Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 239


__ADS_3

Mendengar hal tersebut Camelia memejamkan matanya bersyukur. Dan kembali memeluk Liam. "Mom percaya itu. Kau anak yang kuat. Kau akan baik-baik saja."


"Tentu, Mom."


"Kalian boleh keluar," ujar Camelia pada kedua dokter.


"Liam, apa kau mengingatku?"tanya kak Abi. Kak Abi datang bersamaan dengan Camelia. Begitu juga dengan Evelin.


Mendengar itu, Liam memiringkan kepalanya. "Hmm … Anda siapa? Aku koma selama beberapa waktu jadi ada beberapa hal dan wajah yang aku lupakan," jawab Liam dengan nada lemah dan mimik serius.


Wajah Kak Abi langsung pias apalagi Camelia. Sementara Lucas juga turut membelalakkan matanya.


"Liam? Apa kau serius? Kau tidak mengingat Aunty Abi?"tanya Camelia. Liam menggeleng pelan.


"Kepalamu bahkan tidak terbentur apapun. Waktu komamu juga tidak termasuk lama sekali. Kau juga tidak ada trauma. Liam … apa kau terkena demensia?" Camelia bertanya dengan was-was.


"Tapi, kau kan masih muda. Demensia, tidak mungkin … lalu …."


"Dia mengerjai kita, Mom," celetuk Lucas. Lucas sadar setelah menangkap senyum tipis Liam. Ia berdecak pelan. "Kau baru sadar dan langsung membuat panik lagi. Apa kau tidak mendengar semua ucapanku tadi, Liam?"


Semua perhatian kembali tertuju pada Liam.


"Hehehe, maafkan aku, Mom, Aunty Abi, Kak Evelin, dan Kakakku tersayang," ucap Liam, ia tersenyum bak tak berdosa seraya mengusap tengkuknya.


Camelia menghela nafas pelan. "Keterlaluan jika kau melupakanku, Liam. Sejak kalian masih di dalam perut Camelia, aku sudah menemani kalian, huh!"kesal Kak Abi. Ia takut setengah mati jika benar Liam tak ingat padanya.


"Aunty, Aunty, aku salah. Maafkan aku." Dengan puppy eyes, menatap Kak Abi.


"Ugh…."


"Aku lemah jika sudah begini."


Liam tersenyum lebar. Lucas berdecak sebal. Ia naik ke atas ranjang dan memberikan Liam sebuah pukulan ringan di bahu. "Kau ini!"


"Aunty, peluk," pinta Liam, merentangkan tangannya meminta pelukan. Sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu.


"Hahaha …."


Akhirnya terdengar suara tawa setengah sekian lama. Camelia juga ikut tertawa. Begitu juga dengan Evelin.


Lucas memperingati mimik wajah yang ada di kamar ini.


Liam, apa kau pikir aku tidak tahu? Dan juga Mom? Dia ibu kita, Liam.


Hah … sudahlah. Yang penting Liam sadar dulu. Kedua Paman Dokter pasti segera mendapatkan antibiotik yang cocok untuk Liam.


"Mom, Ayah dan Crystal mana?"tanya Liam.


"Ayahmu bekerja dan Crystal, dia ada pemotretan," jawab Camelia.


Liam ber-oh-ria. "Kau pasti lapar, kan?" Liam mengangguk. Perut kecilnya sudah lama tidak diisi.


"Evelin."


"Saya, Nona."


"Ah, tidak. Aku saja, kalian berbincanglah." Camelia bangkit. "Mom akan mengambil makanan untukmu." Liam kembali mengangguk.


Setelah Camelia keluar menuju dapur. Setelah keluar dari kamar, Camelia menghela nafas pelan. Dari tatapannya, sepertinya ada hal yang tengah ia pikirkan dan pertimbangankan. Hanya sesaat, sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


"Liam, bagaimana bisa kau sekurus ini, hm? Berapa lama kau tidak makan, hm?"tanya Kak Abi, sembari mencubit gemas pipi Liam yang sudah tirus.


"Aku juga nggak tahu, Aunty, tanyakan saja pada Lucas," jawab Liam, terdengar menggemaskan karena pipinya dihimpit oleh kedua tangan Kak Abi.


"Entahlah, aku juga sudah tidak ingat," sahut Lucas, mengedikkan bahunya.


"Hm … anu, bukankah lebih baik membahas hal lain?"sela Evelin gugup.


"Benar! Liam, bagaimana perasaanmu saat ini?"tanya Kak Abi.


"Sudah lebih baik, Aunty."


