Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 244


__ADS_3

Liam merasa daya tahan tubuhnya semakin lama begitu juga dengan kesehatannya. Liam menyembunyikan semua rasa sakitnya dia balik ekspresi dingin seperti biasa. Saat ini, semua tak akan terfokus pada Camelia dan kehamilannya. Tak ingin membuat Camelia khawatir, Liam tetap bertahan untuk sadar dan berada di samping Camelia.


Dan kini mereka sudah mengerjakan kaki di Jepang. Salju telah turun dengan lebatnya. Menampakkan gundukan sama yang berserakan.


Mereka langsung menuju rumah sakit yang telah dipersiapkan oleh Andrean. Dokter Adam dan Dokter Leo juga turut ikut. Dokter Adam merupakan dokter dari rumah sakit. Jadi, ini juga turut mengurus berkas yang berkaitan dengan perawatan Liam selama di sini.


Sebuah apartemen yang lokasinya sangat dekat dengan rumah sakit dan dapat ditempuh dengan jalan kaki dengan sudut sediakan oleh Andrean. Dalam 3 hari ia telah mengatur sedemikian rupa untuk kenyamanan anak dan istrinya.


Begitu tiba di rumah sakit, Liam langsung melalui serangkaian pemeriksaan dan juga tes darah, dan kemudian berakhir di kamar rawat. Dokter terbaik di rumah sakit ini telah menjadi bagian dari penyembuhan Liam.


Dua hari saya di Jepang, Andrean kembali Cina untuk mengurus pekerjaannya. Crystal ikut kembali dengannya dan akan datang lagi pada akhir pekan. Seterusnya Andrean dan Crystal akan datang saat akhir pekan.


Dion juga sudah kembali ke Kanada karena posisinya tidak bisa ditinggal begitu lama.


Camelia, Lucas, Tuan dan Nyonya Shane bergantian menjaga Liam di rumah sakit. Sementara Tuan dan Nyonya Liang akan datang jika kondisi memungkinkan, karena kondisi tubuh kadang tidak memungkinkan untuk berpergian jauh setiap akhir pekan.


*


*


*


Ini sudah hampir satu minggu Liam berada di rumah sakit. Syukurlah ia tidak kehilangan kesadaran lagi. Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan. Meskipun sudah ada calon adik yang tali pusarnya kelak dianggap sebagai 'obat', tim dokter tetap mengembangkan antibiotik untuk menyembuhkan septicaemia itu.


Namun, bakteri septicaemia itu sudah menyerang paru-paru yang menyebabkan terkadang Liam mengalami sesak nafas. Antibiotik untuk menekan laju perkembangan juga terus disuntik ke dalam tubuh kecil Liam.


Camelia yang orang dewasa saja merasa ngilu melihatnya. Apalagi Lucas, sering ia juga merasakan sakit yang sama. Berbagi sakit.


Kondisi kehamilan Camelia stabil. Asalkan ia tidak stress, maka akan tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai kehamilannya. 3 bulan, itulah usia kehamilannya. Belum terlalu terlihat, kemungkinan bayinya tunggal.


"Mom, sebentar lagi natal dan tahun baru, dapatkan kita keluar di salah satu hari itu?"tanya Liam penuh harap.


Camelia menahan laju suapan untuk Liam. "Jika dokter mengijinkan, kita bisa pergi di hari natal."


"Aku ingin mengikuti misa malam Natal, Mom," ucap Liam.


"Baiklah. Mom akan konsultasi dengan para doktermu. Semoga saja bisa, okay?"ucap Camelia, kembali menyuapi Lucas.


Liam mengangguk senang. Ia kemudian melihat ke arah jendela. Ranjangnya sangat dekat dengan jendela. Di luar, sepanjang mata memandang, hamparan salju putih memenuhi. Rasanya, ingin berlari dan bermain di tumpukan salju, membuat boneka salju dan juga perang salju. Akan tetapi, tampaknya tahun ini akan menjadi angan.


*


*


*


"Ayah kapan datang?"tanya Liam pada Lucas. Hanya mereka berdua di sini. Camelia pergi keluar.


"Ku pikir besok atau lusa. Ini akhir tahun, pasti banyak rapat yang harus Ayah selesaikan," jawab Lucas.


"Lusa sudah malam misa, aku ingin kita ke gereja bersama-sama, seperti waktu dengan Daddy," ucap Liam. Ia menghentikan gerakannya menyusun potongan puzzle dan menghela nafas pelan.


Lucas juga berhenti menyusun puzzle. Menepuk ringan bahu Liam. "Jangan khawatir, keluarga kita akan lengkap, misa malam Natal, kita akan mendapatkannya," ucap Lucas menyemangati.


