannya sudah di like hampir 3 juta like dengan puluhan ribu komentar. Ada banyak direct message pula yang masuk.
"Mom terharu dengan semua dukungan penggemar, Liam," jawab Camelia.
"Tentu saja. Kan Mom tidak melakukan kesalahan. Apa yang mau dihujat? Jika ada yang menghujat Mom, artinya dia menghujat dirinya sendiri!"ucap Liam, berapi-api.
Camelia menganggukinya.
One step closer.
Persiapan tinggallah gaun pernikahan. Camelia sudah mengirim desain gaun yang ia inginkan pada desainer kepercayaan keluarga Shane.
"Ayah, Ayah tidak memblur foto Crystal di sini. Apakah Crystal akan dikenal sebagai Putri Ayah?"tanya Crystal, pertanyaan itu sedikit ambigu bagi Camelia, Lucas, dan Liam.
"Kau memang putrinya, Crystal. Tidak, putri kami," ucap Camelia.
"Tapi, aku jadi model dan murid tanpa menggunakan marga Gong, Mom," ujar Crystal.
"Sayang?" Camelia meminta penjelasan pada suaminya.
"Ya, itu untuk menghindari beberapa hal. Namun, aku pikir sekarang tidak perlu lagi," jelas Andrean.
*
*
*
Pernikahan itu akan dilangsungkan satu bulan lagi dari sekarang. Tentu saja untuk semakin memantapkan persiapan.
Dua hari setelah pengumuman itu, mereka meninggalkan desa Murren. Andrean dan Crystal kembali China. Sementara Camelia, Lucas, dan Liam kembali ke Kanada.
Hari pertama kembali ke Kanada, Camelia menghabiskan waktunya dengan beristirahat. Menyesuaikan kembali dengan waktu Kanada.
Hari kedua, Camelia, Lucas, dan Liam menuju Glory Entertainment. Kedatangan Camelia disambut dengan heboh. Apalagi kalau bukan karena pengumuman pernikahannya. Banyak yang mengucapkan selamat pada Camelia.
"Bagaimana? Puas membuat media gempar dan kami kelimpungan menangani telepon media?"
Camelia terkekeh pelan. "Sangat puas.
"Segeralah acara konferensi pers. Publik menunggunya," ucap David.
"Harus? Aku pikir dengan itu saja bisa. Bukankah kemarin Chris juga demikian?"tanya Camelia. Ia enggan melakukan konferensi pers atau apalah itu.
__ADS_1
"Kau harus melakukannya, Lia. Karena berita yang sudah tenggelam kembali mencuat. Rasanya jika hanya lewat media sosial, tidak akan selesai," ucap David.
"Kasihan divisi hubungan masyarakat," tambah David.
"Berita lama yang tenggelam? Yang mana?"tanya Camelia, agaknya ia lupa dengan berita atau gosip yang pernah menerpa dirinya.
David mengusap wajahnya kasar, kemudian menyodorkan sebuah surat kabar pada Camelia. Di sana ada berita tentang pernikahannya, dan juga berita tentang kedekatan Camelia dan Andrean dulu, yang pada masa itu dibantah oleh kedua belah pihak namun pada akhirnya berujung pada sebuah pernikahan. Tentu saja itu menjadi pembicaraan hangat.
"Hm, kapan?"tanya Camelia. Ia butuh jadwalnya untuk bisa mempersiapkan diri. Dan Camelia pikir hal itu memang harus ia konfirmasi secara langsung.
"Bagaimana jika sore ini? Lebih cepat, lebih bai," usul David.
"Sore ini?"
"Baiklah."
"Aku akan segera mengaturnya," ucap David.
"Semoga belum terlambat untuk mengucapkannya. Selamat untuk pernikahanmu," ucap David. Camelia mengangguk.
"Terima kasih, Kak."
"Dan selamat juga untuk kalian. Sejak awal, dia adalah orang yang kalian pilih, bukan?"tanya David pada Lucas dan Liam.
"Tepat sekali, Uncle!"
*
*
*
Setelah dari ruangan David, Camelia menuju ruangannya sendiri. Di sana kak Abi sudah menunggu bersama dengan Evelin.
"Nona! Nona ada kejam sekali! Bagaimana bisa Anda menyembunyikan hubungan serapat itu? Padahal saya selalu berada di dekat Anda!"cerca Evelin langsung.
"Bukankah dirimu yang tidak peka?"sahut balik Camelia.
"Ah!" Evelin langsung muram. Camelia benar, ia yang kurang peka. Padahal banyak mendapati Camelia tersenyum sendiri saat memegang ponselnya, lebih tepatnya saat berbalas pesan dengan seseorang.
Puk
Puk
"Tidak ada yang aku sembunyikan lagi," ujar Camelia.
Hiks…
Hiks…
"Hei, mengapa kau malah menangis?"tanya Camelia, mengerutkan dahinya bingung.
"Saya sudah sangat nyaman bekerja dengan Anda. Jika Anda menikah dan ikut dengan suami Anda ke China, bagaimana dengan saya?"tangis Evelin. Rupanya ia takut ditinggalkan.
Camelia kembali menepuk-nepuk pelan bahu Evelin. "Itu tergantung keputusanmu. Jika kau ingin ikut denganku aku akan menerimanya. Namun, jika tidak aku tidak akan menerimanya," ujar Camelia, sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada yang bersangkutan.
Evelin mendongak, menatap Camelia tidak percaya. "Kak Abi juga ikut denganku. Jadi, kita tidak akan berpisah meskipun aku sudah menikah dan pindah tempat tinggal," ujar Camelia, meyakinkan Evelin.
"Apa itu benar?"
Camelia mengangguk begitu juga dengan Kak Abi. Evelyn langsung menyeka air matanya kemudian memeluk Camelia erat.
"Terima kasih, Nona. Saya akan ikut dengan Anda!" Keputusan itu Evelin ambil tanpa pikir panjang karena ia yakin dengan keputusannya itu.
"Baiklah jika begitu. Namun, untuk itu yang harus bisa sedikit bahasa Mandarin."
"Saya siap belajar, Nona!"
"Kau serius? Bahasa Mandarin bukan bahasa yang mudah, loh? Ada empat tingkat nada, salah tingkat artinya akan berbeda," ucap Camelia, ingin menguji keteguhan hati Evelin.
"Anda kan guru terbaik," sahut Evelin santai, menatap Camelia penuh keyakinan.
"Kak, silau sekali. Aku tidak bisa menahannya," aduh Camelia pada Kak Abi.
Kak Abi tertawa pelan. "Baik-baik. Kita akan mencarikannya guru terbaik," ucap Kak Abi.
"Untuk apa mencari lagi?"sahut Liam.
Semua menoleh padanya. "Aku siap mengajari Aunty Evelin," ucap Liam, menunjuk dirinya sendiri.
"Jangan lupakan aku!"
"Ahhh…."
Camelia dan Kak Abi saling pandang.
"Benar! Kita punya guru yang sangat hebat!"
*
*
*
__ADS_1