"Bukankah lebih baik membahas hal apa saja yang kau lewatkan, Liam?"ucap Lucas.


"Ah? Benarkah? Hehehe …." Tatapan Lucas itu, membuat Liam bergidik.


*


*


*

__ADS_1


"Look, peringkatmu turun drastis. Peringkatku juga turun. Kita juga melewatkan melihat eventnya. Dan kita juga melewatkan akhir musim gugur yang indah. Ini sudah musim dingin dan sebentar lagi pergantian tahun. Kau jangan tidur lagi, kita harus merayakan natal dan melewatkan tahun baru dengan lengkap. Kau harus berjanji padaku, Liam!"


"Haha, ulang tahun, aku belum melewatkannya, kan?"tanya Liam dengan meringis. Ternyata ada banyak hal yang ia lewatkan.


Kak Abi dan Evelin sudah keluar dari kamar. Kak Abi ada pekerjaan yang harus ia kerjakan. Begitu juga dengan Evelin.


"Seminggu lagi ulang tahun kita, kau jangan macam-macam lagi!"tegas Lucas.


"Tidak, aku tidak berani. Kau galak sekali." Liam mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Hei?"


"Hiks … hiks …."


"Lucas? Kau menangis?"


"Diamlah!"ucap Lucas di sela tangisnya. Posisinya kini memeluk Liam.


"Hiks … hiks … aku takut sekali, menunggu bangun rasanya menghabiskan seluruh energiku. Liam, kau jangan membuatku takut lagi hiks …."


Ah…


Liam tersenyum teduh. "Aku berjanji, Kak," balas Liam.


"Kak?"


"Bukankah kau kakakku? Ya walaupun hanya selisih beberapa menit saja."


"Dasar kau ini!" Meskipun begitu, keduanya berpelukan erat.


"Liam, ayo makan." Camelia kembali ke kamar Liam dengan membawa nampan, bersama dengan seorang pelayan yang juga membawa nampan. Di atasnya ada di mangkuk bubur dan juga ada sup ayam.


"Lucas, duduklah dengan baik dan makan ini. Liam, Mom akan menyuapimu," ujar Camelia.


Lucas menerima satu nampan.


"Ayo." Liam membuka mulutnya, menerima satu suapan.


"Bagaimana rasanya?"tanya Camelia.


"Rasa bubur, Mom. Tapi, enak dengan supnya," jawab Liam.


Buburnya cukup hambar namun pas dipadukan dengan sup.


"Lalu aku juga dapat yang bubur yang hambar, Mom? Aku kan tidak sakit," protes Lucas, menatap Camelia.


"Ah … kalau begitu makan supnya saja. Mom tadi memasak buburnya satu tempat," sesal Camelia.


"Hehe, Lucas katakan saja kau juga ingin disuapin," celetuk Liam dengan senyum jahilnya.


"Eh tidak. Aku bisa makan sendiri."


"Meskipun buburnya hambar, ada rasa lain yang membuatnya lebih enak meskipun diberi penyedap," ujar Lucas, menatap mangkuk buburnya.


"Lalu mengapa kau tidak memakannya?"tanya Liam dengan menaikkan alisnya.


"Aku memastikan kau makan dulu baru aku makan, ayo cepat habiskan," jawab Lucas. Dan itu membuat Liam tertawa renyah.


"Baik-baik. Tapi, Mom harus memastikan kalian menghabiskan makanannya." Camelia meletakkan sendok makan Liam. Kemudian beralih mengambil sendok Lucas.


"Maafkan Mom. Seharusnya Mom adil pada kalian. Ayo."


"Mom …."


Ya itulah yang Lucas inginkan. Dengan senang hati menerima suapan Camelia.


"Aneh."


"Hm?"


"Padahal buburnya tidak berasa, supnya juga untuk orang sakit, tapi mengapa rasanya begitu enak?"tanya Lucas serius.


"Benarkah?" Camelia juga turut memberikan mimik serius.


"Karena cinta," ujar Liam. "Mom memasaknya dengan cinta, menyuapi penuh kasih, bukankah nikmatnya berkali-kali lipat?"


"Ahh … kalian …." Camelia merasa malu sendiri. Padahal, sebelum mereka sudah sering begini. Catatan, tentu saja dalam keadaan sehat semuanya.


"Hal menyenangkan apa yang kalian bicarakan? Aku mendengar nada bahagia yang begitu besar di sini."


"Ayah!" Lucas berteriak, mengetahui siapa yang berbicara itu.

__ADS_1


Andrean mengangguk kecil. "Bagaimana perasaanmu, Liam? Apakah ada yang terasa sakit? Katakan pada Ayah."