"Semoga saja." Keduanya lanjut menyusun puzzle. Dan setelah itu beralih bermain game online, meninggalkan peringkat yang sempat turun. Begitulah keseharian keduanya, bermain dan belajar.


"Omong-omong kita sudah lama tidak update Instagram," ucap Lucas. Tidak ada waktu untuk itu, memikirkannya saja tidak ada. Entah mengapa terbesit hari ini.


"Yeah, kita juga sudah lama vakum. Aku penasaran, apakah ada model cilik pengganti kita," kekeh Liam.


"Aku merindukan sorot kamera, merindukan pose-pose itu, dan aku rindu barang baru," ucap Lucas. Ia melihat jam tangan yang ia kenakan, sudah lama tidak diganti.


Liam tertawa. "Kalau begitu ayo ambil foto," ajak Liam kemudian.


Segera, mereka berpose dan mengambil beberapa gambar. Lucas dengan senyum cerahnya dan Liam dengan ekspresi dinginnya.


Setelahnya, memilih beberapa foto untuk diupload. Dengan caption singkat, kami akan segera kembali, see you.


Postingan itu berada di akun Lucas yang langsung dibanjiri banyak like dan juga komentar.


"Aku juga merindukan Archie dan Alel. Mereka sudah semakin besar," ucap Liam.


"Makanya, segera sembuh dan kembali ke rumah, okay?"

__ADS_1


Liam mengangguk. Dan tak lama kemudian Camelia kembali dengan membawa beberapa macam buah.


"Mom sudah berbicara dengan dokter tadi. Kita bisa keluar sebentar bermain salju," ujar Camelia.


Liam langsung berbinar. "Besok siang kita akan bermain salju, malam ini istirahatnya yang nyenyak," ujar Camelia. Liam langsung mengambil posisi berbaring untuk tidur.


"Mom akan bangunkan saat makan malam." Liam mengangguk.


"Mom, mau ini," ucap Lucas, mengambil buah berwarna merah yang Camelia bawa. Buah itu adalah buah mangga. Seperti yang diketahui, Jepang adalah negara dengan pertanian yang sangat maju dan banyak varian buah yang dikembangkan di negara ini yang harganya juga cukup menguras kantong.


*


*


*


Lucas dan Liam telah tidur. Camelia masih terjaga. Menatap keluar jendela sembari mengusap perutnya. "Bersabarlah, Anak-anak. Kita akan segera pulang," gumam Camelia.


Kehamilannya kali ini, Camelia tidak merasa mual atau hal yang sering dirasakan ibu hamil kecuali mudah lelah.


"Mengapa aku jadi ingin pangsit rebus?"gumam Camelia. Tampaknya, ia mengidam. Tapi, hari sudah malam. Salju juga masih turun dengan lebatnya. Di luar sangat dingin.


Camelia menelan ludahnya membayangkan semangkuk pangsit dengan asap yang masih membumbung. Sensasi panasnya pasti sebanding dengan hawa dingin. Semakin dipikirkan, semakin Camelia ingin. Mengusap perutnya memutar.


Camelia melihat kedua anaknya. Tertidur lelap. Memutuskan untuk keluar sendiri. Ia sangat ingin, tidak bisa ditunda lagi. Dan belum sempat Camelia membuka pintu, pintu terbuka lebih dulu.


"Rean?"


"Lia? Kau kau kemana?"


Ya itu Andrean, yang baru tiba bersama dengan Crystal yang ketiduran dalam pelukan Camelia. "Berikan padaku," ucap Camelia meminta Crystal.


"Kau tengah hamil. Biar aku menidurkannya." Andrean melangkah masuk dan membaringkan Crystal di samping Lucas.


"Ku pikir kau akan datang besok," ucap Camelia.


"Kerinduanku sudah begitu dalam. Bagaimana bisa aku menunggu sampai besok? Lagipula, lusa hari Natal. Aku harus menemani kalian, bukan?"


Camelia tersenyum dan kemudian memeluk Andrean. "Katakan padaku, kau mau ke mana tadi, hm?"


"Malam-malam seperti ini?"tanya Andrean mengernyit. Camelia mengangguk dengan puppy eyesnya.


"Jika kau tidak mau menemaniku, aku akan pergi sendiri," ucap Camelia, setelah melihat keraguan di mata Andrean.


"Tidak, bukan begitu maksudku. Baiklah, ayo pergi," ajak Andrean, menggenggam erat jemari Camelia.


Camelia langsung tersenyum merekah.


*


*


*


Mereka keluar mencari restoran Chine dengan mobil. Karena hari yang sudah larut, alhasil sudah banyak restoran yang sudah tutup.