Andrean berdiri di samping Liam. Camelia sedikit beringsut.


Liam menggeleng pelan. "Sudah lebih baik, Yah."


"Syukurlah kau sudah sadar, Liam. Terima kasih, Tuhan." Andrean lantas memeluk Liam. Ia langsung bergegas pulang begitu mendengar kabar Liam telah sadar.


"Apa kau tidak bersama dengan Crystal, Rean?"tanya Camelia.


Andrean melepas pelukannya. "Aku sudah meminta Toby untuk segera pulang. Seharusnya sebentar lagi akan tiba," jawab Andrean.


Camelia mengangguk paham. Andrean mengambil alih, menyuapi Liam. Sementara Camelia menyuapi Lucas.


"Mom, Ayah, sebentar lagi ulang tahun kami berdua, bagaimana jika melakukan kegiatan amal?"ucap Lucas.


"Kegiatan amal?" Camelia dan Andrean saling pandang.


"Beberapa hari yang lalu aku membaca berita, ada banyak anak yang menderita penyakit serius namun berasal dari keluarga yang tidak mampu. Jadi, angka kematiannya juga terus meningkat. Bukankah melakukan kegiatan amal untuk ulang tahun kami adalah pilihan yang tepat? Kita bisa meminta doa dari mereka untuk kesembuhan Liam. Dan di satu sisi juga dapat meningkatkan reputasi baik, bagaimana?"papar Lucas, dengan serius dan harapan besar akan diterima oleh Camelia dan Andrean.


"Ide bagus! Tumben kau pintar!"seru Liam. Anak itu tampaknya setuju.


Lucas mendengus kesal mendengarnya.


Tumben?


Ia pintar setiap saat! Enak saja dibilang tumben!


"Benar juga, mengapa tidak terpikirkan oleh kita?" Camelia juga setuju.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mempersiapkan semuanya," putus Andrean.


"Ayah! Mom, Kak Lucas, Kak Liam, Crystal pulang!"


Benar kata Andrean tadi, Crystal sudah tiba di rumah.


"Kak Liam, Kak Liam, kau sudah sadar."


"Aku kira suara cempreng siapa, rupanya suara adikku," ucap Liam.


"Kak Liam!"rajuk Crystal. Disambut dengan tawa yang lain.


"Hehehe, maaf-maaf. Kau menggemaskan sekali. Aku tidak bisa menahan untuk menggodamu, Crystal."


"Ihhh … Kak Liam!"


"Syukurlah."


"Hm?"


"Kakak sudah sadar. Kekhawatiran Mom, Ayah, dan Kak Lucas pasti berkurang banyak."


"Eh? Mengapa kau menangis? Aku tidak melakukan apapun padamu," panik Liam. Ia menatap keluarganya bergantian. Meminta bantuan untuk memenangkan Crystal.


"Astaga, ini tidak seperti Liam yang biasanya. Wah-wah, sepertinya ada bagusnya kau koma," lakar Lucas.


"Kau menyumpahiku koma lebih lama, hah?!"


"Tidak-tidak, bukan seperti itu."


"Lalu?"


"Seperti kata Crystal tadi."


"Hm?"


"Sudah-sudah, jangan bertengkar. Kalian juga jangan menggoda Liam, dia baru saja bangun," lerai Camelia.


"Mom benar. Tapi, wajah Kak Liam masih pucat." Crystal menoleh ke arah Andrean, dan tatapannya jatuh pada mangkuk bubur dan juga sup. "Ayah, ayo suapi Kak Liam lagi!"


"Hah? Hahaha … anak ini bahkan sudah berani memerintahku," tawa Andrean renyah dengan kembali menyuapi Liam.


"Akan Mom ambilkan untukmu juga. Tunggulah sebentar," ujar Camelia pada Crystal. Anak perempuan itu mengangguk singkat. Sementara Lucas makan dengan tangannya sendiri.


"Ayah, Mom terlihat lebih baik, bukan? Kau harus menjaga perasaannya, okay? Apalagi Mom juga tidak enak badan," bisik Lucas pada Andrean.


"Tenang saja. Ayah akan menjaga Mom kalian dengan baik," balas Andrean, berbisik pelan.


"Mom sakit?" Tapi, tetap terdengar oleh Liam.


"Ah? Rupanya kau dengar. Perut Mom sedang tidak enak. Tidak perlu cemas, aku sudah memberi Mom obat tadi," jawab Lucas, mengedipkan mata agar Liam tidak khawatir dan fokus pada kesembuhan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Begitu ya?"


__ADS_2