Camelia murung. Keinginannya belum tercapai. Padahal hanya ingin makan semangkuk pangsit.


Andrean menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang buka 24 jam. Itu adalah restoran keluarga. Namun, bukan restoran China.


"Apakah pangsitnya harus pangsit China? Bagaimana jika pangsit Jepang?"tawar Andrean. Tidak bisa pulang tanpa hasil. Camelia bisa bad mood berkepanjangan.


"Sebenarnya sama saja pangsit, asalnya juga dari China. Bagaimana? Atau ingin membuatnya sendiri? Aku akan membuatnya," ujar Andrean.


"Hm? Kau bisa membuat pangsit?"


"Tentu saja!"


"Bahan-bahannya?"


"Ah … itu …." Supermarket sudah tutup. Di apartemen juga tidak ada stok daging apalagi tepung.


"Hehehe…." Andrean mengangguk tengkuknya.

__ADS_1


Padahal hanya pangsit. Tapi, ia dipusingkan dengan makanan berkuah itu.


"Di sini ada pangsit?"tanya Camelia, menatap restoran keluarga itu.


"Sepertinya. Jika tidak ada, kita cari restoran keluarga lainnya sampai dapat."


"Jika ada, malam ini cukup. Tapi, besok kau harus membuatku pangsit, bagaimana?"


Andrean sedikit melebarkan matanya. Lalu menatap perut Camelia. "Apa ini balas dendam?"


"Balas dendam? Mimpi saja kau!"ketus Camelia, keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran keluarga itu.


Andrean gegas menyusul. Di dalam, Camelia memesan dua mangkuk pangsit.


"Dekorasinya bagus," komentar Camelia.


"Ini benar-benar otentik," lanjut Camelia.


"Jika enak, aku akan langganan di sini," ujar Camelia lagi.


Andrean melepas mantelnya dan duduk, menyangga dagu melihat Camelia yang asyik melihat dekorasi restoran. Sederhana dan tentunya bernuansa Jepang, terutama nyaman.


"Silahkan, Nyonya, Tuan." Pemilik menyajikan pesanan. Camelia mencium aroma yang enak. Kembali menelan ludah, hampir saja air liurnya keluar.


"Emm … ini enak!"seru Camelia. Matanya penuh binar.


"Kalau begitu habiskan, ini juga," ujar Andrean, mendorong mangkuk pangsitnya pada Camelia.


"Kau tidak makan?"tanya Camelia dengan mulut yang penuh.


"Melihatmu lahap seperti itu, aku langsung merasa kenyang."


"Really? Rayuan seperti itu sudah sangat kuno, Rean. Kau tidak akan kenyang dengan makan angin. Ayo makan, aku suapin," ucap Camelia, menyodorkan siapa pada Camelia.


Namun, saat Andrean hendak memakannya, Camelia menarik sendok dan memasukkan ke mulutnya sendiri. "Haha, kena kau!"


"CK." Andrean berdecak dan tersenyum.


Camelia masih tertawa. Mengulang kembali dan pada Andrean juga kembali dijahili. Entah sengaja atau tidak, yang pasti dua mangkuk pangsit itu masuk dalam perut Camelia.


"Aku benar-benar makan angin," keluh Andrean.


"Aku tidak makan apapun, bahkan kuah saja tidak tapi aku yang membayar," imbuhnya setelah tiba di mobil.


"Jadi, kau kesal?"


"Kau kejam sekali."


"Bukankah tadi kau yang jual mahal?"sindir Camelia. Sama sekali tidak merasa bersalah dan tersenyum puas, keinginannya terwujud.


"Jangan lupa besok kau harus masak pangsit untukmu, Rean!"peringat Camelia.


Cup!


"Lia?"


"Kau marah?"


"Padahal ini belum seberapa. Kau lemah sekali," keluh dan sinis Camelia.


"Belum seberapa?"


"Ah, lupakan saja. Aku mengantuk. Ayo kembali. Anak-anak akan bingung jika kita tidak di sana," ajak Camelia.


"Uhg?!"


Camelia membulatkan matanya saat tiba-tiba Andrean menciumnya. Cukup lama, hingga merasa hampir kehabisan nafas.


"Sudah dibayar lunas," ucap Andrean, melengkungkan senyum lebar dan kemudian melajukan mobil.


"Lunas?"


"Hilang semua rasa lelah dan sedikitpun aku tidak merasa kesal, Lia. Tidurlah, kau pasti lelah menjaga anak-anak," ujar lembut Andrean.

__ADS_1


Camelia menurut. Memejamkan matanya tidur.


Makan lahap, senyum lepas, seperti aman. Syukurlah.


__ADS_2